Pondasi Kuno dari Tatatan Batu Bata Kembali Muncul di Desa Banjarejo

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Untuk kedua kalinya, ditemukan pondasi kuno dari tatatan batu bata merah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Kali ini, lokasi munculnya pondasi kuno berada di areal sawah milik Jasmo yang masuk wilayah Dusun Medang. 

Pondasi kuno yang terlihat panjangnya hanya sekitar 1 meter dan lebarnya sekitar 80 cm. Bangunan kuno ini muncul dari lokasi penggalian untuk mencari perhiasan emas di areal sawah.

“Kedalaman penggalian sekitar 2,5 meter. Sedangkan luas lahan penambangan sekitar 2 x 2 meter. Sebelumnya, pondasi itu tidak begitu kelihatan karena tertutup air,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Kamis (8/12/2016).

Pada awal Oktober 2015 lalu, untuk pertama kalinya ditemukan pondasi serupa. Lokasinya di areal sawah di Dusun Nganggil. Pondasi yang ditemukan pertama yang sudah sempat tergali, panjangnya lebih dari 300 meter. Meski begitu, ujung pondasinya belum ditemukan.

Lokasi penemuan kedua berjarak sekitar 150 meter sebelah barat dari pondasi yang ditemukan pertama. Saat penemuan pondasi pertama, lokasi ini dijadikan tempat parkir kendaraan roda empat atau truk pengunjung.

Menurut Taufik, munculnya pondasi terbaru dinilai ada hubungannya dengan penemuan pertama. Selain jaraknya tidak terlalu jauh, arah bangunan ternyata berbeda.

Penemuan pondasi pertama, arahnya membujur dari utara ke selatan. Sedangkan, pondasi yang ditemukan barusan arahnya membujur dari barat ke timur. “Melihat kondisi di lapangan, jika dilakukan penggalian ke arah timur di lokasi yang kedua, kemungkinan bertemu dengan pondasi ditemukan pertama. Jadi, analisa saya, pondasi yang ketemu tahun lalu, arahnya tidak lurus ke utara tetapi berbelok ke barat. Untuk menyimpulkan lebih tepat, nanti biar disampaikan oleh ahlinya. Saya sudah koordinasikan pada beberapa instansi terkait soal ini,” kata pria yang hobi naik gunung itu.

Taufik menambahkan, jika dihubungkan dengan keyakinan warga dengan sebuah lokasi yang diyakini sebagai Keraton Kerajaan Medang Kamulan, posisinya juga tepat. Lokasi yang diyakini sebagai keraton itu berada di sebelah barat pondasi pertama. Sementara dari posisi pondasi kedua, letak keraton ada di sebelah utaranya.

“Dari keterangan ahli dari Balai Arkeologi Yogyakarta lalu, pondasi ini merupakan batas sebuah bangunan atau wilayah tertentu. Kalau melihat munculnya pondasi kedua, perkiraan bangunan ada di barat pondasi lama. Di situ, kebetulan selama ini diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kamulan. Untuk membuktikan kebenarannya, masih butuh proses panjang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono