Calon Tunggal di Pilkada Pati jadi Tantangan Berat KPU

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

KOTAK kosong bakal menjadi lawan pasangan calon (paslon) Bupati Haryanto -Saiful Arifin dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2017 di Kabupaten Pati pada 15 Februari mendatang.

Kondisi tersebut, akibat hanya ada satu paslon yang mendaftar dan resmi ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pati beberapa waktu lalu. Sesuai dengan peraturan KPU, maka saat coblosan nanti hanya ada surat suara dengan gambar calon tunggal melawan kotak kosong.

Merujuk pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-undang, memang diperbolehkan adanya calon tunggal.

Artinya, kotak kosong di dalam pemilihan kepala daerah juga menjadi bagian demokrasi yang tentunya dijamin undang-undang.

Dengan situasi seperti ini pula, sudah jelas dari sisi demokrasi tentunya menjadi sebuah tantangan berat bagi masyarakat Pati. Sebab, warga yang sudah memiliki hak pilih hanya disuguhkan alternatif memilih pasangan calon dengan kolom kosong tidak bergambar.

Visi dan misi, serta program yang ditawarkan kandidat untuk Pati lima tahun ke depan, tentulah dominan hanya dari satu pasangan calon. Sebab, kotak kosong tentu hanya sebuah kotak yang tak bisa menawarkan program.

Di sisi lain, koalisi gemuk dari sembilan parpol yang mengusung satu pasangan calon menunjukkan besarnya “kepentingan” yang mengepung pasangan calon. Belum lagi kelompok kepentingan lain yang juga sangat dimungkinan ikut mewarnai pelaksanaan Pilkada Pati.

Kondisi seperti ini dikhawatirkan memunculkan efek proses pelaksanaan pilkada ada yang berjalan di luar aturan, akibat kepentingan segelintir oknum atau kelompok. Sehingga, harus benar-benar diwaspadai. Inilah tantangan terberat demokrasi bagi warga.

Dalam konteks calon tunggal ini, juga menjadi sebuah tantangan berat bagi KPU, khususnya dalam mengajak warga yang memiliki hak pemilih untuk berpartisipasi dalam menggunakan hak pilihnya ke TPS pada 15 Februari mendatang.

Bukan sebuah pesimisme tentang kinerja KPU dalam mengupayakan partisipasi pemilih meningkat melalui sosialisasi yang sudah dilakukan selama ini. Namun, keberadaan calon tunggal bisa saja membuat warga justru apatis terhadap terhadap pelaksanan pilkada.

Sejarah pelaksanaan pilkada pada 2006 lalu bisa saja terulang kembali di Pilkada 2017 nanti, khususnya dalam konteks partisipasi pemilih. Ketika itu, dari jumlah pemilih 951.840 orang, yang hadir menggunakan hak pilihnya 493.083 orang (51,8 persen), dan yang tidak hadir 458.757 orang (48,2 persen). Artinya, partisipasi masyarakat dalam pilkada sangat rendah. Hampir separuh dari jumlah pemilih menjadi golput. Kondisi ini, juga menjadikan Pati mendapatkan rekor sebagai daerah dengan partisipasi terendah dalam pelaksanaan pilkada.

Agar sejarah tersebut tak kembali terulang dalam Pilkada 2017 nanti, tentu KPU sejak saat ini harus bisa lebih kerja keras dan lebih intens lagi dalam menyosialisasikan pelaksanaan pilkada. Lebih getol lagi agar pemilih benar-benar turut berpartisipasi dalam proses demokrasi lima tahunan ini.

Media sosial, menjadi salah satu sarana yang tepat dimanfaatkan untuk menggaet warga dalam menggunakan hak pilihnya, khususnya bagi pemilih pemula. Karena, pemilih pemula cenderung akrab dengan media sosial.

Pun demikian, untuk menggaet pemilih, komunikasi yang digunakan juga sebaiknya memakai bahasa yang relatif ringan, mudah diterima dan menarik. Sehingga, ada alasan bagi pemilh untuk menyuarakan haknya di pesta demokrasi nanti.

Pengalaman pertama bagi pemilih pemula menjadi daya tarik tersendiri, karena adanya rasa penasaran untuk mengikuti pestra demokrasi, yakni menggunakan hak pilihnya secara langsung. Hal inilah yang perlu didorong bagi KPU agar nantinya, pemilih pemula ini mantap untuk ikut ke TPS dan mencoblos sesuai pilihan mereka.

Kemudian, sosialisasi off line juga harus tetap berjalan melalui cara yang sebelumnya sudah dilakukan. Di antaranya melakukan sosialisasi ke sekolah, ke kampus, atau hal lainnya. Namun, paling tidak sosialisasi harus lebih diintenskan lagi, dengan kondisi atau anggaran yang cukup terbatas.

Yang tak kalah penting, juga menggandeng perangkat desa untuk ikut peran serta menyosialisasikan pelaksanaan pilkada ini, sehingga, masyarakat di lapisan bawah juga tahu jika di daerahnya akan ada pilkada. Sebab, diakui atau tidak, lapisan masyarakat bawah, untuk saat ini masih banyak yang tidak tahu atau tidak mau tahu jika sebentar lagi, Pati bakal melakukan pesta demokrasi.

Akhirnya, semoga pesta demokrasi di Pati pada 2017 nanti bisa berjalan sesuai aturan dan sesuai aspirasi masyarakat Pati secara keseluruhan. (*)

LSM Kudus Disebut Berubah, Termasuk Jarang Demo di Kejari

kudus-kejaksaan-2-e

Kasi Pidsus Kejari Kudus M Basri berbicara mengenai banyaknya laporan dugaan korupsi yang tidak bisa ditindaklanjuti, dalam dialog yang digelar KPC dengan Kantor Kesbangpol, di United Café, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Posisi lembaga swadaya masyarakat (LSM) dinilai sudah berubah jauh. Ada banyak kepentingan yang melatarbelakangi kehadiran sebuah LSM.

Posisi sebagai pihak yang mengkritisi pemerintah, tampaknya sudah mulai hilang pada LSM-LSM yang ada di Kudus. ”Ada kepentingan-kepentingan yang kemudian melatarbelakangi tujuan LSM itu akan sesuatu. Sehingga bukan lagi murni mengkritisi pemerintah,” jelas Kepala Kesbangpol Kudus Djati Solechah, dalam dialog ”Membangun Komunikasi Ormas/LSM yang Santun dan Beretika, kerja sama Kudus Press Club (KPC) dengan Kantor Kesbangpol, di United Café, belum lama ini.

Kepentingan sesaat, menurut Djati, lebih banyak mendominasi situasi dan kondisi LSM sekarang. Sehingga apa yang dituntutnya, lebih kepada apa yang diinginkan secara pribadi LSM tersebut. ”Meski terkadang mengatasnamakan warga atau rakyat, namun tidak seluruhnya memang benar-benar mengaspirasikan kepentingan rakyat,” tegasnya.

Sementara Kasi Pidsus Kejari Kudus M Basri mengatakan, selama dirinya bertugas di Kudus, ternyata menemui kondisi yang kondusif. Contohnya adalah tidak ada lagi yang demo ke Kejaksaan terkait penanganan satu kasus tertentu.

”Saya juga heran. Kok selama tugas di sini, saya belum pernah didemo, ya. Tapi mungkin memang situasinya yang sudah kondusif, sehingga tidak perlu ada yang demo ke kami,” katanya.

Kondusivitas, menurut Basri, adalah salah satu hal yang memang sedang ditekankan dari pemerintah pusat, ke semua aparatur negara. ”Sehingga kita juga memang harus melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Namun, saya ingatkan bahwa jika LSM ingin melaporkan soal dugaan korupsi, sebaiknya lengkapi dengan data yang valid. Sehingga bisa ditindaklanjuti oleh kami,” terangnya.

Di sisi lain, pengamat sosial politik yang juga Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Tengah Kholid Mawardi mengatakan jika saat ini, keberadaan LSM memang sudah sangat jauh berbeda.

”Contohnya adalah dari anggotanya itu sendiri. Banyak yang berasal dari debt collector. Itu fenomena yang ada saat ini. Sehingga memang sangat jauh dari fungsi dan tujuan LSM itu apa. Lebih banyak ke arah kepentingan pribadi mereka sendiri-sendiri. Tanpa memahami apa sebenarnya arti LSM itu sendiri. Ini yang bahaya, karena hanya akan bertindak sesuai kepentingannya mereka sendiri-sendiri,” imbuhnya.

Editor: Merie

Jadi Simbol Perlawanan, Seniman Jepara Ingin Benda Sejarah Kartini Tetap Lestari

kirab-bayi-kartini-1-e

Seniman asal Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, sekitarnya, menggelar kegiatan Hari Sumpah Pemuda. Kegiatan ini dilaksanakan mereka yang tergabung dalam komunitas ”Njagong Kabudayan”. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Banyaknya benda-benda yang terkait dengan sejarah Raden Ajeng (RA) Kartini dan belum dieksplorasi, memang membutuhkan tempat khusus agar bisa terus lestari.

Inilah yang diinginkan para seniman dan budayawan yang tergabung dalam Sanggar Barokahe Tiyang Sepuh (BTS), yang menggelar kegiatan ”Negeri yang Terlahir Kembali”, sebagai bentuk peringatan Hari Sumpah Pemuda, pada Jumat (28/10/2016) kemarin.

Koordinator sekali pemrakarsa kegiatan, Kang Munif mengatakan, pihaknya memang sengaja mengadakan kegiatan yang diselenggarakan komunitas ”Njagong Kabudayaan”, yang dilaksanakan di kompleks museum ari-ari Kartini, di sebelah pendapa Kecamatan Mayong.

”Acara ”Njagong Kabudayan” ini, merupakan ajang silaturahmi antarkomunitas seni dan budaya di wilayah ini. Karena kami ingin melakukan kegiatan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang berbeda,” katanya.

Sosok RA Kartini adalah sosok yang tepat untuk menggambarkan bagaimana seharusnya pemuda harus bertindak sekarang ini. Sosok seorang perempuan yang dikungkung dan dikekang adat diskriminasi, namun memberontak di kemudian hari.

”Adat diskriminasi itu merupakan simbol penjajahan bagi ibu pertiwi. Nah, Kartini hadir dan memberontak terhadap sistem yang ada, melalui pemikirannya. Dia adalah anak bangsa yang tersadar dari penjajahan tersebut,” tegasnya.

Sumpah Pemuda, menurut Kang Munif, merupakan mata rantai kesadaran akan gelapnya penjajahan. Melalui sambungan pemikiran inilah, yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan nasionalisme berikutnya. ”Dan anak mudalah yang selalu jadi motornya,” katanya.

Itu sebabnya, selain pagelaran seni, juga dilakukan kirab yang isinya mengusung benda-benda sejarah yang berhubungan dengan kelahiran RA Kartini. ”Supaya kita ini kembali sadar akan penjajahan baru yang tengah mem-bully bangsa ini. Penjajahan budaya, penjajahan ekonomi, penjajahan idealisme, dan nasionalisme. Sehingga kita bahkan melupakan ari-ari Kartini yang merupakan simbol lahirnya pemikiran akan kebangsaan,” katanya.

Dengan kesadaran kembali terhadap nasionalisme, Kang Munif mengatakan, akan membuat kita tidak lagi terkagum-kagum dengan luar negeri, produk luar negeri, budaya luar negeri, sikap dan pemikiran luar negeri, dan melupakan kearifan lokal kita.

Karena itu, Kang Munif dan rekan-rekannya yang lain, berharap supaya benda-benda sejarah itu tetap terjaga sampai kapanpun. Pihaknya ingin supaya peninggalan Kartini ini tetap lestari. ”Sebagaimana pemikiran-pemikirannya selama ini, yang memang selalu menerangi,” imbuhnya.

Editor: Merie

Kades Banjarejo Galang Koordinasi soal Situs Meski Lewat Medsos

grobogan-kerajaan-2-e

Bupati Grobogan Sri Sumarni melihat koleksi benda-benda purbakala Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, memang sudah resmi ditetapkan sebagai desa wisata. Namun, upaya eksplorasi terhadap situas sejarah di wilayah itu, harus terus dilakukan.

Kepala Desa (Kades) Banjarejo Ahmad Taufik mengatakan, selama ini pihaknya selalu berkoordinasi dengan instansi terkait, yang ada hubungannya dengan keberadaan sebuah situs.

Koordinasi itu, menurut Taufik, baik melalui short message service (SMS) atau pesan singkat, maupun telepon. Bahkan sudah beberapa kali pihaknya berkomunikasi langsung ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta, tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar Grobogan.

”Setiap ada penemuan, langsung kita informasikan dan kirimkan fotonya pada instansi terkait. Jadi koordinasi itu selalu kita lakukan, meski terkadang hanya lewat media sosial (medsos),” katanya.

Taufik mengatakan, terkait pembenahan sarana dan prasarana wisata, pihaknya tidak akan mengandalkan dana dari Pemkab Grobogan saja. Tetapi juga akan berupaya semampunya lewat dana desa, kalau memang memungkinkan.

Selain itu, sebisa mungkin pihaknya akan menyiapkan sarana sederhana dengan dana swadaya masyarakat. ”Yang jelas kami juga akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan wisata di sini. Soal kendala yang dihadapi, nanti kita pecahkan bersama dengan berbagai pihak. Terutama Pemkab Grobogan. Biar terasa ringan,” jelasnya.

Bupati Grobogan Sri Sumarni sendiri memang mendukung langkah mengembangkan Desa Banjarejo ini. yang akan membangun kawasan itu.Bupati merasa optimistis jika ke depan, Desa Banjarejo bakal jadi tempat kunjungan wisatawan.

Menurut bupati, untuk memaksimalkan potensi Banjarejo, tentu tidak selesai dengan menetapkan jadi desa wisata saja. Tetapi banyak hal lain yang harus dilakukan agar pencanangan desa wisata bisa sukses seperti harapan semua pihak.

”Jadi, untuk menyukseskan Desa Wisata Banjarejo ini harus dikejakan satu persatu. Tidak bisa dalam sekejap karena butuh waktu dan biaya,” jelasnya.

Salah satu prioritas yang akan dilakukan adalah pembenahan sarana dan prasarana pendukung. Yakni, perbaikan akses menuju Banjarejo, karena masih ada banyak ruas jalan yang kondisinya rusak. Baik akses dari Kecamatan Kradenan maupun Kecamatan Ngaringan.

”Saya sudah perintahkan supaya perbaikan jalan menuju Banjarejo dialokasikan pada APBD 2017. Saat ini, proses penyusunan APBD 2017 masih dalam tahap awal. Soal perbaikan akses jalan ke Banjarejo juga sudah dapat dukungan penuh dari Pak Agus Siswanto (ketua DPRD Grobogan, red). Untuk pembenahan sarana dan prasarana pendukung lainnya pasti akan kita perhatikan,” terang Sri.

Editor: Merie

Gara-gara Lilin, Rumah Warga di Grobogan Ini Habis Terbakar

Beberapa warga berupaya memadamkan api yang menghanguskan rumah Suwarni, warga Desa Karangwader, Kecamatan Penawangan, Minggu (30/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Beberapa warga berupaya memadamkan api yang menghanguskan rumah Suwarni, warga Desa Karangwader, Kecamatan Penawangan, Minggu (30/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Meski saat ini sudah masuk musim hujan, namun musibah kebakaran masih saja terjadi. Terbaru, peristiwa kebakaran terjadi di Desa Karangwader, Kecamatan Penawangan, Minggu (30/10/2016). Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 21.30 WIB itu menyebabkan satu rumah milik Munadi (45), ludes terbakar.

Informasi yang didapat menyebutkan, beberapa jam sebelum kejadian, aliran listrik di desa itu padam usai turun hujan. Untuk menerangi rumah, Suwarni (40), istri Munadi menyalakan lilin yang diletakkan di atas almari plastik di ruang tengah.

Tidak lama kemudian, Munadi dikejutkan dengan adanya nyala api yang cukup besar di dalam rumahnya dan dengan cepat menjalar ke atap rumah. Melihat kondisi ini, Munadi meminta seluruh anggota keluarganya untuk keluar rumah sambil berteriak minta pertolongan warga. Mendengar jeritan minta tolong, puluhan warga segera berhamburan keluar rumah dan berupaya memadamkan api.

Namun, upaya ini terkendala cuaca gelap akibat padamnya listrik. Terbatasnya penerangan yang mengandalkan nyala senter dan lampu handphone menyebabkan warga kesulitan mencari air.

Sekitar satu jam kemudian, tiga unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi. Saat itu, kondisi rumah yang terbakar sudah hampir habis dan kobaran api hendak menjalar ke rumah terdekat lantaran tiupan angin.
Setelah berjibaku sekitar 30 menit, upaya pemadaman yang dilakukan petugas damkar dibantu warga sekitar akhirnya berhasil.

“Rumah yang terbakar milik Pak Munadi memang tidak berhasil diselamatkan. Namun, kita berhasil mencegah api menjalar lebih luas ke rumah di sekitarnya. Untuk penyebab kebakaran, diduga kuat dari lilin yang jatuh dan membakar lemari plastik hinga api menjalar ke dinding rumah. Tidak ada korban jiwa ataupun luka-luka dalam musibah ini,” kata Kasi Damkar BPBD Grobogan Sutrisno.

Sekedar mengingatkan, beberapa hari sebelumnya, peristiwa kebakaran lantaran lilin juga menimpa sebuah kios kelontong di Desa Cekel, Kecamatan Karangrayung. Selain menghabiskan kios beserta isinya, peristiwa ini juga menimbulkan korban. Yakni, satu korban jiwa dan tiga orang luka bakar parah.

Editor : Kholistiono

Inilah Sosok yang Akhirnya Memimpin PC NU Grobogan

grobogan-nu-e

Ketua Tanfidziyah PC NU Grobogan terpilih Abu Mansur (kiri), duduk bersama Rois Syuriah terpilih KH Hambali, usai pelaksanaan konfercab di Gedung NU, Sabtu (29/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Akhirnya setelah sempat tertunda, Konferensi Cabang (Konfercab) PC Nahdlatul Ulama Grobogan berakhir dengan memilih sosok satu ini menjadi pemimpinnya.

Pemilihan siapa yang akan menjadi ketua PC NU Grobogan berikutnya, yakni periode 2016-2021, memangbaru berakhir pada Sabtu (29/10/2016), sekitar pukul 23.30 WIB.

Nama yang terpilih adalah KH Hambali untuk posisi Rois Syuriah. Sedangkan nama Abu Mansur terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah.

”Alhamdulillah, pelaksanaan Konfercab PC NU berjalan lancar. Semoga dari hasil Konfercab ini bisa membawa PC NU Grobogan makin maju,” kata Ketua Panitia Konfercab Afrosin Arif, Minggu (30/10/2016).

Dalam proses pemilihan Rois Syuriah sendiri, pelaksanaannya berjalan mulus. Di mana lima orang yang dicalonkan sepakat memilih nama KH Hambali untuk mengemban jabatan tersebut.

Pada dua periode sebelumnya, ulama dari Desa Pahesan, Kecamatan Godong, itu bahkan sudah pernah jadi ketua PC NU Grobogan. Sehingga pemilihannya berjalan mulus.

Untuk pemilihan ketua Tanfidziyah sendiri harus dilakukan dalam dua putaran. Pada putaran pertama ada tiga kandidat yang tampil. Yakni Abu.Mansur dan Zaenal Arifin yang sama-sama dapat 9 suara, serta Munawir memperoleh 1 suara.

Lantaran perolehan suaranya imbang, maka dilakukan pemilihan putaran kedua. Dalam putaran kedua, Zaenal tetap dapat 9 suara dan Abu Mansur memperoleh 10 suara. ”Jumlah suara keseluruhan ada 19 suara. Ini sesuai banyaknya anak cabang,” kata Afrosin.

Setelah terpilih, malam itu juga dilakukan pembentukan tim formatur untuk menyusun kepengurusan PC NU. Tim formatur disepakati ada tujuh orang.
Terdiri dua orang yang baru terpilih dalam konfercab, tiga perwakilan PAC, dan  dua lagi diambilkan dari kepengurusan sebelumnya.

Sedianya, malam itu juga dilangsungkan acara Konfercab PC Ansor di Ponpes Manba’ul A’laa. Namun, acara ini batal digelar lantaran terjadi deadlock. Penyebabnya, dua kandidat ketuanya tidak berhasil melakukan musyawarah mufakat.

Editor: Merie

 

”Bayi” Kartini Akhirnya Diserahkan Kembali ke Pemkab Jepara

kirab-kartini-3-e

Kirab kebudayaan dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang di dalamnya membawa benda-benda saat RA Kartini dilahirkan dahulu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Penemuan benda-benda yang terkait dengan kelahiran bayi Raden Ajeng Kartini memang terbilang mengejutkan. Pasalnya, benda-benda itu memang selama ini lolos dari pengamatan sejarah yang ada.

Beruntung, ada orang-orang dan seniman serta budayawan di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, yang masih peduli terhadap keberlangsungan benda-benda bersejarah itu. Mereka menggagas kegiatan yang diberi nama ”Negeri yang Terlahir Kembali”, yang dilaksanakan berbarengan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2016 kemarin.

Selain acara pentas seni yang dilaksanakan di pendapa kecamatan, juga dilaksanakan kirab yang salah satunya membawa benda-benda sejarah, saat RA Kartini dilahirkan dahulu. Kirab diawali dari Balai Desa Pelemkerep, hingga ke kantor kecamatan.

Kang Munif, koordinator kegiatan, mengatakan bahwa bersama-bersama dengan seniman lainnya yang ada di Kecamatan Mayong, pihaknya ingin peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, dijadikan momentum kesadaran bertanah air satu, berkebangsaan yang satu, dan Bahasa Indonesia merupakan alat untuk mendukung persatuan tersebut.

”Kesadaran ini adalah sebuah kelahiran pemikiran akan kebangsaan dan nasionalisme. Pemikiran ini menjadi obor penerang dari kegelapan nasib kelam sebuah bangsa yang ratusan tahun terjajah. Ibu pertiwi yang terkungkung dalam kegelapan adat deskriminasi penjajahan kolonialisme,” tuturnya.

Namun, yang menarik memang adalah benda-benda yang dikirab dalam kegiatan tersebut. Karena selama ini, banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi saat Kartini dilahirkan dahulu.

Menurut salah seorang panitia, Kasturi, benda-benda itu antara lain ranjang tempat Kartini dilahirkan, pilisan atau landasan untuk membuat bedak untuk perempuan yang habis melahirkan, bedak herbal untuk pereda nyeri, kotak popok, lumpang, kastok cermin, kastok tanpa cermin, kap lampu kamar, dan piring kuno. Semuanya berhubungan dengan kelahiran Kartini.

”Ada barang-barang lain seperti biji-bijian, dedaunan, dan rempah-rempah untuk jamu. Serta ada juga benda-benda lainnya. Semuanya berhubungan dengan kelahiran RA Kartini,” katanya.

Barang-barang tersebut, menurut Kasturi, sangat berharga serta bernilai sejarah tinggi. Pasalnya, umurnya sudah ratusan tahun. Ditambah lagi, informasi keberadaan barang-barang ini memang tidak banyak diketahui orang. ”Serta penemunya masih dirahasiakan. Hal ini dimaksud untuk menjaga keamanan barang-barang tersebut,” tegasnya.

Kegiatan ini sendiri, diikuti oleh mereka para seniman dan masyarakat yang peduli dengan sejarah, yang tergabung dalam komunitas ”Njagong Kabudayan”. Banyak sanggar yang ikut serta di dalamnya. Selain Sanggar BTS, ada juga Sanggar Kidung Suwung, Komunitas Punden, Grup Musik Akustik Santri Jalanan, Kelompok Seni TeRaSS omah, dan Masyarakat Seni Mayong.

Usai dikirab, benda-benda itu lantas diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Selanjutnya benda-benda itu disimpan di Museum Pesanggrahan Kartini.

Yang menyerahkan adalah KRT Siwoyo Hendro Pramono kepada kepala Disbudpar Jepara. KRT Siwoyo sendiri adalah cucu abdi dalem Kawedanan Mayong saat ayah Kartini menjabat wedana di wilayah itu.

Editor: Merie

Kasi Pidsus Kejari Kudus Bilang Kalau Lapor Kasus Korupsi, Data Harus Valid

kudus-kejaksaan-1-e

Kasi Pidsus Kejari Kudus M Basri berbicara mengenai banyaknya laporan dugaan korupsi yang tidak bisa ditindaklanjuti, dalam dialog yang digelar KPC dengan Kantor Kesbangpol, di United Café, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Laporan mengenai dugaan korupsi yang masuk ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus, terbilang banyak. Namun, tidak semuanya bisa ditindaklanjuti.

Kasi Pidsus Kejari Kudus M Basri mengatakan, laporan soal dugaan korupsi penyelewengan dana pemerintah, memang kerapkali masuk ke pihaknya. ”Termasuk juga yang dilaporkan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang ada di Kudus. Banyak juga,” terangnya saat berbicara pada dialog Membangun Komunikasi LSM/Ormas yang Santun dan Beretika, kerja sama Kudus Press Club (KPC) dan Kantor Kesbangpol Kudus, di United Café, belum lama ini.

Basri mengatakan, sebelum laporan-laporan itu masuk ke pihaknya di Seksi Pidsus, terlebih dahulu laporannya akan diperiksa terlebih dahulu di Seksi Intelejen.

”Tujuannya diperiksa adalah untuk mengetahui apakah kemudian kasusnya itu bisa ditindaklanjuti atau tidak. Atau hanya sekadar informasi saja, semua diperiksa dahulu. Sebelum diserahkan ke kami di Pidsus,” tuturnya.

Pemeriksaan itu penting dilakukan, menurut Basri, agar kasus-kasus yang nantinya ditangani, memang benar-benar kasus-kasus yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak hanya sekadar laporan saja.

”Dan selama ini, banyak yang kemudian hanya sekedar laporan saja. Tidak bisa ditindaklanjuti. Termasuk juga ada yang lantas dilaporkan oleh LSM atau ormas-ormas yang ada di Kudus,” terangnya.

Jika kemudian banyak laporan yang tidak ditindaklanjuti, menurut Basri, karena memang datanya tidak valid. Sehingga pihak kejaksaan tidak bisa meneruskannya untuk diselidiki. ”Banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan antara laporan dan aslinya. Sehingga tidak kita selidiki lagi,” katanya.

Karena itu, Basri meminta kepada siapa saja, termasuk LSM atau ormas yang melaporkan kasus dugaan korupsi, bisa memberikan data yang kemudian valid. Tidak hanya laporan semata, tanpa adanya data yang bisa ditindaklanjuti.

Basri menjelaskan, jika data awal sudah terbilang baik, maka kasus-kasus yang dilaporkan akan bisa ditindaklanjuti. ”Kalau memang valid, kita pasti akan teruskan laporannya. Akan kita tindaklanjuti,” tegasnya.

Editor: Merie

Bupati Sri Sumarni Percaya Banjarejo adalah Kerajaan Medang Kamulan

grobogan-kerajaan-e

Bupati Grobogan Sri Sumarni melihat koleksi benda-benda purbakala Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kawasan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, bakal menjadi salah satu lokasi wisata yang bisa diandalkan ke depannya. Ini seiring dengan langkah Bupati Grobogan Sri Sumarni yang akan membangun kawasan itu.

Bupati merasa optimistis jika ke depan, Desa Banjarejo bakal jadi tempat kunjungan wisatawan. Itu dinyatakannya usai bupati Banjarejo sebagai desa wisata, belum lama ini.

”Potensi wisata dalam hal benda purbakala dan cagar budaya di Banjarejo memang luar biasa. Dua potensi ini sudah bisa jadi daya tarik banyak orang untuk datang ke sini. Sejak kecil dulu saya sering dengan cerita Medang Kamulan, dan saya yakin jika kerajaan itu pernah ada di sini,” katanya.

Menurut bupati, untuk memaksimalkan potensi Banjarejo, tentu tidak selesai dengan menetapkan jadi desa wisata saja. Tetapi banyak hal lain yang harus dilakukan agar pencanangan desa wisata bisa sukses seperti harapan semua pihak.

”Jadi, untuk menyukseskan Desa Wisata Banjarejo ini harus dikejakan satu persatu. Tidak bisa dalam sekejap karena butuh waktu dan biaya,” jelasnya.

Salah satu prioritas yang akan dilakukan adalah pembenahan sarana dan prasarana pendukung. Yakni, perbaikan akses menuju Banjarejo, karena masih ada banyak ruas jalan yang kondisinya rusak. Baik akses dari Kecamatan Kradenan maupun Kecamatan Ngaringan.

”Saya sudah perintahkan supaya perbaikan jalan menuju Banjarejo dialokasikan pada APBD 2017. Saat ini, proses penyusunan APBD 2017 masih dalam tahap awal. Soal perbaikan akses jalan ke Banjarejo juga sudah dapat dukungan penuh dari Pak Agus Siswanto (ketua DPRD Grobogan, red). Untuk pembenahan sarana dan prasarana pendukung lainnya pasti akan kita perhatikan,” terang Sri.

Mantan ktua DPRD Grobogan itu juga berpesan kepada Kepala Desa (Kades) Banjarejo Ahmad Taufik, agar merawat penemuan benda bersejarah dengan baik. Sri juga meminta agar Taufik selalu berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya terkait pengembangan desa wisata.

Seperti dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta, tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar. ”Setelah dijadikan desa wisata, banyak pekerjaan yang harus dilanjutkan. Tergetnya, potensi disini harus bisa mendatangkan banyak pengunjung,” pesannya.

Editor: Merie

Selamat, Inilah Para Pemenang Bupati Cup 2016

sukun-bupati-cup-e

Ketua Harian PBVSI M Ridwan menyerahkan piala dan hadiah kepada juara Bupati Cup 2016, usai pertandingan final pada Sabtu (29/10/2016) malam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pertandiangan Bupati Cup 2016 sudah pada puncaknya. Pada tahun ini, kegiatan Bupati Cup yang didukung Sukun Spirit of Sport itu, berlangsung hampir selama sebulan penuh. Klub yang bermain sejumlah 35 untuk putra dan 25 klub untuk putri.

Pada laga final Sabtu (29/10/2016) kemarin, mempertemukan tim putra antara Bintar Raya melawan Porvit. Pertandingan berlangsung sangatlah seru, dengan kemenangan Porvit dengan skor 3-1.

Hal itu membuat klub Porvit berhak menjadi juara Bupati Cup 2016, dan mendapatkan hadiah Rp 5 juta. Ditambah thropi juara serta thropi piala bergilir Sedangkan Bintar Raya menjadi runner up pertandingan, dan mendapatkan bonus Rp 4 juta serta thropi.

Sementara untuk peringkat tiga ditempati Berlian Muda. Di mana Berlian Muda berada di peringkat ketiga Bupati Cup 2016 setelah berhasil mengalahkan Pijar dengan skor 3-1. Berlian Muda mendapatkan bonus Rp 2,5 juta dan thropi. Sedangkan peringkat keempat mendapat Rp 1,5 juta.

Sementara untuk laga putri, di fnal mempertemukan Porvit dengan SWA. Laga berlangsung sangat sengit, dan memaksa pertandiangan hingga lima set. Laga dimenangkan oleh SWA atas Porvit, dengan skor 3-2.

SWA berhasil mempertahankan gelar juara Bupati Cup dan menjadi pemenang kembali, dengan hadiah Rp 4 juta dan dua thropi. Sedangkan Porvit menjadi pendatang baru yang masuk menjadi runner up dengan hadiah Rp 3 juta dan thropi.

Sedangkan pada peringkat ketiga, berhasil diraih Berlian Muda, setelah mengalahkan Rajawali dengan skor 3-0 sekaligus. Berlian Muda mendapatkan bonus Rp 2 juta dan piala, sedangkan Rajawali peringkat empat dengan Rp 1,5 juta serta thropi.

Ketua Harian PBVSI M Ridwan mengatakan, pihaknya bangga atas kemajuan dunia voli Kudus. Kemajuan yang bagus merupakan kerja sama tim dari PBVSI di Kudus.

”Ke depan dapat ditingkatkan lagi. Mulai kualitas hingga kuantitasnya juga harus meningkat,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, para pemenang akan menjadi atlet pra Porprov 2017. Dan akan menjalani latihan lebih keras lagi nantinya. ”Supaya para atlet bisa semakin berprestasi dalam ajang apapun,” imbuhnya.

Editor: Merie

Makin Banyak Sampah, Desa Tempur Jepara Dapat Perhatian Khusus

jepara-tempur-2

Kawasan Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa. Sehingga menjadi andalan wisata di wilayah itu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Desa Tempur, Kecamatan Keling, merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Jepara. Lokasinya memang jauh dari pusat kota, namun potensinya sangat luar biasa.

Berada di lereng Pegunungan Muria, Desa Tempur memiliki keindahan pemandangan dan kekayaan alam yang sangat luar biasa. Ini sangat mendukung sektor pariwisata di Jepara. Termasuk juga hasil-hasil pertaniannya sangat menjanjikan.

Namun dalam pengelolaan sampahnya, Desa Tempur ternyata masih butuh perhatian dari berbagai pihak. ”Baik dari instansi pemerintahan maupun non-pemerintah. Sehingga Desa Tempur bisa menjadi salah satu destinasi wisata yang bisa dibanggakan, bahkan menjadi ikon Kabupaten Jepara,” kata Widjanarko, dari Muria Research Center (MRC).

Salah satu permasalahan yang perlu menjadi perhatian serius di sana, menurut Widjanarko, adalah masalah sampah yang semakin hari semakin menumpuk. Itu dapat dijumpai di pinggir-pinggir sungai yang mengalir di desa tersebut.

”Maka dari itu, kami perlu menggagas atau mengadakan diskusi atau rembug desa, untuk penguraian masalah sampah yang harus segera diselesaikan. Karena kebersihan lingkungan merupakan salah satu tolok ukur kualitas hidup masyarakat,” jelasnya.

Widjanarko mengatakan, masyarakat yang telah mementingkan kebersihan lingkungan, dipandang sebagai masyarakat yang kualitas hidupnya lebih tinggi, dibandingkan masyarakat yang belum mementingkan kebersihan. ”Salah satu aspek yang dapat dijadikan indikator kebersihan lingkungan adalah sampah. Bersih atau kotornya suatu lingkungan, tercipta melalui tindakan-tindakan manusia dalam mengelola dan menanggulangi sampah yang mereka hasilkan,” paparnya.

Persoalan sampah ini juga terjadi di Desa Tempur. Karena itu, bekerja sama dengan pemerintah desa (pemdes) dan karang taruna desa setempat, MRC mengadakan rembug desa, yang akan digelar pada Senin (31/10/2016).

Bertempat di balai desa setempat mulai pukul 13.00 WIB, rembug desa ini akan diikuti warga desa setempat. Mulai dari perangkat desa, ketua RT dan RW, organisasi PKK, dan tokoh masyarakat lainnya.

Widjanarko mengatakan, kegiatan ini ingin memberikan informasi terkait pentingnya pengelolaan sampah dari rumah tangga, serta menggugah peran masyaarkat untuk memiliki perilaku yang bertanggung jawab terhadap sampah yang dimiliki.

”Kami ingin masyarakat bisa tergugah dalam menjaga kebersihan, terutama tata kelola sampah. Inilah yang ingin kami sampaikan kepada mereka dalam rembug desa nanti. Kita juga mengundang pihak Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan Jepara, dan Ibu Sri Setuni selaku pengelola Bank Sampah Jati Asri,” paparnya.

Dengan acara ini, ditambahkan Widjanarko, akan tercipta sebuah pengelolaan sampah yang baik oleh masyarakat. Sehingga Tempur akan berkembang semakin baik, menjadi desa yang benar-benar bisa menjadi desa wisata andalan. ”Kalau tidak kita sebagai warga, siapa lagi yang memulai. Dan kalau bukan warga sendiri, siapa yang akan peduli,” imbuhnya.

Editor: Merie

 

Banyak Anak Terpisah dari Orang Tua saat Nonton Inbox, Petugas Antarkan Balik ke Rumah

kudus-inbox-2-e

Warga yang nekat naik ke atas mobil pemadam kebakaran, hanya untuk melihat artis-artis yang mengisi acara Inbox, yang disiarkan langsung dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (30/10/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kemeriahan pagelaran Karnaval Music Inbox di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, memang sangat terasa dengan kehadiran ribuan orang. Dua hari dilaksanakan, dua-duanya mampu membuat masyarakat tumpah ruah di alun-alun.

Namun, ada beberapa kejadian yang menyertai pelaksanaan even yang dibarengkan dengan pameran UMKM milik Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus itu. Salah satunya adalah banyaknya anak-anak yang terpisah dari orang tua atau saudara mereka saat acara berlangsung.

Petugas, baik dari kepolisian, anggota TNI, Satpol PP, dan petugas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kudus yang berjaga sepanjang acara, menemukan anak-anak yang terpisah dari orang tuanya.

Anak-anak yang terpisah karena saking banyaknya pengunjung yang datang. Saat berdesak-desakan itulah, mereka kemudian terlepas dari gandengan orang tua, atau saudara yang datang bersama-sama ke lokasi acara.

Beberapa di antara anak-anak itu, sempat menangis mencari keluarganya. Mereka kebingungan karena tidak tahu harus mencari kemana di tengah ribuan orang yang ada. Petugas akhirnya mencoba menenangkan mereka. Serta mengumpulkan anak-anak itu menjadi satu.

Petugas lantas mencoba mencarikan keluarga mereka dengan memberikan pengumuman, di sela-sela break shooting acara. Namun, ada juga yang ternyata ditinggalkan saudaranya yang rupanya memilih naik ke truk pemadam kebakaran, demi bisa menyaksikan acara Inbox.

”Tadi memang ada anak yang menangis mencari kakaknya. Setelah kita carikan, ternyata kakaknya itu naik ke atas truk pemadam kebakaran. Langsung kita panggil untuk mengurus adiknya itu. Kata kakaknya, dia naik ke atas truk untuk bisa melihat artis Inbox karena sudah tidak bisa ke depan panggung,” tutur salah satu petugas Satpol PP Kudus.

kudus-inbox-3-e

Ibu-ibu yang terpaksa menonton Inbox lewat layar televisi di pos jaga Satpol PP di kompleks kantor bupati Kudus, karena sudah tidak masuk ke lokasi arena, di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (30/10/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Anak-anak yang terpisah itu, kemudian bisa ditemukan lagi dengan keluarganya. Salah satunya juga diantarkan balik ke rumahnya, sebagaimana yang dilakukan Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dishubkominfo Kudus Putut Sri Kuncoro.

”Tadi memang ada anak yang lepas dari orang tua. Kita tanya rumahnya mana, rupanya di daerah Demaan. Karena dia masih ingat rumahnya, maka kita antarkan balik saja,” terangnya.

Suasana selama pelaksanaan acara memang sangat ramai. Warga berebut bisa sampai ke depan panggung, namun sudah sangat penuh sejak pagi. Sehingga mereka harus puas hanya duduk-duduk saja di sekitaran kantor bupati.

Termasuk ada juga sekelompok ibu-ibu yang terpaksa harus puas menonton di layar televisi yang ada di ruang jaga Satpol PP Kudus. Mereka mengaku ingin melihat langsung para artis, namun sudah tidak bisa.

”Tadi sudah mencoba masuk ke sekitar panggung. Tapi sudah tidak bisa. Penuh banget. Makanya, kita ke ruang jaga Satpol PP ini, melihat di televisi saja. Lebih jelas malah. Meski tidak bisa melihat artisnya langsung, sih,” kata Anita, warga Kecamatan Kota, yang datang bersama keluarganya.

Editor: Merie

Sendang Biru Bakal jadi Pelengkap Potensi Wisata di Desa Banjarejo Grobogan

Sendang biru yang berada di Desa Banjarejo. Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah ada di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sendang biru yang berada di Desa Banjarejo. Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah ada di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Potensi wisata andalan Desa Banjarejo yang menarik minat pengunjung selama ini adalah penemuan benda purbakala dan cagar budaya. Namun, dengan munculnya sendang biru dinilai bakal penambah daya tarik pengunjung yang datang ke sana.

“Adanya sendang biru ini membuat potensi wisata yang ditawarkan makin beragam. Dengan demikian, ini jadi salah satu pelengkap potensi wisata di sana,” kata Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Wiku Handoyo yang sebelumnya pernah menjabat Plt Kadisporabudpar Grobogan itu.

Selain jadi potensi wisata tambahan, di sekitar sendang itu ternyata juga menyimpan benda purbakala. Hal ini dibuktikan dengan sudah ditemukannya beberapa potongan fosil hewan purba di sekitar situ.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sejak kabar adanya penemuan sendang itu mencuat, sudah banyak orang yang datang ke sana. Banyak di antara pengunjung yang mencoba mandi di sendang tersebut lantaran airnya terasa segar.

Ke depan, pihaknya akan mencoba membuat pengunjung bisa mampir ke sendang tersebut. Salah satu kendala yang ada, letak sendang itu berada karah barat sekitar 1 km dari balai desa (akses jalan utama). Sedangkan lokasi rumahnya yang jadi tempat menyimpan benda temuan berada 1 km dari balai desa ke arah timur. “Jadi setelah lihat benda temuan tidak semua pengunjung mampir ke sendang biru. Hal ini harus kita carikan solusi nantinya,” katanya.

Sumur minyak tua yang di sebalah utara Dusun Nganggil, Desa Banjarejo. Keberadaan sumur ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sumur minyak tua yang di sebalah utara Dusun Nganggil, Desa Banjarejo. Keberadaan sumur ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Taufik menambahkan, di samping sendang biru, Desa Banjarejo juga punya beberapa potensi wisata alam yang bisa mengundang daya tarik pengunjung. Yakni, sendang lumpur di Dusun Nganggil. Ukurannya sekitar 30 x 20 meter dengan kedalaman 3 meter. Sendang ini dibilang unik, karena sumber airnya selalu mengeluarkan letupan lumpur yang menjadikan air berwarna keruh.

Satu lagi adalah sumur minyak tua yang di sebalah utara Dusun Nganggil. Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan pada zaman Belanda.

Editor : Kholistiono

Gudang Sparepart Motor di Jepang Pakis Jati Terbakar

kudus-kebakaran-eee

Asap tebal dan hitam membumbung tinggi dari sebuah bangunan dek motor yang ada di RT 3/RW 4, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Mejobo, Minggu (30/10/2016). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebuah peristiwa kebakaran terjadi pada Minggu (30/10/2016) siang. Diduga akibat tempat pembakaran sampah yang ada di sebelah lokasi kejadian.

Dari kiriman foto yang diterima MuriaNewsCom, terlihat asap membumbung tebal dari sebuah bangunan. Foto yang diambil dari belakang bangunan itu, memperlihatkan bagaimana api sudah melahap bangunan tersebut. Sedangkan kanan kirinya adalah bangunan rumah-rumah milik warga.

Dari sementara yang berhasil dikumpulkan, bangunan yang terbakar itu adalah milik Hariadi, warga RT 3/RW 4, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Api sendiri masih berusaha dipadamkan.

Bangunan itu diketahui adalah gudang sparepart dek sepeda motor, dengan ukuran adalah 6×10 meter. Belum diketahui juga bagaimana awal mula kejadian kebakaran itu terjadi.

Namun dari informasi yang didapatkan, diduga api berasal dari lokasi pembakaran sampah yang ada di sebelah gudang. Diduga ada yang membakar sampah saat itu, dan api merembet ke gudang, yang mengakibatkan kebakaran.

Karena isi gudang adalah barang-barang yang mudah terbakar, maka api diduga dengan cepat membesar. Sehingga menimbulkan asap yang sangat tebal yang membumbung tinggi.

Sampai saat ini, warga sekitar disertai petugas pemadam masih mencoba memadamkan api yang terus membesar. Warga khawatir jika api merembet ke kediaman mereka.

Editor: Merie

Keren, Anak Muda Mayong Jepara Ini Menghidupkan Lagi ”Bayi” Kartini

kirab-kartini-2-e

Sekelompok anak muda mengusung ranjang atau tempat tidur yang dulunya adalah tempat dilahirkannya pahlawan emansipasi Raden Ajeng Kartini, dalam kirab budaya yang dilaksanakan pada peringatan Sumpah Pemuda kemarin. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Cerita tentang sosok Raden Ajeng (RA) Kartini sebagai pahlawan emansipasi wanita, barangkali sudah begitu banyak diketahui publik. Namun, cerita bagaimana sosok Kartini lahir sebagai bayi, mungkin belum banyak yang mengetahuinya.

Keinginan untuk menampilkan sosok lain seorang Kartini inilah, yang melatarbelakangi komunitas seni dan budaya di Kecamatan Mayong, menggelar acara bertajuk ”Negeri yang Terlahir Kembali”, yang juga sebagai salah satu bentuk peringatan Hari Sumpah Pemuda, pada Jumat (28/10/2016) kemarin.

Dalam acara yang digagas Sanggar Barokahe Tiyang Sepuh (BTS) ini, ada yang unik yang ditampilkan. Yakni kirab budaya, yang isinya adalah melahirkan kembali sosok ”bayi” Kartini.

”Semua orang rasanya memang mengenal sosok Kartini saat dia sudah besar dengan segala pemikirannya. Namun, rupanya ada peninggalan-peninggalan Kartini lain, terutama saat beliau lahir ke dunia ini sebagai bayi,” kata Kang Munif, selaku konseptor sekaligus koordinator kegiatan.

Sosok ”bayi” Kartini ini diwujudkan dengan peninggalan-peninggalan atau benda-benda yang berhubungan dengan Kartini, saat lahir. Ada beberapa benda yang ditemukan akhir-akhir ini, yang ternyata memiliki nilai sejarah tinggi terkait dengan Kartini.

Misalnya saja, tahukah Anda bagaimana bentuk ranjang di mana Kartini dilahirkan dahulu? Ranjang inilah yang kemudian ditemukan dan dikirab dalam acara tersebut. Sangat besar bentuknya, sehingga harus dibawa delapan orang dewasa sepanjang acara.

Temuan lain yang terkait ”bayi” Kartini adaah pilisan atau landasan untuk membuat bedak untuk perempuan yang habis melahirkan, bedak herbal untuk pereda nyeri, kotak popok, lumpang, kastok cermin, kastok tanpa cermin, kap lampu kamar, dan piring kuno. Semuanya berhubungan dengan kelahiran Kartini.

Benda-benda tersebut dikirab keliling wilayah Mayong. Yakni dimulai dari kantor Balai Desa Pelemkerep, kemudian sampai di Pendapa Kecamatan Mayong. Meski sempat diguyur hujan, namun tidak mengurangi suasana meriah kegiatan itu.

”Benda-benda tersebut selama ini memang belum pernah ditemukan sebelumnya. Apalagi diungkap sejarahnya, yang ternyata sangat erat terkait dengan RA Kartini. Sehingga ini sangat penting untuk diperlihatkan ke masyarakat luas, sebagai bagian dari upaya melestarikan sejarah yang ada,” terang Kang Munif.

Kegiatan ini sendiri, diikuti oleh mereka para seniman dan masyarakat yang peduli dengan sejarah, yang tergabung dalam komunitas ”Njagong Kabudayaan”. Banyak sanggar yang ikut serta di dalamnya. Selain Sanggar BTS, ada juga Sanggar Kidung Suwung, Komunitas Punden, Grup Musik Akustik Santri Jalanan, Kelompok Seni TeRaSS omah, dan Masyarakat Seni Mayong.

Editor: Merie

Pengunjung Inbox Sukses Buat Rumput Alun-alun Gundul

kudus-imbox-1-e

Kondis rumput yang ada di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus yang rusak setelah ribuan warga datang menyaksikan pameran UMKM dan pertunjukan musik Inbox, pada Minggu (30/10/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Gelaran musik Inbox yang diselenggarakan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (30/10/2016), memang berhasil menarik minat ribuan warga untuk datang menyaksikannya. Ini yang membuat kondisi rumput alun-alun menjadi rusak dan gundul.

Dipantau di lapangan, rumput alun-alun yang sebelumnya memang menghiasi lapangan itu, terlihat habis menyisakan tanahnya saja. Apalagi selain pengunjung, di sana juga dibangun tenda raksasa untuk keperluan pameran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta panggung Inbox itu sendiri.

Apalagi, pameran UMKM dan pertunjukan musik Inbox ini sendiri, berlangsung sejak Jumat (28/10/2016) hingga berakhir Minggu (30/10/2016). Sehingga bisa dibayangkan berapa ribu orang setiap harinya datang ke sana.

Kegiatan yang digelar Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM itu, memang sangat ramai dikunjungi warga. Apalagi ditambah dengan bonus even musik Inbox yang disiarkan langsung di SCTV, membuat ribuan orang penasaran dan datang ke lokasi.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipkataru) Kudus Sumiyatun mengatakan, pihaknya menyadari konsekuensi dari kegiatan akbar yang digelar itu, adalah rusaknya rumput di kawasan alun-alun.

”Iya, kami sadar bahwa rumput alun-alun menjadi rusak. Karena ribuan orang berdatangan pada saat bersamaan. Dan ini sangat ramai sekali. Sehingga konsekuensinya memang rumput kami menjadi rusak,” terangnya, saat berada di kawasan Alun-alun Kudus mendampingi Bupati Kudus H Musthofa yang turut serta menjadi bintang tamu di acara tersebut.

Perempuan yang disapa Mami Tun itu mengatakan, secara persis kerusakannya seberapa, belum diketahuinya. Termasuk juga apakah tanaman-tanaman lain yang ada di sana, juga mengalami kerusakan atau tidak.

”Kami belum tahu persisnya seperti apa. Karena kan, kegiatannya baru kelar hari Minggu ini. Namun sekarang ada petugas kami yang datang ke lokasi untuk mengecek secara langsung dan mendata kerusakan tersebut,” katanya.

Namun, Mami Tun menegaskan jika pihaknya akan bertanggungjawab dengan kerusakan itu. Termasuk akan mengganti rumput yang rusak akibat kegiatan yang memang diperuntukkan bagi masyarakat luas itu.

”Ini kan, demi warga kami. Demi mereka mendapatkan hiburan yang memang tidak setiap harinya bisa begini. Dan kami siap tanggung jawab. Kami akan ganti kerusakan yang ada, sehingga bisa kembali seperti semula. Yang jelas kita akan data dulu, kemudian kita perbaiki,” tegasnya.

Editor: Merie

Sendang Berair Biru jadi Fenomena Alam Terbaru di Desa Banjarejo

Sendang biru yang berada di Desa Banjarejo. Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah ada di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sendang biru yang berada di Desa Banjarejo. Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah ada di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selain benda purbakala dan cagar budaya, ada satu potensi wisata terbaru yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Yakni, berupa fenomena alam munculnya sebuah sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan yang berada di Dusun Peting.

Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah ada di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting. Mata air sebelumnya ukurannya hanya 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter.

Pelebaran dilakukan agar bisa menampung lebih banyak air khususnya untuk menghadapi musim kemarau. Sebab, wilayah Desa Banjarejo termasuk tandus dan sulit mendapatkan air saat kemarau datang.

Proyek pelebaran mata air yang berada di sawah milik Karno (30), dimulai Jumat (16/9/2016). Untuk mempercepat pekerjaan, pelebaran mata air dilakukan menggunakan dua alat berat jenis backhoe.

Selama sehari penuh, komplek mata air berhasil diperlebar dengan ukuran 4 x 8 meter membujur dari arah barat ke timur. Selain diperluas, kedalamannya juga ditambah jadi 5 meter.

Keesokan harinya, Sabtu (17/9/2016), baru terjadi kehebohan. Hal ini terjadi setelah kolam yang diperlebar itu terisi air yang warnanya kebiru-biruan.

“Kalau saya amati, air di sendang ini warnanya mirip di telaga warna di Pegunungan Dieng. Ini merupakan fenomena alam yang luar biasa buat Desa Banjarejo. Soalnya, sumber air disini sangat susah didapatkan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, mata air yang di Dusun Peting tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang. Selama ini, mata air di situ tidak pernah berhenti mengeluarkan air kendati pada puncak musim kemarau.

Oleh sebab itulah, pihaknya sengaja membuat rencana pelebaran mata air tersebut. Tujuannya, agar bisa menampung banyak air sehingga nantinya bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bercocok tanam.

Editor : Kholistiono 

Ada Cerita Menarik di Balik Masuknya Sinyal 4G Telkomsel di Pati Sebelum Jadwal

Saiful Arifin (kanan) dalam acara peresmian PT Arifindo Mandiri, distributor resmi Telkomsel tak lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Saiful Arifin (kanan) dalam acara peresmian PT Arifindo Mandiri, distributor resmi Telkomsel tak lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sinyal 4G Telkomsel dijadwalkan masuk Kabupaten Pati pada awal Januari 2017. Namun, sinyal 4G Telkomsel ternyata sudah masuk Pati sekitar seminggu yang lalu.

Ada kisah menarik di balik sinyal 4G Telkomsel yang masuk lebih awal dari waktu yang dijadwalkan. Hal itu tidak lepas dari peran Calon Wakil Bupati Pati Saiful Arifin yang merupakan Direktur Utama PT Arifindo Mandiri, perusahaan distributor Telkomsel resmi terbesar ke-7 di dunia.

Sesuai dengan rencana, masuknya sinyal 4G Telkomsel di Pati dijadwalkan setelah Kabupaten Kudus. Saiful Arifin kemudian mengirim pesan singkat kepada pimpinan Telkomsel untuk segera memasukkan sinyal 4G Telkomsel di Pati.

“Pati sudah sangat maju. Maka saya kaget kalau sinyal 4G Telkomsel ternyata sudah masuk Kudus, tapi belum masuk Pati. Setelah saya konfirmasi, ternyata dijadwalkan awal Januari 2017. Tapi, sekarang warga Pati sudah bisa menikmati jaringan 4G Telkomsel sebelum jadwalnya,” ujar Arifin saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Sabtu (29/10/2016).

Arifin mengatakan, Telkomsel merupakan provider karya anak bangsa Indonesia. Hal itu yang membuatnya mendirikan perusahaan distributor Telkomsel ketimbang provider lainnya. Terbukti, perusahaan yang dibangun pengusaha muda asal Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil ini mampu berkembang pesat hingga masuk dalam jajaran tujuh distributor Telkomsel terbesar di dunia.

Setiawan, salah satu warga Pati mengaku senang dengan masuknya jaringan 4G Telkomsel lebih awal. Sebab, dia hampir setiap hari membutuhkan sinyal cepat untuk bekerja. Karena itu, dia mengaku bangga bila ada putra daerah yang mendorong untuk memajukan Kabupaten Pati melalui kemampuan dan kapasitasnya.

“Hampir setiap hari, saya bekerja menggunakan sinyal cepat. Karena itu, kami bersyukur kalau ada putra daerah yang bisa mendorong jaringan 4G Telkomsel lebih cepat masuk Pati. Terlebih, jaringan ini ternyata tidak hanya di wilayah Pati Kota, tetapi sudah sampai hingga Tayu,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Puting Beliung di Blora, 1 Warga Bogowanti Tewas

Polisi berada di salah satu rumah warga yang rusak karena angin puting beliung. Tampak warga juga berkerumun di rumah korban meninggal dunia di Ngawen Blora. (Polres Blora)

Polisi berada di salah satu rumah warga yang rusak karena angin puting beliung. Tampak warga juga berkerumun di rumah korban meninggal dunia di Ngawen Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Bencana angin puting beliung melanda Desa Bogowanti, Kecamatan Ngawen, Sabtu sore (29/10/2016). Seorang warga setempat tewas, akibat tertimpa bangunan yang ambruk. Korban bernama Ahmad Solekan (17).

Rumah yang ambruk itu merupakan milik warga, Sutar. Keterangan yang dihimpun, Sabtu sore sekitar pukul 15.30 WIB, Sutar ada di sawah yang lokasinya tak jauh dari rumah. Dia merasakan angin kencang menerjang perkampungannya. Sutar melihatnya dari sawah.

Karena khawatir, Sutar bergegas ke rumah. Ternyata, bangunan rumahnya sudah rata dengan tanah. Dari balik reruntuhan, dia melihat tubuh putranya terbujur kaku dengan tertimpa reruntuhan bangunan. Sutar berteriak minta tolong kepada tetaangganya.

Sejumlah tetangga tiba ke lokasi. Mereka berupaya menarik tubuh korban. Beberapa luka memar terlihat di bagian kepala siswa SMK Muhammadiyah 1 Blora itu.

Camat Ngawen Sunanto dan petugas Kepolisian tiba di lokasi setelah mendapati laporan. Korban pun dievakuasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Blora juga segera mendata jumlah kerugian.

Tercatat, ada enam rumah yang roboh terkena angin puting beliung. Puluhan rumah lainnya rusak ringan. Satu orang meninggal dunia. Ternyata tidak hanya Desa Bogowanti, bencana angin puting beliung yang bertiup kencang disertai hujan juga menerjang Desa Sarimulyo, Desa Sendangmulyo dan Desa Pengkolrejo. Hanya saja di desa ini tidak sampai jatuh korban jiwa.

Kapolsek Ngawen AKP Yulianto mengatakan setelah adanya kejadian seperti ini, pihaknya mengimbau warga agar lebih waspada. Dikarenakan cuaca tidak menentu dan bisa berubah cepat. “Bila terjadi bencana apapun segera langsung melaporkan ke kepolisian setempat. Kami akan cepat merespons laporan masyarakat,” kata Yulianto.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Tak Ingin TPQ di Rembang Tutup Gara-gara Full Day School

Bupati Rembang Abdul Hafidz foto bersama dengan murid-murid salah satu taman pendidikan quran (TPQ). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Rembang Abdul Hafidz foto bersama dengan murid-murid salah satu taman pendidikan quran (TPQ). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz kembali menegaskan jika dirinya tak ingin madrasah diniyah dan taman pendidikan quran (TPQ) yang ada di wilayahnya tutup gara-gara full day school, jika memang benar-benar diberlakukan nanti.

Terkait hal itu, pihaknya katanya, telah mengirim surat ke pemerintah pusat agar rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi untuk menerapkan kebijakan full day school ditinjau kembali dan tidak diberlakukan, khususnya untuk wilayah seperti Rembang. Sebab, hal itu dinilai justru berdampak terhadap dunia pendidikan yang ada di Rembang, khususnya madrasah diniyah dan TPQ.

Menurutnya banyak kerugian jika program tersebut diterapkan terutama di wilayah kabupaten Rembang. Sebab, di Rembang ada ribuan madrasah diniyah, takmiliyah dan TPQ. Di mana dunia pendidikan tersebut berjalan pada waktu sore hari.

“Jika full day school diterapkan di Rembang, maka, madrasah di sini banyak yang kukut (tutup). Padahal perannya dalam mendidik anak di bidang agama sangat penting,” katanya.

Sebagai kepala daerah, dirinya tak ingin menentang kebijakan pemerintah pusat. Namun, dirinya hanya berharap full day school tidak menjadi kebijakan pemerintah secara nasional. Karena dinilai tidak cocok jika diterapkan di Rembang.

Sementara itu, Yusril, salah seorang guru TPQ mengatakan, sebenarnya pendidikan diniyah , TPQ itu sudah pas dijalankan seusai waktu sekolah formal. “Yakni sekitar pukul 14.00 WIB atau juga pukul 15.00 WIB. Sehingga pendidikan formal dan non formal jni juga bisa sama-sama berjalan,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

Mahasiswa 14 Negara juga Kunjungi Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah Kudus

Mahasiswa dari berbagai negara mengunjungi Pesantren Entrepreneur Al-Maddah Kudus. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 61 mahasiswa dari 14 negara berkunjung ke Pesantren entrepreneur Al-Mawaddah Kudus, Sabtu (29/10/2016). Kehadiran mereka disambut langsung oleh pengasuh pesantren KH. Sofiyan Hadi, Lc. MA.

Mahasiswa itu antara lain berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Chile, Sudan, Afganistan, India dan lainnya. Kunjungan ke Al- Mawaddah adalah salah satu rangkaian kegiatan Muria Cultural Program (MCP) yang diselenggarakan oleh Universitas Muria Kudus (UMK), didukung Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti), Yayasan Pembina UMK, Passage to Asean (P2A) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Begitu tiba di Al-Mawaddah, rombongan MCP diberikan paparan konsep sistem pertanian terpadu (integrated farming system) yang dikembangkan Pesantren. Selanjutnya mereka diajak melihat berbagai kegiatan usaha pesantren, mulai dari budi daya tanaman pangan, perkebunan, taman buah naga, rumah hidroponik dan produk kuliner berbahan baku lokal.

Sofiyan Hadi dalam kesempatan itu mengemukakan, “Sistem pendidikan pesantren menggabungkan aspek spiritual, leadership dan entrepreneurship. Dengan berbagai unit usaha yang melibatkan santri dan masyarakat, pesantren menjadi lembaga mandiri dan mengakar di masyarakat,” katanya.

Menurutnya, sudah saatnya santri tampil tengah-tengah masyarakat. Dengan keterampilan, semangat kemandirian dan modal spiritualitas, santri bisa menjadi pelopor dan pemimpin di masyarakat. Mereka akan memberikan kontribusi besar dalam mendidik umat.

Sementara itu, para peserta MCP mengaku terkesan dengan keberadaan pesantren yang mendidik para santrinya menjadi entrepreneur dan menanamkan kemandirian. Nigin Konistani dari Afganistan mengaku kagum dengan pesantren ini, karena di sini santri diajari untuk mempersiapkan kesuksesan semuda mungkin. “

Di sini santri diberi kesempatan untuk aktif berkarya sesuai bakat dan  mengembangkan kreativitas mereka,” ungkapnya dalam bahasa Inggris.

Selain Nigin, Joel, mahasiswa dari Rwanda Afrika juga memberikan apresiasi terutama kontribusi pesantren dalam menginisiasi berkembangnya ekonomi masyarakat sekitar. “Ini spirit yang bagus, bukan hanya untuk kemajuan individu, tapi juga pengembangan komunitas,” katanya.

Beberapa pesan juga disampaikan beberapa mahasiswa dari Indonesia.  Adi Widi Kusuma, asal Wamena Papua mengatakan, “Semoga santrinya menjadi mandiri, inspiratif dan berakhlak mulia,” ungkapnya.

Sementara Reynand, mahasiswa dari Medan berpesan, “Tetaplah menjadi pesantren yang memberikan inspirasi bagi bangsa,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

143 Petugas Dishubkominfo Kudus Teken Pakta Integritas Anti Pungli

Petugas Dishubkominfo Kudus memperlihatkan Pakta Integritas anti pungli, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Dishubkominfo Kudus memperlihatkan Pakta Integritas anti pungli, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar 143 petugas Dinas Perhubungan, Komunikasi dan informatika (Dishubkominfo) Kudus, membuat dan menandatangani Pakta Integritas anti pungutan liar (pungli). Tanda tangan dilakukan di atas materai Rp 6 ribu.

Kepala Dishubkominfo Kudus Didik Sugiharto mengatakan, Pakta Integritas tersebut merupakan upaya bersikap bersih dalam melayani masyarakat. Pejabat siap melayani tanpa biaya tambahan atau pungli.

“Semuanya sudah tanda tangan di atas materai, jumlahnya 143. Jadi sudah kuat sebagai bukti kalau kami tidak melakukan pungli,” katanya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (29/10/2016).

Menurutnya, aturan tersebut berlaku mulai 20 Oktober lalu. Waktu tersebut juga merupakan waktu pejabat di lingkungan Dishub menandatangi Pakta Integritas.

“Semuanya sudah teken, mulai dari tukang sapu hingga kepala dinas sudah menandatangani hal tersebut,” ujarnya..

Selain itu, Pakta Integritas dapat dipertanggung jawabkan jika nantinya ke depan mendapatkan masalah. Masyarakat bebas melakukan laporan jika ada yang dipungli.

Caranya, adalah dengan mengambil gambar petugas Dishubkominfo. Kemudian laporan bisa langsung diberikan kepada kantor Dishub. Jika tidak percaya dengan petugas, maka laporan bisa juga langsung dilaporkan kepada kepolisian.

Selama ini terdapat banyak keluhan tentang tarikan biaya parkir yang melebihi aturan. Meski demikian laporan juga dapat diberikan tentang tarif parkir.

“Jika ditarik melebihi, minta karcis. Jika tidak bisa atau masih melebihi, tidak usah dikasih parkir. Tidak akan ada masalah,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Dana Kampanye Paslon Pilkada Pati Tidak Boleh Lebih dari Rp 14,8 Miliar

Laporan awal dana kampanye (LADK) Haryanto-Arifin sebesar Rp 150 juta diserahkan kepada Ketua KPU Pati Much Nasich. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Laporan awal dana kampanye (LADK) Haryanto-Arifin sebesar Rp 150 juta diserahkan kepada Ketua KPU Pati Much Nasich. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati menegaskan kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Pati Haryanto dan Saiful Arifin, serta tim sukses untuk tidak menggunakan dana kampanye lebih dari Rp 14,8 miliar. Hal itu ditegaskan Supriyanto, Komisioner KPU Pati Devisi Hukum dan Laporan Dana Kampanye.

Dana sebesar itu tidak termasuk kampanye yang terfasilitasi oleh KPU sesuai dengan amanat undang-undang. Pasalnya, fasilitas yang diberikan KPU tidak dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk barang dan jasa seperti bahan kampanye, iklan, dan debat publik.

“Di luar bahan kampanye, iklan dan debat publik, itu diserahkan kepada pasangan calon dan tim sukses. Namun, kita berikan batasan supaya dana kampanye itu tidak melebihi Rp 14,8 miliar. Itu sesuai dengan hasil kesepakatan bersama,” kata Supriyanto.

Laporan awal dana kampanye (LADK) Haryanto-Arifin sendiri sudah diserahkan Tim Sukses kepada KPU Pati sebesar Rp 150 juta. Penyerahan tersebut menjadi salah satu tahapan pelaksanaan Pilkada Pati 2017 yang harus dipenuhi.

Bendahara Timses Pemenangan Haryanto-Arifin, Sutrisno menuturkan, penyerahan LADK sebesar Rp 150 juta tersebut bersumber dari pasangan calon. Saat ini, pihaknya mengaku masih menunggu dana kampanye yang berasal dari sumber lain.

Dana tersebut, bisa berasal dari perseorangan, relawan atau perusahaan. Dana yang akan dihimpun dari berbagai sumber tersebut akan masuk rekening Timses dan dilaporkan kepada KPU dalam bentuk laporan akhir dana kampanye.

Editor : Kholistiono

Mahasiswa 14 Negara di Universitas Muria Kudus Sepakati Silaturahmi Sesama

 Peserta Muria Cultural Program (MCP) Universitas Muria Kudus (UMK), mengikuti kegiatan yang digelar sejak 27 Oktober dan berakhir Sabtu (29/10/2016). (Istimewa)

Peserta Muria Cultural Program (MCP) Universitas Muria Kudus (UMK), mengikuti kegiatan yang digelar sejak 27 Oktober dan berakhir Sabtu (29/10/2016). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Muria Cultural Program (MCP) Universitas Muria Kudus (UMK), digelar sejak 27 Oktober dan berakhir Sabtu (29/10/2016). Event internasional yang diikuti 61 peserta dari 14  negara, itu ditutup secara resmi oleh Wakil Rektor IV Muh Syafei di lapangan basket Kampus UMK sekitar pukul 12.30 WIB.

Usai penutupan, digelar penampilan kolaborasi antara mahasiswa UMK dan semua peserta. Ada dua penampilan yang berlangsung sekitar pukul 12.30 WIB hingga 13.40 WIB itu, yakni memainkan gamelan dan suguhan Tari Kretek.

Kendati belum begitu menguasai betul bagaimana memainkan gemalen dan Tari Kretek, karena waktu berlatih yang sangat singkat, namun penampilan itu mampu memukau para pimpinan universitas dan mahasiswa UMK yang menyaksikan. Apalagi peserta MCP nampak berupaya keras memberikan penampilan sebaik mungkin.

Carolina, peserta MCP asal Chile misalnya, nampak begitu senang tergabung dalam kelompok yang menyuguhkan Tari Kretek. “Saya senang sekali dengan budaya Indonesia,’’ ujarnya yang mengenakan busana adat Kudus lengkap dengan jarik motif batik.

Bassem M Ibrahiem Mosa Ismail dari Jordania, mengutarakan hal senada. ‘’Indonesia, khususnya Kabupaten Kudus, memiliki budaya yang sangat beragam. Kulinernya juga banyak. Di sini ada Jenang, juga memiliki Tari Kretek yang menarik. Cukup sulit juga mempelajari Tari Kretek ini,’’ katanya saat ditemui sebelum tampil dalam kelompok penari kretek.

Selain suguhan aksi kolaborasi antarmahasiswa peserta MCP, yang menarik dari rangkaian upacara penutupan MCP, yaitu ditandatanganinya kesepakatan oleh perwakilan dari 14 negara.

Ke-14 negara mahasiswa peserta MCP itu, adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Rwanda, Afghanistan, Libya, Chile, Korea Selatan, Jordania, Finlandia, Tanzania, Sudan, dan Sierra Leon.

Adapun tiga butir dalam kesepakatan itu adalah; alumni MCP akan selalu membangun rasa persahabatan dan persaudaraan; alumni MCP akan berusaha mengeksplorasi potensi lokal di masing-masing negara yang kemudian akan memperkenalkannya di komunitas global; serta berkomitmen mengenalkan perkembangan pengetahuan dan teknolologi tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.

Wakil Rektor IV, Muh Syafei, mengemukakan, bahwa salah satu tujuan diselenggarakannya MCP ini adalah untuk mengusung isu kearifan lokal dalam forum internasional yang melibatkan publik dari berbagai negara.

“Digelarnya MCP, adalah salah satu bentuk kepedulian dan komitmen UMK, dalam mengenalkan kearifan lokal yang dimiliki Kabupaten Kudus,’’ katanya dalam sambutannya mewakili Rektor sebelum menutup MCP secara resmi.

Editor : Akrom Hazami

Diguyur Hujan Deras 2 Hari, Peserta Jamran di Grobogan Bisa Petik Pelajaran dari Alam

Peserta Jambore Ranting Kwartir Geyer tetap bersemangat mengikuti kegiatan meski sempat diguyur hujan deras. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Peserta Jambore Ranting Kwartir Geyer tetap bersemangat mengikuti kegiatan meski sempat diguyur hujan deras. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Para peserta Jambore Ranting (Jamran) Kwartir Geyer mendapat kesempatan belajar langsung dari kondisi alam ketika melangsungkan kegiatan. Dalam pelaksanaan jamran yang dilangsungkan di Lapangan Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer tersebut, sempat diguyur hujan deras dua hari berturut-turut.

Jamran tersebut digelar 26 hingga Sabtu 29 Oktober ini. Pada 27 dan 28 Oktober, hujan deras mengguyur lokasi jambore dari siang hingga malam.

Akibat guyuran hujan ini, kondisi lapangan penuh air dan menjadikan tenda peserta kebanjiran. Peserta jambore kemudian diminta beralih ke gedung sekolah yang berada persis di utara lapangan.

“Beruntung, dekat lokasi ada sekolah SD sehingga peserta bisa kita tempatkan di situ saat hujan. Meski diguyur hujan, namun, para peserta tetap semangat mengikuti kegiatan sampai selesai. Pada hari terakhir, cuaca cerah sehingga kegiatan penutupan bisa berlangsung lancar,” kata Panitia Jamran Lulun Surono didampingi Humas Kwarcab Grobogan Agus Winarno.

Menurut Lulun, para pramuka memang punya slogan khas “Di sini senang, di sana senang dan dimana-manapun senang”. Sehingga, dalam kondisi apapun tidak mengurangi semangat untuk melaksanakan tugas dan kewajiban.

Di sisi lain, turunnya hujan dalam pelaksanaan jamran itu juga dinilai membawa berkah tersendiri. Sebab, para peserta bisa mengambil pelajaran sesuai tema jamran kali ini, yakni pentingnya menjaga lingkungan.

“Seperti diketahui, musibah yang terjadi selama ini, salah satunya disebabkan adanya kerusakan lingkungan. Nah, dari sini, adik-adik peserta jamran bisa mendapat pelajaran. Mereka harus bisa menjaga lingkungan di sekitarnya guna mencegah terjadinya bencana,” jelasnya.

Lulun menyatakan, jamran kali ini diikuti 31 regu penggalang putra dan 27 putri dari pangkalan Gugusdepan SD/MI. Kemudian, dari  pangkalan Gugus Depan SMP/MTs diikuti 4 regu putra dan dan 7 regu putri.

Selama jambore, beragam kegiatan berhasil dilaksanakan dengan baik kendati kondisi lapangan becek. Seperti penyuluhan lingkungan hidup, kegiatan pionering, perkemahan, yel-yel, pentas seni budaya, bakti masyarakat, kegiatan penjelajahan dan halang rintang yang di dalamnya ada materi lomba tentang morse, shemapore, dan sandi.

Dalam upacara penutupan, regu putra SDN 5 Gundih dinobatkan menjadi tergiat I, disusul SDN 3 Juworo dan SDN 3 Monggot diiurutan III. Untuk regu putri tergiat I diraih oleh SDN 3 Gundih disusul SDN 1 Gundih dan SDN 3 Asemrudung.

Di level SMP/MTs, regu putra dari SMPN 1 Geyer menjadi tergiat I, disusul SMPN 2 Geyer dan SMPN 4 Geyer. Sedangkan tergiat I putrid diraih oleh SMPN 2 Geyer, diikuti SMPN 1 Geyerdan SMPN 4 Geyer.

Editor : Kholistiono