Kompetitifnya Olimpiade Matematika dan IPA di Kudus Ini

Para juara Olimpiade Matematika dan IPA Eks-Keresidenan Pati berfoto bersama di Universitas Muria Kudu (UMK). (ISTIMEWA)

Para juara Olimpiade Matematika dan IPA Eks-Keresidenan Pati berfoto bersama di Universitas Muria Kudus (UMK). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – ­­­­Sebanyak 150 siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) telah mengikuti Olimpiade Matematika dan IPA Eks-Keresidenan Pati yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) Fakultas Kegururan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (26/11/2016).

Keluar sebagai juara Olimpiade bidang matematika yaitu Melina Alfiyatannasi’ah (SD Muhammadiyyah Pati), disusul kemudian peringkat II Ahmad Maulana Malik Ibrahim Akbar (SD Unggulan Terpadu Bumi Kartini), dan peringkat III Fathiyya Salsabila Az-Zahra (SD Muhammadiyyah Birrul Walidain Kudus).

Sementara para pemenang bidang IPA, juara Miftah Nur Zaidan (SDN 2 Panggang Jepara), peringkat II Muhammad Rafii Try Hartoko (MI NU Tarbiyatul Falah), serta peringkat III diraih oleh Natasya Putri Aji (SD Negeri 1 Panggang Jepara).

“Acara berjalan sukses. Sebenarnya olimpiade ini sudah diadakan kali kedua, yaitu tahun ini dan tahun kemarin. Target tahun ini, kami mematok 100 peserta, di luar dugaan ternyata peserta yang daftar membeludak melebihi target. Antusiasme peserta yang mendaftar luar biasa.” Kata Imaniar Purbasari, selaku ketua panitia diamini Yuni Ratnasari selaku Kepala Prodi PGSD UMK.

Zaidan, pemenang Olimpiade IPA mengaku senang dapat menjuarai ini. Putra dari dr Fauziah Lubis dan dr Arsyad Rozin ini yang awalnya mengaku sempat grogi ini akhirnya menyabet juara. “Saya bersyukur anak didik kami dapat menjadi juara olimpiade di Prodi PGSD UMK,” kata Ikhtiartie Hasta Putrantie selaku guru pendamping lomba. 

Pemenang Olimpiade IPA Melina yang akrab dipanggil Melin yang saat lomba didampingi ayah kandungnya dan guru pembimbingnya mengatakan, dia sangat senang sekali karena meraih prestasi.

Warga Desa Guwo, Kecamatan Telogowungu, Pati ini merupakan  putri dari Ahmad Sunarto, dan Nurhayati ini mengaku telah melakukan persiapan lama sebelum lomba. 

Kegiatan olimpiade yang diadakan merupakan wadah bagi siswa untuk membangun kreativitas dan sikap berkompetisi siswa dan siswi SD/MI. Selain itu penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kampus memberi wadah dan merangkul masyarakat serta memberikan kesempatan pada siswa untuk ikut berpartisipasi dan berkompetisi, serta berkolaborasi.

“Kami berharap kegiatan olimpiade ini memberikan multi effect yang positif bagi siswa selaku peserta. Semoga ke depan anak-anak peserta olimpiade ini kelak menjadi ahli sains atau IPA serta ahli matematika yang sukses serta ke depan semoga dengan ilmu ysang diraih dapat memberikan kebermanfaatan bagi bangsa dan negara,” kata Drs Sucipto selaku Wakil Dekan III Bidang kemahasiswaan FKIP UMK dalam sambutannya mewakili Dekan.

Yuni Ratnasari selaku Kepala Prodi PGSD UMK mengatakan, apapun hasil yang didapatkan, jadikan sebagai motivasi untuk lebih giat dalam berusaha. “Sehingga ke depan anak-anak semoga lebih berprestasi. Jangan lupa lebih rajin belajar, patuh pada kedua orang tua, bapak dan ibu guru agar semakin sukses di kemudian hari,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Warga Pati Diminta Tak Terprovokasi Aksi 212

Polisi, Satpol PP, TNI dan warga lintas kalangan mengenakan pita merah putih dalam apel Kebhinnekaan di Alun-alun Pati, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi, Satpol PP, TNI dan warga lintas kalangan mengenakan pita merah putih dalam apel Kebhinnekaan di Alun-alun Pati, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Masyarakat Pati diminta untuk mengedepankan guyub rukun, bersatu dalam kebersamaan, dan tidak terprovokasi aksi 212 atau 2 Desember 2016 di Jakarta. Imbauan itu disampaikan Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Rabu (30/11/2016).

Menurutnya, toleransi antaragama di Pati sudah sejak lama berlangsung harmonis. Toleransi dalam bingkai NKRI itulah yang diharapkan dipupuk dan dilestarikan agar tidak terpecah belah hanya dengan isu-isu yang berada di luar wilayah Pati.

“Umat Muslim memang mayoritas di Pati, juga di Indonesia. Tapi, kita hidup di negara Pancasila yang harus mempertahankan NKRI. Sebab, Indonesia memang bangsa yang majemuk, terdiri dari beragam suku, bangsa, dan agama. Jangan sampai kondisi kemajemukan yang sudah terawat baik itu terganggu dengan isu 212,” kata Letkol Inf Andri.

Karena itu, pihaknya menyarankan warga Pati untuk tidak turun ke jalan. Aksi doa bersama di rumah ibadah atau rumah masing-masing diakui akan membuat daerah menjadi lebih kondusif. Dia berharap, kehidupan toleransi antarumat beragama di Pati yang berlangsung harmonis bisa menjadi teladan bersama.

Sementara itu, Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo menambahkan, Indonesia merupakan milik bangsa bersama, bukan milik individu atau kelompok tertentu. “Mari kita samakan satu persepsi, kita sama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI,” ujar AKBP Wibowo.

Kondisi tersebut yang membuat warga Pati disatukan dalam apel bersama Pengamanan Kegiatan Masyarakat Nusantara Bersatu di Alun-alun Pati. Apel bertajuk “Indonesiaku,Indonesiamu, Indonesia Kita, Bersatu Bhinneka Tunggal Ika” tersebut dihadiri sekitar 2.000 warga lintas kalangan.

Salah satu yang hadir, antara lain Jajaran Sub Denpom Pati, Kodim 0718/Pati, Lanal TNI AL dan anggota Yonif 410/Alugoro, Brimob, Polres Pati, Satpol PP, Perhutani, FKPPI, PPM, pencak silat, Pagar Nusa, pondok pesantren dan Fathayat, mahasiswa, pelajar, hingga lembaga swayada masyarakat (LSM) di Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Rencana Penggantian Angkutan Wisata Menara Belum Final

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana penggantian moda transportasi umum di wisata Menara Kudus masih terus dimatangkan. Pemkab Kudus melalui Dishubkominfo masih mempersiapkan skema lalu lintas, khususnya kawasan Menara.

Sebagaimana diketahui, pos pemberhentian peziarah yang dulu di bawah pohon beringin besar, kini sudah menjadi sebuah taman. Dengan demikian, Dishubkominfo dipaksa mencari lokasi lain yang dapat dengan mudah menampung mobil tersebut.

“Lokasi paling mudah ya itu, di jalan masuk peziarah atau lapak PKL Menara. Sama seperti tukang ojek dan juga becak yang kini menurunkan dan mengangkut penumpang,” kata Kabid LLAJ Dishubkominfo Kudus, Putut Sri Kuncoro, kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/11/2016).

Menurut dia, kondisi tersebut akan mengurangi badan jalan. Terlebih dengan jumlah kendaraan yang lebih dari satu. Hanya itu semua dianggap bisa untuk disiasati dengan cara menambah rambu lalu lintas

Selain itu, hal lainnya juga bisa ditambah dengan penyiagaan petugas yang khusus berjaga di kawasan Menara Kudus. Petugas tersebut juga dimaksudkan untuk mengatur angkutan umum yang datang. “Di sana juga dapat dijadikan sebagai tempat menunggu penumpang. Yang mana, peziarah yang hendak balik ke terminal bisa langsung menuju lokasi di mana mereka datang,” ungkapnya.

Soal arus lalu lintas dari terminal Krapyak dan juga halte, kata dia, tidak terlalu bermasalah. Sebaliknya, kebijakan itu justru membuat kawasan jalan semakin terkontrol dan lancar . Hal itu dapat diatur dengan memperbanyak rambu lalu lintas. Aturan demikian dianggap efektif untuk diterapkan guna mengatur pengguna jalan di kawasan yang kerap padat tersebut.

“Sebenarnya ini belum final, sebab persiapan masih dilakukan. Dan jika nanti jadi dan, masih membutuhkan waktu lagi untuk menyiapkan rambu dan juga memasangnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Volume Air Berkurang, Area Sabuk Hijau Waduk Kedung Ombo Ditanami Ribuan Pohon

Bupati Grobogan Sri Sumarni beserta pejabat lainnya melangsungkan penanaman pohon di area sabuk hijau Waduk Kedung Ombo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni beserta pejabat lainnya melangsungkan penanaman pohon di area sabuk hijau Waduk Kedung Ombo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya mencegah makin berkurangnya volume air di Waduk Kedung Ombo (WKO) dilakukan dengan cara menanami area sabuk hijau (green belt) dengan ribuan pohon penghijauan. Acara penanaman yang diberi tajuk Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA) itu dilangsungkan Rabu (30/11/2016).

Acara penanaman area sabuk hijau secara simbolis dilakukan Bupati Grobogan Sri Sumarni berserta perwakilan dari Pemkab Sragen, dan Boyolali. Seperti diketahui, kawasan WKO memang berada di tiga wilayah kabupaten tersebut.

Hadir pula dalam kesempatan itu, Kepala Dinas PSDA Jateng Prasetyo Budhie Yuwono dan pejabat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.

Aksi penanaman kembali area sabuk hijau dilakukan di Pulau Dombang yang berlokasi di tengah Waduk Kedung Ombo. Kawasan ini masuk wilayah Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali. Rombongan pejabat naik perahu mesin selama 10 menit menuju lokasi penghijauan.

Kepala Dinas PSDA Jateng Prasetyo Budhie Yuwono menyatakan, luas area sabuk hijau di kawasan Waduk Kedung Ombo sekitar 2.000 hektare. Dari luasan ini, sekitar 800 hektar atau 40 persen dalam kondisi kritis karena adanya penebangan liar.

Adanya penebangan liar ini dalam jangka panjang membawa dampak negatif. Yakni, bisa mempercepat proses  sedimentasi waduk lantaran makin sedikitnya pohon yang bisa menahan tanah.

“Pada awalnya volume waduk bisa menampung sekitar 720 juta meterkubik. Sekarang ini tinggal 688 juta meter kubik air yang bisa tertampung atau berkurang sekitar 40 juta meter kubik,” katanya. 

Jika hal itu dibiarkan, maka makin lama air yang ditampung menyusut terus. Padahal air WKO diharapkan bisa tetap mengairi 60.000 hektare lahan pertanian di sejumlah kabupaten. Seperti, Grobogan, Kudus, Pati, Demak dan Jepara.

“Melihat kondisi ini, maka salah satu upaya penyelamatan adalah melakukan reboisasi di area sabuk hijau. Total, ada 4.000 pohon yang akan kita tanam di sana,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni mengapresiasi upaya penghijauan yang dilakukan di area sabuk hijau tersebut. Ia berharap, agar tanaman yang sudah ditanam dirawat dengan baik sehingga tujuan dari penghijauan bisa tercapai. 

Di sisi lain, Sri Sumarni juga meminta pada masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar sabuk hijau bisa menjaga tanaman penghijauan yang ada. “Keberadaa tanaman di area sabuk hijau itu penting sekali untuk menyimpan air serta menahan erosi dan mencegah proses sedimentasi waduk. Jadi mari kita jaga bersama tanamannya,” ujarnya. 

Editor : Kholistiono

LAWAN! Mahasiswa Jepara Menentang Praktik Politik Uang di Pilkada

Mahasiswa Jepara bertekad untuk menolak praktik politik uang selama Pilkada 2017. (ISTIMEWA)

Mahasiswa Jepara bertekad untuk menolak praktik politik uang selama Pilkada 2017. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Organisasi daerah (Orda) Keluarga Mahasiswa Jepara Semarang (KMJS) Cabang UIN Walisongo Semarang melakukan teatrikal dan aksi damai di Tugu Kartini, Jepara.

Aksi damai pilkada yang diikuti oleh puluhan mahasiswa itu, diawali dengan kegiatan Sosialiasi Pemilih Pemula bertajuk “Satu Suara sebagai Langkah Positif menuju Perubahan Bangsa” menghadirkan dua narasumber Da’faf Ali, perwakilan KPUD Jepara dan Agus Nur Slamet mewakili Kesbangpol Jepara.

Kegiatan yang diikuti perwakilan pelajar se-Jepara itu di pusatkan di SMAN 1 Jepara dan hasil kerja sama dengan KPUD Jepara.

Dalam paparannya, Khoirudin Farid, Ketua KMJS Cabang UIN Walisongo menegaskan pihaknya menolak segala bentuk money politic (politik uang) oleh cabup-cawabup Jepara yang akan bertarung dalam Pilkada 2017 mendatang.

“Seluruh elemen masyarakat saat ini kudu semakin cerdas bahwa hak suara bukan ditentukan oleh uang tetapi ditentukan oleh pilihan yang sesuai hati nurani untuk Jepara yang lebih baik,” tegas Farid di sela-sela aksi.

Pernyataan itu oleh mahasiswa UIN juga diperankan dengan teratrikal. Dengan mengenakan kostum yang sederhana Jamal memerankan calon Bupati, Rohim (mahasiswa), Rois (tokoh masyarakat), Ulfi (petani) dan Yuni (penyanyi).

Dalam teatrikal itu diperagakan praktik politik uang yang diperankan oleh salah satu calon. Di sela-sela praktik money politic itu datanglah mahasiswa untuk menghentikan praktik haram tersebut.

Mahasiswa semester 7 Fakultas Dakwah itu menambahkan, karenanya saat sosialisasi pihaknya mengundang pemilih pemula karena ia memandang mereka masih terbilang idealis.

“Pemuda adalah agent sosial of change yang harus sadar bagaimana menentukan pilihan terbaiknya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua KMJS Pusat, Failasofa Shidqi Novian, Pilkada Jepara 2017 mendatang bisa terselenggara dengan baik dan jujur. Antar kedua pasang calon ajaknya tidak boleh saling melemparkan black campain (kampanye hitam). Sehingga hasilnya bisa sesuai dengan harapan masyarakat Jepara.  

Farid menambahkan Cawabup yang nantinya terpilih harus membawa perubahan dalam berbagai aspek dan mampu mensejahterakan masyarakat Jepara.

Editor : Akrom Hazami

Begini Cara Pemuda Sukoharjo Pati Bikin Diorama Rumah Adat Pati

 Lutfi, pemuda asal Sukoharjo, Margorejo, Pati menunjukkan miniatur rumah adat buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Lutfi, pemuda asal Sukoharjo, Margorejo, Pati menunjukkan miniatur rumah adat buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Limbah tak terpakai bisa disulap menjadi pundi-pundi rupiah, bila kita bisa memanfaatkannya dengan sedikit sentuhan kreativitas. Lutfi Setyo Prabowo (30), misalnya. Pemuda asal Desa Sukoharjo, Margorejo, Pati ini memanfaatkan limbah kayu menjadi produk kerajinan tangan yang menarik.

Kayu-kayu tak terpakai yang diperoleh pekarangan rumah dibuat menjadi aksesori, seperti gantungan kunci. Namun, saat ini Lutfi mencoba untuk fokus memproduksi rumah adat Pati yang selama ini mulai hilang ditelan kemajuan zaman.

“Rumah adat Pati saat ini mulai hilang dan susah ditemukan. Kondisi itu menginspirasi saya untuk membuat diorama atau benda miniatur tiga dimensi berupa rumah adat Pati. Responsnya luar biasa. Banyak yang pesan,” ujar Lutfi, Rabu (30/11/2016).

Sebelum membuat diorama, Lutfi berburu foto rumah adat di berbagai daerah di Pati. Setelah mendapatkan foto, dia mengumpulkan ranting kayu yang masih bagus, terutama kayu jati.

Kayu bekas itu dibentuk, diukir menyesuaikan rumah adat yang diperolehnya dari hunting foto. Semua potongan kayu disatukan menggunakan lem. Setelah itu, miniatur diplitur supaya lebih cantik, awet dan indah.

Hasil kerajinan tangan Lutfi dipajang di berbagai pameran di kota-kota besar, seperti Semarang, Magelang, Yogyakarta, dan daerah-daerah lainnya di Jawa Tengah. Satu miniatur dibanderol dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu, menyesuaikan ukuran dan tingkat kerumitan.

Baca juga : Warga Sukoharjo Manfaatkan Kayu Bekas jadi Miniatur Rumah Adat Pati

Editor : Kholistiono

Pilkades Logede Rembang Diwarnai Dugaan Praktik Politik Uang

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto saat memantau pelaksanaan pemilihan kepala desa di Desa Logede. (Dok.Humas Polres Rembang)

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto saat memantau pelaksanaan pemilihan kepala desa di Desa Logede. (Dok.Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) di Desa Logede, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang,diwarnai dengan aksi yang mencederai proses demokrasi, dengan adanya dugaan praktik politik uang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, warga mengaku tak hanya menerima uang, tetapi juga mendapatkan bingkisan seperti nasi, beras, hingga mie instan. Bingkisan dan sejumlah uang itu diterima hampir semua warga Desa Logede. Letaknya yang jauh dari pusat kota membuat para calon bisa sedikit leluasa melakukan berbagai cara kampanye. Baik yang sesuai aturan ataupun tidak.

Beberapa warga Logede mendapatkan sejumlah uang dari calon kades, besarannya bervariasi antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Pembagian uang itu, berlangsung dua hari sebelum pelaksanaan pilkades.

Hampir semua warga Desa Logede menerima bingkisan dari dua calon kades. Bingkisan pertama diberikan pada Senin (28/11/2016) siang. Isinya berupa nasi beserta lauk pauk. Di dalam bingkisan itu, juga terdapat amplop yang isinya uang Rp 20 ribu. Keesokan harinya pada Selasa (29/11/2016) pagi, warga kembali menerima bingkisan dari calon.

Salah seorang warga Desa Logede yang enggan disebut namanya menjelaskan, dia menerima bingkisan kemarin sekitar pukul 05.30 WIB. “Bingkisan tersebut diantar oleh ibu-ibu menggunakan sepeda motor, yang kanan kirinya terdapat keranjang untuk menaruh barang. Di dalam bingkisan yang dibungkus dengan plastik putih itu, terdapat beras sekitar 1,5 kilogram dan empat bungkus mie instan. Selain itu, ada juga kertas bergambar calon kades. Dari yang mengantar ke sini, tidak ada minta doa restu. Tapi, warga juga sudah paham maksudnya apa,” ujar sumber.

Terkait hal ini, Kapolres Rembang AKBP Sugiarto mengajak semua elemen masyarakat Rembang untuk kritis terhadap segala hal. Terutama mewaspadai perdaraan uang palsu (upal) yang kemungkinan beredar.

Menurutnya, berbagai cara akan dilakukan para calon untuk menang pada pilkades, salah satunya menghalalkan praktik politik uang dengan menggunakan uang palsu. Untuk itu, pihaknya mewanti-wanti masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan praktik tersebut.”Kami juga minta masyarakat tidak melakukan praktik-praktik intimidasi,” ungkapnya.

Kapolres juga mengimbau kepada seluruh calon atau pendukung calon untuk bisa sama-sama menghormati hasil pilkades. Hal tersebut untuk menghindari adanya perpecahan di kalangan masyarakat. “Semua calon dan simpatisannya, diharapkan bisa saling  menghormati keputusan panitia, maupun hasil pilkades. Supaya nantinya akan bisa menciptakan kondisi yang aman,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Tidak Perlu Tim Saber, Ini Cara Bupati Kudus Cegah Pungli 

Bupati Kudus H Musthofa berbicara mengenai upaya pemberantasan pungutan liar (pungli) yang dilakukannya, sebagai upaya membentuk pemerintahan yang bersih. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa berbicara mengenai upaya pemberantasan pungutan liar (pungli) yang dilakukannya, sebagai upaya membentuk pemerintahan yang bersih. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Banyak lembaga atau pemerintahan yang sekarang ini membentuk tim sapu bersih (saber) pungutan liar (pungli). Ini dilakukan supaya bisa mencegah pungutan liar saat aparatur negara melayani masyarakat.

Namun Bupati Kudus H Musthofa rupanya memiliki cara lain untuk bisa memberantas pungli di pemerintahannya. Cara ini disebutnya lebih efektif dibandingkan membentuk tim saber.

Menurutnya, upaya memberantas pungli harus dimulai dari pemimpin itu sendiri. Seorang pemimpin, menurut bupati, harus bisa Ngayomi, Ngayemi, dan Ngayani. ”Yaitu memberi rasa aman, rasa nyaman, serta memberi kesejahteraan bagi yang dipimpinnya,” tuturnya.

Pungli sendiri memang sangat marak dibahas akhir-akhir ini. Masing-masing pemerintahan atau lembaga berusaha agar pelayanan masyarakat yang dilaksanakannya, bisa baik tanpa ada pungli dari aparatnya.

Bupati mengatakan, dengan memberikan edukasi pada jajarannya, menjadikan modal penting bagi minimalisasi dan bahkan pemberantasan pungli. Untuk itu, dibuktikannya dengan peningkatan kesejahteraan pegawai di Kudus dengan TPP tertinggi di Jawa Tengah.

TPP ini, menurut bupati, salah satu upaya dari pihaknya, untuk bisa memberantas pungli. ”Tetapi lebih penting niat dan adanya komunikasi serta kebersamaan dari semua pihak untuk memberantas pungli,” kata bupati yang juga ketua harian Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Semarang ini.

Pembina Forum UMKM Jawa Tengah ini menegaskan, bahwa dirinya dan jajarannya sudah menerapkan transparansi publik. Baik secara online memanfaatkan informasi teknologi (IT), maupun dengan bertatap muka langsung dengan masyarakat.

”Di Kudus, telah kami adakan tilik desa secara bergilir. Itu merupakan ajang sebagai sarana bupati lapor rakyat. Termasuk soal anggaran dan bagaimana impelementasinya,” jelasnya.

Dikatakannya, keterbukaan yang dilakukannya ini, sebagai salah satu solusi pemberantasan pungli. Selain pembenahan sistem dan adanya monitoring untuk terus dievaluasi.

”Konsep cybercity sebagai implementasi pelayanan secara online terus kami kembangkan. Setidaknya di Kudus sudah menerapkan aplikasi Menara untuk jembatan komunikasi, informasi, dan penyampaian keluhan warga. Serta Sipintar sebagai penghubung siswa, orang tua, dan guru/sekolah,” imbuhnya.

Editor: Merie

Tiga Acara Digelar Sekaligus di Stadion Krida Bhakti Purwodadi, Begini Suasananya

Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning membaca orasi bersama Bupati Sri Sumarni dan para pimpinan FKPD lainnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning membaca orasi bersama Bupati Sri Sumarni dan para pimpinan FKPD lainnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Suasana Stadion Krida Bhakti Purwodadi terlihat meriah, Rabu (30/11/2016). Ribuan orang dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat tampak hadir di lokasi yang biasanya digunakan tim Persipur untuk menggelar pertandingan kandang tersebut.

Banyaknya orang yang hadir itu untuk mengikuti kegiatan Gerakan Nusantara Bersatu yang pelaksanaannya dibarengkan dengan dua agenda lainnya. Yakni, upacara peringatan HUT ke-45 KORPRI dan HUT ke-71 PGRI. 

Dari pantauan di lapangan, massa yang hadir tidak hanya dari kalangan pegawai dan guru saja. Tetapi hadir pula, pimpinan parpol, ormas, organisasi kepemudaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, seniman, mahasiswa dan pelajar. Mereka berbaur dengan para pejabat dan pimpinan FKPD setempat.

Bupati Grobogan Sri Sumarni bertindak selaku inspektur upacara (Irup) dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya Sri Sumarni mengatakan, kegiatan yang dilakukan kali ini dirasakan sangat spesial. Sebab, ada tiga kegiatan yang dirakai dalam satu apel sekaligus.  

“Barangkali hanya di Kabupaten Grobogan yang melaksanakan tiga acara besar secara bersamaan. Dari kegiatan inilah kita bisa merasakan sesungguhnya sebuah makna kebersamaan,” jelasnya.

Usai pelaksanaan apel, Sri Sumarni didampingi para pimpinan FKPD Grobogan sempat menyampaikan orasi bersama di atas mimbar. Dalam orasinya, para pucuk pimpinan ini menegaskan bahwa Indonesia adalah milikku, milikmu, dan milik kita bersama. Sehingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati.

Usai orasi, ada acara tambahan acara yang disuguhkan. Yakni, pembacaan puisi oleh guru dan pelajar, formasi pancasila dari anggota paskibraka Grobogan, peenampilan kesenian daerah, dan marching band.

Editor : Kholistiono

Produk UMKM Kudus Direncanakan Dipamerkan ke Mancanegara

Pelaku UMKM melakukan pameran produk yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pelaku UMKM melakukan pameran produk yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus memberikan fasilitas kepada pengusaha Kudus guna memamerkan produknya ke tingkat yang lebih tinggi. Tak hanya lingkup Naisonal, namun juga pameran dipamerkan dalam skala internasional.

Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disdagsar) Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, barang dagangan yang dipamerkan merupakan produk unggulan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tujuannya adalah menebalkan dan mempromosikan agar pengusaha di Kudus juga makin laku dan diketahui oleh dunia luas.

“Kami juga bertujuan tak hanya mengangkat dan memperkenalkan produk Kudus dalam skala nasional, tetapi juga ke lingkup lebih luas hingga ke mancanegara,” ungkapnya Kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa lokasi di kota besar sudah dibidik dan bebebepa lainnya sudah dilakukan pameran. Seperti halnya di Semarang, Jakarta, Yogyakarta dan Kudus, yang berakhir dengan sukses dan meriah.

Sedangkan salam waktu dekat, pemkab kembali menggiatkan hal yang sama. Rencananya, ajang serupa di pusat perbelanjaan Thamrin City Mall Jakarta Pusat, awal Desember 2016. Rangkaian terakhir road show dagang untuk memperkenalkan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) digelar di Depo Pelita Mall Purwokerto, 8-11 Desember nanti.

Menurutnya, pameran di Jakarta akan diikuti 18 peserta dan di Purwokerto disiapkan 24 peserta untuk menjaring pembeli potensial di kawasan sekitar. Produk yang ditawarkan antara lain bordir, batik, hasil konveksi, jenang, dan kopi Muria. Upaya memperkenalkan produk unggulan Kudus tersebut telah dimulai dengan menggandeng Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dari 20 kabupaten di Jawa Tengah.

“Kami juga akan menampilkan kembali pameran dagang di Jakarta, 1-4 Desember nanti. Yang kami pamerkan seperti bordir, diharapkan bisa menarik minat para buyer dari berbagai kalangan,” katanya.

Tiap peseta bakal mendapatkan transportasi, penginapan selama pameran berlangsung, berikut stan. Sedangkan untuk pemilik ditugasi menghias stan semenarik mungkin. Dijelaskan, kegiatan ini adalah mempromosikan produk Kudus ke luar. Dengan total anggaran Rp 7 miliar. Jumlah itu untuk semuanya, termasuk pula dengan publikasi.

Kata dia, Kudus memiliki sentra bordir di sejumlah tempat. Seperti di Desa Padurenan dan Karangmalang Kecamatan Gebog, Desa Purwosari di kawasan perkotaan, serta Desa Peganjaran Kecamatan Bae. Kualitas kerajinan bordir asal Kudus dikenal sangat bagus. Perdagangan bordir juga dinilai lebih menjanjikan.  Maka tak salah jika produk bordir yang ditawarkan dalam pameran dagang di pusat ibukota itu sebagian besar menyasar kalangan menengah ke atas.

Transaksi dagang  bukan menjadi sasaran utama, Tetapi yang lebih penting adalah pascakegiatan itu, yakni menjadikan produk UMKM Kudus bisa lebih dikenal. “Kami juga menggandeng artis Ivan Gunawan atau Igun. Dia juga siap mempromosikan hasil karya Kudus ke jenjang yang jaug lebih tinggi lagi Seperti Miss Universe di Filipina,” paparnya.

Editor : Akrom Hazami

Perbatasan Blora Dijaga Polisi Pemantau Aksi Jakarta

antisipasi-demo

Jajaran anggota Polres Blora mendirikan pos pemantauan di perbatasan guna memantau pergerakan massa yang menuju Jakarta. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Polres Blora mengantisipasi adanya demo Damai Bela Islam di perbatasan kota setempat.  Di antaranya dengan mendirikan tenda sebagai pos pemantauan. Nantinya, setiap polisi akan berjaga bergantian.

Hal itu sebagai bentuk penyekatan di perbatasan. Misalnya di daerah sekitar perbatasan Kabupaten Blora dengan kabubapten tetangga yakni di wilayah Kecamatan Jati dan Kecamatan Kunduran yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Blora dengan Kabupaten Purwodadi. Untuk di jalur utara penyekatan di daerah Polaman Kecamatan Blora yang berbatasan dengan Kabupaten Rembang.

Kapolres Blora AKBP Surisman mengatakan bahwa penyekatan dilakukan oleh personel Polres Blora dari berbagai fungsi, baik itu Sat Sabhara, Satlantas, Satreskrim, Sat Intel, Propam serta melibatkan jajaran personel polsek. Itu dilakukan untuk memantau sekaligus meminimalisasi jumlah massa yang akan berangkat ke Jakarta, khususnya dari wilayah Kabupaten Blora.

“Apabila ada massa dalam jumlah besar yang akan melaksanakan demo di Jakarta, akan kita sampaikan imbauan bahwa penyampaian aspirasi tidak perlu di Jakarta. Tidak perlu mengerahkan massa besar-besaran, semuanya dapat disampaikan dengan damai,” tutur Surisman, dikutip dari situs resmi Polres Blora.

Selain langkah penyekatan, Polres Blora juga akan melaksanakan monitoring dan patroli untuk mengantisipasi agar tidak terjadi aksi massa yang berlebihan. Khusus untuk masyarakat Blora, pihaknya mengimbau agar bijak menyikapi perkembangan situasi saat ini. Jangan sampai isu-isu yang berkembang ini ditanggapi dengan negatif, sehingga akan menjadi boomerang.

Bila mana ada warga yang berniat untuk ke Jakarta mohon hendaknya ditanyai apa keperluan dan tujuannya berangkat ke sana. Menurutnya, bila berniat untuk mengikuti demo tersebut langsung dinegosiasi. Para polwan akan turun menangani hal ini.

Polres Blora akan melaksanakan sispamkota (sistem pengamanan tingkat kota). Sispamkota ini melibatkan personel Polri, TNI dan instansi terkait, agar masing-masing pihak lebih memahami tugas dan fungsi masing-masing.

Editor : Akrom Hazami

Warga Sukoharjo Manfaatkan Kayu Bekas jadi Miniatur Rumah Adat Pati

Lutfi Setyo Prabowo, warga Desa Sukoharjo, Margorejo, Pati memanfaatkan kayu bekas menjadi miniatur rumah adat Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Lutfi Setyo Prabowo, warga Desa Sukoharjo, Margorejo, Pati memanfaatkan kayu bekas menjadi miniatur rumah adat Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Lutfi Setyo Prabowo (30), warga Desa Sukoharjo RT 1 RW 7, Kecamatan Margorejo, Pati, berhasil memanfaatkan kayu bekas menjadi miniatur rumah adat Pati yang cantik. Miniatur bernilai artistik tinggi ini dibanderol dengan harga Rp 300 ribu.

Pemasaran produk kerajinan tangan hasil kreativitas Lutfi ini dijual ke berbagai lapak seni. Tak hanya di Pati, tetapi juga kota-kota besar seperti Semarang, Magelang, Yogyakarta, dan sebagian besar daerah di Jawa Tengah.

Bahkan, saat ini dia sudah mendapatkan permintaan melalui media sosial. Karena itu, Lutfi berencana akan membuat toko online untuk memasarkan produk kerajinannya melalui dunia maya.

“Rencananya, kami juga akan memasarkan melalui online. Selama ini, pesanan paling banyak digunakan untuk suvenir pernikahan. Misalnya saja, gantungan kunci. Kalau ukuran kecil seperti gantungan kunci, kami banderol dengan harga Rp 3.000 per biji,” ujar Lutfi, Rabu (30/11/2016).

Dalam satu bulan, pemuda kreatif yang masih lajang ini dapat memproduksi kerajinan dari 30 hingga 50 buah rumah adat ukuran sedang. Sementara itu, suvenir gantungan kunci berukuran kecil bisa diproduksi dengan kapasitas 300 buah dalam sepekan.

Pria lulusan SMA Muhammadiyah Pati ini berharap, suatu saat produk kerajinan tangannya bisa membawanya pada pintu kesuksesan. Selain itu, mantan operator Pom Bensin di Rembang ini ingin melestarikan eksistensi rumah adat Pati yang mulai hilang, kendati melalui miniatur.

Editor : Kholistiono

Mobil Pikap Akan Angkut Peziarah Makam Sunan Kudus

Penarik becak menunggu penumpang di Terminal Bakalan Krapyak, Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak menunggu penumpang di Terminal Bakalan Krapyak, Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus berencana untuk menata kawasan terminal wisata bakalan Krapyak dan taman menara dari ojek dan juga becak. Penataan dilakukan dengan cara mengganti kendaran dengan mobil wisata.

Kepala Dishubkominfo Kudus Didik Sugiharto mengatakan, penataan akan dilakukan pada 2017. Angaran yang dikeluarkan juga cukup besar yang diambil dari APBD Murni 2017. Jumlah biaya yang diusulkan dan siap dilakukan adalah mencapai Rp 3,7 miliar.

“Ini adalah gagasan bapak Bupati, dan dengan mengganti pakai kendaraan wisata, maka daerah menara Kudus Hingga Bakalan Krapyak juga akan lebih teratur,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, keadaan itu nantinya sejenis mobil pikap, yang sudah dimodifikasi secara khusus untuk penumpang. Jumlah mobil yang disediakan senilai 15 unit mobil wisata. Waktu operasional, direncanakan akan beroperasi selama 24 jam..

Untuk tiap satu mobil, kata dia, akan mampu menampung hingga 14 orang. Sehingga dianggap lebih efisien dan mampu mengurangi lalu lalang kendaraan dari ojek dan becak. Dengan demikian lalu lintas juga lebih lancar.

Meski dianggarkan pemerintah, peziarah juga masih harus membayar untuk menaiki kendaraan wisata tersebut seharga Rp 6 ribu per orang. Dikatakan, uang hasil dari penjualan karcis penumpang itu akan disetorokan ke kas daerah.

“Kalai soal penunjang masih tetap membayar, ini kan juga untuk kas PAD Kudus. Jadi harus tetap membayar,” ujarnya.

Sedangkan untuk kondisi lalu lintas, diyakini akan mampu tertata lebih lancar. Jumlah kendaraan yang lebih sedikit dan diangkut secara bersama akan mampu mengurai kemacetan yang kerap dikeluhkan masyarakat.

Sebelumnya, Bupati Kudus, Musthofa, bakal mengganti keberadaan transportasi jenis ojek, becak dan dokar yang berada di wisata Menara dengan kendaraan transportasi jenis mobil wisata. Penggantian dilakukan lantaran dianggap lebih pas dan nyaman bagi pengunjung.

“Rencana, akan diganti dengan trasnportasi umum. Dengan demikian juga akan membuat lalu lintas menjadi lebih lancar,” kata Musthofa.

Menurut dia, selain dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di Jember dan sekitar kompleks Menara, pengunjung akan lebih nyaman jika menggunakan transportasi umum. Sebab keselamatan juga akan diperhitungkan dengan kendaran baru itu.

Editor : Akrom Hazami

Guru Besar Arkeologi dari Prancis Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo Grobogan

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Banyaknya penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata tidak hanya memancing ketertarikan dari warga sekitar saja. Tetapi juga mulai dilirik wisatawan dari mancanegara.

Hal ini dibuktikan dengan adanya kunjungan warga Negara Prancis yang bernama Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016). Pria asal Prancis ini bukan wisatawan biasa, tetapi merupakan seorang professor arkeologi ternama di dunia.

“Nama Profesor Francois Semah ini sudah saya kenal ketika berkunjung ke Museum Sangiran beberapa waktu lalu. Saat berkunjung ke sana, saya diberi tahu tentang nama profesor ini, yang juga ikut andil mengenalkan keberadaan Museum Sangiran di kancah internasional,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Dari penelusuran dari berbagai sumber, sosok guru besar dari Prancis ini ternyata sudah banyak jasanya terhadap perkembangan penelitian dan studi arkeologi di Indonesia. Bahkan, guru besar dan arkeolog Museum National d’Histoire Naturelle Prancis ini pernah mendapat penghargaan kehormatan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, beberapa waktu lalu.

“Terus terang saya tidak menyangka bakal dapat kunjungan tamu istimewa hari ini. Ternyata profesor ini, selain bisa komunikasi dengan Bahasa Indonesia juga pandai berbahasa Jawa,” sambung Taufik.

Ia menyatakan, kunjungan yang dilakukan pakar arkeologi itu dilakukan mendadak. Sebelumnya, dia juga tidak pernah dapat kabar bakal kedatangan orang penting tersebut. Bahkan, Taufik mengaku sedang tidur saat pasangan suami-istri itu tiba di rumahnya yang sementara jadi tempat penyimpanan koleksi benda bersejarah tersebut, sekitar pukul 14.00 WIB.

“Saya tadi kaget dibangunkan kalau ada tamu orang asing yang datang melihat koleksi benda bersejarah. Ternyata, tamunya bukan wisatawan biasa,” ungkapnya.

Taufik menyatakan, tamu istimewa itu hanya berkunjung singkat, sekitar 30 menit. Oleh sebab itu, tidak begitu banyak yang sempat diperbicangkan. Hanya saja, professor dari Prancis itu menjanjikan bakal melakukan penelitian di Banjarejo tahun depan.

“Tadi, beliaunya agak buru-buru. Soalnya, harus menghadiri acara di Salatiga. Meski hanya singkat, namun saya merasa bangga sudah dikunjungi Profesor Francois Semah dan istri. Mudah-mudahan, beliau nanti jadi melakukan penelitian di sini dan ikut mengangkat nama Banjarejo di kancah internasional,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Teater NSA Kudus, Potret Seniman Muda Hebat yang Taat Alam

Anggota Teater NSA menunjukkan adegan saat pentas, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Anggota Teater NSA menunjukkan adegan saat pentas, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Siswa SMP N 3 Satu Atap Gebog Kudus mempunyai kelompok seni teater. Teaternya dinamai Negeri Satu Atap (NSA). Sampai saat ini, Teater NSA sudah mementaskan empat karya.

Sugiarto, pelatih teater NSA mengatakan, kelompok teaternya baru berusia sekitar dua tahun. Meski tergolong baru, namun mereka sudah mementaskan naskah. “Jadi setahun bisa berproses selama dua kali pentas. Dan anak-anak juga puas dengan hal tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski aktif berproses, tapi dia sadar jika faktor alam juga menjadi penunjang. Lokasi sekolah berada di dataran tinggi di Desa Rahtawu, Gebog. Potensi alamlah yang banyak digunakan untuk melatih kemampuan siswa dalam berteater.

Potensi alam yang dimaksud, seperti pembuatan properti pentas dan juga latihan. Jika mengandalkan semuanya dari sekolah atau membeli, maka untuk sekali pentas membutuhkan biaya sampai Rp 5 – 6 juta. “Kami paling butuh sekitar Rp 1,5 juta saja. Selebihnya dari siswa yang tergabung dalam teater dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar,” ungkapnya.

Teater NSA sejauh ini juga banyak menorehkan prestasi. Prestasi paling anyar adalah pemenang lomba teater dalam Festival Teater Pelajar (FTP) 2016, beberapa waktu lalu. Teater NSA berhasil menjadi pemenang dalam perlombaan. Tak tanggung-tanggung, mereka memborong tujuh kategori perlombaan dari delapan yang ada.

Antara lain adalah kategori Teater Terbaik, Teater Favorit, Sutradara, Aktor Utama, Aktris Utama, Aktris Pembantu, dan Penata Artistik. “Kami pentas Malin Kundang, namun kami kemas agak berbeda dengan sedikit humor. Jika terlalu monoton malah bisa membuat penonton lesu,” ungkapnya.

Dia menjelaskan kalau dengan berteater, para siswa lebih percaya diri. Tak hanya itu, peserta juga lebih mengenal potensi dirinya dan juga mengembangkannya.

Wahyuningtyas, Aktris Terbaik FTP 2016 mengatakan, ketertarikan teater sebenarnya sudah muncul sejak lama.  Bahkan sejak kelas VII, dia juga sudah aktif dalam dunia teater . “Kami semangat menunjukkan, meski kami di daerah pinggiran, namun kami yakin akan dapat membuktikan. Dan memang sudah terbukti kami menang,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Rembang Pantau Pelaksanaan Pilkades Serentak

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat memantau pelaksanaan pilkades di Desa Waru, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat memantau pelaksanaan pilkades di Desa Waru, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Rembang Bayu Andrianto beserta Kapolres Rembang, Dandim 0720/Rembang serta SKPD terkait meninjau pelaksanaan pemilihan kepala desa serentak di beberapa desa yang ada di Rembang, Rabu (30/11/2016).

Di antara desa yang dikunjungi bupati dan jajaran Forkopimda adalah Desa Desa Waru, Kecamatan Rembang, Desa Mojowarno, Kecamatan Kaliori dan Desa Logede, Kecamatan Sumber.

Dalam hasil kunjungannya di beberapa desa tersebut, bupati menyampaikan, jika masyarakat saat ini sudah dewasa dalam berdemokrasi. Sejauh ini, proses pelaksanaan pilkades berjalan aman dan tertib sesuai yang diharapkan.

“Saya kira masyarakat saat ini sudah semakin maju dan sudah dewasa dalam hal demokrasi. Apalagi, ini adalah proses pendidikan politik dan berdemokrasi di tingkat desa, yakni memilih seorang pemimpin,” ujarnya.

Dirinya berharap, panitia pilkades dapat menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga, nantinya tidak memunculkan efek-efek konflik di masyarakat. Sebab, harapan dari pelaksanaan pilkades berjalan tertib dan aman.

Sementara itu, Markum, salah satu Panitia Pilkades Desa Waru mengatakan, bahwa pelaksanaan pilkades di tempatnya berjalan aman dan tertib. Masyarakat yang memiliki hak pilih, katanya, juga antusias untuk menyalurkan hak pilihnya di TPS.

“Untuk jumlah pemilih yang datang ke TPS, untuk saat ini memang belum diketahui secara keseluruhan. Sebab, saat ini pemilihan masih berlangsung dan akan ditutup pada pukul 14.00 WIB,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Bupati Rembang Minta Masyarakat Bijak Gunakan Medsos

Bupati Rembang Abdul Hafidz (tiga dari kiri) saat menghadiri acara Rembang Bersholawat di Alun-alun Rembang pada Selasa (29/11/2016) malam.

Bupati Rembang Abdul Hafidz (tiga dari kiri) saat menghadiri acara Rembang Bersholawat di Alun-alun Rembang pada Selasa (29/11/2016) malam.

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz meminta kepada masyarakat untuk bijak dalam menggunakan media sosial (medsos). Masyarakat juga diminta untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial.

Menurutnya, jika masyarakat tidak bijak dalam menggunakan media sosial, dikhawatirkan akan merusak kerukunan umat atau kerukunan bermasyarakat. Sebab, jika secara sembarangan menerima atau menyebarkan informasi yang tidak benar, justru bisa menimbulkan kebencian dan perpecahan.

“Akhir-akhir ini banyak sekali informasi-informasi yang ada di media sosial yang mengandung isu-isu SARA, yang mengancam persatuan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, saya berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial,” ujarnya saat menghadiri acara Rembang Bersholawat di Alun-alun Rembang pada Selasa (29/11/2016) malam.

Sementara itu, Komandan Kodim 0720/Rembang Letkol Infantri Damawan Setiady mengatakan, bahwa persatuan adalah hal yang sangat penting dalam negara ini. Seperti halnya yang telah tercantum dalam Pancasila pada sila ke-3.

“Dalam Alquran juga dijelaskan bagaimana persatuan itu sangat penting. Yakni, Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai suku dan bangsa untuk saling mengenal. Itu juga mencerminkan bagaimana pentingnya persatuan, meski berbeda suku atau lainnnya,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Rembang AKBP Sugiarto berpesan dan mengajak masyarakat Rembang untuk selalu menjaga keamanan dan ketertiban serta mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan diadu domba.

Editor : Kholistiono

Mudahnya Dapatkan Miras di Kudus

Jajaran Polsek Jekulo memperlihatkan puluhan botol miras di mapolsek setempat, di Kudus. (Tribratanewskudus)

Jajaran Polsek Jekulo memperlihatkan puluhan botol miras di mapolsek setempat, di Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewCom, Kudus – Peredaran minuman keras (miras) di Kudus kian mengkhawatirkan. Terutama di tingkat desa. Seperti yang ditemukan Polsek Jekulo. Sekitar 52 botol miras mereka temukan dari warung dan rumah warga.

Dikutip website resmi Polres Kudus, Polsek Jekulo menemukan puluhan botol miras meski hanya sebentar melakukan penertiban. Razia dilakukan pada Selasa, (29/11/2016).

Adapun hasilnya dalam giat tersebut, dari warga Desa Gondoharum, Sumilah ditemukan,  14 Bir Bintang, 16 botol Bir Anker, 12 Anggur Merah, dua Anggur Koleson, dan empat liter jeriken miras putihan.

Dari rumah Dwi Sulistiyani di Desa Terban Rt 05 Rw 07, berhasil disita empat Anggur Koleson. Dan dari rumah warga Budi Sulistiyono warga Desa Tanjungrejo Rt 04 Rw 01, berhasil disita dua Anggur Merah, satu Bir Bintang, dan satu Anggur Koleson.

Personil yang dilibatkan dalam giat ops tersebut Kanit Sabhara Polsek Jekulo Aiptu Sri Wibowo bersama anggotanya serta Aipda Suparjo dan Briptu Eri wibowo anggota unit intelkam Polsek Jekulo .

Sasaranya adalah penjual miras di wilayah timur Kecamatan Jekulo khususnya Desa Gondoharum,Terban dan Desa Tanjungrejo.

Editor : Akrom Hazami

Braaakk! Warung Nasi Goreng di Grobogan Diseruduk Pikap, 1 Orang Tewas

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Grobogan – Tri Haryanto, penjual nasi goreng di pinggir Jalan Raya Purwodadi-Semarang, Rabu (30/11/2016) dini hari sempat dibuat shock. Gara-garanya, warung miliknya yang ada di depan Kantor UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Gubug tiba-tiba diseruduk sebuah mobil pikap bermuatan cabe.

Akibat peristiwa ini, warung tenda berkuran 3 x 4 meter tersebut hancur berantakan. Tidak hanya itu, kejadian tersebut juga menimbulkan satu korban jiwa. Korban jiwa diketahui bernama Budiono (51), warga Jetiskapuan, Jati, Kudus. Saat kejadian, korban yang berprofesi sebagai sopir truk itu sedang berada di warung nasi goreng tersebut.

“Saat itu, korban sebenarnya sudah selesai makan dan sudah pegang dompet. Ketika akan ambil uang, ada kendaraan yang nabrak warung. Saya saat itu ada di belakang gerobak posisinya dan tidak sempat kena kendaraan yang akhirnya terguling setelah nabrak warung,” ujar pemilik warung berusia 26 tahun yang tinggal di Desa Latak, Kecamatan Godong tersebut.

Tidak lama setelah kejadian, warga sekitar berhamburan ke lokasi untuk menolong korban yang mengalami luka parah. Selanjutnya, korban dilarikan ke RSU PKU Muhammadiyah Gubug, namun nyawanya tidak tertolong.

Dari keterangan beberap saksi, kecelakaan itu bermula saat kendaraan pikap dengan Nopol K 1772 JP melaju kencang dari arah barat (Semarang). Sesampai di dekat lokasi tiba-tiba kendaraan terlihat oleng ke kiri.

Lantaran kondisi jalan cukup licin akibat hujan yang masih mengguyur, sopir pikap tidak bisa mengendalikan laju kendaraan. Hingga akhirnya, menabrak warung nasi goreng dan akhirnya terguling. Tergulingnya kendaraan juga mengakibatkan muatan cabai berhamburan.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panji Gede Prabawa menyatakan, sopir pikap yang menabrak warung langsung melarikan diri setelah terjadinya kecelakaan. Saat ini, pihaknya masih mencari keberadaan sopir pikap tersebut.

“Identitas sopir atas nama Purwanto (35), warga Tumpang, Pati. Masih kita cari sopirnya. Mengenai penyebab kecelakaan kita masih lakukan pemeriksaan di lapangan,” katanya pada wartawan.

Editor : Kholistiono

“Mengabdi Lebih Berarti Daripada Membanggakan Diri ”

Bupati Kudus Musthofa saat melakukan sambang desa di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (Tribratanewskudus)

Bupati Kudus Musthofa saat melakukan sambang desa di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa mengatakan, pemerintah, terutama tingkat desa merupakan pihak yang langsung bersentuhan dengan rakyat di wilayah mereka tinggal.

Karenanya, sudah seharusnya jika kalangan pemerintah wajib mengabdi. Dalam hal ini dalam bentuk pelayanan maksimal kepada masyarakat. “Mengabdi lebih berarti daripada membanggakan diri,” kata Musthofa saat sambang Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus.

Bupati Kudus juga menekankan bahwa instansi pemerintah daerah tingkat bawah harus bisa melayani warga masyarakat dengan penuh rasa ikhlas.

Kegiatan sambang desa, patroli dan silahturahmi ke tokoh agama dan warga masyarakat Kecamatan Gebog bagi Kapolsek Gebog merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap saat.

Akan tetapi kegiatan pada Selasa (29/11/2016) malam memang agak sedikit beda karena bertepatan dengan acara Bupati Kudus tilik desa.

Kapolsek Gebog AKP Muhaimin dan Bhabinkamtibmas Desa Gribig Brigadir Nanang FA menghadiri acara Tilik Desa Lapor Rakyat bareng Bupati Kudus Musthofa di Desa Gribig bertempat di rumah warga bernama Suwartono.

Hadir dalam acara tersebut para pimpinan SKPD Pemerintah Kabupaten Kudus, Camat se-Kabupaten Kudus, Muspika Kecamatan Gebog, kepala desa, BPD dan perangkat desa se -Kecamatan Gebog, tokoh masyarakat dan warga Desa Gribig kurang lebih berjumlah 1000 orang

Editor : Akrom Hazami

Menanti Kabar Pilkades Super Damai dari Rembang

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

HARI ini, Rabu (30/11/2016), sebanyak 43 desa yang ada di Rembang melaksanakan pesta demokrasi. Ribuan pemilih di masing-masing desa tersebut dihadapkan dengan transisi kepemimpinan.

Hari ini pula, foto masing-masing calon pemimpin tersebut terpampang jelas pada selembar kertas bernama surat suara. Jangan heran, jika wajah mereka akan menyuguhkan “senyuman termanisnya” hari ini. Mereka akan mencoba memikat sedemikian rupa, agar tak diacuhkan begitu saja. Sebab, mereka tak mau kalian sebagai pemilih berpaling sedetik pun untuk selenco pada foto yang ada di sebelahnya.

Sebuah lubang kecil, tepat di bagian wajah atau badan, menjadi keinginan mereka, agar pemilih memberikannya. Cukup satu, bukan dua atau tiga lubang di foto yang berbeda. Satu lubang, adalah sebuah harapan untuk menjadi pemenang.

Lubang di selembar kertas inilah yang menjadi justifikasi atas kemenangan atau kekalahan seorang calon pemimpin. Untuk itu, jangan salah kaprah untuk melubangi selembar kertas berharga tersebut. Berilah lubang dengan paku yang disediakan panitia. Cukup satu di bagian foto calon pemimpin yang menurutnya Kamu layak menjadi pemimpin. Jangan karena keteledoran, suaramu tak tersalurkan untuk ikut memilih pemimpin.

Catatan penting yang tak bisa diabaikan ketika berada di bilik suara adalah, memantapkan kembali pilihan. Bukan karena soal kedekatan emosional dan kerabat, tetapi, lebih kepada persoalan visi dan karakter dari calon pemimpin yang dipilih.

Pun demikian, hari ini pula, kita akan melihat siapa saja wajah-wajah yang bakal memimpin di 43 desa di Rembang. Sebab, penghitungan suara pemilih akan dilakukan hari ini juga usai pencoblosan.

Di sinilah, kita akan melihat bagaimana proses demokrasi itu berjalan sesuai teori atau tidak, sesuai yang diharapkan selama ini atau tidak. Demokrasi yang seharusnya berjalan damai, tentu menjadi harapan kita semua pada pelaksanaan pilkades.

Kemenangan, tentu menjadi harapan bagi semua calon. Namun demikian, dalam proses ini tentu ada pula yang harus tersingkir, sehingga para calon juga harus bersikap bijaksana menyikapi kekalahan tersebut agar tidak menimbulkan kegaduhan politik di desa, yang bisa saja berpotensi terjadinya konflik sosial di desa tersebut.

Dalam hal ini, komitmen para calon kades untuk melaksanakan pilkades damai perlu direalisasikan. Ikrar Damai yang sudah diucapkan seluruh calon kades di hadapan Bupati Rembang, Kapolres Rembang, TNI dan unsur Forkopimda beberapa hari lalu tentu bukan hanya sekadar ucapan yang setelahnya diabaikan begitu saja.

Jika dalam proses pilkades ini kita melihat ada kegaduhan politik yang berujung menjadi konflik sosial di masyarakat, akan bisa menjadi preseden buruk dalam konteks demokrasi. Apalagi, demokrasi yang berlangsung berada di tingkatan pemerintah terkecil, yakni desa. Ruang lingkup peserta, hampir semua masih saling kenal, dan juga sebagian adalah saudara atau keluarga. Sehingga, jika timbul perpecahan akibat proses demokrasi tersebut, itu artinya ada sebuah kegagalan politik.

Pilkades kita harapkan menjadi sebuah ajang untuk menentukan pemimpin secara formal dan legitimate yang tak mengurangi kerukunan bertetangga, kerukunan antarsaudara dan antarkeluarga. Sebab, terpilihnya pemimpin baru harus menjadi simbol persatuan. Persatuan sangat  penting untuk mewujudkan desa yang maju.

Hari ini kita menanti kabar, bahwa pilkades serentak di 43 desa di Rembang berjalan damai, seperti yang telah diikrarkan bersama oleh para calon kades. Semoga.(*)

Siswa Diperingatkan Hati-Hati Bermedia Sosial di Jepara  

medsos-e

Polisi memberikan imbauan kepada siswa agar lebih waspada dalam menggunakan media sosial, serta bahaya narkoba dan kenakalan remaja di SMK N 1 Kalinyamatan Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Polisi dari Polsek Kalinyamatan Jepara mengajak para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kalinyamatan, agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial, dengan tidak cepat menerima, menangapi dan menyebarluaskan berita yang belum diketahui pasti kebenarannya.

“Sehingga berita yang disebarkan tersebut dapat menimbulkan reaksi dan dapat menimbulkan korban harta benda maupun jiwa bagi orang lain,” kata Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Kalinyamatan Iptu Edy Purwanto.

Selain itu, untuk mengantisipasi terjadinya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Kabupaten Jepara, Kanit Binmas Polsek Kalinyamatan Polres Jepara, juga terjun ke sekolah guna memberikan penyuluhan tentang bahaya narkoba dan kenakalan remaja, serta sosialisasi penerimaan Polri.

Polisi juga menekankan pada penyalahgunaan dan peredaran gelap serta efek samping dari penyalahgunaan Narkoba. Dia mengatakan, narkoba menjadi musuh bersama, karena saat ini narkoba telah menyebar sampai ke desa dan menjadikan para remaja sebagai pecandunya.

Pada kesempatan tersebut, pihaknya mengimbau kepada seluruh siswa peserta sosialisasi jangan sampai terlibat atau terkena pengaruh dari peredaran gelap Narkoba dan mengajaknya untuk menolak dan bersama memerangi peredaran dan penyalahgunaan Narkoba.

“Juga mengajak para guru berperan aktif untuk mengawasi siswa-siswinya agar tidak terlibat dalam peredaran dan penyalahgunaan Narkoba dan kenakalan remaja di lingkungan sekolah,” kata Edy dikutip dari website resmi Polres Jepara.

Editor : Akrom Hazami

Dewangga Lill Hajj Wal Umroh Berangkatkan Puluhan Jemaah Umroh

 Para jemaah umroh PT Dewangga bersiap berangkat ke Tanah Suci Mekkah selama sembilan hari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Para jemaah umroh PT Dewangga bersiap berangkat ke Tanah Suci Mekkah selama sembilan hari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Biro umroh dan haji PT Dewangga Lill Hajj wal Umroh memberangkatkan puluhan jemaah umroh ke Tanah Suci, Sabtu (26/11/2016). Mereka dijadwalkan melaksanakan umroh selama sembilan hari, mulai dari perjalanan berangkat hingga pulang ke Tanah Air.

Sebanyak 40 jemaah umroh diberangkatkan melalui Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, transit di Singapura, kemudian bertolak di Makkah, Arab Saudi. Sebelum berangkat, mereka berkumpul di Kantor PT Dewangga Lill Hajj Wal Umroh, Jalan Pati-Tayu Km 1, Kutoharjo, Pati.

“Kami sudah menyediakan bus yang mengantar jemaah menuju Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Sepulang dari Tanah Suci, mereka juga akan dijemput bus sebagai fasilitas kepada jemaah. Para pengantar cukup antar-jemput di Kantor Dewangga Pati,” ujar Dahlan, Staf Dewangga Lill Haj wal Umroh, Rabu (30/11/2016).

Sebelum berangkat, para jemaah mendapatkan pengarahan tambahan dan doa bersama untuk keselamatan jemaah selama menjalani ibadah umroh. “Kami bersyukur bisa mendapatkan biro umroh yang bertanggung jawab, pegawainya ramah dengan fasilitas yang sangat memadahi. Bahkan, ada city tout di Singapura selama sehari,” ungkap Rubiyati, salah satu jemaah umroh.

Direktur PT Dewangga, Endro Dwi Cahyono mengaku senang bisa memberikan yang terbaik kepada para jemaah umroh. Dia berharap, para jemaah bisa melaksanakan ibadah umroh dengan baik di Tanah Suci Makkah.

“Kami selalu memberikan pelayanan terbaik. Kami berharap, mereka selamat dan diberikan kemudahan selama menjalankan ibadah umroh hingga kepulangannya ke Tanah Air,” harap Endro.

Rencananya, pemberangkatan bulan berikutnya dilakukan pada Januari 2017 di mana kursi sudah terpenuhi dengan kuota 40 jemaah. Sementara itu, pemberangkatan bulan Februari 2017 masih ada 15 kursi yang belum terpenuhi. Warga yang ingin mendaftarkan diri bisa datang ke Kantor Dewangga Pati atau Semarang.

Editor : Kholistiono

TPA Tanjungrejo Kudus Akan Dibangun Instalasi Air Limbah

Pekerja menyelesaikan penataan TPA Tanjungrejo, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

Pekerja menyelesaikan penataan TPA Tanjungrejo, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kudus Sumiyatun mengatakan, pihaknya merencanakan pembuatan instalasi air limbah di TPA Tanjungrejo Jekulo Kudus. Diharapkan bisa terwujud tahun depan.

Pihaknya telah mengusulkan anggaran sejumlah Rp 2 miliar untuk pembuatan instalasi. “Jadi modelnya seperti IPAL, yang menggunakan enam kolam. Kolam itulah yang juga disertai dengan alat untuk menjernihkan linbah yang keluar,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya belum tahu apakah anggaran yang diusulkan disetujui ataukah tidak. Hanya, jika nanti disetujui dewan, maka ke depan limbah akan lebih tertata lagi. Selain itu juga ada alat kontrol laboratorium, yang berfungsi untuk mengatur apakah limbah keluar dalam keadaan bersih ataukah masih kotor.

Untuk pemasangan nantinya, direncanakan di bagian bawah TPA. Instalasi tersebut juga sebagai bentuk pemeliharaan TPA supaya lebih tertata lagi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Saat ini, kata dia TPA sedang disulap menjadi taman yang menyenangkan. Penataan tempat tersebut menelan biaya Rp 11,4 miliar, yang bersumber dari bantuan gubernur.

Sumiyatun mengatakan, pembangunan di TPA hingga kini masih berlangsung sekitar 75 persen. Rencananya, penataan disana harus diselesaikan maksimal 10 Desember mendatang

“Anggaran dari provinsi itu kami alokasikan untuk bebebepa hal. Seperti pembuatan talut TPA, pembuatan taman, jembatan timbang, pagar dan juga kolam serta lain sebaginya. Semuanya dikerjakan bersamaan hingga akhir bulan ini,” ungkapnya

Dia menjelaskan, di TPA, selama sehari sekitar 500 meter kubik atau 125 ton sampah selalu datang ke TPA. Jumlah tersebut berasal dari berbagai tempat di sembilan kecamatan di Kudus tiap harinya. Untuk memperpanjang usia TPA, sebelumnya dia juga mengatakan,  dibutuhkan lebih banyak penataan lagi. Seperti halnya rencana tahun depan tersebut, yang diusulkan pemilahan lebih banyak jenis sampah lagi guna memanfaatkan sampah disana.

Hal itu juga selama ini sudah terbantu dengan pemulung di kawasan TPA Tanjungrejo. Hanya, para pemulung tinggal diberikan pembinaan agar mampu memilah sampah lebih detail kembali. “Kalau tidak ditata ya hanya mampu bertahan selama tiga tahun saja. Makanya harus ditata,” jelasnya

TPA juga direncakan sebagai wahana rekreasi dadakan. Melihat penataan yang dilakukan, maka warga khususnya siswa bakalan tahu proses pengelolaan limbah sampah di sana Dia berharap pemilahan sampah dapat dimulai pada tingkat rumah tangga. Keluarga dapat memilih sampah non-organik untuk dijual dan kompos sebagai pupuk. Sebab dia juga sedang menggalakkan untuk progam penghijauan.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Hektare Sawah di Undaan Alami Puso, Petani Merugi

Petani mengendarai sepeda di kawasan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani mengendarai sepeda di kawasan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang menggenang di wilayah Undaan Kudus membuat tanaman padi yang baru di tanam mengalami puso. Kondisi tersebut membuat petani merugi lantaran sudah banyak yang dikeluarkan untuk biaya tanam.

Sunarto, penyuluh pertanian wilayah Undaan mengatakan, puso menimpa di semua wilayah pertanian yang terendam air. Jumlahnya bervariasi, tergantung kedalaman air yang menggenangi areal persawahan. “Ada tiga desa yang terkena puso. Untuk Berugenjang ada 75 hektare lahan sawah yang tenggelam, sedangakan yang puso sejumlah 45 hektare,” katanya kepada MuriaNewsCom

Sementara untuk wilayah Wonosoco, hampir secara keseluruhan mengalami genangan air. Totalnya sejumlah 250 hektare. Dari jumlah tersebut, hampir dapat dipastikan semuanya mengalami puso, akibat tergenang air dalam waktu yang cukup lama. Lambangan, ada 65 hektare lahan pertanian warga yang juga tenggelam akibat banjir. Dari jumlah tersebut, 50 hektare tanaman padi sudah dipastikan puso karena mati tenggelam.

Sukiran, kelompok tani Lambangan menambahkan, warga berharap adanya bantuan dari pemkab untuk para petani. Terlebih, warga yang mayoritas petani sudah mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar. “Kami menantikan bantun pemerintah. Kami hanya rakyat kecil saja yang membutuhkan bantuan,,” ungkapnya

Setiyo Budi, Kades Wonosoco menambahkan, debit air di kawasan Wonosoco Undaan perlahan sudah mulai surut . Meski demikian, tanaman petani masih tenggelam dan tak terselamatkan

Editor : Akrom Hazami