Sebentar Lagi, Penanganan Sampah Bakal Pakai Model Baru, Begini Gambarannya

 

Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman menunjukkan lokasi penataan TPA yang dibiayai dari Kementerian PUPR. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman menunjukkan lokasi penataan TPA yang dibiayai dari Kementerian PUPR. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejak Oktober 2016 ada penataan yang dikerjakan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Yakni, membuat lokasi baru pembuangan sampah yang sudah berkonsep ramah lingkungan.

Proyek penataan TPA ini anggarannya cukup besar, sekitar Rp 18 miliar. Dana penataan TPA ini berasal dari Kementerian PUPR. Proyek penataan semua dikendalikan dari kementerian. Mulai pembuatan DED, hingga proses lelangnya.

“Dana sebesar ini, digunakan untuk membuat tempat pembuangan sampah model ramah lingkungan disisi barat areal TPA. Luas lahan yang disediakan sekitar 2,5 hektar,” jelas Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman.

Di lahan tersebut, dibuatkan tiga kolam besar yang disebut zona pembuangan sampah dan masing-masing berukuran 0,8 hektar. Dibagian dasar zona dipasangi geomembran untuk menahan air dari tumpuhan sampah tidak meresap dalam tanah. Kemudian masih ada pasangan geotekstile di atas geomembran. Hal ini bertujuan untuk melindungi geomebran tidak rusak karena benda tajam yang bercampur dalam sampah.

Di atas geotekstil masih ditaburi gravel atau batu-batuan kecil untuk menyerap air. Dalam tiap zona juga dibuatkan hangar untuk truk bongkar dan alat berat untuk meratakan sampah.

“Tiap zona ini diperkirakan mampu menampung sampah sebanyak 292.000 meter kubik atau setara 11.000 ton. Dengan perhitungan banyaknya volume sampah selama ini, tiap zona bisa dipakai menimbun sampah hingga 5 tahun. Sampah di tiap zona akan ditimbun dengan model piramida,” katanya.

Setelah zona pertama penuh, penimbunan sampah dialihkan ke zona kedua. Kemudian, begitu zona ketiga penuh maka zona pertama kembali akan difungsikan jadi tempat penimbunan lagi.

“Jadi, kira-kira setahun sebelum zona tiga penuh, sampah di zona pertama yang sudah lama disitu mulai kita bongkar bertahap. Sampahnya kita olah jadi pupuk organik sehingga setelah kosong tempatnya bisa dipakai lagi begitu zona tiga penuh. Ketinggian sampah ditiap zona kira-kira 9 meter,” terang Noer.

Nantinya, cara penanganan sampah akan memakai model controlled landfill yang lebih berkembang dibanding open dumping. Sebab, pada metode ini, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat barat menjadi sebuah sel.

Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm. Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, diatasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

Pembuatan zona berukuran besar juga dilengkapi saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan, saluran pengumpul air lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya, pos pengendalian operasional, dan fasilitas pengendalian gas metan.

“Gas metan dari sampah ini nanti kita kembangkan jadi biogas untuk bahan bakar alternatif. Dalam pembuatan zona sudah dipasang cerobong dan ada saluran khusus untuk menangkap gas metan,” kata Noer.

Untuk bak penampungan air lindi juga sudah disiapkan tempat khusus di selatan pembuatan zona. Ukurannya sangat besar, yakni 98,5 x 30 meter yang disekat menjadi beberapa kotak.

Dari dasar zona sampah juga sudah dipasang saluran khusus untuk mengangkut lindi menuju tempat penampungan. Kedepan, air lindi akan diolah jadi pupuk cair yang bermanfaat bagi pertanian.

“Jadi, penataan TPA baru ini konstruksi dan desainnya sudah ramah lingkungan. Lokasinya juga tidak terlalu luas dibandingkan model open dumping. Tapi, biaya pembuatannya memang nilainya sangat besar. Di samping itu, butuh juga dana operasional tambahan, khususnya untuk tanah buat mengurug sampah,” jelasnya.

Selain penataan tempat pengolahan sampah, dana dari Kementerian PUPR juga dialokasikan untuk pembuatan sarana pendukung. Seperti, jalan menuju zona, kantor, musala, tempat cuci truk, laborat, tower air, pagar kawat sekeliling dan lampu penerangan bertenaga surya.

Noer Rochman menyatakan, proses penataan TPA saat ini progresnya sudah berkisar 95 persen. Pekerjaan utama yang sedang disiapkan penyelesaiannya adalah membuat jalan operasional menuju zona.

“Targetnya, akhir bulan pekerjaan penataan TPA sudah rampung 100 persen. Dengan demikian, mulai awal Februari nanti, penimbunan sampah sudah bisa dialihkan ke zona pertama. Sambil menunggu proyek selesai, penimbunan sampah saat ini kita tempatkan di lahan yang kosong,” imbuhnya. 

 

Editor : Akrom Hazami