Waduh! Hampir Tiap Hari Ada Warga Jepara yang Gunakan Ijazah Palsu untuk Urus Kartu Kuning

Para pemohon kartu kuning sedang memadati ruangan pembuatan kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmograsi Jepara, Selasa (17/1/2017).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para pemohon kartu kuning sedang memadati ruangan pembuatan kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmograsi Jepara, Selasa (17/1/2017).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Semakin banyaknya peluang kerja di Kabupaten Jepara, semakin tinggi pula angka pencari kerja di tempat tersebut. Hal ini, berimbas pula terhadap meningkatnya pembuatan kartu kuning atau AK I.

Setidaknya, dari data yang ada di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara selama 2016, tercatat ada sekitar 16 ribu warga yang mengurus kartu kuning. Jumlah tersebut naik drastis di banding tahun 2015 lalu yang hanya berkisar 6 ribu.

Namun, di balik meningkatnya jumlah pencari kerja tersebut, ternyata ada cara-cara yang kurang baik ditempuh oleh beberapa warga untuk bisa mendapatkan kartu kuning, yang merupakan salah satu syarat untuk melamar pekerjaan. Yakni, adanya pemalsuan data atau pemalsuan ijazah.

Hal itu diungkapkan oleh Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas pada Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara Amrina Rosyida. “Hampir setiap hari ada sekitar 2 hingga 3 pemohon yang bisa kita temukan menggunakan data palsu yang ada di ijazah,” ujar Amrina.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan pemohon kartu kuning, untuk menyesuaikan persyaratan atau kriteria yang diterapkan perusahaan untuk pelamar kerja. Misalnya saja, minimal harus lulus SMP atau SMA sederajat.

“Biasanya, mereka itu memalsu data seperti halnya tahun ijazah. Misalkan saja, mereka meminjam ijazah temannya, dan nantinya namanya akan diganti dengan nama pemohon kartu kuning. Sehingga seakan-akan mereka sudah berijazah SMA atau lainnya.Padahal, sebenarnya hanya berijazah tingkat SD saja,” ungkapnya.

Katanya, adanya pemalsuan data itu sudah diketahui pihak dinas sejak tahun 2015 silam. Hanya saja, pihaknya hanya memberikan imbauan kepada pemohon kartu kuning supaya tidak melakukan hal itu.

“Sebenanya pemalsuan data itu sejak tahun 2015 lalu. Sebab di tahun itu memang banyak sejaki lowongan kerja di garmen yang rata-rata membutuhkan karyawan wanita serta berpendidikan minimal setingkat SMA,” ucapnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, kini pihaknya akan menertibkan hal itu. Yakni, nantinya pemohon kartu kuning harus bisa menunjukkan ijazah asli. Dengan begitu, pihaknya berharap bisa meminimalisasi adanya pemalsuan data tersebut.

Editor : Kholistiono