Begini Serunya Perjuangan Atlet Difabel Grobogan Ikuti Peparkab 2016

Para atlet difabel Grobogan sedang berjuang untuk menjadi yang terbaik dalam ajang Peparkab 2016, Kamis (29/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para atlet difabel Grobogan sedang berjuang untuk menjadi yang terbaik dalam ajang Peparkab 2016, Kamis (29/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Event Pekan Paralympic Kabupaten (Peparkab) 2016 yang digelar Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan resmi digelar hari ini, Kamis (29/09/2016).

Ajang olahraga bagi penyandang difabel yang baru pertama kalinya digelar itu, dibuka Sekretaris Disporabudpar Grobogan Agus Hartanto di GOR Simpanglima Purwodadi. Hadir pula dalam kesempatan itu, Plt Ketua National Paralympic Committee (NPC) Jawa Tengah Bangun Sugito serta Kabid Olahraga Disporabudpar Grobogan Karsono.

Sedikitnya, ada 60 penyandang difabel yang ikut event Peparkab tersebut. Para atlet saling menunjukkan kemampuannya untuk menjadi yang terbaik.

Dalam ajang Peparkab ini dipertandingkan lima cabang olahraga. Yakni, atletik, tenis meja, bulu tangkis, bola voli, dan catur.“Ajang peparkab ini sekaligus kita manfaatkan untuk memantau bibit potensial di berbagai cabang olahraga. Kita harapkan dari ajang ini bakal muncul atlet yang berbakat dan bisa kita bina lebih lanjut untuk meraih prestasi,” kata Plt Ketua National Paralympic Committee (NPC) Jawa Tengah Bangun Sugito.

Menurut Sugito, pihaknya sangat mengapresiasi langkah Disporabudpar Grobogan untuk menggelar event olah raga bagi penyandang difabel. Sebab, tidak semua kabupaten sudah pernah menggelar event Peparkab.

“Setahu saya, mungkin di level Jawa Tengah baru Grobogan ini yang bikin event Peparkab. Saya merasa bangga dengan langkah yang dilakukan Pemkab Grobogan dengan mengadakan Peparkab ini,” katanya.

Kabid Olahraga Disporabudpar Grobogan Karsono menambahkan, ajang Peparkab tersebut akan dilangsungkan hingga besok. Selain di GOR, pertandingan Peparkab juga dilangsungkan di Stadion Krida Bhakti untuk cabor atletik.

Menurut Karsono, melalui ajang Peparkab nanti diharapkan bisa menghasilkan bibit handal di kalangan penyandang difabel. Di sisi lain, ajang ini bisa dipakai untuk untuk kemampuan dan menambah pengalaman atlet difabel yang ada di Grobogan.

“Peserta Peparkab ini dikhususkan buat warga Grobogan. Persyaratannya nanti harus dibuktikan dengan KTP/kartu OSIS atau kartu pelajar,” imbuhnya.

Dia menambahkan, sejauh ini potensi atlet difabel di Grobogan cukup bagus. Setidaknya, ada satu atlet, yakni Siti Mahmudah yang menjadi duta Indonesia dalam ajang Paralimpiade di Brasil bulan September ini. “Kita harapkan, dari ajang Peparkab nanti ada atlet lagi yang bisa berkiprah ditingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Balung Buto Sangiran dan Raja Buto Banjarejo Grobogan

Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

BARANGKALI ketika mendengar kata buto, imajinasi kita akan langsung menangkap bayangan sosok raksasa mengerikan, tinggi besar dengan kepalan tangan sebesar kelapa. Bahkan sebagian orang Jawa akan langsung merujuk sosok Dewata Cengkar, sang raksasa pemakan daging manusia ketika mendengar istilah buto.

Memang tak salah, buto atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ditulis “buta” memang digunakan untuk menyebut sesosok raksasa, makhluk buas dari mitologi klasik. Di Jawa banyak cerita-cerita atau mitos tentang kisah buto ini. Di kawasan Sangiran dulu muncul istilah balung buto (tulang raksasa) ada juga raja buto yang muncul dari Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan.

Balung buto ini menjadi terkenal karena diyakini mempunyai daya linuwih. Bisa jadi jimat, dan bisa mengobati segala macam penyakit, maka tak heran dukun tempo dulu banyak yang mengklaim mempunyai balung buto ini. Kepercayaan ini melekat di hati masyarakat Sangiran dan daerah-daerah lain sejak sebelum tahun 1930-an.

Balung buto ini adalah sebuah fosil dari makhluk purba yang sangat banyak ditemukan di kawasan Sangiran, Pati Ayam (Kudus), termasuk juga di Desa Banjarejo. Fosil-fosil dari makhluk purba ini yang menjadi sumber imajinasi terciptanya makhluk-makhluk mitologi seperti buto.

Dikisahkan, dulu kala pernah terjadi perang besar antara kesatria yang bernama Raden Bandung melawan kelompok raksasa yang dipimpin Raja Tegopati, di kawasan perbukitan Sangiran. Pertempuran berlangsung sangat sengit hingga banyak raksasa yang gugur dan terkubur di bukit.

Tulang belulang raksasa yang terkubur di perbukitan kawasan Sangiran itu yang kemudian menjadi fosil. Ini yang menjadi keperceyaan warga sekitar tentang ditemukannya fosil-fosil yang memiliki ukuran besar yang banyak bermunculan di lereng-lereng perbukitan Sangiran, hingga dinamakan balung buto (Sulistyanto: 2003). Belakangan diketahui jika fosil-fosil tersebut merupakan tulang belulang manusia purba dan tulang hewan-hewan purba lain.

Sebenarnya kepercayaan seperti ini tak hanya muncul di Jawa. Keyakinan adanya perang raksasa juga muncul di mitos-mitos Yunani klasik. Fosil-fosil hewan purba raksasa, seperti tulang Nichoria, menjadi sumber inspirasi dan imajinasi bagi berkembangnya mitos tentang makhluk raksasa tersebut.

Orang Yunani kuno diperkirakan menemukan fosil tulang tersebut dalam tambang batu bara muda di sebuah daerah yang dikenal dengan nama “cekungan Megalopolis”, yang dalam kajian prasejarah dikenal sebagai “medan pertempuran para raksasa”. Banyaknya fosil tulang raksasa di tempat itu memunculkan mitos tetang terbunuhnya seluruh tentara raksasa oleh hantaman petir Dewa Zeus, salah satu dewa utama dalam mitologi Yunani klasik (Mayor, 2000).

Keyakinan tentang balung buto ini sedikit-demi sedikit terkikis setelah kehadiran para peneliti asing di Sangiran. Sejak tahun 1930-1940, balung buto mulai disebut sebagai nama fosil. Ini merupakan dampak kedatangan peneliti von Koenigswald, di kawasan Sangiran. Ia membawa perubahan persepsi masyarakat bahwa balung buto itu adalah fosil yang merupakan sisa-sisa kehidupan pada masa lampau. Saat itu fosil menjadi barang yang diburu dan dijualbelikan secara ilegal.

Tak beda dengan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Dulu saat masyarakat di desa ini masih buta tentang benda-benda arkeologi, fosil-fosil makhluk purba juga dijual bebas. Padahal di daerah itu, bisa ditemukan banyak sekali fosil mulai dari gajah purba atau stegodon, fosil kerang, kepala kerbau purba dan lainnya.

Bahkan bukti-bukti prasejarah di desa ini jauh lebih istimewa, termasuk masalah mitosnya. Jika di Sangiran hanya terkenal dengan adanya balung buto, di desa ini justru lebih ekstrim lagi. Desa ini diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kawulan yang dipimpin raja buto pemakan manusia, Prabu Dewata Cengkar.

Pusat kerajaan diperkirakan berada di Dukuh Medang, di desa ini. Nama dukuh itu yang mempunyai nama dari kata pertama kerajaan Prabu Dewata Cengkar, yang menjadi salah satu alasannya. Namun, ada alasan-alasan lain yang tak kalah kuat, hingga membuat keyakinan warga tentang kerajaan Prabu Dewata Cengkar itu tak bekurang sedikitpun hingga saat ini.

Warga di desa itu, ketika musim tanam tiba berhamburan ke sawah-sawah. Bukan untuk mengolah sawah atau bercocok tanam, melainkan mencari perhiasan emas. Ya, benar-benar perhiasan emas yang dicari. Sudah tak terhitung berapa orang yang mendapat perhiasan emas, mulai dari cincin, kalung atau pernak-pernik emas lainnya.

Sebagian perhiasan yang ditemukan, masih ada yang disimpan warga. Namun, banyak di antaranya sudah dijual ke kolektor barang antik. Diyakini, perhiasan-perhiasan itu merupakan sisa-sisa peninggalan kerajaan Prabu Dewata Cengkar.

Tak hanya perhiasan, warga juga menemukan bukti lain yang memperkuat dugaan bahwa Desa Banjarejo merupakan pusat Kerajaan Medang Kawulan. Yakni penemuan pondasi kuno, yang telah ribuan tahun tertimbun tanah.

Pondasi yang ditemukan itu terbuat dari tumpukan batu bata. Panjang pondasi yang sudah sempat digali dan terlihat ini ada 40 meter. Membentang dari arah utara menuju ke selatan.

Bangunan mirip pondasi itu lokasinya berada di tengah sawah di Dusun Nganggil. Pemilik sawah yang ada bangunan kunonya adalah Sutiyono dan Teguh Hariyadi.

Bangunan yang ada di sawah Sutiyono panjangnya sekitar 10 meter dan berada di kedalaman sekitar 50 cm. Sedangkan di sawah Teguh Hariyadi ada 30 meter dan ada dikedalaman 1,5 meter. Batu bata yang ditemukan bentuknya lebih besar dibandingkan batu bata yang lazim saat ini. Panjang batu bata itu 30 cm, lebarnya 20 cm, dan ketebalannya 8 cm. Warnanya juga lebih merah dibandingkan batu bata saat ini.

Pondasi ini ada yang menyebut merupakan pondasi bangunan Kerajaan Medang Kawulan, ada juga yang menyebut ini adalah bagian dari candi yang zaman dulu lazim berada di sekitar kompleks keraton. Memang belum ada yang bisa memastikan bahwa temuan pondasi itu benar-benar dari Kerajaan Medang Kamulan.

Berdasarkan beberapa literatur, kerajaan Prabu Dewata Cengkar yang disebut sebagai kerajaan Medang memang pernah berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8. Hanya di abad ke-10 kerajaan tersebut beralih ke Jawa Timur.

Meski begitu para raja kerajaan ini banyak meninggalkan sejarah berupa prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Para raja juga membangun banyak candi. Namun, dalam prasasti tidak ada yang menjelaskan keberadaan pasti tempat kerajaan tersebut saat berada di Jawa Tengah.

Terlepas dari benar atau tidaknya Desa Banjarejo ini merupakan pusat kekuasaan Prabu Dewat Cengkar, tapi desa ini layak untuk disandingkan dengan Sangiran. Temuan benda-benda purbakala di desa ini tak kalah banyak, bahkan sangat bervariasi. Tak hanya sekadar fosil hewan purba, benda-benda purba juga sangat mudah ditemui. Bahkan beberapa gerabah peninggalan Dinasti Ming juga pernah ditemukan di desa ini.

Ratusan koleksi benda purba itu kini disimpan di museum sederhana di rumah Kepala Desa Ahmad Taufik. Meski sudah tertata, namun kurang representatif, karena museum ini terwujud pun atas inisiatif dan swadaya dari warga. Memang saat ini pemerintah setempat tengah mengupayakan Desa Banjarejo sebagai desa wisata. Terlebih belakangan ini juga muncul sumber air (sendang) dengan air berwarna kebiru-biruan, seperti yang ada di Pegunungan Dieng.

Namun seharusnya upaya pemerintah tak hanya sekadar menjadikannya sebagai desa wisata. Lebih jauh bisa menjadikan desa ini sebagai “Desa Purba” sebagai pusat penelitian dan edukasi tentang kehidupan masa lampau. Memang tak mudah, karena dibutuhkan komitmen dan anggaran tak sedikit. Namun jika ada kemauan, perlahan-lahan mimpi menjadikan Desa Purba itu bukanlah hal yang mustahil. (*)

Mahasiswa UMK Belajar Paradigma Sastra Indonesia

Sastrawan dari Institut National des Langues et Civilisations Orientales (Inalco), Perancis, Etienne Naveau, saat di Universitas Muria Kudus (UMK).

Sastrawan dari Institut National des Langues et Civilisations Orientales (Inalco), Perancis, Etienne Naveau, saat di Universitas Muria Kudus (UMK).

MuriaNewsCom, Kudus – Sastrawan yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Maman S Mahayana, menegaskan, bahwa perlu paradigma baru pembelajaran sastra Indonesia.

Penilaian itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam seminar yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), baru-baru ini.

‘’Banyak problem pengajaran sastra Indonesia hingga kini. Antara lain sekadar sebagai pengetahuan, pengetahuan teori lebih penting (dikedepankan) ketimbang apresiasi, dan penilaian yang hanya mendasarkan pada benar-salah saja,’’ ujarnya di rilis persnya.

Selain itu, lanjutnya dalam seminar yang dibuka Rektor UMK, Dr. Suparnyo SH. MS. itu, problem lain pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, juga kualitas guru, seringkali berbenturan dengan (aturan) kurikulum yang berlaku, hingga pada urusan Ujian Nasional (UN).

‘’Ke depan, revisi total terhadap sejarah sastra Indonesia ini penting, dan antara pembelajaran bahasa dan sastra mesti dipisah. Paradigma baru pengajaran di bidang ini, untuk siswa SD dan SMP, tekankan pada keterampilan mengarang dan apresiasi sastra, sedang untuk SMA tekankan pada keterampilan menulis,’’ ungkapnya.

Keterampilan menulis bagi siswa SMA, paparnya, sebagai salah sati manifestasi apresiasi sastra dan pintu masuk memahami Indonesia secara luas. ‘’Pada akhirnya, proses pembelajaran seperti ini akan mengantarkan generasi penerus bangsa untuk memahami demokratisasi,’’ tuturnya.

Sastrawan dari Institut National des Langues et Civilisations Orientales (Inalco), Perancis, Etienne Naveau, narasumber lain dalam seminar itu, menyampaikan bahwa sastra Indonesia menjadi bagian yang dikaji lembaga di mana ia bekerja.

‘’Bagian Indonesia di Inalco, memiliki 4 dosen tetap, 1 ahli tata bahasa, 1 ahli sastra plus dua dosen tamu yang merupakan penutur asli. Selain itu, ada 1 pelatih bahasa tulis dan 1 pelatih percakapan,’’ urainya pada seminar yang dihadiri lebih dari 300 peserta terdiri atas pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen.

Dia sendiri mengaku, selain mengajar sejarah sastra Indonesia dan menerjemahkan, juga mengajar kebudayaan Indonesia. ‘’Saya memusatkan perhatian pada debat politik dan dialog antaragama. Dan saat ini, Saya lebih fokus pada dunia sastra, terutama puisi,’’ jelas pengagum Pramoedya Ananta Toer itu.

Editor : Akrom Hazami

Komisi D Bakal Bangkitkan Semangat Berpolitik Anak Muda Kudus

Anggota Komisi D DPRD Kudus melaksanakan konsultasi ke Kemenpora RI, untuk mengetahui program-program yang memang pas dan cocok diterapkan kepada para pemuda. (Istimewa)

Anggota Komisi D DPRD Kudus melaksanakan konsultasi ke Kemenpora RI, untuk mengetahui program-program yang memang pas dan cocok diterapkan kepada para pemuda. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Peran pemuda memang sangat diharapkan untuk bisa menjadi agen perubahan dan pembangunan di masa mendatang. Dan Komisi D DPRD Kudus melihat jika banyak program sebenarnya yang bisa dilakukan untuk mendorong semangat pemuda agar lebih berkarya.

Program-program yang bisa dilaksanakan terkait pengembangan peran pemuda itu, selaras dengan apa yang dicita-citakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia.

”Belum lama ini kami memang melaksanakan konsultasi ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Fokusnya adalah pengembangan peran pemuda, terutama di masa mendatangnya,” kata Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhasiron.

Dikatakan Mukhasiron, konsultasi ini penting untuk menyeleraskan apa yang menjadi cita-cita atau tujuan dari pemerintah, dalam upaya membangun peran pemuda. ”Sehingga nantinya akan lebih match atau pas antara yang di pusat dan daerah,” jelasnya.

Hanya saja, Mukhasiron menilai jika Dinas Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus belum memiliki atau membuat program-program dalam upaya pengembangan peran pemuda ini.

Mukhasiron mencontohkan, Kemenpora memiliki program parlemen muda, yang memang ditujukan untuk membangkitkan semangat berpolitik di kalangan anak muda.

Melalui program itu, para pemuda diberi pemahaman peran legislatif, seperti
penganggaran, legislasi, dan pengawasan. ”Sehingga nantinya jika para pemuda itu terjun ke politik, mereka akan memahami semua peran-peran yang ada. Dan itu sudah ditanamkan sejak mereka muda melalui program parlemen muda ini,” tegasnya.

Dan lagi, sebagaimana dikatakan Mukhasiron, program pemuda parlemen ini hanya salah satu contoh saja yang dikembangkan pemerintah pusat. Nah, pihaknya menginginkan supaya pemerintah daerah, mengadakan kegiatan yang melibatkan pemuda-pemuda di wilayah ini.

”Itu hanya contohnya saja. Masih banyak progam lainnya yang bias dilaksanakan. Kami akan mendorong Disdikpora untuk menyusun perencanaan pelibatan peran pemuda dalam pembangunan daerah,” katanya.  (News Ads)

Editor: Merie

 

Satpol PP Jepara Terima Bantuan Kendaraan Senilai Rp 1,6 Miliar

Petugas Satpol PP Jepara mengecek armada bantuan yang diterima dari Kemendagri, Rabu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas Satpol PP Jepara mengecek armada bantuan yang diterima dari Kemendagri, Rabu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Jepara menerima bantuan dari Kementerian Dalam Negeri berupa kendaraan senilai Rp 1,6 miliar. Bantuan tersebut berupa satu unit dalmas, satu unit truk pengangkut, satu unit mobil panwal, satu mobil patroli dan dua unit minibus.

Kepala Satpol PP Jepara Trisno Santosa mengatakan, kendaraan operasional tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri. Tidak semua kabupaten atau kota mendapatkan bantuan tersebut.

“Ini bantuan dari pemerintah melalui dana alokasi khusus. Kebetulan kami mengajukan untuk kendaraan operasional dan disetujui,” ujar Trisno Santosa kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/9/2016).

Menurutnya, hampir semua kabupaten di Jawa Tengah mengajukan bantuan. Ada yang berupa kendaraan operasional, dan ada yang berupa infrastruktur kantor dan yang lainnya. Namun yang mendapatkan persetujuan hanya ada enam kabupaten.

“Salah satunya Kabupaten Jepara. Selain itu juga ada Kabupaten Wonosobo, Magelang dan Brebes. Hampir semua kabupaten di Jawa Tengah mengajukan, namun yang di ACC hanya enam,” ungkap Trisno.

Lebih lanjut ia mengemukakan, dengan adanya bantuan tersebut, kini kendaraan operasional yang dimiliki Satpol PP Jepara sudah lengkap. Sebelumnya, pihaknya sudah memiliki satu unit dalmas, satu unit panwal dan satu unit mobil patroli. Selain itu juga ada kendaraan roda dua yang didapatkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jepara berupa tujuh motor tril, dan tujuh motor CB150R.

“Sebelumnya kami belum punya truk pengangkut. Dengan bantuan ini, sekarang kami sudah punya kendaraan operasional lengkap. Tetapi untuk kendaraan baru ini, belum bisa digunakan karena masih proses uji KIR,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Keberadaan Akses Akan Tingkatkan Perekonomian Warga

Pengguna melintas di Jalan Lingkar Utara, di Desa Mijen, Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengguna melintas di Jalan Lingkar Utara, di Desa Mijen, Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kudus Hamidin, mengatakan kalau keberadaan jalur lingkar utara bakal sangat membantu perusahaan dalam pengiriman barang.

Hal itu diungkapkannya kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/9/2016). Menurutnya, perkembangan usaha sangat berpotensi meningkat. Khususnya memunculkan industri industri baru serta pengembangan industri agar lebih besar lagi.

“Sayangnya, di lokasi jalan lingkar bukanlah kawasan industri. Maka dari itu kami berharap pemerintah dapat membuat kebijakan baru, tentang tata ruang dan peraturannya. Agar industri skala besar juga mendapatkan izin di sana,” katanya saat dihubungi.

Menurutnya, untuk industri kecil atau rumahan jelas tidak ada kendala. Sebab proses izin yang relatif lebih mudah. Apalagi, jika usaha adalah milik warga sekitar, yang mana sudah memiliki lahan di sekitar area jalan lingkar utara.

Jalan lingkar itu, lanjutnya juga bakal menguntungkan perusahaan. Jika selama ini perusahaan harus memutar terlebih dahulu saat mengirim barang pesanan. Dengan jalan baru itu maka akan cepat sampai. Keadaan itu jelas menguntungkan dari segi biaya juga.

Editor : Akrom Hazami

Oalah, Beralasan Buat Biayai Sekolah Anaknya, Buruh Proyek Ini Nekat Jualan Sabu

Tersangka peredaran narkoba jenis sabu,  Rohadi saat diamankan di Mapolres Grobogan, Rabu (28/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tersangka peredaran narkoba jenis sabu, Rohadi saat diamankan di Mapolres Grobogan, Rabu (28/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Merasa gajinya tidak cukup, Rohadi (45) nekat berjualan sabu buat menambah pendapatan. Namun, pilihannya ini justru mengantarkan warga Kecamatan Karangtengah, Demak ini harus berususan dengan polisi.

Saat hendak mengedarkan sabu di Jalan Raya Tegowanu-Tanggungharjo, Grobogan, pria yang sehari-hari jadi buruh proyek ini terlebih dulu ditangkap anggota Sat Resnarkoba Polres Grobogan, Rabu (28/09/2016).

Informasi yang didapat menyebutkan, penangkapan pelaku terjadi di depan tempat penggilingan padi. Dari tangan pelaku, petugas  mengamankan barang bukti satu paket plastik klip kecil berisi serbuk kristal yang diduga narkotika jenis sabu. Selain itu diamankan pula sebuah handphone dan satu unit sepeda motor.

“Penangkapan pelaku ini berkat adanya informasi yang menyebutkan jika di sepanjang Jalan Raya Tegowanu-Tanggungharjo sering digunakan transaksi jual beli narkoba. Informasi ini langsung kita respon dengan menerjunkan petugas untuk melakukan penyelidikan di lokasi,” kata Kasat Resnarkoba Polres Grobogan AKP Abdul Fatah pada wartawan.

Informasi dari masyarakat ini terbukti tepat. Saat petugas menyisir lokasi sempat melihat ada orang tak dikenal sedang duduk di jok sepeda motor depan sebuah penggilingan padi.

“Saat itu, pelaku gerak-geriknya cukup mencurigakan. Setelah kami datangi dan kemudian digeledah, dalam saku celananya ditemukan satu paket plastik klip kecil berisi kristal yang diduga narkotika golongan satu jenis sabu. Barang tersebut terbungkus kertas dan dimasukkan dalam bungkus rokok,” sambung Fatah.

Fatah menyatakan, dari keterangan pelaku, barang haram didapat dari temannya. Rencananya, barang tersebut akan dikirimkan pada pemesannya. “Saat diperiksa, pelaku mengaku terpaksa menjual sabu untuk menambah biaya sekolah anaknya. Soalnya, hasil kerja diproyek selama ini tidak mencukupi kebutuhan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Tasiman Sebut Pendaftaran Haryanto-Arifin di KPU Pati Bermasalah

Politisi senior PDI-P, Tasiman memberikan komentar terkait dengan Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Politisi senior PDI-P, Tasiman memberikan komentar terkait dengan Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pernyataan mengejutkan muncul dari politisi senior PDI-P, Tasiman terkait soal Pilkada Pati 2017. Dia menyebut, pendaftaran calon bupati dan wakil bupati yang dilakukan Haryanto-Saiful Arifin di Kantor KPU Pati, Kamis (22/09/2016), tidak sah.

Alasannya, belum ada bentuk koalisi yang jelas saat keduanya mendaftarkan diri di KPU Pati. Mereka hanya diusung dari delapan partai, di mana semua parpol mengusung sepaket, yaitu Haryanto-Arifin.

Padahal, kata Tasiman, tidak ada satu parpol di Pati yang memiliki kursi 20 persen di DPRD Pati, sehingga harus membentuk koalisi sebelum mendaftarkan calon. “Untuk mengusung pasangan, harus membentuk koalisi, karena tidak ada satu pun parpol yang punya kursi di DPRD sebanyak 20 persen. Maka, mereka harus berkoalisi sebelum mendaftar ke KPU. Harusnya KPU menolak. Wong kursi di DPRD kurang dari 20 persen kok rekomendasinya sepaket,” ucap Tasiman.

Karena itu, Tasiman berpendapat, KPU harus memberikan kejelasan terkait dengan persoalan itu. Sebab, semua partai mengusung Haryanto-Arifin sepaket, di mana bentuk koalisinya tidak jelas. Padahal, koalisi menjadi syarat wajib, lantaran tidak ada satu parpol pun yang memiliki kursi minimal 20 persen.

Bila KPU tidak segera menyelesaikan masalah tersebut, Tasiman bahkan memprediksi akan menjadi preseden buruk pada Pilkada Pati 2017. “Menurut saya, itu tidak sah. Kalau tidak diselesaikan akan menjadi preseden buruk,” katanya.

Saat dikonfirmasi, Ketua KPU Pati Much Nasich mengaku sudah melaksanakan sesuai dengan prosedur dan aturan. Delapan parpol yang mengusung sudah menandatangani semua sebagai representasi dari gabungan partai.

Editor : Kholistiono

Kemenhut RI Koordinasi dengan Komisi B DPRD Kudus soal Komersialisasi Air Muria

Ketua DPRD Kudus Masan bersama jajaran Komisi B DPRD Kudus saat melakukan kunjungan konsultasi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rakyat RI, untuk mencari solusi atas komersialisasi air di Pegunungan Muria. (Istimewa)

Ketua DPRD Kudus Masan bersama jajaran Komisi B DPRD Kudus saat melakukan kunjungan konsultasi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rakyat RI, untuk mencari solusi atas komersialisasi air di Pegunungan Muria. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rakyat (KLHKR) Republik Indonesia menaruh perhatian terhadap persoalan komersialisasi air Pegunungan Muria di Kabupaten Kudus.

Hal ini setelah Komisi B DPRD Kabupaten Kudus melakukan konsultasi ke KLHKR belum lama ini. Konsultasi dilakukan untuk mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, ketika terjadi komersialisasi air di wilayah Pegunungan Muria.

”Kami memang melakukan konsultasi ke Kementerian Kehutanan, terkait hal itu. Karena kan, lokasi terjadinya pengambilan air pegunungan itu, salah satunya adalah hutan milik Perhutani. Jadi penting untuk kita koordinasi ke sana,” terang Ketua Komisi B DPRD Kudus Muhtamat.

Persoalan komersialisasi air di wilayah Pegunungan Muria, memang masih saja terjadi. Banyak pihak yang kemudian mengeluhkan terjadinya komersialisasi ini, yang dianggap merugikan lingkungan sekitar.

Komisi B sendiri melakukan kunjungan konsultasi tersebut, bersama dengan Komisi C. Hal ini dilakukan guna mencari saran dan solusi terkait persoalan tersebut.

Muhtamat mengatakan, pihak kementerian memang memerlukan data yang lebih banyak lagi, untuk mengkaji lebih lanjut soal komersialiasasi itu. ”Disarankan untuk mengirimkan pertanyaan-pertanyaan dan data pendukung, supaya bisa diketahui persoalan yang sebenarnya itu bagaimana. Dan sebagai tindaklanjutnya, kita sudah kirimkan semuanya ke kementerian, bahan-bahan yang diperlukan,” paparnya.

Di sisi lain, Ketua DPRD Kudus Masan yang mendampingi kunjungan itu, mengatakan jika semua usaha komersialisasi air pegunungan harus memiliki izin lengkap. ”Itu sebagaimana usaha-usaha lainnya. Harus punya izin lengkap,” tegasnya.

Usaha komersialisasi air, disebut Masan, harus mengantongi izin seperti SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), TDP (Tanda Daftar Perusahaan), hingga izin lingkungan.

Sedangkan usaha komersialisasi air Pegunungan Muria yang ada saat ini, selama dipantau pihaknya, tidak memiliki semua perizinan tersebut. Inilah yang kemudian harus ditertibkan.

”Dari pantauan kami, usaha komersialisasi air di wilayah Muria tak
memiliki semua perizinan tersebut. Kami mendesak agar usaha-usaha yang tidak memiliki izin itu, untuk segera ditertibkan,” tegasnya.

Nantinya, Masan menambahkan jika pihaknya akan segera berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKDP) yang terkait dengan hal itu. Sehingga akan bisa dibuat langkah-langkah guna penertiban usaha-usaha yang tidak berizin itu.

”Jelas kita akan koordinasi dengan SKPD terkait. Karena dari hasil konsultasi itu sudah jelas jika memang semua usaha harus punya izin. Sementara yang komersialisasi air Gunung Muria kan, tidak. Sehingga harus segera ditertibkan,” imbuhnya. (News Ads)

Editor: Merie

Tabrak Tugu PKK di Bundaran Galonan Rembang, Dua Pemuda Tewas

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Nasib nahas menimpa Ragil Sunaryo (29) dan Hartoyo (25) warga Desa Pulo, Rembang. Sepeda motor jenis Honda Beat bernomor polisi K 5907 RM yang dikendarai mereka menabrak tugu PKK di Bundaran Galonan di Jalan Rembang- Blora, Rabu (28/09/2016) pagi.

Akibat peristiwa tersebut, keduanya mengalami luka yang cukup parah dan meninggal dunia. Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 04.00 WIB, di mana jalanan masih sepi.

“Mereka ngebut dari arah selatan, dan pas di TKP, kendaraan yang ditunggangi korban oleng dan menabrak tugu. Keduanya mengalamai luka yang cukup parah dan tak berapa lama langsung dilarikan oleh petugas kepolisian ke rumah sakit. Meski begitu, nyawa mereka tidak tertolong,” ujar Harso, salah satu saksi mata.

Sementara itu, Kepala Unit Laka Satuan Lalu Lintas Polres Rembang, Iptu Muhammad Karim mengatakan, hingga kini pihaknya masih menyelidiki penyebab kecelakaan tunggal tersebut. “Apakah karena mengantuk atau dipicu sebab lain, termasuk dugaan terkena pengaruh minuman beralkohol,” katanya.

Editor : Kholistiono

Tunamen Voli Bupati Cup 2016 Siap Digelar

voli-ilus-1

MuriaNewsCom, Kudus – Even tahunan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tahunan berupa Bupati Cup 2016 siap digelar. Sesuai rencana, even bergengsi tersebut akan digelar hampir satu bulan mulai 4 – 29 Oktober 2016.

Ketua harian PBVSI Kudus M Ridwan mengatakan, jika berkaca dari tahun ke tahun peserta Bupati Cup selalu bertambah. Buktinya di tahun 2014 lalu pesertanya mencapai 43 klub. Sedangkan di tahun 2015 jumlahnya bertambah menjadi 45 klub.

”Sementara untuk tahun ini, kami yakin akan meningkat,” katanya.

Dengan keyakinan tersebut, pria yang Ketua KONI Kudus itu juga telah mempersiapkan 11 venue lapangan untuk menggelar pertandingan. Delapan lapangan di antaranya akan digunakan untuk babak penyisihan tim putra. Sedangkan dua di antaranya bakal digunakan untuk babak penyisihan tim putri.

”Untuk putri rencananya akan gunakan dua lapangan, yakni Porvit Tanjung dan Persivo Prambatan. Sedangkan untuk putra menggunakan delapan lapangan yang tersebar di Kudus, mulai dari Klaling Jekulo hingga Gebog,” terangnya.

Dengan persiapan itu, ia memprediksi pertandingan akan berlangsung sengit. Apalagi, banyak klub yang sudah menyiapkan diri sejak dini.

”Karena itu sayang jika untuk dilewatkan. Klub yang ikut juga sudah mempersiapkan pemain dengan maksimal, sehingga akan membuat pertandingan semakin seru dan menarik,” ujarnya.

Hanya, ia berpesan, dalam bertanding nanti setiap klub bisa menjaga sportifitas. Sebab itu adalah awal dari kejuaraan yang lebih besar di skala nasional. ”Kejujuran menjadi hal yang utama. Karena itu, semua klub wajib untuk menjaga kejujuran,” tandasnya. (ADS)

Editor: Akrom Hazami

 

Tim Unggulan Victoris Kalah dari Artha Yapi

Pemain Victoris melakukan smash dan diblok oleh dua pemain Artha Yapi dalam turnamen Patriot Cup I, di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pemain Victoris melakukan smash dan diblok oleh dua pemain Artha Yapi dalam turnamen Patriot Cup I, di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Turnamen Patriot Cup I yang didukung oleh Sukun Spirit of Sport memasuki babak empat besar. Pertandingan semifinal pertama mempertemukan antara tim Victoris dari Desa Petekeyan dengan Artha Yapi dari SMA dan SMK Islam Jepara.

Tim Victoris yang menjadi salah satu tim unggulan dalam turnamen ini justru kalah di tangan Artha Yapi dengan skor telak 3-0. Dengan rincian, babak pertama kalah dengan skor 25-17, kemudian 25-20 dan terakhir Artha Yapi memupuskan harapan Victoris dengan skor 25-20.

Pertandingan semifinal pertama tersebut berlangsung seru. Kedua tim saling kejar angka. Tim Artha Yapi berhasil memainkan sejumlah strategi. Beberapa kali smash yang dilakukan pemain Victoris yang memiliki postur pemain tinggi berhasil diblok oleh pemain Artha Yapi, sehingga justru poin didapatkan Artha Yapi.

Sebaliknya, pertahanan Victoris cukup lemah dalam mengantisipasi smash yang dilakukan pemain Artha Yapi. Beberapa kali mereka tidak mampu mengeblok smash sehingga berbuah poin bagi tim Artha Yapi. Di samping itu, beberapa kali pemain dari kedua tim melakukan kesalahan saat melakukan service.

Atas hasil tersebut, Artha Yapi berhak masuk ke babak final. Sedangkan Victoris hanya bisa memperebutkan peringkat ketiga pada pertandingan berikutnya. Di babak fibal, Artha Yapi masih menunggu hasil pertandingan di tim lain antara Rajawali melawan TJB Elektrik PLTU.

“Ini cukup mengejutkan karena victoris merupakan salah satu tim unggulan disamping TJB Elektrik, dan Gabsty yang sebelumnya juga kalah di babak delapan besar,” ujar salah satu panitia penyelenggara, Purwanto kepada MuriaNewsCom  usai laga Victoris melawan Artha Yapi, Selasa (27/9/2016) malam tadi.

Editor : Akrom Hazami

Paripurna Diwarnai Protes, Ini Tanggapan Ketua DPRD Kudus

paripurna-2

Bupati Kudus Musthofa dan Ketua DPRD Kudus Mas’an saat mengikuti paripurna di kantor dewan, setempat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Mas’an mengatakan, pihaknya memiliki alasan mendasar dengan tidak melakukan pembahasan paripurna pada pansus lain. Tidak dilakukan paripurna terkait 19 pembahasan lainnya, lantaran dianggap belum beres sehingga perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Jawaban itu diungkapkan saat paripurna Rabu (28/9/2016). Dia mengatakan kalau beberapa raperda malah dapat memberatkan masyarakat sehingga butuh perbaikan dan penyempuranaan sebelum akhirnya diparipurnakan.

“Seperti halnya perda PKL, di dalam perda menyebutkan kalau denda mencapai Rp 1 juta. Itu terlalu berat sehingga perlu dievaluasi lagi. Jangan sampai memberatkan masyarakat,” katanya.

Selain itu, dia juga mencontohkan dengan pengisian sekretaris desa. Dalam rancangan, disebutkan kalau pemegang sekdes dapat menjabat sampai pensiun. Hal itu jelas tidak bisa, lantaran bertolak belakang dengan undang-undang yang menyebutkan tidak boleh PNS.

“Ada lagi, swalayan yang tidak ada batasnya serta jarak yang tidak diatur. Itu belum dibahas sehingga tidak bisa diparipurnakan,” ujarnya.

Selain itu juga, pada pansus III juga dianggap tidak kuorum. Hal itu berdampak pada pembahasan yang belum selesai. Sedangkan untuk pansus II sudah diselesaikan kemarin.

“Kalau pimpinan pansus itu melaporkan hasil pembahasan kepada pimpinan dewan. Kemudian, pimpinan dewan menyimpulkan apa yang sudah dibahas dalam pansus,” imbuhnya

Dalam paripurna turut hadir sebagai SKPD, kepala desa dan juga perangkat lainnya. Sedangkan  anggota dewan yang hadir sekitar 30 orang.

Editor : Akrom Hazami

Kotanya Menyenangkan, Kabupaten Kudus Jadi Lokasi Tepat untuk Travelling

sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus

Sosialisasi Permenkeu Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Perbup Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

MuriaNewsCom, Kudus – Menikmati sejenak liburan adalah salah satu hal yang dilakukan banyak orang. Dan membuat sebuah perjalanan atau travelling menjadi menyenangkan, jawabannya ada di Kabupaten Kudus.

Kota ini begitu banyak yang bisa dikunjungi. Apalagi, dengan penerimaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Kabupaten Kudus, membuat penataan lokasi-lokasi wisata yang ada, menjadi menarik untuk dikunjungi.

Belum lagi lokasi-lokasi kuliner yang ada, membuat traveller akan merasakan sensasi tersendiri saat berkunjung di Kabupaten Kudus. Bagian Humas Setda Kudus sendiri, memiliki cara yang unik untuk mempromosikan bagaimana dana cukai itu, bisa membuat Kota Kudus menjadi lokasi yang layak dikunjungi.

Melalui video sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus, promosi itu dilakukan.

Coba saja tengok video ini. Pastinya akan bisa dilihat mana saja lokasi wisata yang bisa dikunjungi di Kudus. Serta juga wawasan bagaimana dana itu diperoleh dan digunakan untuk kesejahteraan warga Kudus.

Penasaran, silakan cek video ini, ya. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

Razia “Rumah Mesum” di Margoyoso, Polisi Malah Kasih Uang Pemilik Rumah

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kanan) memberikan uang kepada Muhadi, pemilik rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kanan) memberikan uang kepada Muhadi, pemilik rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada kisah menarik dari razia rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Kecamatan Margoyoso, beberapa waktu lalu. Adalah Muhadi, pria paruh baya yang tinggal sebatang kara di sebuah rumah berdinding tembok, berlantaikan tanah tanpa penerangan listrik.

Rumah Muhadi terpaksa didatangi Jajaran Polsek Margoyoso, lantaran rumahnya diduga disewakan untuk mesum dengan tarif Rp 20 ribu sekali ngamar. Muhadi pun mengakui rumahnya disewa muda-mudi yang ingin berhubungan intim.

“Saya hidup sendiri, setelah istri meninggal dunia. Saya tidak punya anak. Suatu ketika, ada seseorang yang meminta untuk pinjam kamar. Saya diberi uang Rp 20 ribu. Saya hanya mau saja, berhubung butuh uang. Dari situ, ada saja muda-mudi yang datang menyewa kamar. Tidak mesti, kadang sehari satu orang, kadang dua hari sekali,” ungkap Muhadi.

Hal itu diakui berlangsung sekitar setahun lamanya. Muhadi sendiri tidak memiliki pekerjaan. Untuk makan sehari-hari, dia membutuhkan uluran tangan dari keponakan yang peduli. Rumah itu satu-satunya harta dari warisan orang tuanya dulu.

Mendengar kisah itu, Kapolsek Margoyoso AKP Sugino merasa iba dan justru memberikan uang kepada Muhadi. Hanya saja, dia meminta agar Muhadi tidak menyewakan rumahnya lagi untuk aktivitas mesum. Bila peringatan itu tidak dipedulikan, terpaksa akan menindak dengan langkah hukum.

Sementara itu, Ngatimah, ipar Muhadi sebetulnya sudah curiga bila rumahnya disewakan untuk mesum. Dia pernah memergoki ada dua sepeda motor yang ditaruh di dalam rumah, sedangkan pintu dikunci rapat-rapat. Namun, Ngatimah tidak menduga bila ternyata iparnya itu menyewakan rumahnya untuk dijadikan ajang mesum bagi muda-mudi.

Editor : Kholistiono

KPU Jepara Terima Berkas Hasil Tes Kesehatan Bakal Paslon Bupati dan Wabup 

Ketua KPU Jepara M Haidar Fitri saat berada di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus usai memantau tes kesehatan para bakal paslon Cabup dan Cawabup Jepara. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ketua KPU Jepara M Haidar Fitri saat berada di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus usai memantau tes kesehatan para bakal paslon Cabup dan Cawabup Jepara. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Jepara – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jepara menerima berkas hasil tes kesehatan bakal pasangan calon (paslon) dari tim pemeriksa kesehatan. Penyerahan dilakukan tim dari yang terdiri dari sejumlah dokter dan direktur RSUD Kartini Jepara.

Di antara yang menyerahkan berkas tersebut adalah dr Kusnarto selaku Direktur RSUD Kartini, dr Edy Marsono selaku ketua tim dan dr Triono dari perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sedangkan dari pihak KPU, yang menerima ada tiga komisioner yakni Ketua KPU Jepara M Haidar Fitri, Divisi Perencanaan Keuangan dan Logistik Koko Suhendro, Divisi Badan Penyelenggara, Prmantauan dan Tungsura Andi Rokhmat.

Penyerahan berkas dilakukan secara tertutup di salah satu ruang di kantor KPU Jepara. Diketahui, berkas hasil tes kesehatan yang diberikan hanya berupa kesimpulan saja.

“Berkas kesimpulan itu tidak banyak. Ya hanya kesimpulan saja dan itu jadi rahasia. Nanti akan kami umumkan pada Jumat 30 september 2016,” ujar komisioner KPU Jepara, Andi Rokhmat kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/9/2016).

Menurutnya, pada sesi pengumuman itu nantinya akan diundang tim penghubung dari kedua bakal paslon Ahmad Marzuqi – Dian Kristiandi dan Subroto – Nur Yahman. Selain itu juga bakal paslon sendiri juga diundang beserta partai pendukung.

“Kami umumkan secara terbuka. Jadi juga kami undang tokoh masyarakat dan awak media yang ada di Jepara,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sejauh ini berdasarkan keterangan dari tim kesehatan, proses berjalan lancar dan tidak ada kendala. Namun tetap, hasilnya akan diumumkan pada Jumat 30 September 2016.

Editor : Akrom Hazami

 

Tembakau Lokal Tetap jadi Andalan

Perwakilan dari Mabes TNI saat melakukan kunjungan ke salah satu brak, Djarum, di Desa Karangbener, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Perwakilan dari Mabes TNI saat melakukan kunjungan ke salah satu brak, Djarum, di Desa Karangbener, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabar lebih banyak digunakan tembakau impor ketimbang tembakau lokal, ternyata tidak selamanya benar. Seperti halnya di Djarum, ternyata lebih banyak menggunakan tembakau lokal ketimbang menggunakan tembakau import.

Perwakilan Djarum Kudus,  Purnomo Nugroho mengatakan, selama ini perusahaanya lebih banyak menggunakan tembakau lokal. Meskipun kadar tar dan nikotin lebih tinggi. Perusahaan menggunakan jenis tembakau lokal dengan porsi yang lebih banyak.

“Kalau persentase tidak tahu persis. Namun yang jelas kami banyak menggunakan tembakau lokal ketimbang menggunakan tembakau impor,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Soal kadar nikotin dan tar, kata dia, memang tinggi. Namun itulah yang terjadi pada struktur tanah dan hasil pertanian di Kudus. Selain itu, faktor cuaca juga sangat mempengaruhi kadar tar dan nikotin dalam hasil tembakau yang dipanen.

Dia menambahkan, jumlah karyawan Sigaret Kretek Tangan (SKT) di sana sekitar 55 ribu karyawan. Dalam produksi sehari, rata – rata mampu memproduksi sekitar 200 ribu batang rokok. Sistem yang digunakan, adalah sistem borong.

Dia mengatakan kalau selama ini apa yang ada di industri rokok menjadi sumber pemasukan yang tinggi bagi negara. Sehingga kebijakan pemerintah pusat sangat menentukan keberlangsungan perusahaan rokok. “Saya yakin, nanti rombongan dari Mabes TNI akan memberikan masukan kepada Presiden dari hasil kunjungannya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Tasiman Sebut KPU Pati Tak Beri Peluang Calon Independen saat Perpanjangan Pendaftaran

Politisi senior PDIP-P, Tasiman saat memberikan pernyataan, Rabu (28/09/2016), bahwa KPU tidak memberikan peluang bagi calon independen pada masa perpanjangan pendaftaran dari 28-30 September 2016. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Politisi senior PDIP-P, Tasiman saat memberikan pernyataan, Rabu (28/09/2016), bahwa KPU tidak memberikan peluang bagi calon independen pada masa perpanjangan pendaftaran dari 28-30 September 2016. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati disebut tidak memberikan peluang kepada calon independen pada masa perpanjangan pendaftaran yang dilakukan selama tiga hari, mulai Rabu (28/09/2016) hingga Jumat (30/09/2016) mendatang. Pernyataan itu muncul dari politisi senior PDI-P, Tasiman.

“Kenapa KPU hanya memberikan peluang perpanjangan pendaftaran calon bupati dan wakil bupati dari kalangan partai politik saja? Kenapa pendaftaran dari perseorangan tidak diberi kesempatan? Padahal, semua diakui undang-undang,” ujar Tasiman, Rabu (28/09/2016).

Karena itu, tokoh yang pernah menjabat sebagai Bupati Pati selama dua periode itu menyayangkan kebijakan KPU Pati yang dianggap tidak memberikan peluang bagi calon independen pada masa parpanjangan pendaftaran. Dia berpendapat, bisa jadi ada calon independen yang ingin mendaftar pada masa perpanjangan.

Sebab, pencalonan menggunakan kendaraan politik disebut-sebut mahal. “Itu artinya, KPU menutup peluang bagi calon independen yang berangan-angan untuk maju, tanpa melalui kendaraan politik karena biayanya mungkin mahal. Kalau peluang itu ada, mungkin ada yang maju,” ungkap Tasiman.

Kendati begitu, Tasiman tidak mau menyebut siapa yang akan maju melalui jalur perseorangan bila ada kesempatan pada masa perpanjangan. Dia hanya menyebut, mungkin ada orang-orang yang akan maju melalui jalur independen.

Menanggapi hal itu, Ketua KPU Pati Much Nasich mengatakan, KPU tidak membuka peluang untuk calon independen pada masa perpanjangan, karena prosesnya lama. Untuk proses verifikasi faktual saja, kata Nasich, butuh waktu 14 hari.

“Kalau kita buka peluang calon independen pada masa perpanjangan, prosesnya akan lama. Ada verifikasi faktual paling tidak 14 hari dan proses lainnya yang akan memakan waktu cukup lama,” kata Nasich.

Editor : Kholistiono

 

Tak Mau Hanya Terima Laporan, Bupati Rembang Langsung Cek Pembangunan Puskesmas dan Pasar

Bupati Rembang Abdul Hafidz melakukan pengecekan proyek pembangunan Puskesmas Sulang, Rabu (28/09/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Rembang Abdul Hafidz melakukan pengecekan proyek pembangunan Puskesmas Sulang, Rabu (28/09/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz turun langsung ke lapangan untuk mengecek sejumlah proyek pembangunan puskesmas dan Pasar Sarang, Rabu (28/09/2016). Bupati ingin memastikan pembangunan tersebut berjalan sesuai dengan rencana.

“Saya ingin manfaatkan waktu luang untuk mengecek secara langsung ke lapangan terkait proyek pembangunan fasilitas umum. Saya tidak ingin hanya menerima laporan saja, tapi saya juga harus tau bukti di lapangan,” ujarnya.

Ketika meninjau pembangunan Puskesmas 1 Rembang dan laboratorium, bupati mengaku cukup puas dari dari segi material dan kontruksi bangunan. Menurutnya, pengerjaan sudah sesuai dengan perencanaan yang ada.

Dirinya juga akan terus mengawal dan memastikan pembangunan di Rembang berkualitas.Untuk itu, katanya,tidak hanya ini saja dirinya meninjau langsung proyek pembangunan, namun hal itu akan dilakukan secara berkala.

“Lain waktu juga saya akan mengecek lagi. Koordinasi,pengawasan dan evaluasi ini penting.kerangkanya untuk memenuhi target pembangunan yang berkualitas,” ungkapnya.

Selain ke puskesmas Rembang 1, orang nomor satu di Rembang ini juga mengecek kondisi terkini pelaksanaan pembangunan Pasar Sarang,Puskesmas Sarang, Puskesmas Sulang dan Puskesmas Gunem. “Pengerjaan cor harus benar-benar diperhatikan,material dijaga kualitasnya dan campurannya harus sesuai. Begitupun ketepatan waktu penyelesaiannya,” imbuhnya.

Menurutnya, pemkab dari tahun ke tahun akan terus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Baik dari segi sarana prasarana, kualitas SDM, dan juga dari segi manajemennya. Sehingga hal itu akan benar-benar memuaskan masyarakat.

Editor : Kholistiono

Paripurna Pembentukan dan Perubahan Perangkat Daerah di DPRD Kudus Diwarnai Protes

Anggota DPRD Kudus melakukan rapat paripurna, di Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Anggota DPRD Kudus melakukan rapat paripurna, di Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Paripurna DPRD Kudus diwarnai aksi protes anggota dewan. Sebab, ada agenda lain yang harusnya bisa dibahas dalam paripurna, di kantor DPRD Kudus, Rabu (28/9/2016). Diketahui, agenda paripurna adalah tentang laporan komisi A dilanjutkan penandatanganan ranperda keputusan Pembentukan dan Perubahan Perangkat Daerah.

Anggota dewan Setya Budi Wibowo mengatakan, banyak agenda yang harusnya dapat disertakan pada paripurna kali ini. Namun dia mempertanyakan mengapa hanya pembahasan tentang pembentukan dan rancangan daerah Kabupaten Kudus. “Kepastian untuk paripurna 19 pembahasan lainnya kapan bapak pimpinan? Kenapa hanya ini saja yang diparipurnakan?,” tanyanya kepada pimpinan dewan saat paripurna.

Menurutnya, ranperda lainnya juga sangat penting untuk segera diselesaikan. Seperti halnya ranperda tentang PKL, ranperda tentang sekdes serta banyak lagi ranperda yang tidak kalah penting untuk segera disahkan. Hal itu diusulkan guna membentuk Kudus menjadi lebih baik lagi. Jika tidak segera diparipurnakan, maka aturan terkait pembangunan Kudus belum bisa dimaksimalkan lantaran belum sah.

Apalagi, pembahasan yang dibagi dalam tiga pansus juga sangat panjang. Dia berharap, Paripurna terkait 19 Ranperda lainnya dapat segera dibahas dengan bentuk Paripurna secepatnya. Dalam Paripurna tadi, komisi A setuju dengan perubahan yang diusulkan. Seperti dinas tersebut terbagi dalam tiga tipe, yakni A,B dan tipe C. Hal itu juga tergantung pada besar kecilnya bidang yang ada di sana.

Dalam tipe A, di antaranya Disdikpora, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Selain itu, nama lain yang juga berubah adalah Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Perdagangan. Serta Dinas Pertanian dan Pangan. Selain itu, terdapat pula Dinas Pemukiman, Perumahan dan Lingkungan hidup.

Sedangkan untuk tipe B, terdapat dua dinas, yakni Dinas Kesehatan dan dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Dinas PU dan penataan Ruang. Untuk tipe C terdapat Disbudpar, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Penanaman Modal, dan Perizinan terpadu satu pintu, Dinas Perhubungan, Dinas Kominfo, Dinas Tenaga Kerja, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Ketua Komisi A Mardijanto yang membacakan jawaban hanya mengubah beberapa hal saja. Seperti instansi kesehatan yang masuk UPT yakni UPT Kesehatan Masyarakat.

Editor : Akrom Hazami

Begini Cara Anggota Intelijen Intai Tempat Esek-esek di Margoyoso Pati

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kiri) meminta pemilik warung (kanan) di Desa Margotuhu Kidul, Margoyoso untuk menghentikan aktivitas karaoke dan penjualan minuman keras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kiri) meminta pemilik warung (kanan) di Desa Margotuhu Kidul, Margoyoso untuk menghentikan aktivitas karaoke dan penjualan minuman keras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polsek Margoyoso mendapatkan banyak keluhan terkait dengan merebaknya sebuah tempat yang diduga digunakan untuk aktivitas esek-esek. Laporan dari masyarakat itu kemudian ditindaklanjuti dengan menyebar sejumlah anggota intelijen ke tempat-tempat yang dilaporkan warga.

Sejumlah tempat yang pernah diintai, di antaranya kawasan warung kopi di pinggiran persawahan Desa Margotuhu Kidul, Kecamatan Margoyoso dan rumah tembok berlantaikan tanah yang dihuni sendirian oleh seorang pria paruh baya di Desa Margoyoso.

“Kalau ada informasi dari warga, kami tidak begitu saja percaya. Kami harus melakukan penyelidikan. Karena itu, kalau pemilik warung mengelak, itu percuma karena kami sudah tugaskan sejumlah anggota intel pada malam hari untuk memastikan kabar dari warga,” ungkap Kapolsek Margoyoso AKP Sugino.

Dari informasi yang dihimpun anggota intel Margoyoso, ada aktivitas karaoke di dua warung di Desa Margotuhu Kidul. Selain itu, ada sejumlah pengunjung yang menenggak minuman keras. Sejumlah perempuan juga banyak yang singgah dan mangkal di sana.

Setelah informasi dari warga sesuai dengan hasil penyelidikan, pihaknya melakukan penertiban di tempat-tempat tersebut hari berikutnya. Dari hasil razia, sejumlah botol miras diamankan dan perlengkapan karaoke sederhana diminta untuk tidak digunakan lagi.

Menurutnya, tempat prostitusi besar awalnya dari warung-warung kopi kecil yang digunakan untuk mabuk-mabukan, kemudian datang satu-dua perempuan. Bila hal tersebut tidak diantisipasi sejak awal, kata AKP Sugino, warung-warung kopi tersebut bisa menjadi tempat prostitusi besar. Jika sudah begitu, akan susah ditertibkan.

Editor : Kholistiono

 

Tanggul Sungai Renggong di Tegowanu Jebol, Ratusan Rumah Terancam Kebanjiran

Warga bergotong royong untuk menyingkirkan sampah di Sungai Renggong yang tanggulnya jebol, Rabu (28/09/2016). Akibat jebolnya tanggul sungai tersebut, warga di dua desa yakni Desa Mangunsari dan Ketanggirejo terancam terkena banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga bergotong royong untuk menyingkirkan sampah di Sungai Renggong yang tanggulnya jebol, Rabu (28/09/2016). Akibat jebolnya tanggul sungai tersebut, warga di dua desa yakni Desa Mangunsari dan Ketanggirejo terancam terkena banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Akibat ada tanggul Sungai Renggong jebol, warga dua desa di Kecamatan Tegowanu siaga terhadap ancaman banjir. Yakni, Desa Mangunsari dan Ketanggirejo.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, tanggul tersebut jebol sepanjang 15 meter. Akibatnya, air dari sungai langsung menggenangi areal sawah hingga 1 meter tingginya.

“Sampai saat ini, luberan air dari tanggul jebol baru mengancam lokasi perkampungan. Warga dan petugas terkait sedang berupaya mencegah masuknya air ke perkampungan. Kita perkirakan, ada 70 hektare sawah yang tergenang air. Tanaman yang ada di sawah saat ini berupa palawija,” kata Camat Tegowanu Kasan Anwar.

Menurutnya, selain petugas dari berbagai instansi, sejumlah alat berat juga sudah standby di lokasi bencana. Namun, upaya penutupan tanggul jebol memakai alat berat masih belum memungkinkan untuk dilakukan. Sebab, dikhawatirkan alat berat itu malah akan merusak tanggul jika melintas di atasnya.”Arus airnya masih deras. Jadi alat beratnya belum diterjunkan meski sudah didatangkan ke sini,”terangnya.

Menurut Anwar, melubernya air Sungai Renggong itu disebabkan hujan deras di daerah hulu yang berada di wilayah Kabupaten Semarang dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu menjadikan beberapa ruas tanggul tidak kuat menahan banyaknya debit air.

“Sebelumnya, kita bersama perangkat desa sudah rutin memonitor kondisi tanggul. Namun lantaran air sungai saat ini deras banget maka sebagian ruas tanggul bisa jebol. Saat ini, kami masih keliling lapangan,” katanya.

Editor : Kholistiono

Mabes TNI Dorong Usaha Kretek Kudus Tetap Hidup

Deputi Bidang Sistem Nasional Mabes TNI Mayjen TNI Aris Martono meninjau brak Djarum di Desa Karangbener, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Deputi Bidang Sistem Nasional Mabes TNI Mayjen TNI Aris Martono meninjau brak Djarum di Desa Karangbener, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Deputi Bidang Sistem Nasional Mabes TNI Mayjen TNI Aris Martono, mengatakan kalau usaha kretek asli Indonesia harus tetap dipertahankan.

Hal itu disampaikannya saat kunjungan ke salah satu brak Djarum, Desa Karangbener, Bae, Kudus, Rabu (28/9/2016). Pihaknya mendorong usaha lokal tetap dipertahankan.

“Kami datangi secara langsung penggerak ekonomi di pabrik. Kami juga  langsung berinteraksi dengan para buruh dengan melihat langsung keadaanya,” kata Aris kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kabar kenaikan harga rokok beberapa waktu yang lalu, juga menjadi pertimbangan rombongan datang ke Kudus. Dia tidak menginginkan penopang ekonomi masyarakat sampai oleng dengan adanya hal tersebut.

Oleh sebab itu, dilakukanlah kunjungan secara langsung untuk mengetahui bagaimana kondisi di lapangan. Pihaknya juga mengamati keberlangsungan industri jenis kretek yang menggunakan tangan.

Hingga kini, TNI belum menemukan kendala yang berarti bagi masyarakat khususnya para pekerja. Dia menambahkan, akan membuat kajian dengan pemerintahan pusat setelah mengunjungi beberapa industri. Kajian tersebut mengarah pada perusahaan yang banyak digantungkan sebagai mata pencaharian oleh warga setempat.

“Kalau masalahnya itu banyak menggunakan tembakau dari luar negeri karena mengandung tar dan nikotin rendah. Sedangkan milik dalam negeri memiliki kandungan yang tinggi. Itulah tugas penelitian yang seharusnya dapat dikembangkan,” jelasnya.

Selain berkunjung ke  perusahaan rokok, rombongan juga berkunjung ke pabrik jamu Sido muncul serta pabrik elektronik Polytron.

Editor : Akrom Hazami

2 Pembobol Konter HP di Grobogan Dibekuk Polisi

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Aryanto sedang meminta keterangan pada dua pelaku pembobolan konter handphone (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Aryanto sedang meminta keterangan pada dua pelaku pembobolan konter handphone (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Dua penjahat yang sempat membobol sebuah konter HP di Dusun Mulungan, Desa Jatilor, Kecamatan Godong akhirnya berhasil diringkus aparat Polres Grobogan. Kedua pelaku adalah Ulil Albab alias Batang, warga Mranggen, Demak dan Arip Wahyudin Khabibulah alias Ucil, warga Pedurungan Kidul, Semarang.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Aryanto menyatakan, pelaku pembobolan konter HP itu dilakukan empat orang. Namun, dari empat orang itu, baru dua pelaku yang berhasil ditangkap pada Senin (26/09/2016).

“Dua pelaku lainnya sudah kita ketahui identitasnya. Saat ini, anggota masih melakukan pengejaran,” katanya saat gelar perkara di Mapolres Grobogan, Rabu (28/09/2016).

Selain menangkap pelaku kejahatan, petugas juga berhasil menyita sejumlah barang bukti. Antara lain, sebuah mobil Xenia, tiga sandal, gunting potong, dua buah parang, satu linggis dan dompet.

Di samping itu, barang bukti hasil kejahatan juga bisa diamankan. Yakni, sekitar 60 unit handphone berbagai merek dan sejumlah nota pembelian.

Kasus kejahatan di konter Zahra Phone milik Sodikin itu dilakukan Kamis (08/09/2016) dini hari. Pelaku masuk ke dalam konter dengan menggunting gembok pengaman.

Setelah bisa masuk, pelaku menguras 72 unit handphone berbagai merek yang ada di dalam konter tersebut. Akibat aksinya, pemilik konter mengalami kerugian sekitar Rp 50 juta.

Penangkapan pelaku ini bermula saat komplotan ini hendak beraksi lagi di wilayah Kecamatan Tegowanu, beberapa hari setelah mereka membobol konter di Desa Jatilor. Namun, aksi itu terpergok warga dan para penjahat akhirnya kabur dan meninggalkan mobil di pinggir jalan.

Saat diperiksa, ada HP milik salah satu pelaku yang tertinggal di dalam mobil itu. Setelah dikembangkan lebih lanjut, identitas pemilik HP itu akhirnya terungkap hingga berujung penangkapan kedua pelaku tersebut.

Editor : Kholistiono

3 Kasat di Polres Rembang Dimutasi

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono (kiri), salah satu perwira yang bakal dimutasi. Eko akan digeser sebagai Kasat Reskrim Polres Grobogan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono (kiri), salah satu perwira yang bakal dimutasi. Eko akan digeser sebagai Kasat Reskrim Polres Grobogan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Tiga kepala satuan di lingkup Polres Rembang bakal mutasi atau dipindah tugaskan ke Polres lain di wilayah Kepolisian Daerah Jawa Tengah.

Dari informasi yang didapat MuriaNewsCom, tiga kepala satuan itu adalah Kasatreskrim AKP Eko Adi Pramono, Kasat Sabhara AKP Bhinuka Surja Nugraha, dan Kasatlantas AKP Ahmad Ghifar Al Ahfaqsyi.

Eko Adi Pramono bakal dipindah tugaskan sebagai Kasatreskrim di Polres Grobogan, sedangkan penggantinya adalah Iptu Ibnu Suka yang sebelumnya bertugas di Polrestabes Semarang.

Sementara, Kasat Sabhara AKP Bhinuka akan menduduki jabatan baru sebagai Kasubag Hukum Bag Sumda Polres Demak, sedangkan penggantinya adalah Roy Irawan, perwira yang kini menjabat Kasubag Bin Ops Polres Rembang.

Adapun jabatan yang akan ditinggalkan oleh Ghifar akan diisi oleh AKP Muh Rikha Zulkarnain yang sebelumnya menjabat Kanit Laka di Polresta Surakarta. Ghifar sendiri akan bergeser menjadi Kasat Lantas Polres Cilacap.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto membenarkan adanya pemindahan tugas tersebut.”Mutasi ini sebagai hal biasa. Mutasi ini juga sebagai penyegaran di tubuh kepolisian sendiri dan rutin dilakukan dan sesuatu yang wajar,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, pemindah tugas atau mutasi tersebut bukan karena terkait kinerja dalam penanganan kasus yang menonjol. “Kami sudah menerima telegram rahasia (TR) Kamis lalu. Untuk proses sertijab akan dilakukan pada pekan depan,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono