SMAN 1 Toroh Dinobatkan Jadi Pemenang Lomba Penghematan Energi dan Air

Tim penilai lomba penghematan energi dan air sedang meninjau lingkungan SMAN 1 Toroh beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim penilai lomba penghematan energi dan air sedang meninjau lingkungan SMAN 1 Toroh beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Berakhir sudah pelaksanaan Lomba Penghematan Energi dan Air di Grobogan tahun 2016. Berdasarkan hasil penilaian, ada tiga sekolah yang ditetapkan sebagai pemenang. Masing-masing, juara I diraih SMAN 1 Toroh dengan total poin 157,5. Untuk peringkat II diraih SMPN 1 Purwodadi (119,5 poin) dan SMPN 3 Gubug meraih peringkat III (113,5 poin).

“Untuk penyerahan piala dan hadiah bagi para juara akan dilangsungkan Rabu (30/11/2016)  besok. Tepatnya, saat upacara HUT Korpi dan HUT PGRI di Stadion Krida Bhakti,” jelas Kabag Perekonomian Anang Armunanto.

Lomba penghematan energi dan air ini dilaksanakan pada sekolah yang sudah menyandang predikat Adiwiyata. Jumlah sekolah Adiwiyata keseluruhan ada sembilan. Kesembilan sekolah yang ikut lomba terdiri satu SD, yakni SDN 2 Tegowanu Wetan yang menyadang Adiwiyata Provinsi. Kemudian, satu SMA, yakni SMAN 1 Toroh (Adiwiyata Provinsi).

Selanjutnya, lomba juga diikuti tujuh SMP. Masing-masing, SMPN 1 Tegowanu dan SMPN 3 Gubug. Keduanya, merupakan sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri,  SMPN 5 Purwodadi (Adiwiyata Nasional).

Empat sekolah lagi adalah penyandang Adiwiyata Provinsi. Yakni, SMPN 1 Kedungjati, SMPN 1 dan SMPN 2 Purwodadi dan SMPN 2 Tegowanu. “Penilaian lomba sudah dilakukan oleh tim penilai pada pekan lalu. Saat ini, baru ada 9 sekolah Adiwiyata di Grobogan,” kata Anang didampingi Kasubag Produksi dan SDA Pradana Setyawan.

Dijelaskan, pelaksanaan lomba dilatarbelakangi adanya Inpres No 13 tahun 2011 yang menginstruksikan seluruh instansi pemerintahan agar melaksanakan upaya penghematan energi dan air di lingkungannya. Adanya Inpres itu kemudian ditindaklanjuti dengan membikin kegiatan lomba untuk sekolah Adiwiyata.

Diharapkan dengan lomba diharapkan di lingkungan sekolah terdapat edukasi kebijakan penghematan energi dan air yang meliputi beberapa komponen. Seperti, kebijakan, komitmen, perencanaan, implementasi,evaluasi dan pelaporan penghematan energi dan air di sekolah.

“Adanya lomba ini bukan sekedar untuk mencari juara. Lebih dari itu, melalui ajang tersebut nantinya bisa merubah perilaku siswa untuk mendukung penghematan energi dan air,” jelasnya.

Ditambahkan, untuk menghemat energi dan air ini bisa dilakukan dengan hal-hal yang kecil. Misalnya, mematikan peralatan listrik yang sudah tidak digunakan, menyalakan lampu penerangan secukupnya, atau menanam banyak tumbuhan di lingkungan sekitar. 

Editor : Kholistiono

Terkait Molornya Penyelesaian Proyek Pembangunan Rumdis Bupati Rembang, Ini Kata PPK

Terkait Molornya Penyelesaian Proyek Pembangunan Rumdis Bupati Rembang, Ini Kata PPK

Salah seorang pekerja terlihat sedang beraktivitas dalam proyek pembangunan Rumah Dinas Bupati Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Terkait dengan molornya penyelesaian proyek pembangunan Rumah Dinas Bupati Rembang, Ismail, Kepala Bagian Umum Pemda Rembang yang juga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) enggan disebut lamban dalam hal tersebut.

“Molornya penyelesaian proyek itu ya karena rekanan menghadapi beberapa kendala. Baik itu materialnya yang datang terlambat, cuaca ataupun yang lainnya. Misalnya, kalau hujan malam hari turun, ketika akan dilembur itu nggak bisa,” katanya.

Kemudian, terkait pengajuan perpanjangan waktu yang sudah dilayangkan oleh rekanan, dalam hal ini PT. Dinasti Praja Kencana asal Pati, pihaknya akan melakukan komunikasi dengan pihak terkait lainnya.

“Kalau molor, jelas denda akan diberlakukan, karena itu juga sudah ada di klausul perjanjian. Kemudian, untuk surat permohonan perpanjangan waktu, itu tidak serta merta kita setujui. Namun kita rembug bersama-sama intansi terkait terlebih dahulu,” paparnya.

Dia melanjutkan, untuk saat ini, progres pengerjaan proyek pembangunannya baru mencapai 60 persen. Progres tersebut, meliputi terpasangnya plafon atap, pengecatan, penerapan sebagian genteng. Sepekan lagi, katanya, juga akan mulai pengerjaan granit bawah atau lantai.

Editor : Kholistiono

Mundur dari Pencalonan, 3 Cakades di Rembang Didenda Rp 37 Juta per Orang

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 43 desa di Kabupaten Rembang bakal melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak pada Rabu (30/11/2016) besok. Dari 43 desa tersebut, ternyata, ada tiga calon kades di tiga desa yang menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan, meski sudah ditetapkan sebagai calon.

Akibat sikap yang dilakukan tersebut, tiga calon ini harus menerima konsekuensi berupa sanksi denda. Masing-masing dari calon yang mengundurkan diri tersebut, harus membayar denda sebesar Rp 37 juta atau sesuai dengan alokasi dana penyelenggaraan pilkades yang dikucurkan pemerintah daerah.

Tiga calon kades yang mengundurkan diri dari pencalonan yaitu terdapat di Desa Gedangan, Kecamatan Rembang, Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori dan Desa Pandangan Wetan, Kecamatan Kragan.

Kepala Bagian Tata Pemerintahan pada Sekretariat Daerah Kabupaten Rembang Akhsannuddin mengatakan, ada tiga desa yang sudah dipastikan akan mengembalikan dana pelaksanaan pilkades yang sudah diberikan oleh panitia pilkades tingkat kabupaten.

“Sesuai  Perbup tentang pilkades tahun 2016 ini, bagi calon kades yang sudah ditetapkan oleh panitia, namun suatu hari ia mengundurkan diri, maka diwajibkan untuk mengganti bantuan keuangan yang sudah diterima oleh panitia setiap desa,” paparnya.

Ia katakan, terkait pembayaran denda oleh calon yang mundur, dirinya mengatakan, bahwa setiap calon yang mundur, diwajibkan mengembalikan biaya pilkades paling lambat H-1 pelaksanaan pilkades. “Namun  Hingga Selasa (29/11/2016) siang ini, calon yang mengundurkan diri  belum ada yang mengembalikan dana biaya pilkades tersebut,” tuturnya.

Dia menambahkan, untuk tahapan, pilkades di tahun  2016 ini, tidak ada istilah penyelenggaraan ulang pilkades.  Meskipun ada dua calon memperoleh suara berimbang. Namun untuk menentukan pemenangnya, dari suara berimbang tersebut, akan dipilih suara terbanyak asal domisili calon. “Sedangkan  bila terjadi perselisihan hasil pilkades di setiap desa, maka panitia diberikan waktu 30 hari untuk melakukan penyelesaian di tingkat desa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Kisah 3 Pembantai Debt Collector Jepara, Ngeri!

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH  saat gelar perkara menyampaikan keterangan kepada wartawan di mapolres setempat. (Tribratanewsjepara)

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH  saat gelar perkara menyampaikan keterangan kepada wartawan di mapolres setempat. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Jajaran Reskrim Polres Jepara berhasil mengamankan pelaku penganiayaan yang menewaskan Andik Yulianto (26), pria yang ditemukan tewas dengan luka tusuk di Desa Bantrung Batealit 20 November lalu. Andik Yulianto, merupakan warga Desa Bulungan, Kecamatan Pakis Aji yang diketahui bekerja sebagai debt collector Andalan Semarang.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH  saat gelar perkara menyampaikan, tiga pelaku sempat diburu polisi selama sepekan. Kini, pelaku berhasil diamankan jajaran Sat Reskrim Polres Jepara. Mereka adalah Kuswo alias Kus (40) warga Desa Kedungleper, Kecamatan Bangsri; Taufikur Rochman alias Topik (22) warga Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri; dan Sofyan Dwi Sunarso alias Cungir (26) warga Desa Jambu Timur, Kecamatan Pakis Aji.

Lebih lanjut Kapolres Jepara mengatakan, dua pelaku ditangkap pada Sabtu 26 November lalu, dan seorang tersangka lainnya berhasil diamankan Senin (28/11/2016. Terkait peran dan motif dari masing- masing pelaku, pihaknya mengaku masih perlu melakukan pendalaman kasus tersebut.

Dari keterangan pelaku, awal mula terjadinya pembunuhan terjadi usai menyaksikan pertunjukan orkes dangdut di Desa Langon, Kecamatan Tahunan. Di mana, ketika korban dan para pelaku beriringan mengendarai sepeda motor dan terjadi saling serempet.

“Tersangka Kuswo yang mengendarai motor Vega disrempet oleh korban Andik yang memboncengkan Ridwan, lalu Kuswo memperingatkan Andik supaya naik motor pelan-pelan, namun korban tidak menerimakan dan menendang motor Kuswo hingga keduanya terjatuh. Korban Andik menendang motor Revo yang dikendarai oleh Taufik dan Sofyan hingga jatuh. Usai terjatuh inilah aksi saling pukul terjadi,” tuturnya.

Senjata tajam yang digunakan oleh pelaku untuk menusuk korban sebenarnya adalah milik korban Andik. Namun karena kalah saat berkelahi akhirnya senjata tajam itu dikuasai oleh pelaku dan digunakan untuk menusuk korban.Setelah kedua korban terluka, ketiga pelaku melarikan diri meninggalkan kedua korban.

Kini para pelaku diamankan di Mapolres Jepara dan dikenai pasal 170 (2) ke-3 KUHP dan pasal 351 (3) KUHP tentang melakukan kekerasan secara bersama-sama di muka umum yang menyebabkan matinya seseorang dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Editor : Akrom Hazami

Benar-Benar Fakta, Ada Sabu di Tong Sampah Galeri ATM BRI Kudus

Pelaku diamankan di Mapolres Kudus atas kepemilikan sabu yang disembunyikan di tong sampah. (Tribratanewskudus)

Pelaku diamankan di Mapolres Kudus atas kepemilikan sabu yang disembunyikan di tong sampah. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus –  Satuan Reserse Narkoba Polres Kudus telah melakukan pengungkapan tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis sabu.  Polisi menangkap pelaku narkoba di galeri ATM BRI di Jalan Jenderal Sudirman Kudus. Setelah sebelumnya narkoba disembunyikan di tong sampah.

Tersangka adalah GB (34) warga Desa Prambatan Lor, RT 3 RW 1, Kecamatan Kaliwungu, Kudus , dengan domisili Desa Loramwetan RT 3 RW 1, Jati, Kudus. AW (24) warga Kampung Paten Jurang RT 4 RW 17, Kecamatan Rejowinangun Utara, Kota Magelang, dan SY (25) warga Desa Patenjurang, RT 3 Rw 16, Kecamatan Rejowinangun Utara, Magelang.

Mereka berhasil diamankan di galeri ATM BRI cabang Kudus jalan Jendral Sudirman, Selasa (29/11/2016) dini hari. Adapun barang bukti yang berhasil diamankan satu paket plastic serbuk kristal yang diduga sabu- sabu seberat 6 gram.

Barang bukti lainnya adalah tiga  bong terdiri dari yang terbuat dari botol bekas GPU, satu bong terbuat dari botol bekas parfum, dan satu bong terbuat dari bekas pipo rokok warna hitam.  Tiga buah kompor ,empat  buah serok terbuat dari sedotan plastic, empat buah korek api, dan satu buah alaa bong yang terbuat dari potongan pralon berwarna orange.

Kronologis kejadian, polisi dari Satres Narkoba telah menerima informasi. Bahwa GB akan melaksanakan transaksi sau yang akan diberikan kepada pemesannya AW dari Magelang.  Selanjutnya petugas melakukan penyelidikan secara intensif kepada GB ,ternyata benar sekitar pukul 21.00 WIB, tersangka bertemu dengan dua orang menggunakan Avanza warna putih metalik di pertigaan Sempalan Jati.

Petugas melakukan pembuntutan hingga ke rumah tersangka di Desa Loramwetan sekitar pukul 23.00 WIB.  GB keluar lagi dari rumah menuju galeri ATM BRI Cabang Jalan Jenderal Sudirman. Ternyata, GB mencari sabu di tempat sampah.

Ada sekitar enam tempat sampah di galeri ATM. Ternyata ditemukan satu bungkus rokok Sampoerna Mild putih yang diduga berisi sabu. Polisi segera menangkap GB. Dari keterangan GB, diakui jika barang haram itu pembelian atau kiriman dari orang yang bernama AN di Kudus.

GB diketahui pesan sebanyak 10 gram sabu kepada AN. GB telah mentransfer uang Rp 8,5 juta. Polisi juga menggeledah rumah GB dan ditemukan beberapa barang bukti. Di rumah GB juga ditangkap dua pelaku lainnya. Tersangka melanggar pasal 114 ayat 1 yo pasal 112 ayat 1 yo pasal 127 ayat 1 UU NO 35 Th 2009 tentang Narkotika.

Editor : Akrom Hazami

Mati Lampu Bikin Greget di Kudus, Ini Jawaban PLN

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan pelanggan PLN Kudus, harus bersabar karena adanya pemadaman listrik. Hal itu terjadi pada Selasa (29/11/2016) selama beberapa jam di sejumlah kecamatan.

Bagian Humas PLN Kudus Arif Nuryadi mengatakan, padamnya listrik dirasakan oleh ribuan pelanggan. Pelanggan tersebut meliputi Kecamatan Jati, Kota, Gebog hingga Jepara di perbatasan dengan Gebog “Kami minta maaf karena adanya pemadaman ini, namun kami langsung memperbaikinya secepat mungkin,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, pemadaman listrik terjadi bukan keinginan dari pihak PLN. Melainkan karena murni  ada gangguan pada trafo di gardu induk. Yang mana menyebabkan korsleting di trafo milik PLN.

Dia mengatakan, awal korsleting terjadi saat pemeliharaan di trafo II. Pemeliharaan sejak pagi tadi tersebut, membuat pelanggan di trafo II dialihkan ke trafo I dan juga trafo III. Sayangnya, saat penggantian tersebut tidak bertahan lama, sehingga travo III malahan korsleting. “Kejadian tersebut sekitar jam 11 30 WIB siang tadi. Jadi otomatis pelanggan di trafo III dan sebagian trafo II padam,” ujarnya.

Melihat hal itu, akhirnya pihai PLN mengebut perbaikan trafo II yang sedang diperbaiki. Hasilnya, sekitar pukul 14.45 WIB, listrik sudah kembali menyala dengan mengambil trafo I dan trafo II.

Sementara untuk trafo I, kondisinya masih aman. Sehingga untuk kawasan Kaliwungu ke arah barat masih menyala listriknya.  “Untuk trafo III masih ditangani oleh tim. Kemungkinan besar nanti malam akan selesai dan akan kembali normal seperti sedia kala,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Metode Tani Seperti Ini Lho yang Bikin Pertanian di Blora Maju

Petani membajak sawahnya di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.  (Humas dan Protokol Setda Kabupaten Blora)

Petani membajak sawahnya di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.  (Humas dan Protokol Setda Kabupaten Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Pemerintah Kabupaten Blora bersama Dinas Pertanian Perkebunan Perikanan Dan Peternakan (Dintanbunakikan) Kabupaten Blora menyukseskan acara Gerakan Tanam Padi Sistim Jajar Legowo dengan Alat Tanam Transplanter di Kelompok Tani Sari Makmur I, Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Cepu.

Hadir dalam acara ini, Kepala Dintanbunakikan Reni Miharti, Camat Cepu Mei Nariyono dan Forkopimcam Kecamatan Cepu. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas petani yang ada di Kabupaten Blora.

Metode Rice Transplanter yang digunakan kali ini merupakan teknologi mekanis untuk menebarkan bibit padi di lahan sawah. Teknologi ini mulai banyak dipergunakan para petani di beberapa daerah di Jawa. Dengan teknologi ini petani dapat mempersingkat waktu tanam sekaligus penghematan biaya tanam serta meningkatkan kualitas tanaman padi.

Camat Cepu, Mei Nariyono dalam sambutannya berharap dengan penggunaan teknologi pertanian ini memperoleh hasil yang bagus. “Diharapkan dengan adanya teknologi ini dapat meningkatkan taraf hidup petani karena menuai keuntungan dari tanaman padi,” katanya.

Bupati Blora Djoko Nugroho menyampaikan bahwa pertanian merupakan salah satu penyumbang tertinggi pendapatan daerah. Oleh karena itu dengan adanya pemberian alat teknologi pertanian ini diharapkan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Kalau sudah dikasih ya dimanfaatkan sebaik-baiknya, ini juga untuk kemajuan kita bersama, kemajuan Blora,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

Jejak Stasiun KA Mayong Jepara yang Mempesona

Bangunan Stasiun Mayong Jepara yang kini telah beralih fungsi di Grabag Magelang. (rumahkuliner.wordpress.com)

Bangunan Stasiun Mayong Jepara yang kini telah beralih fungsi di Grabag Magelang. (rumahkuliner.wordpress.com)

MuriaNewsCom, Jepara – Jejak perkeretapian di wilayah Jepara masih terasa. Sebab, wilayah Jepara dulunya sempat dilintasi kereta api. Kini, moda transportasi tersebut tinggal kenangan.

Sekadar nostalgia, jejak kereta api yang membekas adalah Stasiun Mayong. Ternyata, stasiun itu merupakan salah satu yang tertua di Jawa. Stasiun itu berdiri pada 1873.

Dulunya, bangunan stasiun sangat elok. Stasiun terbuat dari kayu jat pilihan. Bentuknya masih berkarakter. Lokasi Stasiun Mayong dahulunya di daerah Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, tepatnya depan SMPN 2 Mayong.

Ada yang mengatakan konon stasiun itu dibangun untuk memudahkan pengangkutan hasil kerajinan mebel kayu dari Jepara. Untuk selanjutnya dinaikkan ke kapal via Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Selain juga untuk mempermudah hasil Pabrik Gula Pecangaan yng sekarang menjadi PT Dasaplas.

Jalur kereta api Kudus-Mayong

Jalur kereta api Kudus-Mayong

Stasiun Mayong juga menjadi salah satu titik berkumpulnya penumpang. Dulu, terdapat perusahaan kereta api dan trem Semarang Joana Stroomtram Maatschappij (SJS). Perusahaan tersebut pada tahun 1885 membuka jalur Semarang-Genuk-Demak-Kudus-Pati-Joana (sekarang Juwana).

Setelah itu, Pada 5 Mei 1895 Stroomtram Maatschappij (SJS) menambah jalurnya ke timur yakni membuka jalur Kudus-Mayong- Gotri-Pecangaan. Pada 1 Mei 1900 juga menambah jalur kereta api ke barat hingga mencapai Rembang dan Lasem. Pada tahun itu juga, pada 10 November SJS membuka jalur baru lagi yang melayani rute Mayong-Welahan-Demak-Semarang.

Tentang Stasiun Mayong

Tentang Stasiun Mayong

Sejak tahun 1980, penumpang turun drastis karena pelebaran jalan dan makin bannyaknya kendaraan pribadi. Akhirnya stasiun ini dinon-aktifkan. Saat ini lokasinya menjadi kios-kios toko, Sedangkan bangunan stasiun itu sudah tidak ada karena telah dipindahkan oleh investor akhir tahun 1990-an.

Bangunan stasiun itu ditempati dan menjadi Losari Spa Retreat & Coffee Plantation daerah Grabag Magelang.

 Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Para Pengusaha di Pati Tegaskan Dukung Haryanto-Saiful Arifin

Paslon Haryanto-Saiful Arifin bersama dengan pengusaha kuningan dan para pengusaha lainnya berfoto bersama, usai melakukan konsolidasi untuk pemenangan Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Paslon Haryanto-Saiful Arifin bersama dengan pengusaha kuningan dan para pengusaha lainnya berfoto bersama, usai melakukan konsolidasi untuk pemenangan Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Industri Kuningan (APIK) Juwana dan Pati Inspirations Club (PIC) dengan tegas menyatakan dukungannya kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Pati, Haryanto-Saiful Arifin. Dukungan itu ditegaskan, Selasa (29/11/2016).

Suwarso Subur, salah satu pengusaha kuningan asal Juwana mengatakan, semua pengusaha yang tergabung dalam komunitasnya menyatakan dukungan, karena alasan kredibilitas dan kepemimpinan petahana yang dinilai berhasil memajukan Kabupaten Pati. Mereka mengaku ikut bertanggung jawab untuk memenangkan Haryanto-Arifin.

“Dukungan dari masyarakat terus mengalir. Kami juga merasa bertanggung jawab untuk memenangkan Haryanto-Arifin, karena kerjanya dalam membangun dan menyejahterakan masyarakat Pati sudah nyata. Tidak ada kata lain, selain lanjutkan,” kata Subur.

Tak hanya pengusaha, dukungan juga diakui mengalir dari para karyawan yang bekerja di tempat kerja para pengusaha. Karena itu, para pengusaha merasa punya beban moral untuk berjuang memenangkan Haryanto-Arifin.

Menurutnya, Haryanto banyak menuai prestasi selama memimpin hingga mengantarkan Pati ke panggung nasional. Kendati begitu, dia tidak menampik bila ada kekurangan selama memimpin. Namun, kekurangan dianggap sesuatu yang wajar dan bisa dibenahi pada periode selanjutnya.

Menanggapi dukungan dari para pengusaha, Haryanto mengaku akan mengemban amanah berupa dukungan itu dengan baik. Selain para pengusaha kuningan, Haryanto mengaku juga mendapatkan dukungan dari para pengusaha kapal, perikanan, nelayan, hingga petani.

Sementara itu, Saiful Arifin merasa perlu berjuang untuk mendapatkan hasil yang maksimal terkait dengan perolehan suara pada pilkada yang dihelat pada 15 Februari 2017, kendati hanya diikuti calon tunggal.

Pengusaha muda asal Desa Mojoagung, Trangkil ini mengucapkan terima kasih kepada semua elemen masyarakat Pati yang sudah memberikan kepercayaan kepada pasangan Haryanto-Arifin untuk memimpin Pati hingga 2022 mendatang.

Editor : Kholistiono

Jembatan Hancur Diterjang Arus Sungai, Ini Keinginan Warga Jekulo Kudus

Warga beraktivitas di pinggir bekas jembatan di Desa/Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga beraktivitas di pinggir bekas jembatan di Desa/Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu jembatan di Desa/Kecamatan Jekulo, Kudus, hingga kini masih dibiarkan rusak. Akses penting warga itu rusak diterjang saat arus sungai meluap, 2013 lalu. Hingga kini, fondasi dan puingnya masih tersisa.

Subandi, seorang warga setempat mengatakan, masyarakat berharap agar jembatan diperbaiki. Mengingat akses tersebut menjadi penghubung wilayah Jekulo Kauman dengan Jekulo seberang. “Kami berharap pemerintah dapat membantu. Semoga bisa segera dibangunkan jembatan baru agar masyarakat terbantu,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/11/2016).

Menurutnya, warga telah beberapa kali menyampaikan hal itu saat bertemu dengan pejabat pemkab setempat. Tapi sampai kini, keinginan warga belum juga terealisasi. Meski demikian, mereka tetap mempunyai harapan jika jembatan bisa dibangun dengan konstruksi lebih kokoh.

Selain jembatan, warga juga berharap adanya pembangunan talut di sepanjang bantaran sungai. Hal itu untuk mengamankan permukiman, agar tidak mudah tergerus oleh banjir.

Suyanto, warga lain mengatakan, banjir besar tidak lagi melanda sejak tiga tahun terakhir. “Kalau banjir bisa sampai satu meter. Air sampai masuk rumah warga. Saat ini, kami tetap khawatir jika hujan deras tiba. Warga waswas,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Pengusaha Properti Asal Juwana Disandera di LP Pati

Plt Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I, Dasto Ledyanto (tengah) memberikan keterangan terkait dengan penyanderaan EW, penunggak pajak asal Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Plt Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I, Dasto Ledyanto (tengah) memberikan keterangan terkait dengan penyanderaan EW, penunggak pajak asal Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Kecamatan Juwana berinisial EW, pengusaha properti dan real estate terpaksa disandera di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pati, Selasa (28/11/2016), lantaran tidak membayar pajak. Penyanderaan dilakukan petugas pajak bersama dengan polisi dari Polda Jawa Tengah.

Plt Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I, Dasto Ledyanto mengatakan, penyanderaan kepada wajib pajak asal Juwana di Lapas Pati tersebut sudah sesuai dengan Undang-undang. EW akan dilepaskan dari penyanderaan bila melunasi pajak senilai Rp 700 juta.

Jika tidak, penyanderaan akan dilakukan selama enam bulan. Dalam waktu tersebut, bila masih tidak membayar pajak, EW akan dikenakan perpanjangan penyanderaan selama enam bulan lagi. Kendati disandera, EW diberikan kesempatan untuk ikut tax amnesty.

Pasalnya, EW tidak masuk dalam tiga kategori yang tidak diperbolehkan ikut tax amnesty. Ketiga kategori tersebut, antara lain mereka yang sudah diproses penyidikan dan dinyatakan P21 oleh kejaksaan, mereka yang sedang dalam proses pengadilan, serta mereka yang sedang menjalani pidana atas tindakan pidana perpajakan.

“EW tidak masuk dalam tiga kategori tersebut, sehingga diberikan kesempatan untuk ikut tax amnesty. Syaratnya, dia harus membayar pokok pajak yang terhutang sampai saat ini, selain Rp 700 juta. Hutang pajak yang lain, kurang lebih harus bayar Rp 2,01 miliar untuk bisa ikut tax amnesty,” imbuh Dasto.

Namun, EW berkewajiban membayar Rp 700 juta agar dikeluarkan dari penyanderaan dari Lapas Pati. EW disandera, setelah asetnya berupa ruko disita, lantaran memiliki tunggakan pajak pada 2012 yang ditetapkan.

EW tidak membayar pajak pertambahan nilai (PPN) atas usahanya, CV A yang bergerak di bidang properti dan real estate sehingga ditetapkan melanggar undang-undang. Pada 2016, Kanwil DJP Jawa Tengah I menahan dua penunggak pajak asal Pati.

Satu orang tidak jadi ditahan, karena langsung melunasi pajak saat akan disandera di Lapas Pati. Namun, hingga saat ini, EW masih belum melunasi pajak yang harus dibayar sehingga disandera di Lapas Pati hingga bisa melunasinya.

Editor : Kholistiono

Penyelesaian Proyek Rumdis Bupati Rembang Molor

 Para pekerja yang mengerjakan pembangunan Rumah Dinas Bupati Rembang terlihat sedang memilah kayu untuk dipasang di bagian atap. Penyelesaian proyek ini dipastikan molor dari ketentuan waktu yang ada. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para pekerja yang mengerjakan pembangunan Rumah Dinas Bupati Rembang terlihat sedang memilah kayu untuk dipasang di bagian atap. Penyelesaian proyek ini dipastikan molor dari ketentuan waktu yang ada. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Penyelesaian proyek pembangunan Rumah Dinas Bupati di Jalan Gatot Subroto No. 8 Rembang dipastikan molor dari waktu yang sudah ditetapkan, yakni 13 Agustus hingga 9 Desember 2016.

Kepastian molornya pengerjaan proyek tersebut berdasarkan surat permohonan perpanjangan waktu yang sudah dilayangkan pihak pelaksana proyek dari PT. Dinasti Praja Kencana asal Pati . “Iya, pihak rekanan proyek sudah mengajukan surat permohonan perpanjangan pekerjaan hingga 25 Desember mendatang,” ujar Konsultan pengawas, Mulyono Sukarno.

Dengan adanya surat permohonan perpanjangan waktu tersebut, nantinya akan dibahas lebih lanjut lagi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), tim teknis, dinas terkait. Pembahasan tersebut, katanya, bisa menyangkut dengan adanya penerapan denda, dan hal lainnya yang tidak menimbulkan kerugian negara.

Menurutnya, hingga saat ini progres pengerjaan proyek yang dianggarkan sebesar Rp 4,77 miliar tersebut, baru sekitar 60 persen. “60 persen itu mulai dari pengerjaan atap 20 persen, lantai 20 persen dan mekanikal dan electrical 20 persen,” imbuhnya.

Dia menilai, rekanan proyek saat ini sudah menjalankan pekerjaan pembangunan Rumah Dinas Bupati Rembang dengan maksimal dan sudah memiliki itikad baik.

“Kalau menurut kita, rekanan sudah beritikad baik. Sebab bahan bagunan baik itu genteng, kayu, material juga sudah siap. Meskipun kemarin-kemarin terkendala pengirimannya atau juga terkendala cuaca. Tinggal apakah nantinya kita menyetujui permohonan perpanjangan waktu atau bagaimana,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Motor Anda Hilang Dicuri? Cek di Mapolres Grobogan, Silakan Diambil Gratis

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning menunjukkan barang bukti sepeda motor yang berhasil diamankan dari tangan pelaku curanmor. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning menunjukkan barang bukti sepeda motor yang berhasil diamankan dari tangan pelaku curanmor. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Terkait dengan penangkapan tiga pelaku curanmor, Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning meminta warga yang merasa kehilangan sepeda motor agar mengecek ke mapolres. Sebab, bisa jadi, motor warga yang hilang di antaranya adalah barang bukti hasil kejahatan yang berhasil disita dari tangan pelaku.

“Bagi warga yang merasa pernah kehilangan sepeda motor bisa datang ke kantor. Siapa tahu, sepeda motornya ada di antara barang bukti hasil kejahatan yang berhasil kita sita dari para pelaku,” ungkapnya.

Untuk mengurus sepeda motor yang hilang, warga tidak dibebani biaya. Namun, mereka diharuskan membawa laporan kehilangan dan bukti kepemilikan sepeda motor.

Menurut Agusman, selain mengamankan tiga pelaku yang terlibat kasus curanmor di wilayahnya, anggota juga berhasil mengamankan sembilan motor berbagai jenis yang diduga hasil kejahatan. Saat ini, barang bukti motor sudah diamankan di Mapolres Grobogan.

“Dari keterangan pelaku, sedikitnya mereka sudah mencuri motor di wilayah Grobogan sebanyak 13 kali. Saat ini, baru ada 9 unit kendaraan yang berhasil kita amankan. Untuk barang bukti lainnya, masih kita telusuri,” jelasnya.

Seperti diberitakan, baru-baru ini aparat Satreskrim Polres Grobogan akhirnya berhasil mengungkap jaringan pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Total pelaku yang ditangkap ada tiga orang. Terdiri dua pemetik dan satu orang penadah hasil kejahatan.

ranmor

Dari hasil pemeriksaan, dua pemetik ini diketahui bernama Agus Setiawan (34) alias Pedro. Warga Randublatung, Blora ini diketahui adalah pecatan anggota TNI tahun 2012 lalu. 

Sedangkan satu lagi, adalah Juwadi (44), warga Bangle, Blora. Pria ini tercatat masih jadi anggota TNI aktif berpangkat Serda dan bertugas di Kodim Blora.

“Satu tersangka lagi yang kita amankan adalah Ahmad Faizin (32) alias Joker Moto Kucing, warga Kecamatan Sumber, Rembang yang bertindak sebagai penadah. Untuk pelaku yang tercatat masih aktif sebagai anggota TNI sudah kita serahkan ke Denpom,” kata Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning.

Jaringan ini sedikitnya sudah 13 kali melakukan aksi kejahatan di wilayah Grobogan. Semua tempat yang disasar berada di kawasan kota Purwodadi.

Editor : Kholistiono

Polres Grobogan Bekuk Oknum TNI Berpangkat Serda yang Terlibat Aksi Curanmor

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning saat meminta keterangan pada Pedro, salah seorang pelaku curanmor yang berhasil ditangkap. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning saat meminta keterangan pada Pedro, salah seorang pelaku curanmor yang berhasil ditangkap. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Setelah melakukan penyelidikan cukup lama, aparat Satreskrim Polres Grobogan akhirnya berhasil mengungkap jaringan pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Total pelaku yang ditangkap ada tiga orang. Terdiri dua pemetik dan satu orang penadah hasil kejahatan.

Dari hasil pemeriksaan, dua pemetik ini diketahui bernama Agus Setiawan (34) alias Pedro. Warga Randublatung, Blora ini diketahui adalah pecatan anggota TNI tahun 2012 lalu. Sedangkan satu lagi, adalah Juwadi (44), warga Bangle, Blora. Pria ini tercatat masih jadi anggota TNI aktif berpangkat Serda dan bertugas di Kodim Blora.

“Satu tersangka lagi yang kita amankan adalah Ahmad Faizin (32) alias Joker Moto Kucing, warga Kecamatan Sumber, Rembang yang bertindak sebagai penadah. Untuk pelaku yang tercatat masih aktif sebagai anggota TNI sudah kita serahkan ke Denpom,” kata Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning.

Jaringan ini sedikitnya sudah 13 kali melakukan aksi kejahatan di wilayah Grobogan. Semua tempat yang disasar berada di kawasan kota Purwodadi.Keduanya mengincar kendaraan bermotor yang terparkir di tempat sepi. Saat menggasak satu kendaraan menggunakan kunci T, mereka butuh waktu tidak sampai satu menit.

Terungkapnya jaringan pelaku curanmor itu berawal dari tertangkapnya Pedro pada pertengahan November lalu ketika melintas di jalan A Yani Purwodadi. Dalam penyergapan itu, petugas terpaksa menembak kaki kanan Pedro lantaran mencoba kabur.“Dari penangkapan Pedro akhirnya muncul beberapa nama lainnya yang akhirnya berhasil pula kita amankan. Mereka akan kami jerat KUHP pasal 363 pencurian dan pasal 480 tentang penadahan,” jelasnya. 

Editor : Kholistiono

Bupati Kudus: ASN Harus Buktikan Bukan Pegawai yang Lemot

Bupati Kudus H Musthofa bersama anak-anak yang memberinya kenang-kenangan berupa sketsa diri, dalam peringatan HUT Korpri, di pendapa kabupaten, Selasa (29/11/2016). (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa bersama anak-anak yang memberinya kenang-kenangan berupa sketsa diri, dalam peringatan HUT Korpri, di pendapa kabupaten, Selasa (29/11/2016). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus H. Musthofa menjadi inspektur upacara peringatan HUT Korpri ke-45, di halaman pendapa kabupaten, Selasa (29/11). Upacara tersebut juga sebagai peringatan HUT PGRI ke-71 dan Hari Kesehatan Nasional ke-52.

Upacara yang dihadiri forkopinda, pejabat, pegawai, organisasi profesi, pelajar, serta unsur masyarakat lain, diharapkan bukan hanya seremoni penggugur kewajiban saja.

”Saya sebagai pembina Korpri Kabupaten Kudus, meminta kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN), untuk mampu berkompetisi dalam kebaikan dan kualitas,” tegasnya.

Lebih penting lagi bupati mengingatkan akan peran dan fungsi ASN sebagai pelayan masyarakat. Untuk itu, profesionalisme menjadi kata kunci dalam pengabdian tersebut.

Menurut bupati, dengan peningkatan profesionalisme itulah, modal penting melayani untuk mewujudkan masyarakat yang semakin sejahtera. ”Kalau selama ini PNS dibilang lemot, saya minta untuk membuktikan, bahwa PNS mampu bekerja dengan profesional dan mampu memberikan yang terbaik,” tuturnya.

Sebagai wujud komitmennya pada para PNS, bupati telah menganggarkan TPP tertinggi se-Jawa Tengah. Namun demikian, raihan tersebut harus diimbangi dengan kualitas pelayanan. Masyarakat juga bisa memberikan penilaian kinerja melalui aplikasi Menjaga Amanah Rakyat (Menara) dalam kerangka Kudus sebagai cybercity.

Menyinggung tentang layanan pendidikan, bupati yang kini menempuh pendidikan S3 Doktoral Ilmu Sosial Undip ini, telah menggratiskan pendidikan di Kudus. Anggaran senilai Rp 29 miliar untuk warga Kudus mulai SD hingga SMA/SMK negeri, juga telah dikucurkan.

Termasuk layanan kesehatan juga terus ditingkatkan. Gagasan dan ide cerdas terus ditelorkan untul masyarakat. Seperti layanan rawat inap puskesmas dan pembebasan biaya di kelas III RSUD dr Loekmono Hadi adalah buktinya.

”Semua jajaran kesehatan saya minta layani masyarakat dengan baik. Jangan dipersulit. Baik itu di rumah sakit negeri atau swasta, semua sama,” pesannya.

Di akhir amanat, bupati yang juga ketua harian Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Semarang ini, ingin menggerakkan semua komponen masyarakat. ”Karena Kudus bisa semakin maju dan sejahtera bukan hanya di tangan seorang bupati saja, melainkan butuh kebersamaan seluruh masyarakat,” terangnya.

Acara diakhiri dengan penyerahan Satyalancana Karyasatya bagi para PNS atas pengabdian yang telah diberikan. Selain itu ditampilkan tari kolosal Bhinneka Tunggal Ika Indonesia Satu yang diperagakan oleh 300 siswa SD, SMP, dan SMK.

Editor: Merie

Kebebasan Bersuara di Media Sosial Terancam Penjara

Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

BEBERAPA hari terakhir, Undang –Undang Informasi Transaksi dan Elektronika (ITE) ramai. UU ITE telah direvisi dan diberlakukan pada Senin (28/11/2016). Dengan diberlakukannya revisi UU ITE, berarti kebebasan bersuara, khususnya melalui media sosial, pun terfilter.

Media sosial seolah menjadi tempat istimewa untuk mengujar kebencian, ajang pemelintiran berita, manipulisi foto dengan diisi kalimat yang menyudutkan, hingga kata kasar yang dengan enteng terunggah. Kemudian jadi konsumsi sesama pengguna media sosial.

Meski tidak sedikit pula, pengguna media sosial yang bijak dalam menggunakannya. Serta memberikan konten yang positif. Itu jelas memberi manfaat bagi sesama. Lantas, satu sama lain memberikan tanggapan. Baik bersifat pro, maupun kontra.

Kembali kepada persoalan pengujar kebencian melalui media sosial, dan ketidakarifan menggunakan internet. Dengan diberlakukannya UU ITE, para pengguna media sosial hendaknya bisa mengontrol konten yang akan diunggah.

Pemerintah, dalam hal ini Kemkomifo, berharap pengguna sosial bisa bijak dalam beraksi. Sebab sudah saatnya bangsa Indonesia, yang mulai melek teknologi, diatur dalam kebebasannya bersuara. Konten positif menjadi aspirasi berharga demi membangun bangsa menjadi lebih baik.

Beberapa kasus terakhir menjadi pelajaran bagi kita. Buni Yani yang mengunggah konten Youtube, yang dianggap mengandung ujaran kebencian harus menjadi tersangka. Atau yang terakhir adalah kasus penghina ulama di Kabupaten Rembang.

Ada dua ulama, yang saat ini ketahuan, menjadi sasaran kebencian pengguna media sosial. Adalah KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Maemoen Zubair. Pemilik akun media sosial Twitter @panduwijaya melontarkan kalimat penghinaan ke sosok Gus Mus. Hal itu membuat masyarakat resah. Bahkan tidak sedikit yang marah.

Pemilik akun, Pandu Wijaya, warga Perumahan Bromo, Desa Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur, pun segera sowan ke kediaman Gus Mus di kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, Jumat (25/11/2016) siang.    

Maksud Pandu Wijaya adalah untuk memohon maaf atas kicauannya yang menghina Gus Mus. Pandu mengaku khilaf dengan apa yang ditulisnya. Rasa pasrah Pandu juga terucap atas SP 3 yang diterimanya dari tempatnya bekerja. Termasuk bila warga NU berniat menempuh jalur hukum. Pandu hanya bisa pasrah.

Rupanya ujaran kebencian terhadap sosok Gus Mus juga dilancarkan oleh pemilik akun Facebook Bahtiar Prasojo. Warga Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, itu menghina Gus Mus. Sekali lagi, ujaran kebencian itu meresahkan banyak pihak.

Bahtiar juga melakukan hal serupa dengan Pandu. Yakni sowan ke rumah Gus Mus. Tujuannya untuk memohon maaf secara langsung. Meski sebelumnya, Bahtiar telah menulis permohonan maafnya melalui akun Facebook.

Sementara KH Maemoen Zubair atau akrab dipanggil Mbah Moen menjadi sasaran ujaran kebencian oleh pemilik akun Facebook Syaibah Mawal atau yang bernama lengkap Syaibatul Alawiyah. Warga Kampung Rawabuntu Serpong itu bersilaturrahmi di kediaman KH Maimoen Zubair di Karangmangu, Kecamatan Sarang, Minggu (27/11/2016).

Syaibatul meminta maaf secara langsung kepada Mbah Moen atas apa yang ditulisnya di Facebook, yang sangat tidak sopan dan tidak pantas yang ditujukan kepada Mbah Moen. Meski maaf telah meredakan gejolak di masyarakat, tapi tetap membekas.

Itu adalah contoh dari akibat ujaran kebencian satu orang, tapi telah membuat masyarakat gelisah. Pemerintah berharap revisi UU ITE bisa menjadi pengontrol masyarakat dalam menggunakan media sosial.

Termasuk juga dalam dunia sosial yang sebenarnya, juga apa yang kita ucapkan dan kita perbuat, pun hendaknya lebih dijaga. Jaga lisanmu. Karena kata pepatah, Mulutmu Harimaumu, benar-benar nyata dampaknya. (*)

Polisi Bakal Tindak Tegas Perusuh Pilkades di Rembang

Ratusan personel kepolisian disiagakan untuk mengamankan pelaksanaan pilkades serentak di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ratusan personel kepolisian disiagakan untuk mengamankan pelaksanaan pilkades serentak di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Personel kepolisian di jajaran Polres Rembang telah diturunkan untuk pengamanan penyelenggaraan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di 43 desa di Rembang, yang bakal berlangsung Rabu (30/11/2016) besok.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto mengatakan, pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah-wilayah yang berpotensi rawan dan terus melakukan pemantauan terhadap wilayah tersebut, maupun desa lain yang menggelar pilkades.

Kapolres menegaskan, pihaknya bakal menindak tegas siapa saja yang melakukan tindakan onar pada pelaksanaan pilkades. Untuk itu, dirinya berharap semua pihak bisa bersikap bijak dalam proses demokrasi besok.

“Personel kami sebar untuk melakukan pengamanan pelaksanaan pilkades. Kita berharap, pilkades ini berjalan kondusif dan damai, sesuai dengan ikrar yang sudah diucapkan bersama oleh calon kepala desa beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Selain dari personel kepolisian, pengamanan pilkades juga dibantu oleh aparat dari TNI. “Sekali lagi, harapan kita pilkades ini berjalan aman. Kami juga melakukan tindakan tegas bagi botoh, jika terbukti melakukan tindakan perjudian di pilkades ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

450 Orang Meriahkan Lomba Paduan Suara yang Digelar Pemkab Grobogan

Peserta yang ikut berpartisipasi dalam Lomba Paduan Suara Daerah, Selasa (29/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Peserta yang ikut berpartisipasi dalam Lomba Paduan Suara Daerah, Selasa (29/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Dalam rangka memperat silaturahmi dan kerukunan, Pemkab Grobogan menggelar Lomba Paduan Suara Daerah, Selasa (29/11/2016). Pelaksanaan lomba yang digelar di Gedung Riptaloka Setda itu, dibuka Asisten II Pemkab Grobogan Dasuki.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto. Tampak pula, Kepala Inspektorat Adi Djatmiko, Kabag Kesra Moh Arifin dan Kabid Kepemudaan Sudarmono.

Menurut Dasuki, melalui lomba ini diharapkan bisa jadi salah satu sarana pemersatu berbagai komponen masyarakat yang ada di Grobogan. Hal ini bisa terbukti, dengan latar belakang tim paduan suara yang berasal dari berbagai kalangan.

“Melalui kesenian ini bisa jadi sarana silaturahmi dan menjalin keakraban. Oleh sebab itu, kegiatan lomba ini sangat positif. Perlu diketahui, di level Jawa Tengah baru Grobogan yang menggelar lomba semacam ini,” katanya.

Dasuki menyatakan, peserta lomba terdiri dari 15 grup. Di mana, tiap grup berkekuatan 30 orang.
“Dengan demikian, total yang terlibat dalam lomba ada 450 orang. Ini, sangat luar biasa dan patut diapresiasi,” cetus mantan Camat Purwodadi itu.

Editor : Kholistiono

Mengenal Pasar Gerit, Pasar Keramat di Kabupaten Pati

Suasana Pasar Senin Pahing di Desa Gerit, Kecamatan Cluwak, Pati yang ramai dibanjiri pengunjung setiap 36 hari sekali. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana Pasar Senin Pahing di Desa Gerit, Kecamatan Cluwak, Pati yang ramai dibanjiri pengunjung setiap 36 hari sekali. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada aktivitas yang tidak biasa di sebuah pasar di Desa Gerit, Kecamatan Cluwak, Pati. Tak seperti pasar pada umumnya, pasar tradisional ini hanya buka pada Minggu Legi, pada siang hingga malam dan Senin Pahing. Yang paling ramai biasanya pada Minggu sore. Pasar ini juga sering disebut sebagai Pasar Senin Pahing.

Uniknya, pasar yang buka setiap 36 hari sekali ini hanya menyediakan jajanan tradisional, seperti dawet, kucur, pisang rebus, kedelai, kacang tanah, talas, dan beragam jajanan pasar tradisional lainnya. Yang lebih mengejutkan, pengunjung Pasar Gerit datang dari berbagai daerah di luar Pati, seperti Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, dan sebagian besar Jawa Tengah.

Mereka datang untuk berdoa di petilasan Mbah Duni, seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai wali Jawa. Petilasan Mbah Duni berada di dalam kawasan pasar, tertutup dalam rumah kecil sederhana yang terbuat dari bambu.

Pengunjung yang datang, cukup membeli bunga seharga Rp 10 ribu, masuk ke petilasan Makam Mbah Duni untuk menabur bunga. Ditemani juru kunci, mereka berdoa untuk kesembuhan, ketentraman keluarga atau permintaan lainnya. Pengunjung akan datang lagi ke Pasar Gerit, ketika doa yang dipanjatkan dikabulkan.

Sofwan, juru kunci petilasan Mbah Duni menuturkan, tradisi itu sudah berlangsung lama, sejak 1965. “Mbah Duni dikabarkan sebagai seorang pengelana. Suatu ketika, berhenti di daerah ini untuk makan jajanan. Itu sebabnya, penjual di pasar ini hanya berjualan jajanan tradisional. Dulu, beliau juga bilang kalau ada anak cucu kesusahan, sakit, minta kesembuhan, bisa datang ke tempat ini,” kata Sofwan.

Duriyat (55), warga Kelet, Keling, Jepara mengaku sudah sering datang ke Pasar Gerit sejak kecil. Dia biasa membawa anaknya yang sakit untuk didoakan di sana agar diberi kesembuhan. Kali ini, Duriyat mengalami sakit demam yang tak kunjung sembuh selama seminggu.

“Saya nazar, kalau sembuh datang ke sini. Nah, ini sudah sembuh makanya datang ke sini, meski datangnya agak telat, karena sembuhnya sudah lama. Saya tahu Pasar Gerit sudah lama, sejak kecil. Saya anggap tempat ini keramat, sehingga mustajab untuk berdoa kepada Allah,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

Suparnyo Rektor UMK Periode 2016-2020

Ketua YP. UMK Drs. H. Djuffan Ahmad melantik Dr. Suparnyo SH. MS. sebagai Rektor UMK Periode 2016-2020. (ISTIMEWA)

Ketua YP. UMK Drs. H. Djuffan Ahmad melantik Dr. Suparnyo  sebagai Rektor UMK Periode 2016-2020. (ISTIMEWA)universit

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah sebelumnya menjabat Rektor Antar Waktu periode 2012 – 2016 Universitas Muria Kudus (UMK) menggantikan Prof Dr. Dr. Sarjadi Senin (28/11/2016), Dr. Suparnyo dilantik menjadi Rektor untuk periode 2016-2020.

Pelantikan dilakukan oleh Ketua Yayasan Pembina (YP) UMK Drs Djuffan Ahmad di Auditorium Kampus UMK, dan dihadiri antara lain Koordinator Kopertis Wilayah VI Jateng Prof Dr DYP Sugiharto M.Pd.Kons, bupati serta jajarannya atau yang mewakili di Eks Keresidenan Pati, Forum Komunikasi Kepala Daerah (Forkompinda) Kudus, serta pembina, pengawas dan pengurus YP UMK.

Dalam sambutannya usai melantik, Djuffan meminta agar Rektor yang baru saja dilantik, bisa bekerja lebih keras lagi untuk memajukan UMK. ‘’Selama menjabat sebagai Rektor Antar Waktu menggantikan Prof Sarjadi, banyak prestasi yang telah didapat. Kami berharap, prestasi yang telah diraih ditingkatkan di waktu-waktu mendatang,’’ katanya.

Prof. Dr. DYP Sugiharto dalam sambutannya mengapresiasi UMK yang menunjukkan kemajuan luar biasa dari waktu ke waktu. ‘’Mencermati keberadaan UMK yang terus menunjukkan perkembangan dan kemajuan, maka orientasinya sudah harus diarahkan menuju perwujudan perguruan tinggi (PT) yang bermutu dan unggul.

‘’Kepada Rektor UMK yang baru saja dilantik, kami berharap untuk menguatkan tata kelola UMK yang baik, dengan disangga oleh enam pilar, yakni transparansi, perngorganisasian, partisipasi, responsivitas, efisiensi dan efektivitas, serta akuntabilitas,’’ pesannya.

Dengan mengimplementasikan enam pilar tersebut, lanjut koordinator Kopertis Wilayah VI Jateng, akan mampu mengantarkan kepemimpinan rektor menciptakan suasana kerja yang kondusif. ‘’Selain itu, juga memotivasi sivitas akademika bekerja secara produktif, dalam mencapai visi misi PT,’’ tegasnya.

Bupati Kudus Mustofa, dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Setda Kudus, Budi Rahmat, menyampaikan, pendidikan merupakan bekal yang teramat penting bagi masa depan generasi bangsa dan keberlanjutan pembangunan negara.

‘’Mudah-mudahan, rektor terpilih, Dr Suparnyo dapat mewujudkan ini, dengan membawa UMK menjadi universitas terpandang serta menghasilkan insan-insan pembangunan yang bermutu, berdaya saing tinggi, dengan biaya pendidikan yang terjangkau,’’ harap Bupati dalam sambutan tertulisanya.

Di luar itu, Bupati berpesan supaya UMK memperhatikan relevansi kurikulum pendidikannya dengan kebutuhan di dunia kerja. ‘’Ini sangat penting, untuk menyiapkan generasi muda memasuki dunia kerja dengan lebih mudah, karena telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dari bangku kuliah yang memiliki relevansi dengan dunia kerja,’’ paparnya.

Editor : Akrom Hazami

Meski Calon Tunggal, Potensi Politik Uang di Pilkada Pati Masih Tetap Ada

 Akademisi Ipmafa, Sri Naharin menyebut kemungkinan politik uang pada calon tunggal Pilkada Pati tetap ada. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Akademisi Ipmafa, Sri Naharin menyebut kemungkinan politik uang pada calon tunggal Pilkada Pati tetap ada. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pati yang diikuti calon tunggal disebut masih berpotensi mememunculkan politik uang. Hal itu disebabkan karakter warga Pati yang cenderung apatis dalam setiap pemilihan pemimpin.

Menurut survei yang dilakukan Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati, sebagian besar warga Pati memilih calon karena ada faktor uang yang mendorongnya. Riset yang tersebar secara merata di 21 kecamatan di Pati itu melibatkan 1.200 responden.

Karena itu, kendati hanya diikuti satu pasangan calon, kemungkinan adanya politik uang diprediksi tetap ada. “Dari riset yang kami lakukan, stimulus berupa uang masih menentukan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya,” kata Sekretaris Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat (LPPM) Ipmafa, Sri Naharin.

Dalam menentukan pilihan, karakter warga Pati disebut lebih kepada ada stimulus, bukan faktor siapa calon yang akan dipilih. Karakter pemilih yang demikian biasanya dimanfaatkan calon untuk memberikan stimulus, baik berupa barang, janji atau uang.

Namun, semuanya akan dikembalikan kepada pasangan calon, apakah berniat untuk memberikan uang atau tidak. “Tentu, semuanya akan kembali kepada pasangan calon apakah akan memberikan uang atau tidak, di tengah kondisi masyarakat Pati yang nyatanya menentukan pilihan berdasarkan stimulus,” ucap Naharin.

Karena itu, pihaknya meminta KPU Pati untuk melakukan edukasi politik kepada masyarakat. Pasalnya, sosialisasi saja dianggap belum cukup efektif untuk memengaruhi masyarakat agar mengatakan tidak pada politik uang.

“Pilkada itu yang paling penting adalah kredibilitas calon, bukan berapa banyak calon atau dengan siapa dia melawan. Kalau calonnya punya kredibilitas dan kepemimpinan yang baik, punya kepedulian yang tinggi kepada masyarakat, saya kira masyarakat akan memilih berdasarkan calon, bukan stimulus,” tandas Naharin.

Editor : Kholistiono

Puluhan Calon Anggota Saka Wanabakti di Grobogan Dilatih jadi Pelestari Kawasan Hutan

Puluhan anggota pramuka mendapat pelajaran cara menanam pohon di kawasan hutan KPH Purwodadi beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan anggota pramuka mendapat pelajaran cara menanam pohon di kawasan hutan KPH Purwodadi beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Puluhan pramuka mendapat pelajaran cara menanam pohon di kawasan hutan KPH Purwodadi. Selain teori, para pramuka itu juga diminta mempraktikkan teori yang sudah didapatkan sebelumnya.

Acara penanaman pohon dilakukan di Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) sempadan sungai pada petak 160, RPH Welahan, BKPH Linduk, KPH Purwodadi. Total, ada 300 pohon trembesi berhasil ditanam di kawasan hutan yang biasa di sebut kawasan Watu Ondo itu.

Kegiatan yang dilakukan Pramuka Penegak ini merupakan rangkaian orientasi calon anggota Saka Wanabakti yang dilangsungkan 25-27 November 2016. Dalam tema kali ini, calon anggota Saka Wanabakti dididik untuk menjadi kader pelestari lingkungan dan kawasan hutan.

“Pramuka hendaknya tidak hanya peduli pada bidang akademik, ketrampilan serta masalah sosial saja. Tetapi juga harus dituntut untuk peduli terhadap lingkungan alam disekitarnya. Khsusunya, kepedulian terhadap kelestarian kawasan hutan,” ungkap Wakil Administrarur KPH Purwodadi yang juga Ketua II Pimpinan Saka Wanabakti  Kwarcab Grobogan Ronny Merdyanto.

Menurut Ronny, kegiatan Pramuka Saka Wanabakti adalah memberi bekal kepada para anggotanya agar memiliki rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam. Yakni, dari kawasan hutan dengan segala isi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Selain itu, melalui kegiatan itu, para pramuka digugah kesadarannya untuk ikut memelihara dan melestarikan alam.

Untuk peduli terhadap lingkungan, lanjutnya, bisa dimulai dari lingkup yang sempit dulu. Yakni, di sekitar tempat tinggal sehari-hari. Caranya, dengan menanam tanaman di pekarangan kosong, baik dengan tanaman hias atau tanaman yang mendatangkan manfaat tambahan.

“Anggota Saka Wanabakti diharapkan menjadi generasi muda yang tangguh. Mereka juga kita harapkan bisa menjadi pemuda pelopor pelestari hutan dan lingkungan. Dalam orientasi anggota baru ini ada 58 peserta dari berbagai gugusdepan SMA/SMK/MA,” imbuh pamong saka wanabakti Agus Winarno.

Editor : Kholistiono

Terkait Aksi 2 Desember, Polres Grobogan Bakal Lakukan Penyekatan di Sejumlah Titik

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning didampingi Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning sedang memeriksa pasukan dalam apel konsolidasi kebhinekaan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning didampingi Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning sedang memeriksa pasukan dalam apel konsolidasi kebhinekaan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya untuk menekan massa yang akan mengikuti aksi demo 2 Desember di Jakarta disiapkan jajaran Polres Grobogan. Di mana, nantinya akan dilakukan penyekatan arus transportasi di tiga titik. Hal itu disampaikan Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning saat apel konsolidasi kebhinekaan di mapolres setempat, Senin (28/11/2016).

“Satu titik penyekatan ini nantinya akan ditempatkan Pos Polisi Putat Purwodadi. Kemudian satu di perempatan Kecamatan Wirosari, dan terakhir di perbatasan wilayah Grobogan dan Sragen. Untuk penyekatan di perbatasan kita akan bekerjasama dengan aparat Polres Sragen. Di samping itu, rekan dari TNI juga bakal mem-back up kegiatan,” ungkapnya.
Agusman menolak jika kegiatan penyekatan merupakan aksi sweeping terhadap kendaraan berpenumpang. Sebab kegiatan penyekatan itu dilakukan berdasarkan informasi yang didapat di lapangan.

“Begitu mendapatkan informasi adanya massa yang menggunakan kendaraan menuju Jakarta kita langsung bergerak. Kami akan menghentikan kendaraan tersebut dan membujuk mereka agar tidak melaksanakan niatnya,” terangnya. 

Dia mengingatkan, penyampaian aspirasi diperbolehkan digelar di dalam wilayah. “Bagi warga Grobogan, silakan sampaikan aspirasi dengan tertib dan sesuai aturan di daerah ini. Lebih baik, apabila ingin menyampaikan pendapat atau unjuk rasa di wilayah Grobogan saja,” tegasnya.

Agusman menambahkan, saat ini sudah ada beberapa kelompok yang berkeinginan untuk ikut aksi di Jakarta. Pihaknya, sudah melakukan pendekatan pada kelompok ini. Tetapi mereka tidak memiliki kepastian apakah mau berangkat atau tidak karena masih perintah dari pimpinannya. 

Editor : Akrom Hazami

Banjir Rendam Sawah di Undaan, Kerugian Capai Miliaran Rupiah

Warga menerebos jalan yang digenangni banjir di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga menerebos jalan yang digenangni banjir di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah petani di Undaan, Kudus, hanya bisa gigit jari meelihat lahan sawahnya terendam air banjir. Mereka pasrah karena tidak tahu apa yang akan diperbuat guna menyurutkan air yang menggenangi sawah. Akibat hal itu, para petani mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah

Seperti halnya diungkapkan Sujono, warga Desa Berugenjang saat melihat sawahnya terendam. Modal yang dikeluarkan juga jutaan rupiah untuk satu hectare. Dia baru melakukan penanaman sekitar dua pekan. “Sudah dipupuk padahal. Ini jelas membuat kerugian bertambah. Kira-kira untuk satu hektare sawah sekitar Rp 3,5 juta kerugian yang saya rasakan,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi sawahnya, Senin (28/11/2016).

Ketua Kelompok Tani Sidorekso Desa Berugenjang, Jamal mengatakan sebenarnya airnya bisa dikurangi dengan cara menyedot dan membuangnya ke sungai lainnya. Hanya untuk melakukan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Selain itu juga agak percuma, sebab melihat kondisi cuaca yang masih mendung, potensi hujan juga masih turun. Jadi ibaratnya disedot satu hari penuh masih kalah dengan hujan satu jam,” ujarnya pasrah.

Dijelaskan, kalau tanah pertanian yang terendam menimpa sejumlah desa. Seperti di Berugenjang sekitar 50 hektare, Lambangan sekitar 65 hektare dan paling banyak Wonosoco yang sampai ratusan hektare.

Kades Wonosoco Setya Budi mengatakan, akibat dari banjir tersebut menggenangi area persawahan mencapai 250 hektare. Jumlah tersebut sangatlah banyak dan mengalami kerugian sekitar Rp 1 miliar. “Rata-rata setiap 1 hektare sawah yang terendam, mengakibatkan kerugian sekitar Rp 4 juta. Jadi kerugian total petani sekitar Rp 1 miliar,” ungkapnya.

Menurutnya, jika melihat kondisi butuh waktu  hingga satu pekan sampai banjir surut. Namun kondisi tersebut dapat berlaku jika tidak ada hujan lagi di kawasan Undaan dan sekitarnya.

Editor : Akrom Hazami

Meski Ada Wacana Moratorium UN, Siswa Smansa Purwodadi Tetap Gelar Simulasi UNBK

Siswa Smansa Purwodadi sedang serius melaksanakan simulasi UNBK pada Minggu kemarin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Siswa Smansa Purwodadi sedang serius melaksanakan simulasi UNBK pada Minggu kemarin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Meski saat ini sedang ramai dikabarkan bakal dihapuskannya ujian nasional (UN), namun, sejumlah sekolah di Grobogan masih tetap melakukan persiapan. Salah satunya dengan melangsungkan simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Seperti yang dilakukan SMAN 1 (Smansa) Purwodadi.

“Minggu kemarin, kita sudah mengadakan simulasi UNBK selama beberapa hari untuk semua mata pelajaran yang diujikan. Selain siswa, simulasi UNBK juga diberikan pada guru. Dalam pelaksanaan simulasi, secara keseluruhan semuanya berjalan lancar. Memang sempat ada sedikit kendala tetapi langsung bisa kita atasi dengan cepat,” kata Kepala SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat, Senin (28/11/2016).

Menurut Amin, sejauh ini, soal moratorium UN belum ada keputusan resmi sehingga pelaksanaan simulasi tetap dilakukan. Di sisi lain, pelaksanaan kegiatan ini memang sudah dijadwalkan sejak lama.

Terlepas nantinya moratorium UN jadi dilaksanakan, Amin menyatakan, dari simulasi tersebut tetap bisa medatangkan manfaat bagi siswa dan para guru. Sebab, mereka dapat pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan simulasi UNBK tersebut.

Kedepan, program ujian dengan basis komputer akan diaplikasikan dalam pelaksanaan ujian lainnya. Seperti ujian tengah dan akhir semester atau bahkan untuk ulangan harian siswa.

Amin menambahkan, satu-satunya SMA di Grobogan yang sudah menyelenggarakan UNBK baru di sekolahnya. Tepatnya, mulai tahun ajaran 2015/2016 lalu.

Sementara itu, Kabid SMP, SMA dan SMK Dinas Pendidikan Grobogan Mus Hadi Purwanto menyatakan, semua sekolah yang menyelenggarakan UNBK tetap diminta menggelar simulasi. Sebab, jadwal pelaksanaan simulasi UNBK sudah ditentukan jauh hari sebelumnya.

“Jadi, semua program yang sudah ditetapkan kita lakukan, seperti pelaksanaan simulasi UNBK ini. Terkait nantinya jadi ada moratorium UN atau tidak kita tunggu keputusan resmi dari pemerintah. Sebelum ada keputusan resmi, apa yang sudah diprogramkan kita laksanakan,” katanya.

Editor : Kholistiono