Selain Penataan TPA, Ini Kunci Utama Raih Adipura

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalam beberapa tahun terakhir, kegagalan meraih Piala Adipura memang terganjal pada faktor tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.Belum dilakukannya pengelolaan sampah ramah di lingkungan di TPA, membuat skor penilaian Adipura selalu menurun. Padahal, sektor TPA ini dapat angka tinggi dalam penilaian Adipura.

 “Sekarang, kawasan TPA sudah ditata dan kesempatan untuk meraih piala Adipura kembali terbuka. Kita harapkan, pada tahun 2017, piala Adipura bisa kita raih lagi,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Untuk bisa meraih Adipura tidak sekadar konsentrasi pada TPA.  Tetapi diperlukan konsep yang jelas, terpadu dan berkesinambungan. Selain itu, ada hal lain yang lebih utama untuk dikerjakan. Yakni menggandeng semua komponen masyarakat untuk menyukseskan penilaian Adipura. Caranya, dengan meminta partisipasi masyarakat untuk menata lingkungan masing-masing agar bersih, rapi, asri serta penanganan sampahnya dilakukan dengan baik.

“Dalam penilaian Adipura faktor yang dinilai cukup banyak. Kalau bisa melibatkan semua komponen masyarakat untuk berpartisipasi maka kesempatan meraih Adipura bisa lebih terbuka. Jadi, salah satu komponen penting adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih piala Adipura sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama. “Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Ahmadi Widodo menegaskan, sejauh ini, partisipasi masyarakat, khususnya di kawasan kota untuk mendukung piala Adipura dinilai sudah cukup menggembirakan. Empat kali keberhasilan meraih Adipura merupakan salah satu bukti adanya partisipasi dari berbagai elemen masyarakat. Selain menata menciptakan lingkungan, sejumlah perkampungan juga mulai mendirikan Bank Sampah. Adanya bank sampah ini menjadikan warga memilah sampah terlebih dahulu. Kemudian, sampah yang sudah dipilih ditabung di bank sampah dan sisanya baru dibuang.

“Secara umum, konsep bank sampah itu cukup simpel. Yakni, masyarakat menyetorkan sampah yang sudah dipilah di rumah ke bank sampah. Mereka ini tidak mendapatkan uang tunai ketika menyetorkan sampah tetapi uang itu masuk dalam rekening tabungan bank sampah. Selain dapat penghasilan, melalui bank sampah ini bisa mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA,” jelasnya.

Sejauh ini, sudah ada beberapa kampung yang punya Bank Sampah. Selain itu, ada pula Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di berbagai tempat. Anggota KSM ini juga melakukan pemilihan sampah yang masih bisa punya nilai ekonomi. Di samping itu, berbagai pelatihan kerajinan dari bahan bekas juga sudah seringkali diberikan pada berbagai komponen masyarakat. Termasuk pada kalangan pelajar.

Editor : Akrom Hazami