Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Kepala Balai ESDM Kendeng Selatan Heran Keberadaan Pabrik Semen Dipermasalahkan, Padahal Tambang Liar Dibiarkan



Reporter:    /  @ 20:30:50  /  20 Maret 2017

    Print       Email

Kepala Balai Energi Sumber Daya Mineral Wilayah Kendeng Selatan, Agus Sugiharto (tenga). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Kepala Balai Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan, Agus Sugiharto mengaku cukup heran dengan keberadaan pabrik semen di Rembang yang dipermasalahkan sebagian warga. Padahal menurutnya, keberadaan tambang di Rembang juga cukup banyak, namun, hal itu tidak permasalahkan.

Dirinya menyampaikan, jika yang dipermasalahkan adalah berkurangnya sumber air, hal itu menurutnya kurang tepat. Seperti halnya di Kecamatan Sale, yang disebut-sebut mengalami penurunan, oleh pegiat lingkungan.

“Data terbaru menunjukkan, debit air mencapai 870 liter per detik. Padahal kalau dibandingkan dengan era tahun 1998 silam, debit air sumber Semen kala itu hanya berkisar antara 500 – 600 liter per detik. Artinya, debit air di lokasi tersebut justru mengalami kenaikan. Padahal tak jauh dari sumber air, cukup banyak pelaku usaha tambang beroperasi. Selama ini relatif aman – aman saja, hampir belum pernah terdengar gejolak masyarakat,” ujarnya.

Dirinya juga mengungkapkan fakta menarik, terkait keberadaan usaha tambang di Kecamatan Sale. Dirinya menyebut ada pemain – pemain besar, seperti PT. Sinar Asia Fortuna (SAF) yang beroperasi mulai tahun 1995, kemudian PT. ICCI serta belasan penambang lainnya. Total ada 19 penambang resmi, menggarap area seluas 281 hektare.

Belum lagi aktivitas tambang liar, yang katanya, terpantau puluhan titik. Ia sendiri merasa heran, kenapa saat perusahaan semen sekelas PT. Semen Indonesia masuk ke Kabupaten Rembang, langsung menuai komplain, padahal mereka belum beroperasi.

“Saya heran sekali dengan masalah ini. Semenjak PT. Semen Indonesia masuk di Rembang, jutsru menuai polemik. Saat ini juga PT. SI sudah melakukan berbagai upaya. Yakni membangun embung, membuatkan warga aliran air,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah asal Kecamatan Lasem, Rembang, Abdul Aziz mengutarakan, bahwa nantinya setelah sektor pertambangan ditangani Provinsi Jawa Tengah, maka ke depan harus lebih greget.

“Khususnya Balai ESDM Wilayah Kendeng Selatan yang berkantor di Blora. Mulai melakukan pengawasan sumber air akibat dampak pertambangan, serta yang jauh lebih penting adalah penindakan tambang liar. Sebab kalau dibiarkan, lambat laun akan menjamur,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →