Pengemis di Menara Kudus Bingung Dapat Tawaran Kerja Jos 

Warga Demaan memadati aula balai desa setempat saat sosialisasi tentang Larangan Meminta-Minta, kemarin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Mendapatkan tawaran kerja, idealnya akan membuat seseorang senang. Tapi tidak demikian dengan warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus.

Pemkab setempat memberikan tawaran kerja menjadi juru parkir dan petugas kebersihan. Tapi tawaran membuat mereka bingung. Tawaran itu merupakan solusi agar mereka berhenti menjadi pengemis dan pengamen seperti yang dilakukan selama ini.

“Apa bisa bekerja di usia yang sudah tua ini. Pasti yang diutamakan adalah mereka yang masih muda-muda. Bagaimana dengan kami yang sudah tua?,” kata salah seorang pengemis, Sri di desa setempat, kepada MuriaNewsCom, Jumat (31/3/2017).

Selama ini menjadi pengemis telah membuatnya nyaman. Setiap harinya, Sri bisa mendapatkan Rp 15 ribu per hari. Jumlah itu akan meningkat saat ramai peziarah. Dengan waktu mulai dari pukul 05.00 WIB-08.30 WIB.

Dia mangkal bersama teman dan tetangga di kawasan Menara Kudus, yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalnya.

Lain halnya dengan Fatimah (55), warga desa itu. Dia tak mungkin menerima kerja dari tawaran pemkab. Mengingat tenaganya yang tak lagi perkasa.

“Saya tak mengemis, saya menjadi pemulung rosok. Saya sudah tua dan tinggal dengan suami yang sakit. Jadi tidak bisa ditinggalkan lama-lama, apalagi tidak memiliki anak,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Hasil Lelang Jabatan Sudah Disodorkan pada Bupati Grobogan

Ketua Pansel yang juga Kepala Kanreg I BKN Yogyakarta Ibu Ibtri Rejeki menyerahkan hasil seleksi jabatan pada Bupati Grobogan Sri Sumarni (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah mengikuti serangkaian tahapan, hasil seleksi peserta lelang jabatan di lingkup Pemkab Grobogan akhirnya diserahkan panitia seleksi (Pansel) pada Bupati Sri Sumarni, Jumat (31/3/2017). Penyerahan hasil seleksi ini berupa nama-nama calon yang akan menempati tiga posisi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama level eselon II. Yakni, posisi Sekda, Kepala Bappeda, dan Kepala Disperindag.

“Penyerahan hasil seleksi terbuka dilakukan Ketua Pansel yang juga Kepala Kanreg I BKN Yogyakarta Ibu Ibtri Rejeki. Acara penyerahan dilangsungkan di ruang kerja bupati, usai tahapan wawancara,” jelas Kabag Humas Pemkab Grobogan Ayong Muchtarom.

Menurut Ayong, pada masing-masing jabatan tersebut ada tiga nama yang diusulkan oleh pansel. Nama yang diusulkan ini dinilai sudah memenuhi syarat untuk diusulkan dan diangkan menjadi pejabat baru.

“Jadi untuk posisi sekda ada tiga nama yang diserahkan. Demikian pula untuk posisi Kepala Bappeda dan Kepala Disperindag juga ada tiga nama. Mengenai siapa yang dipilih merupakan kewenangan bupati,” katanya.

Ayong menambahkan, setelah dipilih bupati, dalam waktu dekat pejabat baru akan segera dilantik dan diambil sumpahnya. Nanti, sekalian juga dilakukan pelantikan untuk pejabat baru Asisten II.

“Pengisian Asisten II yang saat ini kosong tidak melalui seleksi terbuka. Tetapi diisi dari kepala OPD yang sebelumnya sudah dikukuhkan tetapi belum pernah dimutasi. Nama pejabat baru untuk posisi Asisten II sudah ditangan bupati,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pesta Miras di Kos Kudus, 3 Pemuda Diajak Polisi

Polisi mengamankan pemuda yang pesta miras di salah satu rumah kos di Singocandi, Kecamatan Kota, kabupaten Kudus. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Tiga orang pemuda dirazia polisi saat sedang asyik pesta minuman keras (miras) di kamar kos di Desa Singocandi, Kota, Kudus, Jumat (31/3/2017). Ketiganya adalah RH (24), ES (18) dan RT (19) warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati. Mereka pun digelandang ke mapolsek, berikut bukti mirasnya satu botol miras putihan.

Waka Polsek Kota Iptu Hartono mengatakan, para pemuda tersebut kedapatan sedang pesta miras. “Mereka kami temukan di kamar kos di wilayah Singocandi,” kata Hartono. 

Dikatakan, tujuan digelarnya operasi Pekat dengan sasaran rumah sos adalah sebagai tindak lanjut dari pengaduan masyarakat selama ini. Terutama perihal ketertiban di rumah kos. 

Di samping itu hal ini juga untuk memberikan pembinaan kepada penghuni utamanya kepada pemilik rumah kos agar tetap mematuhi aturan dan lebih selektif dalam menerima penghuni. “Kami beberapa kali dapat keluhan dari masyarakat, kalau kosan tersebut digunakan untuk hal yang buruk. Makanya diagendakan operasi semacam ini,” ujarnya

Berdasarkan catatan MuriaNewsCom, lokasi kos tersebut sudah pernah terjaring razia hal yang sama. Saat itu, (18/1/2017).

Editor : Akrom Hazami

 

Dokumen Rencana Pembangunan di Kabupaten Rembang Bakal Diperiksa KPK

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat diwawancari wartawan (Edy Sutriyono/MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Rembang – Untuk meminimalisasi adanya kesalahan dalam rencana maupun pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Rembang, pemerintah daerah setempat telah melakukan kerja sama dan kesepakatan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Nantinya, dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) mulai tingkat desa sampai kabupaten di daerah ini bakal diperiksa oleh KPK.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menegaskan, kegiatan pembangunan yang dilakukan tanpa melalui musrenbang berpotensi menimbulkan masalah.

“Kami sudah melakukan MoU dengan KPK. Di mana, setiap dokumen musrenbang akan diminta oleh KPK. Bukan hanya dokumen musrenbang yang diselenggarakan oleh kabupaten saja, tetapi juga dokumen musrenbang tingkat kecamatan maupun desa,” kata Hafidz.

Dengan adanya MoU yang sudah dilakukan olehnya beberapa waktu lalu itu, menurutnya, akan bisa memberikan kinerja pembangunan yang bisa sesuai aturan.

Di sisi lain, Sekda Rembang Subhakti mengatakan, bupati saat itu telah meneken 6 pokok yang berkaitan dengan masalah pemerintahan. Di antaranya meliputi e-planning, e-budgeting, pengadaan barang dan jasa melalui kemandirian Unit Layanan Pengadaan (ULP), perizinan, gratifikasi dan meningkatkan kemampuan aparat internal pemeriksa pemerintah.

“Setelah penandatanganan tersebut, memunculkan konsekuensi antara perencanaan dan penganggaran harus sinkron. Semua data dipaparkan ke KPK, sehingga sisi kewajarannya akan dinilai. Hal itu juga selaras dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 31 tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD),” paparnya.

Editor : Kholistiono

Begituan di Kos, 2 Pasangan Bukan Suami Istri Digerebek di Kudus

Polisi meminta keterangan salah satu dari pasangan gelap di Singoncandi, Kota, Kudus. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Dua pasangan bukan suami istri sedang asyik begituan di kamar kos di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, Jumat (31/3/2017). Namun siapa sangka jika aksi mereka konangan polisi. Kebetulan saat itu, Polsek Kota melakukan razia rutin. Pasangan itu pun tak bisa apa-apa. Hanya, pasrah saat digelandang polisi.

Pasangan gelap itu LH warga Desa Soco, dengan MA (19) warga Desa Puyoh, Dawe. Kemudian selanjutnya FM (19) warga Desa Bulungcangkring Jekulo dengan RA (20) warga Desa Kesambi Mejobo.

Waka Polsek Kota Iptu Hartono mengatakan, kedua pasangan bukanlah suami istri. Usai tertangkap basah di kamar kos, kedua pasangan langsung dibawa ke Mapolsek Kota guna keperluan pembinaan. Kepolisian tidak akan melepaskan mereka sebelum dibina lebih dulu. Di antaranya dengan meminta orang tua atau keluarga datang ke mapolsek.

Hartono menambahkan, para pasangan itu bukanlah pelajar. Melainkan beberapa wiraswasta. Razia merupakan bagian dari kegiatan dalam rangka giat operasi Penyakit Masyarakat (Pekat).

“Sejumlah 22 kamar diperiksa oleh petugas dengan didampingi  pemilik rumah kos. Dua pasangan muda-mudi bukan suami-istri yang kedapatan berada di kamar kos. Dengan pintu kamar dikunci dari dalam,” kata Hartono selaku pemimpin kegiatan.

Pihaknya menegaskan,  akan terus melaksanakan operasi Pekat yang selama ini meresahkan masyarakat guna menciptakan kondisi yang kondusif dan aman.

Editor : Akrom Hazami

Razia Warung Kopi, Polisi Dapati Cewek Pemandu Lagu yang Usianya di Bawah Umur

Jajaran kepolisian dari Polres Rembang sedang merazia dan membina para wanita yang masih di bawah umur yang sedang bekerja sebagai pemandu lagi dan pramusaji di salah satu warung kopi di Rembang.(Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom, Rembang – Kepolisian Resor Rembang melakukan razia di sejumlah warung kopi dan kafe yang berada di Rembang pada Kamis (30/3/2017) malam. Dalam razia tersebut, petugas mendapati beberapa perempuan di bawah umur yang menjadi pramusaji dan pemandu lagu.

Seperti halnya ketika petugas marazia warung kopi yang ada di daerah Pasar Senggol, Kecamatan Remhang.Petugas mendapati 3 wanita belia yang berusia di bawah 18 tahun sedang duduk melayani tamu yang berkaraoke.

Kasat Narkoba Polres Rembang AKP Bambang Sugito mengatakan, pihaknya menemukan warung kopi yang mempekerjakan wanita sebagai  pemandu lagu yang masih di bawah umur. “Ketiga wanita itu bekerja di Pasar Senggol, yakni di warung kopi Kadung Mawut,” ujarnya.

Terkait hal ini, pihaknya belum memberikan teguran kepada pemilik warung agar tidak mempekerjakan anak di bawah umur. Ke depannya, pihaknya akan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk menangani persoalan tersebut.

Selain mendapati pekerja yang masih di bawah umur, petugas juga menemukan masih beredarnya miras di warung kopi. Di antaranya arak kilin 8 botol, anggur merah 2 botol dan vodka 1 botol.

Bambang meyakinkan, bahwa kegiatan serupa tidak hanya berhenti pada warung kopi, tetapi akan berlanjut pada tempat-tempat hiburan yang mengundang kerumunan masyarakat.

Editor : Kholistiono

Pedagang Pasar Proliman Bakal Dipindah

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus merencanakan akan memindahkan sejumlah pedagang di Pasar Proliman, Kaliputu ke Pasar Wergu yang baru. Mengingat lokasi mereka berjualan kini dianggap tak layak.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, rencana pemindahan para pedagang dilakukan tahun ini juga. Pihaknya telah mengantongi daftar pedagang yang akan dipindahkan. 

“Kami akan memindahkan mereka ke Pasar Wergu. Karena memang Pasar Wergu masih muat jika ditambahkan lagi pedagang dari pasar Proliman,” kata Sudiharti di Kudus, Jumat (31/3/2017).

Jumlah pedagang yang bakalan dipindah sekitar tujuh orang. Selama ini, ketujuh pedagang berjualan dengan menyewa lapak. “Di sana itu tak pas jika digunakan sebagai pasar. Tempat untuk parkir saja tak ada, dan diapit oleh jalan yang selalu ramai. Untuk itulah bakalan kami pindah,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Bocah 4 Tahun di Jepara Tewas Tercebur Sumur

Warga berkerumun di sumur tempat terceburnya Ahmad Khoirul Niam, bocah yang masih berusia 4 tahun warga Desa Bugel RT 7 RW 2, Kecamatan Kedung, Jepara. (Facebook)

MuriaNewsCom,Jepara – Ahmad Khoirul Niam, bocah yang masih berusia empat tahun tewas mengenaskan setelah tercebur sumur di rumahnya. Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Jumat (31/3/2017) siang.

Informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut bermula ketika bocah asal Desa Bugel RT 7 RW 2, Kecamatan Kedung, Jepara, itu minta dimandikan sang ibu, Sunarmi, sekitar pukul 12.00 WIB.

Namun, permintaan sang bocah itu tidak langsung dituruti oleh ibunya. Sunarmi terlebih dahulu menunaikan salat dzuhur. Setelah itu, sekitar pukul 12.30 WIB, Sunarmi mencari anaknya, dan menemukan anaknya dalam kondisi mengapung dalam sumur.

Korban akhirnya dievakuasi oleh sejumlah anggota Basarnas Pos Sar Jepara. Mereka bahu membahu melakukan penyelamatan seorang balita yang tercebur dalam sumur tersebut.

Anggota penyelamat pun masuk ke dalam sumur dengan alat bantu pernafasan.Selang 10 menit, petugas pun keluar dari dalam sumur sembari membawa tubuh balita mungil yang sudah meninggal tersebut, sekitar pukul 14.45 WIB.

Editor : Kholistiono

Warga yang jadi Pengemis Belum Minat jadi Juru Parkir di Kudus

Kepala Dishub Kabupaten Kudus Didik Sugiharto. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus menyatakan sampai saat ini belum menerima adanya permintaan warga Demaan, Kecamatan Kota, yang berminat menjadi juru parkir (jukir). Hal tersebut terkait dengan tawarannya pada acara sosialisasi larangan warga Demangan di aula balai desa setempat, kemarin.

Sebagaimana diketahui, tidak sedikit warga yang menjadi pengemis dan pengamen. Pemkab pun berupaya memberi lapangan pekerjaan yang layak ke warga. Di antaranya dengan menjadi jukir.

Kepala Dishub Kabupaten Kudus Didik Sugiharto mengaku hanya sampai Jumat (31/3/2017) siang belum ada satu pun laporan warga yang merespons tawarannya itu.

“Mungkin karena masih berpikir dulu tentang tawaran kami. Kami akan tunggu mereka untuk bergabung menjadi juru parkir Pemkab Kudus dan berhenti jadi pengemis. Ini solusi yang pas,” kata Didik di ruang kerjanya kepada MuriaNewsCom.

Sejauh ini masih banyak wilayah yang belum ada jukir. Salah satunya di Jalan Sunan Kudus. Serta masih ada wilayah yang sudah ada jukirnya, bisa ditambah tenaga. Dengan catatan, ada komunikasi terlebih dahulu.

Terkait banyaknya warga yang jadi pengemis seperti di area Menara Kudus, jelas amat disayangkan. Tidak sedikit peziarah yang mengeluh. “Mereka tak tahu kalau apa yang dilakukan itu dikeluhkan pendatang. Yang mereka tahu itu dengan meminta-minta akan mendapat uang, itu yang harus diubah,” ujarnya. 

Dia berharap, Perda tentang pengemis dapat segera disahkan. Agar aturan dapat segera dijalankan dan kebiasaan meminta-minta akan hilang secara perlahan.

Editor : Akrom Hazami

Ombdusman Jateng Sidak Gedung SD Rusak di Mlowokarangtalun Grobogan, Ini Rekomendasinya

Pelaksana Tugas (Plt) Ombudsman Jawa Tengah Sabarudin (baju biru) saat mengunjungi SD 1 Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, Kamis (30/3) sore. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Plt Kepala Ombudsman Jawa Tengah Sabarudin meminta Pemkab Grobogan lewat dinas terkait segera memperbaiki gedung SD yang rusak di wilayah tersebut. Hal itu disampaikan setelah melangsungkan sidak di SD 1 Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, Kamis (30/3/2017) sore.

“Kamis kemarin, saya mengunjungi SD 1 Mlowokarangtalun yang dilaporkan kondisinya rusak berat. Kita cek kesini untuk melihat seberapa parah kerusakannya,” kata Sabarudin pada wartawan, Jumat (31/3/2017).

Dari hasil investigasi di lapangan, kondisi bangunan SD tersebut rusak berat. Atap bangunan rusak parah dan menyebabkan air hujan masuk dalam kelas. Kondisi ini menjadikan siswa tidak nyaman dalam belajar.

“Kerusakan gedung sekolah tersebut sudah beberapa kali disampaikan kepada Kepala UPTD. Namun belum ada realisasi perbaikannya,” ujarnya.

Sabarudin meminta agar kepala UPTD melakukan pendataan kondisi sekolah rusak di wilayah kerjanya. Selanjutnya, data tersebut segera disampaikan pada Dinas Pendidikan Grobogan.

“Tim Ombudsman Jateng masih melakukan telaah atas hasil temuan investigasi. Setelah itu, segera kita sampaikan saran kepada Bupati Grobogan dan Ketua DPRD Grobogan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Sarpras Dinas Pendidikan Grobogan Sukisno menyatakan, gedung SD 1 Mlowokarangtalun yang rusak tersebut sudah dialokasikan anggaran perbaikan sekitar Rp 365 juta pada tahun 2017 ini. Dana ini rencananya dipakai untuk merehab lima bangunan kelas dan membuat satu ruang perpustakaan.

Editor : Akrom Hazami

Kemampuan Kerbau Slewah Bisa Obati Penyakit Sudah Diprediksi Paranormal

Kerbau slewah di Dukuhseti, Pati yang diyakini bisa mengobati penyakit. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Karjan (55), warga Dukuhseti, Pati, tidak menyangka bila kerbau piaraannya memiliki kemampuan mengobati segala macam penyakit. Dia membeli kerbau ajaib itu dua tahun yang lalu dengan harga Rp 6,5 juta.

Suatu ketika, ada “orang pintar” yang mengatakan kerbau milik Karjan bisa dijadikan sarana untuk menyembuhkan orang sakit. Salah satu tandanya, lidah kerbau tersebut hitam dan tandak bagian kiri bisa bergerak.

Dari sana, para tetangga Karjan yang sakit mencoba mengobati penyakitnya dengan air liur kerbau tersebut. Informasi itu beredar luas, setelah mereka yang datang untuk mengobati penyakit ternyata berhasil sembuh.

Sejak dibuka pengobatan empat bulan yang lalu, rumah Karjan langsung dibanjiri pasien. Mereka sebagian besar tetangganya sendiri, kemudian merambah ke luar daerah hingga luar pulau seperti Sumatera.

“Cara mengobatinya, bagian tubuh pasien yang sakit dijilat kerbau. Selain itu, pasien membeli bunga yang disediakan, lalu diusapkan air liur kerbau, kemudian baru diusapkan ke bagian tubuh yang sakit,” ujar Karjan.

Baca juga : Pasien “Kerbau Sakti” di Dukuhseti Pati Ini Merambah Sumatera

 

Mbah Nadi, salah satu paranormal setempat menuturkan, kerbau yang dijuluki warga “kebo slewah” itu memang memiliki kodam yang bisa menyembuhkan. Karena itu, pengobatan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Misalnya, tidak dijadikan sebagai lahan untuk bisnis.

Menurutnya, kalau pemilik salah mengatur bisa berbahaya. Selain itu, pasien yang datang harus berkeyakinan bahwa kesembuhan bukan berasal dari kerbau, tetapi dari Tuhan. Kerbau sendiri sebatas sebagai perantara saja.

Editor : Kholistiono

Maling Burung Murai di Desa Talun Pati Babak Belur Dihajar Massa

Pelaku (tengah) mengalami lebam, usai dihajar massa karena mencuri burung murai batu dan diamankan di Polsek Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pencuri asal Tambaharjo, Kecamatan Tambakromo berinisial S (24) mengalami babak belur saat dihajar massa, karena mencuri burung murai batu milik Maimunnajah (23), warga Talun, Kayen, Pati.

Pelaku sebetulnya sudah berhasil mencuri burung murai batu yang harganya mencapai Rp 3,5 juta tersebut. Namun, pelaku tertangkap setelah mencoba menjual burung tersebut kepada pencinta burung.

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, korban mengunggah informasi hilangnya burung murai miliknya di situs jejaring sosial komunitas burung. Korban menyertakan ciri-ciri burungnya yang hilang.

Celakanya, pelaku menjual burung murai hasil curiannya kepada salah satu anggota komunitas burung di Pati. “Karena ciri-ciri burung yang ditawarkan sama dengan burung yang diinformasi hilang di komunitas pencinta burung murai, pelaku akhirnya ditangkap dan sempat dipukuli massa,” kata Kompol Sundoyo, Jumat (31/3/2017).

Setelahnya, pelaku diserahkan kepada petugas Polsek Kayen. Setelah dilakukan penyidikan, pelaku ternyata merupakan spesialis pencuri burung. Dia juga pernah mencuri dua ekor burung murai batu dewasa milik Rohmad, warga Kedalingan, Tambakromo.

Pelaku juga pernah mencuri burung di rumah Luncu dan Gogon, warga Karaban, Gabus. Polisi kemudian menyita tiga burung hasil curian sebagai alat bukti yang jumlah nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Sepeda motor Yamaha Mio yang digunakan sebagai sarana untuk mencuri juga diamankan polisi.

Editor : Kholistiono

51 Ribu Orang Kunjungi Agro Ekspo Grobogan

Pelaksanaan Agro Ekspo Dinas Pertanian Grobogan yang digelar selama sepekan ramai didatangi pengunjung dari berbagai daerah (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jumlah pengunjung acara Agro Ekspo yang digelar Dinas Pertanian Grobogan dari 25-30 Maret melebihi perkiraan. Dari rekap sampai hari terakhir, jumlah pengunjung pameran yang dibuka Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu tercatat menembus angka 51 ribu orang.

“Pengunjung Agro Ekspo 2017 luar biasa. Jumlahnya jauh dari yang kita prediksikan sebelumnya. Selain masyarakat umum, pengunjung juga datang dari kelompok tani di Grobogan dan berbagai kabupaten di Jawa Tengah,” jelas Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto, di Grobogan, Jumat (31/3/2017).

Menurut Edhie, pada pelaksanaan Agro Ekspo edisi sebelumnya tahun 2014, jumlah pengunjung hanya berkisar 22 ribu orang. Namun, pada perhelatan kali ini, jumlah pengunjungnya naik lebih dari 100 persen dari sebelumnya.

“Untuk Agro Ekspo 2017, jumlah pengunjung kita targetkan sekita 30 ribuan. Tetapi, realisasinya jauh melebihi target. Saya mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” katanya.

Pameran pertanian seperti ini sudah digelar enam kali. Jadwalnya, tiap tiga tahun sekali di lokasi yang sama. Yakni, di kompleks kantor Dinas Pertanian Grobogan di jalan Diponegoro Purwodadi.

Menurut Edhie, Agro Ekspo itu memang dibuka untuk umum dan pengunjungnya tidak dipungut biasa. Dengan demikian, masyarakat bisa melihat produk pertanian yang ada di tempat itu. Selain tanaman pangan, ada pula beragam jenis palawija, sayuran dan buah-buahan.

”Harapan selanjutnya, masyarakat nantinya akan tertarik untuk mencoba menanam tanaman yang disukai. Dan, dari arena ini, masyarakat bisa tahu langsung kelebihan dari masing-masing produk serta melakukan konsultasi masalah pertanian,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Pedagang Pasar Wergu Kudus Mulai Tempati Lapaknya Hari Ini

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti . (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan pedagang Pasar Wergu Kudus, mulai menempati lapaknya di gedung pasar yang baru, Jumat (31/3/2017). Jumlahnya sekitar 300 orang.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, sekitar 300 orang pedagang sebagian besar dari pasar Wergu yang lama. Jumlah itu masih bisa bertambah mengingat ada pedagang yang sedang menyiapkan diri untuk pindah.

“Data sementara yang masuk, sudah ada pedagang sekitar 300 orang. Jumlah tersebut masih bisa bertambah mengingat kami menyediakan lapak dalam jumlah banyak,” kata Sudiharti di tempat kerjanya, Jumat (31/3/2017).

Para pedagang tersebut kebanyakan berjualan sembako.  Pedagang lain yang bakalan dipindah ke Pasar Wergu yakni mereka yang biasa jualan di pasar Bitingan saat pagi hari. Mereka dipindah karena kebanyakan tak punya lapak. Sehingga mereka berjualan di tepi pasar. “Akibatnya jalan menjadi macet. Untuk itulah kami antisipasi hal tersebut. Kami pindah kesana agar lalu lintas tetap lancar,” ujarnya.

Mengenai pasar baru tersebut, kata dia, sudah ada pedagang yang menempati. Tapi ada beberapa pedagang yang masih menyiapkan dagangan mereka.

Editor : Akrom Hazami

Pasien “Kerbau Sakti” di Dukuhseti Pati Ini Merambah Sumatera

Karjan akan mengobati lutut pasien menggunakan air liur kerbau slewah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kerbau milik Karjan (55), warga Dukuhseti, Pati, dipercaya bisa mengobati segala penyakit. Hanya dengan diolesi menggunakan air liur kerbau, penyakit pasien akan sembuh.

Semakin hari, pasien yang datang kian bertambah. Bahkan, pasien disebut ada yang datang dari Sumatera. Mereka yang datang dari jauh, biasanya frustasi karena penyakitnya tak kunjung sembuh.

Karena itu, beberapa di antara mereka rela datang dari luar pulau untuk mengobatkan penyakitnya. “Awalnya cuma tetangga yang tahu. Semakin ke sini kok dari luar daerah, bahkan dari Sumatera ada yang datang. Saya juga kaget,” ungkap Karjan.

Sebagai pemilih kerbau, Karjan tidak memasang tarif atas pengobatan yang dilakukan. Dia hanya menaruh kotak amal yang rencananya akan diberikan kepada anak yatim.

Saking banyaknya yang berkunjung, Karjan membuat semacam tenda untuk pengunjung yang mengantre. Halaman rumah Karjan pun tak pernah sepi dari kendaraan yang diparkir, dari sepeda motor hingga mobil.

Baca juga : Alasan Mistis Mengapa Kerbau Slewah di Dukuhseti Pati Tak Boleh Difoto
Setiap hari, Karjan melayani sekitar 200 pasien yang datang. Bahkan, pasien bisa mencapai 250 orang pada hari Minggu. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak melayani pasien pada Jumat dan Sabtu.

Esri (40), salah satu pengunjung dari Jepara mengaku sudah dua kali datang ke rumah Karjan. Dia datang bersama suaminya yang sudah tidak melihat. Dia yang menderita asam urat mengaku sudah sembuh, sedangkan mata suaminya sudah terasa ringan meski masih belum bisa melihat.

Editor : Kholistiono

Perhutani Targetkan Peningkatan Produksi Minyak Kayu Putih di Grobogan

Direktur Utama Perhutani Denaldy M Maulana (baju putih) saat meninjau Pabrik Minyak Kayu Putih (PMKP) di Dusun Krai, Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Grobogan, Kamis (30/3/2017). (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Maulana berupaya agar kapasitas produksi minyak kayu putih yang ditangani KPH Gundih bisa ditingkatkan. Hal itu disampaikan Denaldy saat melangsungkan kunjungan ke Pabrik Minyak Kayu Putih (PMKP) di Dusun Krai, Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Grobogan, Kamis (30/3/2017) sore hingga menjelang petang.

Kunjungan yang dilakukan orang nomor satu di Perum Perhutani itu dilakukan mendadak. Sebelumnya, Denaldy sempat melangsungkan acara di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Setelah selesai acara di Surakarta, ia langsung meluncur ke kantor KPH Gundih yang berada di jalan Purwodadi-Solo km 20. Denaldy sempat melihat sebentar kondisi bangunan sebelum meluncur ke PMPK yang berjarak sekitar 15 km dari kantor KPH Gundih.

“Ini pertama kali saya ke sini. Ada beberapa pabrik pengolah daun kayu putih yang kita punya,” katanya.

Menurut Denaldy, kapasitas produksi PMKP milik KPH Gundih masih berpotensi untuk ditingkatkan dengan beberapa opsi. Antara lain, pabrik diperbaharui secara menyeluruh, ditutup atau dikelola Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) kemudian membangun pabrik di lokasi lain.

“Kami minta supaya pihak KPH Gundih segera mengirimkan proposal. Kami akan mengkaji opsi-opsi yang ada. Langkah yang diambil diusahakan agar tidak membebani perusahaan,” jelasnya.

Menurutnya, prospek minyak kayu putih dinilai masih sangat bagus. Denaldy mengaku sudah banyak orang yang datang kepadanya meminta peningkatan kapasitas produk minyak kayu putih. 

“Saat ini minyak kayu putih baru menyumbang sekitar 4 persen pendapatan. Masih kecil. Tetapi, prospek ke depan masih bagus,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Ini Alasan Sopir Bus Lebih Pilih Ngetem di Kawasan Dampo Awang Beach Rembang Daripada di Terminal

Petugas Dinas Perhubungan Rembang melakukan teguran terhadap sopir bus agar tidak ngetem di kawasan pintu masuk Dampo Awang Beach. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang –Ngatono (47),salah satu sopir bus trayek Rembang-Blora mengutarakan alasan kenapa ngetem di area pintu masuk Dampo Awang Beach atau Taman Kartini. Salah satu alasannya, karena hal itu bisa mendekatkan dengan penumpang.

“Di sini itu strategis. Sebab di area pintu masuk Taman Kartini ini juga, tempat berhenti atau turunnya penumpang bus antarkota antarprovinsi. Selain itu, di sini juga banyak becak yang mengantre menawarkan tumpangan di saat penumpang turun dari bus,” ujar Ngatono.

Ia menilai, bila Dinas Perhubungan Rembang mengarahkan agar bus ngetem di terminal tipe C, maka penumpang tidak akan tahu. Bahkan hal itu dirasa terlalu jauh bagi penumpang untuk menunggu bus.

“Di terminal itu sepi Mas. Justru penumpang malah kebiasaan datang Taman Kartini ini. Toh sepengetahuan tukang becak, sopir bus antarkota antarprovinsi juga area Taman Kartini ini sebagai jujugan penumpang untuk mencari bus dan becak,” paparnya.

Baca juga : Ngetem Sembarangan, Belasan Sopir Bus di Rembang Diomeli Petugas Dishub

Dengan adanya teguran dari Dishub supaya para sopir pindah ke terminal, ia juga merasa keberatan. Karena hal itu dinilai tidak strategis bagi sopir untuk mendapatkan penumpang. “Wah kalau itu mungkin kurang cocok. Sebab kalau terminal itu masih ke timur lagi. Padahal arah Blora itu kan sangat dekat dengan area Taman Kartini ini,” bebernya.

Dia menambahkan, Dishub seharusnya mengumpulkan para sopir untuk diberikan arahan. Baik untuk spoor bus trayek Rembang-Blora, Rembang-Pamotan dan Sarang-Tayu. Karena, jika yang menyampaikan sopir ke sopir dinilai tidak efektif.

Editor : Kholistiono

Duh, Senangnya Warga Jepang ini Tonton Pagelaran Wayang Kulit di Pendapa Grobogan

Raomu Mochida, pemuda asal Jepang serius menyaksikan pagelaran wayang kulit di pendapa kabupaten (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Malam terakhir di Grobogan membawa kenangan tersendiri bagi pemuda asal Jepang Raomu Mochida. Sebab, sebelum meninggalkan Grobogan, pemuda berusia 20 tahun itu punya kesempatan menyaksikan pagelaran wayang kulit rutin tiap malam Jumat Kliwon di pendapa kabupaten, Kamis (30/3/2017) malam.

Meski tidak mengerti isi ceritanya, namun Mahasiswa Tokyo Gakugei University itu terlihat serius menyaksikan pertunjukkan kesenian tradisional tersebut. Bahkan, saat gamelan ditabuh, ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya seakan menikmati alunan musik yang terdengar. Tingkah pemuda berkulit bersih itu sempat menarik perhatian penonton yang hadir di pendapa.

Sayangnya, Raomu tidak bisa menyaksikan pagelaran wayang hingga tuntas. Sebab, dia harus berkemas karena pagi ini, Jumat (31/3/2017) ia harus terbang kembali ke negaranya.

“Saya senang sekali bisa lihat pertunjukkan ini. Mohon pamit, saya besok pulang ke Jepang dan terima kasih atas bantuannya selama di sini. Semoga saya bisa datang lagi ke Grobogan,” katanya.

Pemuda Jepang tersebut sebetulnya tidak sengaja dapat kesempatan nonton pagelaran wayang. Sebelum pentas rutin dimulai, Raoumu dan beberapa koleganya di Grobogan ceritanya sedang menggelar acara perpisahan dengan makan bareng di kawasan alun-alun yang letaknya di seberang kantor Pemkab Grobogan.

Selesai makan, terdengar alunan musik gamelan yang cukup keras dari tempatnya makan. Merasa penasaran, Raomu pun menanyakan suara musik apa yang terdengar tersebut.

“Daripada susah menjelaskan, akhirnya kita ajak saja orangnya ke pendapa. Jadi, acara nonton wayang ini tidak teragendakan. Soalnya, saya juga tidak tahu kalau ada pagelaran wayang,” kata Ketua Yayasan Bakti Indonesia (YBI) Grobogan Andreas Nugroho.

Kedatangan Raomu di Grobogan adalah sebagai volunteering servise dari organisasi kemanusiaan internasional Dejavato Foundation. Kedatangannya memang diminta oleh YBI.

“Jadi YBI ini kebetulan bermitra dengan Dejavato Foundation. Sengaja kami minta didatangkan volunteer kesini. Sebelumnya, sudah ada tiga pemuda dari Jepang yang dikirim kesini,” jelas Andreas.

Menurut Andreas, kedatangan Raomu ke Grobogan dalam rangka memberikan motivasi pada anak sekolah dasar supaya gemar berbahasa asing. Khususnya, Bahasa Inggris. Sebab, kemampuan berbahasa asing itu suatu saat pasti dibutuhkan.

“Selama disini, Raomu sudah mendatangi beberapa SD. Di situ, ia mengajak anak-anak bermain dan belajar dengan Bahasa Inggris,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Alasan Mistis Mengapa Kerbau Slewah di Dukuhseti Pati Tak Boleh Difoto

Karjan (kiri) mengolesi lutut pengunjung menggunakan air liur kerbau slewah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kerbau sakti yang disebut-sebut bisa mengobati berbagai jenis penyakit milik Karjan (55), warga Dukuhseti, Pati, ternyata tidak boleh difoto. Ada sejumlah alasan yang membuat kerbau bernama “kebo slewah” itu tidak boleh diambil gambarnya.

Karjan mengungkapkan, sudah ada dua orang yang mencoba mengabadikan foto kerbau slewah mengalami kejadian aneh. Pertama, salah seorang pengunjung mengalami lumpuh secara mendadak, setelah mengambil foto kerbau slewah beberapa hari setelahnya.

“Dia akhirnya datang lagi ke sini untuk mengobati lumpuh yang diderita setelah mengambil foto. Beberapa hari setelah langsung sembuh,” ujar Karjan.

Kedua, seorang pengunjung juga mencoba mengabadikan foto kerbau slewah. Anehnya, hasil foto di kamera hanya ada kandangnya, sedangkan gambar kerbau slewah hilang.

Karjan sendiri tidak melarang orang untuk mengambil fotonya. Hanya saja, dia memberikan peringatan untuk tidak mengambil foto. Bila ternyata tidak percaya, Karjan mengaku tidak masalah, karena risiko ditanggung sendiri.

Saat ini, kerbau slewah milik Karjan masih dikunjungi warga dari berbagai daerah untuk keperluan pengobatan. Mereka yang datang, membeli bunga untuk dijual di halaman rumah Karjan, lalu diolesi air liur kerbau slewah pada bagian tubuh yang sakit.

Karjan sendiri meyakinkan kepada setiap pengunjung bahwa kesembuhan berasal dari Tuhan, sedangkan kerbau hanya sebagai perantara layaknya obat. Karjan tidak ingin pengunjung yang datang justru meyakini bahwa kesembuhan berasal dari kerbaunya.

Editor : Kholistiono

Ngetem Sembarangan, Belasan Sopir Bus di Rembang Diomeli Petugas Dishub

Petugas dari Dinas Perhubungan Rembang sedang menegur dan memberikan arahan kepada sopir bus agar tidak ngetem di area Pantai Kartini. (Edy Sutriyono/MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Belasan sopir bus trayek Rembang-Blora ditegur oleh petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Rembang. Hal itu, lantaran mereka ngetem untuk mencari penumpang di sembarang tempat.

Kapala Seksi Lalu Lintas pada Dishub Rembang Sakidjo mengatakan, salah satu tempat yang dibuat ngetem sopir bus yakni di depan area pintu masuk Pantai Kartini “Dampo Awang Beach”.

“Lha wong ini bukan terminal kok dibuat ngetem, ya kita tegur. Semula, justru malah ngetemnya di pinggir Jalan Diponegoro atau depan Kantor Perhutani. Malah sekarang pindah ke area Dampo Awang Beach,” katanya.

Menurutnya, penertiban tersebut perlu dilakukan, agar lalu lintas di jalan Pantura, khususnya di area Jalan Diponegoro bisa terlihat rapi. Mereka kumudian diarahkan untuk pindah di terminal tipe B yang lama atau yang kini transisi ke tipe C.

Dari panatauan MuriaNewsCom di lapangan, bus yang ngetem di area pintu masuk Pantai Kartini tak hanya trayek Rembang-Blora saja. Melainkan juga ada bus trayek Rembang-Pamotan maupun Sarang-Tayu.

“Kita akan terus menertibkan mereke jika masih tetap ngetem di situ. Bila dibiarkan, justru akan mengakar, bus- bus lainnya akan ikut-ikutan ngetem di tempat ini. Lama kelamaan akan bisa repot,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika nantinya dibutuhkan imbauan secara tertulis, maka pihaknya akan memasang imbauan tersebut di area Pantai Kartini. Dengan begitu, sopir akan tahu bahwa ada larangan untuk ngetem di tempat tersebut.

Editor : Kholistiono

PMI Grobogan dapat Program Pemberdayaan Air Bersih dan Sanitasi Internasional

Pertemuan berbagai stake holder dilangsungkan di kantor PMI Grobogan dalam rangka persiapan pelaksanaan program WASH, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – PMI Grobogan pada tahun 2017 ini mendapat program pemberdayaan air bersih dan sanitasi atau secara internasional dikenal dengan Water, Sanitation and Hygiene (WASH). Program WASH ini dilakukan berkat kerja sama antara PMI pusat dengan Palang Merah Korea, dan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) serta Kyungnam and Gwangjoo Chunnan Chapter.

“Program WASH baru kali ini kita dapat. Rencananya, program ini kita tempatkan di Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi,” jelas  Kepala Markas PMI Grobogan Djasman, saat menggelar pertemuan dengan berbagai stake holder progam WASH, Kamis (30/3/2017).

Selain pengurus PMI, pertemuan membahas program WASH juga dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Lely Atasti, perwakilan Muspika Purwodadi, dinas sosial, PDAM, dan Perangkat Desa Kandangan. Hadir pula Pengurus PMI Provinsi Jawa Tengah Goenawan Permadi, serta dua koordinator program WASH Marten Krisando Legowo dan Hery Diyanto.

Program WASH tersebut menyangkut pemberdayaan air bersih, sanitasi, dan promosi kesehatan yang berbasis masyarakat. Dalam program tersebut akan dilakukan perbaikan atau pengadaan sarana air bersih. Antara lain, pembangunan sumur bor, pipanisasi, dan pompa air.

Selain itu, pengadaan sarana untuk mendung kebersihan juga akan disiapkan. Seperti sarana mencuci tangan di sekolah, pembuatan drainase limbah, dan tempat sampah.

“Program ini akan kita laksanakan dalam waktu dekat. Namun, sebelumnya kita perlu melakukan pertemuan untuk menyosialisasikan, mendiskusikan, dan menyepakati berbagai hal yang dibutuhkan sebelum menjalankan program,” kata Djasman yang juga menjabat sebagai Pokja WASH Kabupaten itu.

Goenawan Permadi menambahkan, di level Jawa Tengah, program WASH akan dilaksanakan di Grobogan dan Kota Semarang pada kurun waktu 2017-2019. Sebelumnya, selama dua tahun program tersebut sudah dilaksanakan di Banjarnegara dan Blora.

Editor : Akrom Hazami

Hati-hati, Jangan Asal Tolong Korban Lalu Lintas di Kudus

Aksi pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas di Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), masyarakat diminta terlibat langsung menyelamatkan korban kecelakaan lalu lintas. Tapi dalam menolong korban, ada metode yang harus dilalui.

Ketua Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) RSUD Kudus Aris Jukisno, mengatakan materi dasar tentang menyelamatkan korban laka lantas harus dikuasai dulu. Seperti halnya saat melihat kecelakaan di bagian kepala, masyarakat jangan sembarang mengangkatnya.

“Jika terjadi kecelakaan dan yang luka di kepala, maka harus waspada. Apalagi kepala bagian belakang yang mana banyak terdapat syarafnya. Jika salah angkat, maka bisa jadi sarafnya putus dan akan mengganggu dalam pertolongan,” kata Aris di Mapolres Kudus, Kamis (31/3/2017).

Tak hanya itu, kesalahan dalam memberikan pertolongan juga berakibat fatal. Bisa jadi, korban yang harusnya dapat diselamatkan oleh tim medis malah meninggal gara-gara salah menempatkan posisinya saja.

“Jika menemukan kecelakaan, jangan panik, hampiri dan lihat lukanya pertolongan bisa dilakukan pompa jantung, untuk membantu menyelamatkan korban. Namun jangan lupa hubungi kami untuk segera dapat menolongnya,” ujarnya.

Dia menyadari ada warga yang takut untuk menolong korban laka lantas. Apalagi, korban berlumuran darah dan biasa membuat masyarakat takut dengan darah. Dia meminta segera mungkin dapat menghubungi petugas.

“Kami dari SPGDT rumah sakit, pemadam, dishub dan sejumlah petugas lainnya siap dihubungi. Jadi selalu siap kapanpun,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Satlantas Polres Kudus Latihan Praktik Pertolongan Korban Kecelakaan

Aksi pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas di Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Satlantas Polres Kudus melakukan latihan praktik Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) pada korban kecelakaan lalu lintas di mapolres setempat. Latihan tersebut diikuti komunitas sepeda motor.

Kasat Lantas Polres Kudus AKP Eko Rubiyanto mengatakan, pelatihan diikuti kalangan warga agar tahu bagaimana cara penanganannya. “Jadi jangan sampai takut menolong korban laka lantas. Masyarakat umum juga dapat membantu menanganinya,” kata Eko di Kudus, Kamis (30/3/2017).

Tujuan kegiatan adalah mengajak masyarakat umum membantu menangani korban kecelakaan. Sebab, dalam beberapa kasus jika harus menunggu polisi yang datang, maka membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan peran masyarakat menangani kecelakaan, maka juga mengurangi tingkat risiko kematian akibat keterlambatan pertolongan.

“Sebenarnya masyarakat bisa membantu melakukan penanganan. Jika melihat kecelakaan agar tak meninggalkannya, tapi bisa membantu menolong korban,” ungkapnya. 

Dalam kegiatan dipraktikkan latihan cara penanganan seperti adanya kecelakaan antara sepeda dan sepeda motor. Kemudian diperagakan cara menolong korban laka lantas yang tergeletak. Selain sejumlah komunitas, nampak pula petugas Dishub Kudus dan juga petugas dari RSUD Kudus.

Editor : Akrom Hazami

 

Pekan Depan, Rembang Siap Diverifikasi Tim Penilai Adipura

Pasar hewan Sumberrojo Rembang yang menjadi salah tempat titik pantau yang akan diverifikasi oleh tim penilai Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup pada pekan depan (Edy Sutriyono/MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Pekan depan, Rembang siap diverifikasi tim penilai Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan akademisi. Verifikasi itu, nantinya akan menyasar di sejumlah titik. Di antaranya, pusat kota, yang terdiri dari alun-alun, kantor organisasi perangkat daerah (OPD), hutan kota, ruang terbuka hijau, jalan protokol dan pasar hewan Sumberrejo. Kemudian, tempat pembuangan akhir (TPA) Landoh, Kecamatan Sulang.

Dalam persiapannya, saat ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang sudah membentuk tim untuk menemani tim penilai tersebut.

Kabid Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas LH Rembang Andreas Edy G mengatakan, tim yang terbentuk tersebut, terdiri dari 12 orang. “Nantinya setiap titik pantau yang akan dikunjungi tim penilai akan ditempati dua orang. Tugasnya yakni untuk menyambut tim penilai ketika mendatangi titik pantau itu,” katanya.

Hanya saja, sampai saat ini, pihak LH juga belum tahu, titik mana saja yang akan disambangi oleh tim penilai Adipura tersebut, karena sifatnya cepat dan diam-diam. Namun demikian, pihaknya tetap mempersiapkan tim.

Kemudian, terkait hasil, pihaknya tetap optimis jika Rembang mampu meraih Adipura. Sebab, pantauan pertama yang dilakukan tim penilai pada Oktober 2016 lalu, menghasilkan poin 75,45 di bidang pantauan kota dan poin 71.04 di bidang pantauan TPA.

“Ya, optimis. Sebab poin itu sudah kita dapatkan. Tinggal menunggu verifikasi akhir saja. Terlebih pada pemantauan pertama kita bisa masuk ke nomor 6 dalam kriteria kota kecil se-Jateng. Mudah-mudahan bisa berhasil. Sebab 3 tahun berturut-turut, kita belum bisa meraih prestasi Adipura,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Soal Pabrik Semen, Bupati Rembang : Warga di Sini Kondusif, yang Ramai Menolak Malah Warga Luar Daerah

Pabrik Semen Indonesia yang berada di Rembang hampir siap untuk beroperasi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz mengakui, bahwa ada perbedaan pendapat terkait adanya pendirian pabrik semen di Rembang. Namun pihaknya menegaskan, jika kondisi di Rembang kondusif.

Terkait hal ini, bupati juga menyanyangkan adanya informasi yang beredar di media sosial yang menggambarkan seolah di Rembang terjadi penolakan yang luar biasa terkait adanya pabrik semen milik PT Semen Indonesia.

“Informasi dari media sosial yang tidak akurat menimbulkan citra buruk bagi dunia investasi di Rembang. Sehingga, seakan-akan kesannya terjadi pro dan kontra yang luar biasa di kalangan masyarakat. Padahal yang ramai komplain justru banyak dari orang luar Rembang,” katanya.

Katanya, beberapa waktu yang lalu sempat ada beberapa pejabat tingkat pusat datang ke Rembang, di antaranya Komnas Perlindungan Perempuan, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), perwakilan Kementerian Politik Hukum dan Keamanan hingga Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Mereka justru merasa kaget, ternyata kondisi di Rembang kondusif, tidak seperti yang menjadi bahan pemberitaan selama ini,” katanya.

Sementara itu, Camat Bulu Suswantoro mengatakan,bahwa warga ring 1 sekitar pabrik semen, terutama Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, agar bisa mewaspadai kelompok luar daerah yang ingin menggagalkan beroperasinya pabrik semen.

“PT Semen Indonesia sebagai BUMN harus dikawal bersama. Apalagi pabrik semen senilai Rp 4,6 triliun di tengah hutan perbatasan Kecamatan Gunem dengan Kecamatan Bulu tersebut sudah memasuki uji coba dan siap memproduksi semen. Jangan sampai ada orang luar masuk, kemudian memancing provokasi serta memperkeruh suasana,” ucapnya.

Dia melanjutkan, warga di ring 1 agar tetap tenang, bisa bijak menyikapi informasi yang ada dan tidak terprovokasi oleh orang-orang yang tak ingin Rembang menjadi tidak kondusif.

Sementara itu, salah satu warga Desa Tegaldowo yang menolak pabrik semen, Sukinah, mengatakan, kalaupun ada aksi, akan lebih banyak berlangsung di Jakarta mapun semarang. Sebab di sana, ada pejabat yang berwenang.

Editor : Kholistiono