3 Kejadian Jepara Bikin Heboh di 2016, Mulai Pungkruk, Om Telolet Om, dan Warung Harga Mahal di Bandengan

kaleidoskop-jepara_rev

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara selama 2016 telah terjadi banyak hal. MuriaNewsCom merangkum beberapa kejadian yang bikin heboh Kota Ukir.

Di antaranya seperti nasib tempat karaoke Pungkruk seusai dirobohkan, beberapa waktu lalu. Tapi sampai saat ini nasibnya tak jelas.

  1. Nasib tempat karaoke Pungkruk

Tempat hiburan karaoke di Kawasan Pungkruk, Desa Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Jepara, telah dirobohkan dan diratakan dengan tanah oleh Pemkab Jepara beberapa waktu lalu. Namun, hal itu tak menyurutkan niat para pengusaha karaoke untuk berhenti. Mereka kini mulai membuka usaha karaoke lagi. 

Hanya, tempat karaoke yang saat ini ada tak sebanyak dulu. Selain itu, tanah yang ditempati bangunan karaoke bukan tanah yang berstatus milik Pemkab Jepara.

 

Salah seorang pengusaha karaoke, Yusuf mengatakan, dirinya kembali membuka usaha karaoke karena desakan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurutnya, layaknya tempat hiburan karaoke pada umumnya. Dia juga menyediakan sejumlah pemandu karaoke (PK). Alasan dia menyewa bangunan di tanah milik warga Negara Korea karena jika mendirikan di atas tanah milik pemerintah sudah tidak berani lagi setelah peristiwa pembongkaran beberapa waktu lalu.

kaleidoskop-pungkruk

Petugas memeriksa sejumlah PK di salah satu tempat karaoke di Pungkruk usai pembongkaran. (MuriaNewsCom)

 

Sebelumnya, kawasan Pantai Pungkruk terkenal sebagai pusat lokasi hiburan karaoke. di sepanjang pantai, berdiri puluhan bangunan kafe karaoke. Namun, pada tahun 2015, Pemkab Jepara meratakan seluruh bangunan kafe karaoke. Kala itu dengan dalih, kawasan Pantai Pungkruk akan disulap menjadi pusat wisata kuliner. Tapi, hingga kini tanda-tanda Pantai Pungkruk akan dijadikan pusat wisata kuliner belum nampak. Puing-puing sisa bangunan kafe karaoke masing memenuhi lahan tersebut.

Baca juga : Tempat Karaoke di Kawasan Pungkruk Jepara Bergeliat Lagi

Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan (Ciptaruk) Jepara mengaku, akan melakukan pembangunan Pungkruk sebagai pusat wisata kuliner. Dengan skema dan desain pembangunan telah ada, dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 10 miliar. Tetapi Pemkab Jepara baru mengalokasikan dana Rp 1 miliar.

Anggaran dari APBD sebesar Rp 1 miliariItu untuk membangun kios dan los kuliner.  Faktor yang menyebabkan keterlambatan pembangunan tersebut lantaran perencanaan yang terlalu mepet. Seharusnya, perencanaan sudah dilakukan pada periode APBD Perubahan. Sedangkan pembongkaran dilakukan pada Oktober sehingga perencanaan praktis baru bisa dilakukan mendekati pengetokan APBD 2016.

Pembangunan kawasan Pungkruk, lanjut dia, memang bukan proyek ekslusif di dinasnya. Tapi juga Dinas Bina Marga, Pengairan dan ESDM untuk perbaikan jalan, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk infrastruktur pelengkap.

 

  1. Om Telolet Om dari Ngabul Jepara

Fenomena frasa ‘Om Telolet Om’ tengah menjadi viral, beberapa waktu lalu. Bahkan melesat luar biasa. Salah satu penyebab fenomenalnya “Om Telolet Om” berasal dari daerah Ngabul, Jepara.

Dari penelusuran di lapangan, hampir setiap sore, warga Ngabul dan sekitarnya memburu bus agar membunyikan klaksonnya. Mereka merekamnya ke video.

Warga kena wabah Om Telolet Om. (MuriaNewsCom)

Warga kena wabah Om Telolet Om. (MuriaNewsCom)

 

Di antaranya video yang diambil dari depan SPBU Ngabul.  Di video itu, warga juga membawa tulisan “OM TELOLET :)” sambil berseru “Om, telolet om!” berulang kali. Hal itu pun kini kian ramai.

Baca juga : “Om Telolet Om” dari Ngabul Jepara Mendunia, Obama dan Justin Bieber Pun Ikut-Ikutan 

 

3. Harga Makanan di Warung di Pantai Bandengan Jepara Super Mahal

Keinginan menikmati liburan dengan nyaman, rupanya berakhir dengan tidak menyenangkan bagi keluarga Kepala Desa (Kades) Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, Edy Purwanto.

Pasalnya, saat menikmati makan siang di sebuah rumah makan di Pantai Bandengan, Jepara, keluarga tersebut merasa bahwa, mereka telah membayar makanannya dengan harga tidak wajar.

Saking sebalnya dengan peristiwa itu, istri kades Undaan Lor, yang bernama Aizzatun Nada, menggugah beberapa foto warung makan tempatnya berkunjung pada 25 Desember 2016 lalu. Bukan itu saja. Nota pembelian makanan juga diunggah dalam akun Facebook miliknya.

Dalam akunnya itu, istri kades tersebut menceritakan bagaimana dirinya bersama rombongan keluarga, memilih satu lokasi rumah makan yang cukup bersih dan sepi. Pasalnya, warung makan langganannya sedang ramai sekali.

Alhasil, unggahan di medsos tersebut berhasil membuat pengguna medsos lainnya berkomentar. Rata-rata mempertanyakan bagaimana mungkin makan di sebuah warung biasa, harus sampai membayar jutaan rupiah.

Edy sendiri saat dihubungi, membenarkan kejadian tersebut. Awalnya, dia bersama rombongan menghabiskan liburan di kawasan wisata Jepara Ourland Park (JOP). ”Namun, kami memutuskan makan siangnya di Pantai Bandengan saja. Karena warung langganan kami sedang ramai, akhirnya kami mencari-cari yang lain. Ketemulah sebuah warung yang nyaman, namun cukup sepi. Kita makanlah di sana,” tuturnya, Senin (26/12/2016).

Suasana salah satu warung yang menerapkan harga super mahal di Pantai Bandengan Jepara. (MuriaNewsCom/Merie)

Suasana salah satu warung yang menerapkan harga super mahal di Pantai Bandengan Jepara. (MuriaNewsCom/Merie)

 

Saat membayar itulah, Edy dan istrinya merasa kaget ketika disodori nota dengan nilai yang harus dibayar adalah Rp 2,304 juta. Apalagi, terdapat perbedaan harga pada beberapa item yang tertulis di nota. ”Istri saya sempat protes kepada pemilik warung. Maksudnya karena ada yang berbeda dan aneh, apalagi mahal, kami minta dihitung ulang saja. Tapi, malah mendapat sambutan yang kurang enak,” jelasnya.

Dimulai dari dua teko es teh senilai Rp 99 ribu, dua teko es jeruk seharga Rp 190 ribu, satu teko teh hangat senilai Rp 49.500, tiga porsi kerang tumis Rp 195 ribu, 20 ikan kakap Rp 1,2 juta, dua ikan kerapu Rp 250 ribu, 4 bakul nasi Rp  238 ribu, satu bungkus rokok LA Rp 23 ribu, dan satu teko es jeruk Rp 59.500. Dan nilai total dari makan siang tersebut adalah Rp 2,304 juta.

Yang terasa lucu adalah, pada harga dua teko es jeruk nilainya adalah Rp 190 ribu, namun pada satu teko es jeruk pada nota paling bawah, nilainya hanya Rp 59.500. Jika ini adalah item yang sama, seharusnya harga satu teko es jeruknya Rp 95 ribu. Namun, justru satu teko es jeruk tambahan itu, hanya bernilai Rp 59.500.

Berita yang sempat viral di media sosial tersebut, segera diantisipasi dengan cara memanggil seluruh pemilik warung makan yang ada di sana. “Begitu kita dengar ada keluhan seperti itu, paginya kita langsung kumpulkan semua pemilik warung makan,” kata Kepala Disbudpar Jepara Mulyaji kepada MuriaNewsCom.

Mulyaji mengatakan, pertemuan itu dilaksanakan pada Selasa (27/12/2016). Pihaknya hanya ingin memberikan pembinaan kepada para pedagang, untuk tidak memanfaatkan situasi banyaknya pengunjung yang datang ke pantai. “Bukan kepada pedagang di Bandengan saja. Tapi kepada seluruh pemilik warung makan di semua lokasi wisata yang ada di Jepara. Jangan aji mumpung,” tegasnya.

Baca juga : Ini Rincian Harga Makanan yang Tidak Wajar, yang Harus Dibayar Keluarga Kades Asal Kudus di Pantai Bandengan  

Editor : Akrom Hazami