Peristiwa yang Bikin Geger Grobogan

kaleidoskop-grobogan_rev

MuriaNewsCom, Grobogan – Selama 2016, ada banyak peristiwa yang bikin geger Kabupaten Grobogan. MuriaNewsCom merangkum kejadiannya.

  1. Kecelakaan bus peziarah, 4 Tewas

 Peristiwa kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya Purwodadi-Pati km 7 yang masuk wilayah Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan/Kabupaten Grobogan, Kamis (5/5/2016) sekitar pukul 09.00 WIB. Dalam peristiwa ini, ada empat korban meninggal dunia dan belasan orang luka-luka.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa itu bermula saat minibus yang mengangkut sekitar 30 orang melaju dari arah Pati menuju Purwodadi. Sesampai di jalan turunan, bus warna merah bernomor K1736 AD terlihat oleng dan tidak bisa dikendalikan dengan sempurna.

Dalam waktu bersamaan, dari arah Purwodadi melaju minibus umum PO Lukita jurusan Pati-Purwodadi. Lantaran bus dari atas tidak bisa dikendalikan, akhirnya menabrak bus yang ada di depannya.Saking kerasnya benturan, bus yang mengangkut rombongan peziarah dari Kecamatan Wedarijaksa, Pati itu kemudian sempat terguling di sebelah barat bahu jalan. Sementara bus yang dari arah selatan tetap dalam posisi berdiri namun bodi sebelah depan rusak parah.

“Keras sekali suara benturan kedua bus tadi. Kemungkinan, bus dari atas mengalami rem blong sehingga sopirnya tidak bisa mengendalikan kendaraan,” kata Teguh, salah seorang saksi mata.
Akibat peristiwa ini, arus lalu lintas menuju Pati dan sebaliknya sempat terhenti. Sebab, warga dan petugas kepolisian masih sibuk melakukan evakuasi korban dan membersihkan puing-puing kendaraan yang berserakan ditengah jalan.

Bus peziarah asal Pati yang terguling di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bus peziarah asal Pati yang terguling di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo ketika dimintai komentarnya belum bisa memberikan keterangan lengkap. Soalnya, petugas masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait peristiwa kecelakaan itu.

“Bisa jadi, kecelakaan itu ada indikasi rem blong. Namun, hal ini masih perlu disediliki lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pastinya. Untuk saat ini saya belum bisa memberikan keterangan lengkap,” katanya di lokasi kejadian.

Baca juga : KECELAKAAN GROBOGAN : 4 Orang Tewas saat Bus Peziarah dari Pati Tabrak Minibus

 

  1. Menguak bumi bersejarah, Banjarejo

Kawasan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, bakal menjadi salah satu lokasi wisata yang bisa diandalkan ke depannya. Ini seiring dengan langkah Bupati Grobogan Sri Sumarni yang akan membangun kawasan itu.

Bupati merasa optimistis jika ke depan, Desa Banjarejo bakal jadi tempat kunjungan wisatawan. Itu dinyatakannya usai bupati Banjarejo sebagai desa wisata, belum lama ini.

”Potensi wisata dalam hal benda purbakala dan cagar budaya di Banjarejo memang luar biasa. Dua potensi ini sudah bisa jadi daya tarik banyak orang untuk datang ke sini. Sejak kecil dulu saya sering dengan cerita Medang Kamulan, dan saya yakin jika kerajaan itu pernah ada di sini,” katanya.

Menurut bupati, untuk memaksimalkan potensi Banjarejo, tentu tidak selesai dengan menetapkan jadi desa wisata saja. Tetapi banyak hal lain yang harus dilakukan agar pencanangan desa wisata bisa sukses seperti harapan semua pihak.

”Jadi, untuk menyukseskan Desa Wisata Banjarejo ini harus dikejakan satu persatu. Tidak bisa dalam sekejap karena butuh waktu dan biaya,” jelasnya.

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu prioritas yang akan dilakukan adalah pembenahan sarana dan prasarana pendukung. Yakni, perbaikan akses menuju Banjarejo, karena masih ada banyak ruas jalan yang kondisinya rusak. Baik akses dari Kecamatan Kradenan maupun Kecamatan Ngaringan.

”Saya sudah perintahkan supaya perbaikan jalan menuju Banjarejo dialokasikan pada APBD 2017. Saat ini, proses penyusunan APBD 2017 masih dalam tahap awal. Soal perbaikan akses jalan ke Banjarejo juga sudah dapat dukungan penuh dari Pak Agus Siswanto (ketua DPRD Grobogan, red). Untuk pembenahan sarana dan prasarana pendukung lainnya pasti akan kita perhatikan,” terang Sri.

Mantan ktua DPRD Grobogan itu juga berpesan kepada Kepala Desa (Kades) Banjarejo Ahmad Taufik, agar merawat penemuan benda bersejarah dengan baik. Sri juga meminta agar Taufik selalu berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya terkait pengembangan desa wisata.

Seperti dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta, tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar. ”Setelah dijadikan desa wisata, banyak pekerjaan yang harus dilanjutkan. Tergetnya, potensi disini harus bisa mendatangkan banyak pengunjung,” pesannya.

Dari sekian banyak benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, barangkali penemuan bangunan kuno mirip pondasi yang terbuat dari tumpukan batu bata dinilai paling fenomenal. Sebab, sejak penemuan itu mencuat, ada ribuan orang yang berkunjung ke desa ini.

Tidak hanya warga Grobogan saja, banyak juga orang dari luar kota yang datang ke sana. Bahkan, ada juga orang dari Kalimantan Timur yang melihat penemuan itu lantaran muncul kabar jika bangunan kuno tersebut merupakan bagian Istana Medang Kamulan.

Bangunan kuno dari tatanan batu bata itu ditemukan di areal sawah di Dusun Nganggil (12/10/2015). Panjang pondasi yang sudah sempat digali dan terlihat ini ada 40 meter. Membentang dari arah utara menuju ke selatan.

Batu bata yang dipakai membuat bangunan itu bentuknya lebih besar dibandingkan batu bata yang lazim saat ini. Panjang batu bata itu 30 cm, lebarnya 20 cm, dan ketebalannya 8 cm. Warnanya juga lebih merah dibandingkan batu bata saat ini.

Tinggi bangunan mirip pondasi itu sekitar 40 cm. Lebarnya ada 30 cm. Tumpukan paling atas ditaruh batu bata yang dipasang dengan posisi melintang. Sementara batu bata pada tiga tumpukan dibawahnya dipasang dengan posisi berdiri.

Penemuan bangunan kuno itu terjadi secara kebetulan. Yakni, saat para petani tengah membuat sumur gali dengan dana bantuan dari Kementerian Pertanian. Saat menggali sedalam dua meter, petani menemukan batu bata di dalam tanah.

Adanya keyakinan jika Kerajaan Medang Kamulan berdiri di Desa Banjarejo menyebabkan penemuan itu langsung jadi pusat perhatian. Tidak lama setelah kabar itu menyebar, orang mulai berduyun-duyun datang ke sana. Setiap hari, tidak kurang 500 orang yang penasaran untuk melihat bentuk bangunan kuno tersebut.

“Pengunjung bangunan kuno waktu itu memang luar biasa banyaknya. Bahkan saat hari Minggu atau libur, pengunjungnya sempat sampai 2.000 orang,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Bupati Grobogan Sri Sumarni di lokasi tempat bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni di lokasi tempat bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sementara itu, berdasarkan keterangan peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang datang ke lokasi, ditegaskan jika bangunan itu termasuk benda bersejarah. Sebab, dilihat dari cirinya, diperkirakan bangunan itu peninggalan abad 15 hingga 16.

Menurutnya, bangunan kuno itu dinilai merupakan sebuah batas ruang tertentu. Artinya, tidak jauh dari lokasi pernah ada bangunan yang lebih besar. Bisa sebuah rumah, pusat aktivitas waktu itu atau sebuah bangunan kerajaan.

Baca juga : Bangunan Kuno dari Tatanan Batu Bata jadi Penemuan Paling Fenomenal di Banjarejo 

 

Selain benda purbakala dan cagar budaya, ada satu potensi wisata terbaru yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Yakni, berupa fenomena alam munculnya sebuah sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan yang berada di Dusun Peting.

Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah ada di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting. Mata air sebelumnya ukurannya hanya 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter.

Pelebaran dilakukan agar bisa menampung lebih banyak air khususnya untuk menghadapi musim kemarau. Sebab, wilayah Desa Banjarejo termasuk tandus dan sulit mendapatkan air saat kemarau datang.

Proyek pelebaran mata air yang berada di sawah milik Karno (30), dimulai Jumat (16/9/2016). Untuk mempercepat pekerjaan, pelebaran mata air dilakukan menggunakan dua alat berat jenis backhoe.

Selama sehari penuh, komplek mata air berhasil diperlebar dengan ukuran 4 x 8 meter membujur dari arah barat ke timur. Selain diperluas, kedalamannya juga ditambah jadi 5 meter.

Keesokan harinya, Sabtu (17/9/2016), baru terjadi kehebohan. Hal ini terjadi setelah kolam yang diperlebar itu terisi air yang warnanya kebiru-biruan.

“Kalau saya amati, air di sendang ini warnanya mirip di telaga warna di Pegunungan Dieng. Ini merupakan fenomena alam yang luar biasa buat Desa Banjarejo. Soalnya, sumber air disini sangat susah didapatkan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, mata air yang di Dusun Peting tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang. Selama ini, mata air di situ tidak pernah berhenti mengeluarkan air kendati pada puncak musim kemarau.

Oleh sebab itulah, pihaknya sengaja membuat rencana pelebaran mata air tersebut. Tujuannya, agar bisa menampung banyak air sehingga nantinya bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bercocok tanam.

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Desa (Kades) Banjarejo Ahmad Taufik mengatakan, selama ini pihaknya selalu berkoordinasi dengan instansi terkait, yang ada hubungannya dengan keberadaan sebuah situs.

Koordinasi itu, menurut Taufik, baik melalui short message service (SMS) atau pesan singkat, maupun telepon. Bahkan sudah beberapa kali pihaknya berkomunikasi langsung ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta, tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar Grobogan.

”Setiap ada penemuan, langsung kita informasikan dan kirimkan fotonya pada instansi terkait. Jadi koordinasi itu selalu kita lakukan, meski terkadang hanya lewat media sosial (medsos),” katanya.

Taufik mengatakan, terkait pembenahan sarana dan prasarana wisata, pihaknya tidak akan mengandalkan dana dari Pemkab Grobogan saja. Tetapi juga akan berupaya semampunya lewat dana desa, kalau memang memungkinkan.

Selain itu, sebisa mungkin pihaknya akan menyiapkan sarana sederhana dengan dana swadaya masyarakat. ”Yang jelas kami juga akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan wisata di sini. Soal kendala yang dihadapi, nanti kita pecahkan bersama dengan berbagai pihak. Terutama Pemkab Grobogan. Biar terasa ringan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami