Dilema Ombak 2 Meter di Musim Baratan

Supriyadi
terassupriyadi@gmail.com

SEPEKAN lalu, tepatnya Kamis (16/2/2017) masyarakat di eks-Karesidenan Pati, terutama masyarakat Jepara dihebohkan dengan tragedi perahu nelayan pecah akibat digulung ombak di perairan Jepara.

Dalam tragedi itu, total ada tiga korban meninggal. Satu di antaranya belum berhasil ditemukan meski sudah dilakukan pencarian selama tujuh hari.

Korban tersebut bernama Gisan, warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara. Ia merupakan satu dari tiga nelayan yang perahunya pecah disapu ombak setinggi dua meter di perairan Empu Rancak, turut Desa Bondo, Kecamatan Bangsri.

Dari informasi, Gisan bersama dua orang temannya (Nur Hadi dan Hariadi) sesama nelayan sebenarnya sedang pulang dari melaut. Mereka berangkat melaut Kamis (16/2/2017) dini hari dari Sungai Ngelak, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri sekitar pukul 03.00 WIB pagi.

Setelah seharian melaut dan tangkapan sudah lumayan, mereka memutuskan pulang. Nahas sesampainya di perairan pantai Empu Rancak sekitar pukul 16.00 WIB tiba-tiba cuaca tak bersahabat. Mendung hitam pekat disertai angin kencang langsung membuat ombak setinggi dua meter dan menghantam perahu hingga pecah berkeping-keping.

Beruntung, ketiganya berhasil menemukan bambu bekas pecahan perahu untuk bertahan. Namun, ombak yang bertubi-tubi membuat Gisan terlepas dari pegangan dan hilang hingga sekarang. Sedangkan dua nelayan lainnya berhasil diselamatkan nelayan Ujung Watu sekitar pukul 22.00 WIB

Ironisnya di saat yang sama perahu jenis sopek yang digunakan melaut tiga nelayan di perairan Pantai Bondo Jepara juga digulung ombak setinggi dua meter. Dua di antara nelayan yang sempat hilang dan akhirnya ditemukan tak bernyawa.

Kejadiannya pun hampir sama, sekitar pukul 16.00 WIB. Ketiganya juga hendak pulang setelah melaut seharian. Sayangnya, cuaca buruk yang melanda perairan Jepara juga menimpa mereka. Satu di antaranya berhasil berenang menuju kawasan PLTU Jepara kemudian naik jeti dan selamat.

Namun, dua lainnya hilang. Satu di antaranya ditemukan malam itu juga dan satunya lagi ditemukan setelah beberapa hari setelah dilakukan pencarian.

Dua kejadian tersebut langsung mendapat perhatian nelayan. Apalagi, jauh sebelumnya, BPBD Jepara, Syahbandar, dan Satpolair Jepara sudah mengimbau para nelayan untuk tidak melaut. Hal ini lantaran curah hujan di perairan Jepara masuk kategori sangat tinggi.

Kepala UPP Syahbandar Jepara Suripto, Rabu (8/2/2017) bahkan sudah menyampaikan perairan laut utara Jawa Tengah kondisinya sangat membahayakan bagi pelayaran. Selain tinggi gelombang mencapai tiga meter, kecepatan angin juga cukup tinggi, yakni mulai delapan hingga 30 knot perdetik.

Sebagian nelayan, ternyata sudah mengetahui dan tak kaget dengan kecepatan angin tersebut. Hal itu sering terjadi ketika musim baratan datang. Terlebih lagi, musim baratan tahun ini datang lebih awal dan berakhir lebih lama.

Di pertenganan November 2016 lalu, musim baratan sudah datang. Kala itu nelayan masih berani melaut karena cuaca terbilang masih bersahabat. Namun, sejak Desember 2016, imbauan untuk tidak melaut sudah dikumandangkan. Artinya, musim paceklik bagi nelayan sudah dimulai.

Paceklik tersebut membuat sebagian besar dapur nelayan tak mengepul. Untuk membantu nelayan, pemerintah sudah memberikan bantuan logistik berupa beras hingga puluhan ribu ton melalui Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara.

Meski begitu, bantuan tersebut ternyata tak cukup. Mereka terpaksa mendatangi pegadaian, bank konfensional, hingga pemberi hutang perorangan untuk mengadaikan barang berharga yang dimiliki.

Selain untuk menyambung hidup, sebagian uang yang didapat juga digunakan untuk kebutuhan sekolah anak dan untuk bersosial di masyarakat.

Karena alasan itulah, sebagian nelayan terpaksa menerjang cuaca buruk hingga bertaruh nyawa untuk mendapat ikan supaya keluarga bisa makan. Hal itu pun sudah menjadi rahasia umum. Pemerintahpun tentu tahu betul akan hal itu.

Hanya saja, tidak ada yang bisa disalahkan. Pemerintah, terutama pemerintah daerah tak bisa memberikan lebih karena terbentur anggaran dan aturan. Sementara, jumlah nelayan di Jepara mencapai 30 persen dari jumlah warga di Kota Ukir.

Dengan kata lain pemerintah harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan nelayan  selama baratan.

Di sisi lain, nelayan pun tak boleh menggantungkan hidup kepada pemerintah. Melalui HNSI, nelayan harusnya sudah mulai berfikir untuk membuat tabungan bersama. Kalaupun sudah ada, pengelolaannya harus bisa dikoordinir kembali supaya bisa lebih tertata.

Bisa jadi, tabungan baru bisa diambil setahun sekali. Itu semua untuk memenuhi kebutuhan saat baratan tiba.

Selain tabungan perkelompok, nelayan pun harus berfikir mandiri. Misalkan saja membuat tabungan di perbankan yang ada di Jepara. Tujuannya, uang di bank tersebut untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

Apalagi, baratan yang terjadi biasanya paling lama empat bulan. Artinya, selama empat bulan itu, kebutuhan pendidikan bisa teratasi. Hanya, nelayan yang bersangkutan harus komitmen untuk tidak mengambil tabungan yang dimiliki. Ini lantaran, hasil tangkap nelayan tiap harinya fluktuatif. Kadang banyak dan terkadang tak dapat apa-apa.(*)