Siswa yang Sekolahnya Terendam Banjir Bisa Belajar Sementara di Sekolah Lain

Salah satu SD di Kudus yang terendam air. Untuk sementara, siswa yang sekolahnya terkena banjir, bisa belajar di sekolah lain. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya delapan sekolah tingkat dasar di Kudus terkena dampak banjir pada awal tahun 2017 ini. Delapan SD tersebut, tersebar di tiga kecamatan di Kudus.

Kabid Dikmen pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, berdasarkan data yang diterima Jumat (10/2/2017), sudah ada delapan SD yang terendam. Rinciannya, satu SD di Setrokalangan,Kecamatan Kaliwungu, tiga SD di Jati Wetan, Kecamatan Jati dan empat SD di Desa Golantepos,Kecamatan Mejobo.

“Saya kemarin (9/2/2017) sudah melakukan pengecekan ke beberapa sekolah. Hasilnya memang ada yang sudah terendam air seperti di Setrokalangan dan Jati Wetan. Dan hari ini, ada delapan sekolah berdasarkan data yang saya terima,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski dalam keadaan banjir seperti ini, bukan berarti siswa harus diliburkan. Para siswa tidak boleh kehilangan hak untuk mendapatkan ilmu atau pembelajarannya. Sehingga, sekolah tetap masuk seperti biasanya.

Meski demikian, dia juga menyadari kalau akses menuju sekolah juga ada yang kesulitan karena banjir. Selain itu juga, ada beberapa ruang kelas yang tergenang air, sehingga mengakibatkan terganggunya kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Untuk itu, dia meminta siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran di sekolah lain yang diinginkan. Khususnya sekolah terdekat, yang ada di sekelilingnya, baik dari rumahnya atau lokasi para siswa mengungsi sementara bersama keluarga.

“Biasanya mereka lebih memilih mengungsi ke sanak saudara, dan di sana juga pasti ada sekolah. Selain itu, mereka dapat pindah di sekolah sementara di satu desa atau luar desa terdekat. Hal itu supaya tidak mengganggu aktivitas belajarnya,” ungkapnya.

Dalam keadaan semacam ini, kata dia, administrasi dapat disusul belakang. Sehingga siswa yang pindah sekolah untuk belajar tidak dilengkapi dengan surat dari Disdikpora.

Editor : Kholistiono