Perampokan dan Pembunuhan Juragan Emas, Hingga “Haji Gaib” yang Hebohkan Rembang di 2016

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Tahun 2016 segera berakhir dan tinggal beberapa jam lagi sudah memasuki Tahun Baru 2017. Beragam peristiwa, mulai dari kasus kriminal hingga masalah sosial mewarnai perjalanan di tahun 2016 ini. Berikut ini di antara peristiwa yang menjadi pusat perhatian selama 2016 di Kabupaten Rembang

 

Juragan Emas di Kaliori Dirampok Disertai Pembunuhan

 Juragan emas, Sarno (54) warga Dukuh Sawahan RT 01 RW 03, Desa Maguan, Kecamatan Kaliori, Rembang, dibunuh di rumahnya, Minggu (29/5/2016) dini hari. Sedangkan istrinya, Damisih (50), pingsan setelah disekap pelaku.

Korban diduga dirampok. Karena pelaku melarikan sejumlah barang berharga. Seperti halnya, berangkas tempat menyimpan uang dan perhiasan milik korban raib dikuras pelaku. Korban diketahui merupakan pemilik sekaligus penjual perhiasan di Pasar Kuniran dan Jasem.

Suasana rumah korban di Desa Maguan, Kaliori, Rembang. (Istimewa)

Suasana rumah korban di Desa Maguan, Kaliori, Rembang. (Istimewa)

Kejadian baru diketahui Minggu pagi. Setelah putri korban yang tinggal terpisah, Firoh datang ke rumah orang tuanya ditemani suami. Firoh beberapa kali memanggil orang tuanya. Tapi hingga beberapa lama, orang tua tak juga memberi jawaban.

Firoh segera menghubungi kakaknya yang tinggal di Desa Kuniran, Ahmad Shodiqin. Usai ditelepon, Ahmad pun datang menghampiri Firoh. Ahmad berusaha masuk pintu depan, tapi dikunci dari dalam. Karena masih penasaran, Ahmada berusaha masuk lewat pintu belakang. Pintu belakang terlihat sedikit menganga dan tidak terkunci.

Setelah berhasil masuk lewat pntu belakang, Ahmad dan Firoh kaget melihat ayahnya tergelak di lantai dalam keadaan tangan dan kaki diikat menggunakan tali dan mulutnya dilakban. Ayahnya sudah meninggal dunia. Sementara, Damisih pingsan tergeletak di kasur dengan tangan dan kaki diikat dan mulutnya dilakban.

Seketika, mereka memberitahu warga. Warga pun histeris. Beberapa dari mereka melapor ke polisi, dan ada pula yang menghubungi pihak rumah sakit terdekat. Warga berkerumun di lokasi karena ingin tahu kejadian yang sebenarnya.Dari penyelidikan polisi, bahwa istri korban masih hidup dan dibawa ke rumah sakit.

 

Polisi Bekuk 5 Perampok Sadis Juragan Emas di Kaliori

Setelah dua bulan melakukan pengejaran terhadap pelaku pembunuhan dan perampokan juragan emas bernama Sarno bin Radiman (54), warga Desa Maguan RT 2 RW 3 Kecamatan Kaliori, akhirnya polisi berhasil membekuk pelaku.

Jumpa pers di Mapolres Rembang terkait kasus pembunuhan dan perampokan juragan emas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Jumpa pers di Mapolres Rembang terkait kasus pembunuhan dan perampokan juragan emas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Dalam hal ini, polisi berhasil membekuk 5 pelaku, masing-masing SW Bin D (46) warga Desa Kuniran, Kecamatan Batangan, Pati, AG Bin S (38) warga Desa Binangun, Kecamatan Singgahan, Tuban, UB Bin A (29) warga Desa Lundo, Kecamatan Jaken, Pati, .HD Bin D (33) warga Desa Lundo, Kecamatan Jaken, Rembang dan TG Bin R (32) warga Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Serang.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto mengatakan, selain pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa uang Rp 80 juta, perhiasan emas berbagai macam bentuk dan jumlah diperkirakan seberat 2 kg atau sekitar Rp 500 juta, sertifikat tanah, BPKB mobil dan motor, STNK dan ijazah.

“ Kami juga mengamankan 1 sepeda motor Honda Beat, satu masker hitam, perhiasan emas berbentuk mendel / liontin, potongan lakban, baju korban, sebilah keris. DVD player, amplifier, sound sistem dan tali plastik,” ujar Kapolres.

Ia katakan, aksi perampokan dan kekerasan yang mangakibatkan korban meninggal ini dilakukan pada malam hari, tepatnya pada Minggu (29/5/2016) dini hari. “Modus operandi malam hari, dengan mencongkel pintu menggunakan sajam dan masuk rumah serta mengambil barang-barang di dalam kamar korban. Tak hanya itu, aksi mereka juga tergolong sadis karena menghilangkan nyawa korban,” pungkasnya.

 

Heboh Tukang Becak Asal Rembang yang Disebut-sebut Tunaikan Haji Secara Gaib

Seorang tukang becak bernama Kasrin (60) bin Sumarto Warga Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, pada tahun ini ikut menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Pria ini berangkat pada Rabu (24/08/2016) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB.

Namun, keberangkatan Kasrin menunaikan haji ini, justru membuat heboh warga sekitar, karena dinilai sangat aneh. Sebab, Kasrin tidak pernah mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji, dan juga tidak pernah mengurus administrasi untuk keperluan haji, baik dari tingkat desa atau lainnya.

Kasrin (baju putih) sedang bercengkrama dengan tamunya. Kasrin, menyebut dirinya telah berhaji secara gaib (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kasrin (baju putih) sedang bercengkrama dengan tamunya. Kasrin, menyebut dirinya telah berhaji secara gaib (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga sekitar pun, katanya, tidak pernah melihat Kasrin mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan manasik atau bimbingan lain tentang haji yang dilakukan pemerintah. Bahkan, dari pihak pemerintah desa juga tidak pernah mengetahui itu.

Siswoyo, salah satu perangkat Desa Sumberejo, yang juga ikut mengantar keberangkatan Kasrin mengaku heran. “Ketika dalam perjalanan ikut mengantar Pak Kasrin, saya diselimuti kebingungan dengan keberangkatan Pak Kasrin menunaikan ibadah haji. Sebab, selama ini memang tidak pernah mengurus administrasi apapun di tingkat desa untuk keperluan naik haji, dan belum lagi jika dilihat secara kasat mata mengenai perekonomian keluarga yang makin membuat saya bingung,” katanya.

Dirinya mengatakan, yang ikut mengantar kepergian Kasrin ketika itu cukup banyak. Setidaknya ada tiga mobil, yakni mobil jenis Kijang LGX, satu truk dan bus. Kemudian pengantar juga ada yang menggunakan sepeda motor sebanyak 10 unit.

Menurutnya, keluarga dan tetangga mengantar Kasrin ke Masjid Jami’ Lasem, tempat berkumpulnya rombongan jemaah calon haji lain dari wilayah Rembang bagian timur yang menunggu jemputan bus. Rombongan calhaj yang berangkat malam itu tergabung dalam kloter 38.

Lebih lanjut dirinya menceritakan, ketika berangkat tersebut, Kasrin juga tidak mengenakan seragam seperti halnya calhaj lain yang berangkat secara resmi. “Saat keberangkatan itu, Pak Kasrin itu tidak membawa seragam haji baju batik atau apapun. Namun dia hanya membawa kemeja putih, celana hitam, peci dan tas kecil saja. Inikan sangat aneh,” paparnya.

 

Cerita Kasrin Ketika di Makkah 

Kasrin tiba di rumah pada Selasa (04/10/2016) sekitar pukul 10.00 WIB. Kepulangan Kasrin di kampung halaman ini, juga sesuai dengan kepulangan jemaah haji kloter 38.

“Kepulangan Pak Kasrin dijemput pihak keluarga di Masjid Jami’ Lasem. Pas berangkat pada 23 Agustus dulu, Pak Kasrin juga diantar keluarga di Masjid Lasem,” ujar Eko Winarto, salah satu perangkat desa setempat.

Tim dari MUI Rembang (dua dari kiri) saat berbincang dengan Kasrin di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tim dari MUI Rembang (dua dari kiri) saat berbincang dengan Kasrin di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kedatangan Kasrin, juga disambut semua warga dan keluarga. Tak hanya itu, kondisi di kediaman Kasrin, saat ini didatangi banyak tamu, dan juga ada pengamanan dari pihak TNI dan polisi.

Banyak cerita-cerita mistis tentang perjalanan haji Kasrin. Di mulai dari start keberangkatan Kasrin dari Masjid Jami Lasem, yang disebut-sebut Kasrin justru tiba-tiba sudah sampai di Asrama Solo, dan berangkat ke Makkah naik pesawat. Padahal, rombongan jemaah lain masih berada di masjid.

Ada lagi, Kasrin yang juga katanya sempat pulang sebentar dengan membawa oleh-oleh khas Timur Tengah, yang kemudian tiba-tiba hilang lagi usai memberikan oleh-oleh itu kepada salah satu  keluarganya. Belum lagi, sosok Indi yang disebut-sebut orang yang menaikkan haji Kasrin, yang hingga kini masih misterius.

Cerita tentang sosok Indi, ternyata masih berlanjut ketika di Makkah. Kasrin menceritakan, dirinya tidak ingat apa yang sudah dikerjakan di Makkah. Katanya, dia hanya mengikuti apa yang disarankan oleh Indi yang disebut berasal dari Lasem. “Saya itu tidak tahu apa namanya yang saya lakukan. Saya hanya mengikuti ke mana Bu Indi itu pergi. Baik itu di Makkah atau di Madinah,” katanya.

Kepada Kasrin, Indi mengatakan, jika tidak mau ketinggalan langkah, maka Kasrin harus selalu mengikuti langkah Indi dari belakang. “Bu Indi bilang, “Mas, kowe ojo adoh-adoh karo aku. Rokku mburi ganduli ae, ben ora kari (Mas, kamu jangan jauh-jauh dariku. Pegang rok saya bagian belakang, biar tidak ketinggalan).” ucap Kasrin menirukan perkataan Indi.

Ketika menjalankan haji, Kasrin juga mengaku tidak membawa pakaian Ihram layaknya jemaah haji lainnya. Ketika itu, dia memakai pakaian busana muslim berwarna putih layaknya pakaian yang dibawa saat dari rumah.”Berhubung ketika berangkat saya tidak memakai pakaian haji atau seragam haji, saya di sana juga memakai pakaian ini saja,” katanya.

Ketika di sana, dirinya mengaku tidak ada pemeriksaan dokumen atau paspor oleh petugas yang berwenang. Selain itu, ketika di Makkah, dirinya juga tidak menginap di pemondokan seperti jemaah haji pada umumnya dari Indonesia. Dia mengaku tinggal di sebuah rumah.

Lebih lanjut dirinya menceritakan, mengenai sosok Indi, yang merupakan langganannya yang diantar jemput sekolah sejak TK hingga SMA. Ketika mengantar jemput tersebut, dirinya tidak menerima upah berupa uang dari orang tua Indi.

“Ketika itu, saya diberikan dua pilihan. Apakah minta bayaran mentah atau matang. Kemudian saya minta yang matang saja. Dan kalau saya membutuhkan sesuatu, Bu Indi memberikannya semua apa yang saya butuhkan itu,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono