Penanganan Sampah Makan Biaya Rp 2 Miliar 

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak khusus pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak khusus pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk membuat  suasana kota Purwodadi bersih dari sampah ternyata juga butuh dukungan biaya yang tidak sedikit. Sebab, banyak personel dan peralatan pendukung yang harus disiapkan untuk mengangkut sampah dari permukiman hingga sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.

“Untuk penanganan sampah memang butuh dana besar. Tahun 2017 ini, alokasi dana untuk menangani sampah sekitar Rp 2,6 miliar,” Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman.

Menurutnya, sebagian besar dana yang tersedia tersedot untuk biaya operasional. Yakni, honor tenaga harian lepas (THL), bahan bakar dan operasional alat berat di TPA. Lebih lanjut dijelaskan, untuk penanganan sampah pihaknya memiliki 4 dump truk dan 5 truk amrol untuk mengangkut kontainer sampah. Jumlah kontainer keseluruhan ada 40 unit yang tersebar di kawasan kota dan beberapa kecamatan.

Peralatan lainnya berupa 57 becak kayuh, dan 4 becak motor roda tiga. Kemudian, peralatan berat yang siaga di TPA berupa 1 unit backhoe dan 2 unit buldoser. Untuk jumlah THL yang dimiliki sekiar 150 orang. Personel ini, terdiri dari para penyapu jalan raya dan pengambil sampah dari kawasan pemukiman yang ada di kawasan perkotaan. Kemudian, ada lagi tenaga yang ada di TPA serta kru truk yang selain mengambil sampah atau kontainer di kota juga menyisir ke beberapa TPS di kecamatan.

Alokasi dana penanganan sampah tahun ini, tidak terpaut jauh dengan tahun 2016. Kemungkinan, pihaknya akan mengupayakan penambahan sedikit anggaran untuk pengadaan tanah urug di TPA. Dengan penanganan TPA model controlled landfill yang akan dilakukan dalam waktu dekat memang butuh tanah urug untuk melapisi sampah yang sudah ditimbun. Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm. Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, diatasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

“Penanganan TPA model controlled landfill memang harus ada persediaan tanah. Fungsi tanah ini di sisi lain untuk mempercepat proses dekomposisasi sampah supaya mudah terurai,” jelasnya.

Disinggung soal adanya penambahan peralatan pendukung, Noer Rochman menyatakan, untuk sementara belum ada pengadaan baru tahun ini. Peralatan yang ada masih bisa difungsikan untuk menangani sampah. “Beberapa peralatan yang mengalami kerusakan kita upayakan perbaikan dulu. Kalau pengadaan mungkin tahun mendatang. Salah satu kebutuhan yang perlu kita lakukan ke depan adalah meremajakan becak sampah kayuh. Mungkin tahun depan akan kita upayakan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami