Terkait Sertifikat Warga, Komunikasi dengan BPN Diintensifkan 

Warga berada di lokasi proyek pengerjaan jalan lingkar utara Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di lokasi proyek pengerjaan jalan lingkar utara Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus memiliki janji untuk melunasi pembuatan sertifikat tanah ke warga yang terkena proyek itu. Karenanya, pemkab mengintensifkan komunikasi dengan BPN, agar pembuatan sertifikat selesai tepat waktu.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kudus Sumiyatun mengatakan, pihaknya sudah menandatangani kesepakatan dengan warga agar sertifikat bisa selesai tahun ini.

“Dalam kesepakatan juga tertulis kalau warga menyetujui waktu yang ditentukan. Dan waktunya adalah sampai 15 Oktober, peta desain  telah disetujui warga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya akan meminta BPN segera menyelesaikan peta desain. Harapannya, itu akan selesai tepat waktu. Setidaknya tahun ini, sertifikat tanah milik warga bisa segera jadi dan dibagikan.

Saat ini, kata dia, BPN masih menyelesaikan proses pembuatan peta desain. Desain tersebut, akan sangat menentukan persetujuan warga. Sebab satu saja warga tidak setuju dengan gambaran dari BPN, maka peta desain harus diukur ulang.

“Jika tidak setuju, maka harus melakukan peta desain lagi. Dan itu akan memakan waktu yang lama, dan akhir tahun ini bisa tidak jadi kalau warga tidak sepakat,” ujarnya.

Sedangkan untuk warga Klumpit yang kehilangan tanahnya, BPN nantinya juga akan melakukan pengukuran dan peta desain lagi.

Editor : Akrom Hazami

HUT Kodam Diponegoro, Ratusan Anggota TNI dan Persit Pati Ikuti Donor Darah

Ibu-ibu Persit berfoto bersama di tengah anggota TNI dari Kodim 0718/Pati yang tengah mendonorkan darahnya, Jumat (30/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ibu-ibu Persit berfoto bersama di tengah anggota TNI dari Kodim 0718/Pati yang tengah mendonorkan darahnya, Jumat (30/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 200 anggota TNI Kodim 0718/Pati dan 35 anggota Persatuan Istri Tentara (Persit) mengikuti kegiatan donor darah di Makodim 0718/Pati, Jumat (30/09/2016). Kegiatan donor darah tersebut untuk memperingati HUT ke-66 Kodam IV/Diponegoro.

Komandan Kodim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma mengatakan, keberadaan prajurit TNI selain mempertahankan NKRI, juga harus bisa manunggal dan memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Donor darah menjadi bagian dari bakti TNI di bidang sosial-kemanusiaan.

“Donor darah sangat mulia, bisa membantu menyelamatkan nyawa orang yang membutuhkan. Lagipula, donor darah tidak mengurangi kesehatan kita. Justru, kita semakin sehat dengan donor darah. Kami berharap, koramil-koramil di 21 kecamatan di Pati bisa ikut mengadakan donor darah,” kata Letkol Inf Andri.

Sementara itu, Ketua Persit Cabang XXXIX/Pati Ny. Andri Amijaya Kusuma menuturkan, donor darah tidak hanya meringankan beban orang yang membutuhkan darah. Lebih dari itu, donor darah bisa menjadi indikasi untuk mengetahui apakah badan sehat atau tidak.

“Sebelum darah kita diambil, pasti dicek dulu apakah sehat atau tidak, apakah memenuhi syarat untuk donor darah atau tidak. Hal itu bisa menjadi indikator untuk mengetahui kesehatan badan kita. Jadi, tidak hanya bisa membantu sesama, juga bisa mengetahui kondisi kesehatan kita,” ucapnya.

Selain itu, Ny. Andri mengaku bila tubuh lebih segar usai donor darah. Dia mengatakan, tubuh akan membentuk darah segar setelah kehilangan darah sekitar 250 cc didonorkan. Hal itu akan membuat tubuh lebih bugar dan sehat.

Editor : Kholistiono

Antisipasi Banjir, BPBD Grobogan Koordinasi Dengan BBWS Pemali Juwana

Salah satu ruas tanggul Sungai Renggong di Kecamatan Tegowanu sempat jebol beberapa hari lalu dan menyebabkan lahan sawah di dua desa kebanjiran(kanan).(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu ruas tanggul Sungai Renggong di Kecamatan Tegowanu sempat jebol beberapa hari lalu dan menyebabkan lahan sawah di dua desa kebanjiran(kanan).(MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Jumat (30/09/2016). Adapun tujuan utamanya untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir akibat meluapnya air sungai.

“Siang tadi, saya baru saja rapat dengan pihak BBWS di Semarang. Agendanya koordinasi bencana banjir,” kata Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono.

Menurut Agus, koordinasi itu diperlukan karena pihaknya tidak punya kewenangan untuk menangani aliran sungai lintas kabupaten. Kewenangan tersebut ada pada BBWS Pemali Juwana Provinsi Jateng.Padahal, di wilayah Grobogan ada beberapa sungai besar yang jadi kewenangan BBWS. Seperti Sungai Lusi, Jragung, Serang, KB 1, Renggong, dan Tuntang.

Agus menyatakan, dari koordinasi itu pihaknya diminta untuk segera membuat laporan jika menemukan sesuatu yang butuh penanganan. Misalnya, adanya tanggul kritis yang butuh penanganan segera supaya tidak jadi penyebab banjir di kemudian hari. “Banjir yang terjadi di Tegowanu tiga hari lalu penyebabnya juga dari tanggul jebol. Saat ini, tanggulnya sudah berhasil diperbaiki,” katanya.

Pascakoordinasi dengan BBWS, pihak BPBD secepatnya akan melakukan langkah monitoring kondisi tanggul di sejumlah sungai besar dengan melibatkan aparat pemerintahan desa sekitar kawasan sungai.

Hal itu dilakukan, karena penyebab banjir selama ini adalah jebolnya tanggul ketika elevasi sungai tersebut melebihi ambang batas. Selain itu, kondisi tekstur tanah di Grobogan yang relatif labil menyebabkan kondisi tanggul yang sebelumnya kering bisa longsor setelah terguyur hujan deras.

Ditambahkan, berdasarkan hasil pendataan, sedikitnya ada sembilan kecamatan yang masuk wilayah rawan bencana  banjir. Yaitu Kecamatan Purwodadi, Ngaringan, Klambu, Brati, Grobogan, Gubug, Tegowanu, Kedungjati dan Godong. Kesembilan kecamatan tersebut rentan banjir karena dilewati sungai besar.

“Curah hujan dalam beberapa hari terakhir memang cukup tinggi dan hal ini harus kita waspadai. Semua peralatan sudah kita siapkan dan petugas juga sudah saya minta siaga penuh,” katanya.

Editor : Kholistiono

30 Ribu Nama Dicoret dari Daftar Pemilih Pilkada Jepara

kpu

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan ribu nama warga Kabupaten Jepara dicoret dari daftar pemilih untuk Pilkada Jepara 2017 mendatang. Karena mereka dinilai tidak memenuhi syarat sesuai aturan yang berlaku.

Hal itu seperti yang disampaikan Divisi Pemutakhiran Data Pemilih pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jepara Anik Sholihatun. Menurutnya, tidak tanggung-tanggung, nama yang dicoret dari daftar pemilih mencapai 30 ribu lebih.

“Sedikitnya ada sekitar   30.813 pemilih yang tidak memenuhi syarat(TMS) yang terdaftar dalam Data Pemilih.   Temuan puluhan ribu pemilih TMS itu merupakan hasil rekapitulasi sementara dari laporan Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) yang sedang melakukan pencocokan dan penelitian (Coklit ) di lapangan,” kata Anik kepada MuriaNewsCom.

Ia menjelaskan, dicoretnya pemilih tersebut karena berbagai sebab. Salah satunya adalah pemilih ganda yang merupakan jumlah terbesar yakni mencapai 16.082 pemilih, meninggal dunia 4.839 orang, pindah domisili  4.704 orang, di bawah umur  120 orang, sedang dicabut hak pilih 2 orang, pemilih tidak dikenal 2.471 orang, bukan penduduk Kabupaten Jepara 2,507 orang.

“Jumlah temuan itu tentu saja masih sangat mungkin bertambah mengingat proses coklit itu  masih berlangsung  hingga 7 oktober” katanya.

Kepada PPDP, KPU  Jepara mengingatkan untuk tetap bertugas secermat mungkin, mengingat data pemilih ini sangat dinamis. Misalnya pemilih meninggal dunia, pindah domisili dan alih status TNI-Polri.“Proses pencoretan ini penting  agar  daftar pemilih yang TMS ini  tidak  bisa disalah gunakan pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Sebaliknya KPU Jepara juga menekankan bahwa pemilih yang sudah memenuhi syarat namun belum terdaftar dalam daftar pemilih juga harus diakomodasi. Karena sesuai spirit KPU dalam melindungi hak konstitusional masyarakat pemilih.

Editor : Akrom Hazami

YPKP Minta Lubang Pembantaian Korban 1965 di Pati Jadi Makam

Seseorang menunjukkan lubang yang diduga sebagai tempat pembantaian korban 1965 di Hutan Regaloh, Tlogowungu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seseorang menunjukkan lubang yang diduga sebagai tempat pembantaian korban 1965 di Hutan Regaloh, Tlogowungu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ketua Yayasan Peneliti Korban Peristiwa (YPKP) 1965, Handoyo Triatmojo meminta agar lubang yang dijadikan pembantaian di Pati menjadi makam yang dirawat dan bisa diziarahi. Hal itu disampaikan Handoyo, Jumat (30/09/2016).

Dari hasil penelitian yang dilakukan, total ada 19 lubang yang diduga dijadikan tempat untuk membantai korban 1965. 11 lubang diduga digunakan untuk mengeksekusi, delapan lubang di antaranya kosong.

Menurutnya, lubang-lubang itu tersebar di berbagai hutan yang ada di Kabupaten Pati. Yakni, Hutan Tlogowungu terdapat dua lubang, Hutan Brati Kayen dengan dua lubang, Alas Barisan Jeglong Jaken dengan sepuluh lubang, Hutan Karet di Kalitelo Dukuhseti dua lubang, Hutan Karet Puncel Dukuhseti satu lubang yang saat ini menjadi tegal ketela, dan kawasan Jolong di Gembong ada dua lubang yang lokasinya terpisah.

“Lokasi itu sangat bersejarah. Mestinya, semua lokasi yang masuk kawasan Perhutani itu dijadikan sebagai makam. Sebab, mereka adalah manusia, bukan hewan yang dibiarkan begitu saja. Upaya ini sudah kami coba usulkan, tapi banyak yang keberatan,” ungkap Handoyo.

Handoyo sendiri pernah menghadap Luhut Binsar Pandjaitan saat menjadi Menko Polhukam. Luhut menjanjikan akan menyelesaikan masalah tersebut secara non yudisial. Persoalan belum diselesaikan, Luhut keburu diganti menjadi Menko Kemaritiman.

“Pati menjadi bagian dari sejarah korban 1965. Mereka ada yang ditangkap untuk diasingkan di Pulau Buru, Nusa Kambangan, dan lainnya. Ada pula yang dieksekusi di sejumlah hutan di Pati. Beberapa ada yang pulang ke Pati dari pengasingan, ada pula yang tidak balik,” ucap Handoyo.

Editor : Kholistiono

Lagi Asyik Main Hujan-hujanan, Bocah di Banjarejo Grobogan Temukan Potongan Tulang Purba di Lapangan Bola

Salah satu bocah di Banjarejo sedang menggali fosil yang ada di lapangan bola menggunakan tangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu bocah di Banjarejo sedang menggali fosil yang ada di lapangan bola menggunakan tangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keasyikan sejumlah bocah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang sedang main hujan-hujanan di lapangan bola mendadak terhenti. Ini setelah salah satu kaki bocah tersebut tertusuk benda cukup tajam dari dalam tanah.

Setelah digali dengan tanah, benda yang menusuk kaki itu ternyata potongan fosil hewan purba. Benda yang ditemukan ukurannya tidak terlalu besar, panjangnya sekitar 20 cm dan lebar 7 cm. Bentuknya seperti lempengan tulang. Selanjutnya, benda tersebut diserahkan pada Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk dikumpulkan dengan fosil yang sudah ditemukan sebelumnya.

“Benda yang ditemukan anak-anak saat main dilapangan bola hari Rabu (28/09/2016) kemarin memang potongan fosil hewan purba. Hanya saja, saya belum bisa memastikan jenis hewannya apa. Nanti, akan saya koordinasikan lebih lanjut pada pihak terkait,” kata Taufik.

Menurutnya, kedatangan bocah ke rumahnya untuk menyerahkan fosil memang bukan suatu hal yang mengejutkan. Sebab, selama ini sudah ada beberapa bocah yang datang sambil menyerahkan benda temuan.

Taufik menjelaskan, selama ini, anak-anak di desanya memang cukup akrab dengan benda purbalaka yang tersimpan di rumahnya. Kebetulan, persis di depan rumahnya ada SDN 2 Banjarejo. Ketika waktu istirahat atau pulang sekolah, anak-anak sering mampir melihat koleksi benda bersejarah yang tersimpan di rumahnya.

“Selama ini, saya juga sering melibatkan anak-anak untuk membersihkan fosil yang baru ditemukan. Langkah ini sebagai salah satu upaya edukasi pada mereka agar peduli dengan benda bersejarah di desanya. Barangkali dari sini mereka akhirnya bisa membedakan benda yang termasuk fosil atau sekedar batuan biasa,” imbuh Taufik.

Taufik pun mengaku sangat bangga dengan langkah anak-anak yang mau menyerahkan benda purbakala yang ditemukan. Sebagai bentuk penghargaan, anak-anak yang menemukan benda purbakala itu diberi hadiah khusus. “Hadiahnya tidak istimewa kok. Cuma saya belikan bakso kelilingan saja,” cetusnya sembari tertawa.

Selama ini, dia pun sudah menghimbau kepada semua warganya agar bersedia menyerahkan benda bersejarah yang ditemukan untuk dikumpulkan jadi satu di “Museum Purbakala Banjarejo”.“Kesadaran warga untuk menyerahkan benda temuan sekarang ini makin meningkat dan ini sangat membanggakan,” pungkas Taufik.

Editor : Kholistiono

PBVSI Matangkan Kesiapan Bupati Cup 

voli-1

MuriaNewsCom, Kudus – PBVSI Kudus bersama Sukun Spirit of Sport tak henti-hentinya menyiapkan kesiapan turnamen Bupati Cup 2016.

Di antaranya adalah menyiapkan 11 lapangan pertandingan. Delapan lapangan untuk tim putra menyebar di Klaling, Jekulo dan Gebog. Sedangkan tim putri di lapangan Porvit Tanjung dan Persivo Prambatan.

Ketua Harian PBVSI Kudus M Ridwan mengatakan, pihaknya sedang melakukan persiapan secara matang. “Untuk putri rencananya akan gunakan dua lapangan, yakni Porvit Tanjung dan Persivo Prambatan. Sedangkan untuk putra menggunakan delapan lapangan yang tersebar di Kudus, mulai dari Klaling Jekulo hingga Gebog,”kata Ridwan.

Nantinya akan ada 50 klub yang bertanding. Dengan rincian, 35 putra dan 15 tim putri.  Turnamen voli Bupati Cup 2016 berlangsung 4-29 Oktober mendatang.

Ridhwan menyebutkan, karena jumlahnya mencapai 50 klub, kualifikasi grup akan diberlakukan. Rencananya, di babak tersebut akan digunakan 10 lapangan. Dua di antaranya bakal digunakan untuk babak penyisihan tim putri.

Ridwan memprediksi pertandingan akan berlangsung sengit. Apalagi, banyak klub yang sudah menyiapkan diri sejak dini. ”Karena itu sayang jika untuk dilewatkan. Klub yang ikut juga sudah mempersiapkan pemain dengan maksimal, sehingga akan membuat pertandingan semakin seru dan menarik,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Pemkab Optimistis Pengerjaan Selesai Tepat Waktu

Sejumlah alat berat berada di jalan lingkar utara, Desa Klumpit, Gebog, Kudus.  (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah alat berat berada di jalan lingkar utara, Desa Klumpit, Gebog, Kudus.  (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Memasuki musim hujan, tidak terlalu mempengaruhi proses pembangunan jalan lingkar utara di Kudus. Hal itu dipastikan lantaran pembangunan yang sudah hampir selesai dari waktu yang masih cukup longgar.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Bina Marga, Pengairan, Energi dan SDM Kudus Sam’ani Intakoris. Menurutnya, pembangunan jalur lingkar utara, ditargetkan rampung pada Oktober akhir. Dalam kurun waktu yang tersisa, dipastikan akan selesai tepat waktu. Lantaran pemblokadean jalan yang dilakukan warga telah berakhir.

“Sampai saat ini, pembangunan sudah sekitar 75 persen. Dan melihat waktu yang masih beberapa pekan, kemungkinan besar akan selesai dalam waktu yang ditargetkan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, saat ini sedang dilakukan proses pengaspalan di Desa Mijen, Kaliwungu. Pengaspalan diperkirakan rampung pekan depan karena tinggal proses akhir saja. Sedangkan di daerah lain seperti Desa Karangampel, Kaliwungu dan Klumpit, Gebog, juga direncanakan bakal mulai pengaspalan pekan depan.

“Sepekan akan selesai pengaspalan, itupun jika kondisi cuaca semacam ini dengan hujan. Hal itu tidak terlalu terpengaruh dengan pengaspalan karena cepat. Lain halnya jika dicor, maka butuh waktu guna mengeringkannya,” ujarnya.

Dari data yang ada, proyek jalan lingkar Mijen Peganjaran total menelan anggaran hingga Rp 47,3 miliar. Anggaran tersebut bersumber dari DAK sebesar Rp 15 miliar dan Bantuan Gubernur Rp 32,35 miliar.

Total ruas jalan yang akan dibangun sepanjang sekitar 5 km dengan lebar jalan sekitar 7 meter. Selain untuk membangun badan jalan, anggaran tersebut juga untuk membangun dua jembatan yang dilintasi yakni jembatan Sungai Sat dan Sungai Kemudi masing-masing dianggarkan Rp12,5 miliar.

Editor : Akrom Hazami

Sedan Accord Vs Sepeda Motor di Jalan Pati-Kudus, 2 Orang Kritis

Mobil Sedan Accord H 89 MM mengalami ringsek, usai terlibat kecelakaan dengan dua sepeda motor di Jalan Pati-Kudus Km 7, Pati, Jumat (30/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mobil Sedan Accord H 89 MM mengalami ringsek, usai terlibat kecelakaan dengan dua sepeda motor di Jalan Pati-Kudus Km 7, Pati, Jumat (30/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kecelakaan antara mobil Sedan Accord bernopol H 89 MM dan dua sepeda motor terjadi di Jalan Pati-Kudus Km 7, sebelah barat PT Dua Kelinci, Jumat (30/09/2016). Kecelakaan terjadi sekitar pukul 16.00 WIB.

Akibat kecelakaan tersebut, dua orang dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga Sehat karena mengalami kritis. Mobil Sedan mengalami ringsek pada bagian samping dan belakang, sedangkan dua sepeda motor merek Honda Supra dan Jupiter bernopol K 4522 WK mengalami rusak parah.

“Pengendara sepeda motor tidak sadarkan diri. Dia langsung dibawa ke rumah sakit Keluarga Sehat Hospital. Pengemudi mobil juga dilarikan ke rumah sakit,” ujar Muhammad Arifin Puspito, saksi yang kebetulan lewat jalan tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, kecelakaan bermula ketika pengemudi mobil Sedan kaget dan mengalami oleng ke kiri menghantam sepeda motor pada bagian kiri mobil. Sepeda motor yang berkendara dari belakang mobil kemudian menghantamnya dari belakang.

Hingga berita ini turun, belum diketahui identitas yang terlibat kecelakaan, karena langsung dilarikan ke rumah sakit. Sementara itu, jalan pantura sempat terjadi macet selama dua kilometer selama sekitar setengah jam.

Editor : Kholistiono

Bupati Haryanto Pantau Perkembangan Pembangunan Pasar di Pati

 Bupati Pati Haryanto saat meninjau lokasi pembangunan di Pasar Tayu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto saat meninjau lokasi pembangunan di Pasar Tayu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto membangkitkan pasar tradisional melalui pembangunan kembali pasar yang dianggap tidak layak. Pembangunan pasar diharapkan bisa mendongkrak daya saing pasar tradisional di tengah gempuran pasar modern yang keberadaannya tidak bisa dibendung.

Terlebih, kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) membuka kran perdagangan pasar bebas di level ASEAN. Karena itu, Pemkab Pati melakukan revitalisasi pasar tradisional dengan melakukan pembangunan. Dengan infrastruktur yang memadahi, pasar tradisional diharapkan bisa bersaing dengan pasar modern di era MEA.

Kesembilan pasar tradisional yang dibangun, antara lain Pasar Sleko, Rogowongso, Puri, Winong, Tayu, Bulumanis, Trangkil, Wedarijaksa, dan Kayen. Untuk mengetahui progres dari pembangunan pasar tersebut, bupati bersama dengan jajarannya memastikan akan selalu melakukan pemantauan.

“Kita akan melakukan sidak dari satu pasar ke pasar lain yang sedang dibangun. Beberapa waktu lalu, kami sudah sidak di sejumlah pasar, seperti Pasar Rogowongso, Pasar Wedarijaksa, Trangkil, dan Tayu. Pasar lainnya akan kami sidak daam waktu dekat,” ungkap Haryanto, Jumat (30/09/2016).

Menurutnya, pemantauan perlu dilakukan untuk memastikan pembangunan pasar berlangsung lancar dan sesuai dengan target. Pasalnya, pedagang sudah sangat berharap pembangunan pasar segera selesai. Kendati begitu, ketepatan dalam melakukan pembangunan juga harus diperhatikan supaya hasilnya berkualitas.

“Kalau pasar tradisional itu lebih representatif, bersih, fasilitas dan infrastruktur memadahi, saya yakin banyak orang yang datang ke pasar tradisional. Harapannya, ekonomi berbasis masyarakat bisa dibangun dari pasar tradisional. Itu sebabnya, kami selalu melakukan peninjauan karena sudah ditunggu-tunggu warga,” tutur Haryanto.

Bahkan, orang nomor satu di Pati ini akan melakukan revitalisasi pasar-pasar lain untuk mengangkat kualitas ekonomi berbasis rakyat. Haryanto sadar, pasar tradisional adalah tumpuan ekonomi kerakyatan yang bisa menyejahterakan masyarakat seutuhnya.

Terobosan pembangunan dari Pemkab Pati itu disambut baik pedagang pasar. Sukarmi (56), pedagang sayur di Pasar Rogowongso sangat senang dengan upaya bupati membangun kembali Pasar Rogowongso. Dia berharap, pembangunan pasar bisa meningkatkan pengunjung yang pada akhirnya meningkatkan penghasilan pedagang.

Hal yang sama disampaikan Karsi (60), pedagang jajanan tradisional di Pasar Wedarijaksa. Dia berharap, pembangunan pasar tidak lagi membuat pasar tradisional kumuh, bau dan becek. “Kami ucapkan terima kasih kepada Pemkab Pati yang sudah memprioritaskan pembangunan pasar tradisional, sehingga tempatnya menjadi bersih,” tandas Karsi.

Editor : Kholistiono

Polres Grobogan Ringkus 2 Pengedar Sabu Asal Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Grobogan – Aparat Sat Res Narkoba Polres Grobogan kembali berhasil menangkap pengedar sabu di kawasan Kota Purwodadi, Jumat (30/09/2016). Pelaku yang diringkus pada dini hari ini bernama Saroso alias Nggarso, warga asal Jepara.

Saroso ditangkap saat berada di sekitar Jalan Wijaya Kusuma Purwodadi. Saat itu, tersangka rencananya akan mengantar barang haram tersebut kepada pembelinya.

Pada waktu bersamaan, anggota Polres Grobogan tengah memantau situasi di sekitar perkampungan tersebut. Melihat ada orang yang kelihatannya mencurigakan, petugas langsung bergerak untuk mengamankan tersangka.

“Saat diperiksa, kita menemukan tiga paket sabu di saku celananya. Jumlah sabu sekitar 2,5 gram dan sudah dipesan pembelinya,” kata Kasat Res Narkoba Polres Grobogan AKP Abdul Fatah pada wartawan.

Dari pemeriksaan lebih lanjut, Saroso mengaku, kalau barang itu didapat dari temannya di Jepara yang bernama Agus Santoso. Selanjutnya, anggota bergerak untuk memburu pelaku dan akhirnya berhasil menangkapnya di daerah Pengkol, Jepara.

Bersama tersangka Agus ini, petugas berhasil menemukan barang bukti satu paket sabu. “Informasi yang kita dapat, kedua tersangka ini sudah tiga kali mengirimkan sabu ke wilayah Grobogan,” sambung Fatah.

Beberapa hari sebelumnya, polisi juga berhasil menangkap seorang pengedar narkoba jenis sabu. Yakni,  Rohadi (45), warga Kecamatan Karangtengah, Demak. Pria yang bekerja jadi kuli bangunan itu saat hendak mengedarkan sabu di Jalan Raya Tegowanu-Tanggungharjo, Rabu (28/09/2016).

Dari tangan pelaku, petugas  mengamankan barang bukti satu paket plastik klip kecil berisi serbuk kristal yang diduga narkotika jenis sabu. Barang tersebut terbungkus kertas dan dimasukkan dalam bungkus rokok. Selain itu diamankan pula sebuah handphone dan satu unit sepeda motor.

Ketiga pengedar sabu ini sama-sama mengaku, jika mendapatkan pasokan barang dari Lapas Kedungpane, Semarang. Yakni, dari seorang temannya yang menghuni lapas tersebut.

’’Soal dari mana barang ini didapat masih kita selidiki lebih lanjut. Dari pemeriksaan mereka memang mengaku mendapatkan barang dari temannya yang ada di Lapas Kedungpane,’’ katanya.

Editor : Kholistiono

Soal Kaderisasi, Elite Politik PDI-P Pati Tidak Sependapat, Nah Ada Apa?

Ketua DPC PDIP-P Pati Ali Badrudin berorasi menyatakan dukungannya kepada Haryanto-Arifin di depan Kantor KPU Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua DPC PDIP-P Pati Ali Badrudin berorasi menyatakan dukungannya kepada Haryanto-Arifin di depan Kantor KPU Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pilkada Pati 2017 tampaknya mulai memanas, kendati penetapan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati belum dilakukan. Situasi semakin panas, ketika politisi senior Tasiman yang masuk jajaran Dewan Penasehat DPC PDI Perjuangan Pati melontarkan statemen yang mengejutkan.

Dia menilai, banyaknya partai politik yang berbondong-bondong mengusung Haryanto-Arifin mencerminkan parpol gagal melakukan kaderisasi dan pendidikan politik kepada anggotanya. Hal itu termasuk PDI-P sendiri yang dianggap gagal mencetak kader emas untuk diusung sebagai pemimpin pada Pilkada Pati 2017.

Padahal, kata Tasiman, ada sederet tokoh internal PDI-P yang siap maju, seperti Endro Dwi Cahyono, Budiyono (PDI-P), dan Soetarto Oenthersa atau Kokok. Namun, PDI-P justru mengusung calon dari luar partai. Tasiman sendiri mengaku tidak kecewa dengan keputusan PDI-P, karena dia merasa masih menjadi kader partai yang harus tegak lurus.

“Dibilang kecewa ya tidak. Saya kan kader partai, tetap tegak lurus dan ikut dengan apa yang sudah ditetapkan partai. Kalau nanti ditugasi dari DPP untuk mengawal ya tetap ikut. Kami cuma menyayangkan saja, tidak ada kader partai yang maju. Itu berarti pendidikan politik yang dilakukan gagal,” kata Tasiman.

Menanggapi hal itu, Ketua DPC PDI-P Pati Ali Badrudin menolak bila parpol disebut gagal melakukan kaderisasi, hanya karena mengusung dari luar kader. Menurutnya, pengusungan Haryanto-Arifin sebagai cara partai dalam menjunjung tinggi demokrasi.

Hal itu dibuktikan dengan dibukanya penjaringan bakal calon. Dalam penjaringan tersebut, masing-masing figur dikaji. Hasilnya, Haryanto-Saiful Arifin muncul sebagai tokoh dengan elektabilitas dan kualitas yang mumpuni. Hal itu yang membuat PDI-P akhirnya memilih pasangan Haryanto-Arifin.

“Pertimbangan kami sangat matang. Kami tidak memaksakan diri untuk mengusung dari internal partai bila memang ada calon lain yang lebih baik. Ini bagian dari demokrasi yang harus dijunjung tinggi,” ucap Ali.

Pengamat Politik Universitas Diponegoro, Hakim Alif Nugroho memberikan komentar terkait dengan adanya elite partai PDI-P Pati yang saling tidak sependapat tersebut. “Itu sangat menarik dan menjadi bagian dari perkembangan politik yang dinamis. Namun, para elite politik yang tidak sependapat itu bisa muncul pertanyaan dari publik. Ada apa dengan PDI-P?” kata Hakim, singkat.

Editor : Kholistiono

Hadrah Az Zahra Donorojo jadi Jawara Festival Hadrah Jepara

hadrah

Salah satu peserta hadrah tampil di Festival Hadrah Jepara 2016. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Penampilan yang memukau dibalut dengan busana Islami nan menawan, kelompok hadrah Az Zahra Donorojo, mampu mengungguli 25 peserta di Festival Hadrah Jepara 2016. Sehingga, mereka berhasil meraih gelar juara pada festival tersebut.

Di bawah kelompok hadrah Az Zahra, disusul kelompok seni musik Islami rebana  dari SMA 1 Jepara sebagai runner up. Sementara untuk juara ketiga diraih kelompok hadrah Gandrung Rosul dari Ngabul.

Festival tersebut, merupakan kegiatan yang digelar oleh Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari ) bekerjasama dengan Pemkab Jepara dan Kemenag Jepara. Acara dilaksanakan dalam rangka semangat menyambut Tahun Baru Hijrah 1438 H.

Kegiatan festival yang baru pertama kali diselenggarakan ini diikuti 25 kelompok hadrah dari berbagai sekolah SMA/MA, Ponpes dan umum se-Kabupaten Jepara, dipusatkan di Pendapa Kabupaten Jepara.

Kabag Kesra Setda Jepara, Lukito Sudi Asmara mengatakan, diharapkan melalui kegiatan ini mampu menggerakkan seni Islami di Jepara. Di sisi lain juga sebagai sarana ukhuwah dan syiar Islamiyah di Kabupaten Jepara.

“Harapannya dengan semarak budaya Islami ini akan dapat menangkal budaya-budaya dari luar yang tidak sesuai dengan adat dan budaya Bangsa Indonesia,” kata Lukito, Jumat (30/9/2016).

Menurutnya, penting kiranya melakukan dan melestarikan tradisi yang Islami dan menjunjung tinggi budaya lokal. Sebab, saat ini budaya lokal maupun Islam tengah dikepung dengan budaya asing yang tidak Islami.

Adapun juara selengkapnya,  Juara I Az Zahra Donorojo, peringkat II SMA Negeri 1 Jepara, dan peringkat III Gandrung Rosul Ngabul. Sementara terbaik Vokal MA Darul Ulum Purwogondo,  Terbaik Aransemen Ponpes Arrosyidiyah Nalumsari dan Grup Favorit MI Masalikil Huda Tahunan.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Kudus Wacanakan Perda Kretek 

drpd-masan-e

Ketua DPRD Kudus Masan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Masan mengatakan, keberadaan kretek di Kudus harus dilindungi pemerintah. Hal itu, setidaknya dapat diwujudkan melalui perda yang membahas tentang kretek di Kudus

Hal itu disampaikan kepada MuriaNewsCom, Jumat (30/9/2016). Menurutnya, keberadaan kretek harus dilindungi. Agar kretek tidak akan tergerus dimakan zaman atau tergeser dengan kedatangan model yang baru.

“Apalagi kretek adalah produk asli Indonesia, selain itu juga Kudus juga dikenal sebagai Kota Kretek. Jadi sudah sewajarnya jika mempertahankan ikon tentang Kudus sendiri,” katanya.

Menurutnya, pengusulan perda jelas dari kalangan SKPD. Namun sebagai ketua dewan, dia berharap jika hal itu bisa sampai dibentuk perda. Tujuannya mengayomi tentang usaha kretek khususnya di Kudus.

Dia berharap usaha kretek tidak akan mati di Kudus. Karena, puluhan ribu warga Kudus juga mengantungkan nasib mereka dari pekerjaan sektor kretek. Sehingga, sudah menjadi tugas pemerintah jika harus mengayominya.

“Kami tidak ingin, jika sampai kretek hilang. Dampaknya akan sangat panjang, termasuk identitas Kudus yang kaya akan kretek,” ujarnya

Dia juga berharap sampai kapanpun kretek adalah Kudus. Sehingga diharapkan sampai anak cucu mendatang masih dapat menikmati Kudus Kota Kretek dan industrinya juga masih berjalan.

Sebelumya, perwakilan Djarum Kudus,  Purnomo Nugroho mengatakan, kalau banyak warga wilayah setempat bekerja di pabrik rokok. Dia yakin kalau pemerinntah bakal membantu menangani persoalan kretek yang terjadi.

Jumlah karyawan Sigaret Kretek Tangan (SKT) sekitar 55 ribu karyawan. Dalam produksi sehari, rata – rata mampu memproduksi sekitar 200 ribu batang rokok. Sistem yang digunakan, adalah sistem borong.

Editor : Akrom Hazami

Tugu Identitas Desa Wisata Kudus Bakal Buat Acara Wisata Jadi Semarak

Penampilan kesenian modern dari Desa Wisata Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, di ajang Jateng Fair 2016, yang membuat Kudus bisa meraih juara dalam keikutsertaannya itu. (Istimewa)

Penampilan kesenian modern dari Desa Wisata Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, di ajang Jateng Fair 2016, yang membuat Kudus bisa meraih juara dalam keikutsertaannya itu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus –Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus melakukan pengembangan terhadap belasan desa wisata yang ada.

Salah satu yang sedang dilakukan adalah dengan membangun empat tugu identitas, di empat desa wisata yang ada. ”Kita memiliki belasan desa wisata. Nah, dari sana kita pilih empat desa wisata yang kita kembangkan tahun ini. Sesuai dengan tujuan kita, supaya bisa membuat desa-desa wisata di Kudus ini menjadi lebih baik lagi,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata pada Disbudpar Kudus Dwi Yusi Sasepti.

Empat desa yang dipilih untuk dibangunkan tugu identitas adalah Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, dan Desa Terban, Kecamatan Jekulo.

Yusi mengatakan, empat desa yang dipilih itu, karena memiliki beberapa kekhasan tersendiri. Apalagi, desa-desa tersebut juga sudah dikenal selama ini. Baik oleh warga Kudus maupun warga dari daerah-daerah lainnya.

Empat tugu yang akan dibangun itu, akan disesuaikan dengan karakteristik atau identitas masing-masing. Untuk Desa Wisata Terban misalnya, akan dibangun di dekat Museum Patiayam. Di sana, akan dibuat dengan patung-patung gajah atau yang khas dengan Patiayam, yang selama ini dikenal sebagai situs purbakala.

”Nantinya akan kita pasangi lampu-lampu warna-warni. Sehingga kalau malam, akan tetap terang. Tujuannya agar malam hari juga masih bisa ada aktivitas di sana. Sehingga mereka yang tidak bisa dating pada pagi atau siang hari, bisa memanfaatkan malam hari untuk bersantai. Makanya, fungsi lampu-lampu juga akan kita maksimalkan,” tuturnya.

Sedangkan untuk Desa Wisata Jepang, juga akan dibuat tugu identitas dari bambu. Pasalnya, desa wisata itu identik dengan kerajinan dari bambu, yang sudah menjadi ciri khas dari Desa Wisata Jepang. ”Demikian juga dengan Desa Wisata Kaliwungu dan Wonosoco. Kita buat sesuai dengan identitas desanya masing-masing,” terang Yusi.

Kesenian silat dari Desa Wisata Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, saat beraksi di ajang Jateng Fair 2016, yang berhasil mendapatkan salah satu gelar juara. (Istimewa)

Kesenian silat dari Desa Wisata Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, saat beraksi di ajang Jateng Fair 2016, yang berhasil mendapatkan salah satu gelar juara. (Istimewa)

Menurut Yusi, pengembangan empat desa wisata itu, bertujuan agar ada banyak destinasi wisata di Kudus yang lantas bisa memberikan sesuatu yang khas. Apalagi untuk pengembangan wisata, tugu identitas ini diharapkan akan menarik banyak orang, untuk bisa datang.

”Kita sekarang ini harus up to date alias mengikuti situasi kepariwisataan yang baru. Banyak lokasi-lokasi wisata yang kemudian menjadi semakin terkenal karena uniknya, dan lantas diunggah ke media sosial banyak orang. Peran masyarakat inilah yang kemudian kita harapkan. Sehingga mereka bisa menjadi agen promosi kita,” paparnya.

Upaya pengembangan desa wisata di Kudus juga dilakukan dengan mengikutsertakan pelaku wisata di masing-masing desa, ke ajang-ajang yang diikuti Disbudpar. Contoh terakhir even yang diikuti adalah ajang Jateng Fair 2016, beberapa waktu lalu.

Dalam ajang itu, ditampilkan kesenian silat dari Desa Wisata Kaliwungu dan kesenian tongtek modern dari Desa Wisata Mejobo. Masing-masing menampilkan performa terbaik mereka di hadapan tim juri yang melakukan penilaian, dan masyarakat umum yang menonton pertunjukan tersebut.

”Kita mengikuti kegiatan itu, bersama dengan 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. Dan kita bersyukur karena apa yang kita tampilkan ternyata mendapat juara di sana. Sebelumnya juga ikut, tapi belum pernah juara. Namun tahun ini, Alhamdulillah kita bisa juara. Tahun depan kalau ada lagi, kita akan tampilkan yang lebih bagus lagi, sehingga akan bisa mendapat juara yang lebih bagus lagi,” tutur Yusi.

Yusi menambahkan bahwa ke depannya, pengembangan desa-desa wisata akan terus dilakukan. Ini karena semakin banyak desa wisata yang baik, akan semakin banyak potensi-potensi yang dimunculkan.

”Pada akhirnya, desa-desa wisata itu akan membuat banyak masyarakat bisa berdatangan ke sana. Dampaknya jelas, akan lebih meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat itu sendiri. Mereka akan semakin sejahtera. Ini adalah sebuah efek jangka panjang yang menguntungkan. Jika desanya sudah maju, maka akan membuat masyarakat juga terangkat dari segala bidang. Jadi, bantu kami dari pihak pemerintah, untuk terus bisa mengembangkan desa wisata,” imbuhnya. (News Ads)

Editor: Merie

 

Luar Biasa, Meski Diguyur Hujan, Puluhan Penyandang Difabel Tetap Semangat Bertanding

Peserta Peparkab Grobogan 2016 tetap bersemangat mengikuti pertandingan meski diguyur hujan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Peserta Peparkab Grobogan 2016 tetap bersemangat mengikuti pertandingan meski diguyur hujan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pelaksanaan Pekan Paralympic Kabupaten (Peparkab) 2016 hari terakhir, Jumat (30/09/2016) diwarnai guyuran hujan deras. Meski demikian, para peserta tetap bersemangat untuk meneruskan pertandingan.

Pada hari kedua ini, khusus dipertandingan cabor atletik yang dilangsungkan di Stadion Krida Bhakti Purwodadi. Ada tiga nomor yang dipertandingan, yakni lari 100 meter, tolak peluru dan lempar lembing.

Saat pertandingan lari dan lempar lembing, cuaca di atas Kota Purwodadi masih terlihat cerah. Namun, menjelang digelarnya lomba tolak peluru, hujan deras tiba-tiba turun.

Pihak panitia sebenarnya akan menghentikan pertandingan untuk sementara. Namun, para atlet justru menghendaki agar dilanjutkan. Mereka tidak masalah jika harus berlaga di bawah guyuran hujan.

“Saya salut dengan semangat rekan-rekan yang ikut dalam ajang Peparkab ini. Hal ini bisa dimaklumi karena baru sekali ini ada event Peparkab di Grobogan,” kata Ketua National Paralympic Committee (NPC) Grobogan Sunar.

Dalam ajang Peparkab ini, dipertandingkan lima cabang olahraga. Yakni, atletik, tenis meja, bulu tangkis, bola voli, dan catur. Untuk pertandingan selain atletik, sudah dilangsungkan pada hari pertama di GOR Simpang lima.

Kabid Olahraga Disporabudpar Grobogan Karsono mengaku salut dengan semangat para penyandang difabel dalam mengikuti Peparkab.“Saya salut dengan semangat atlet difabel ini. Secara keseluruhan kami dari penyelenggara merasa senang karena even ini berjalan lancar,” katanya.

Menurut Karsono, melalui ajang Peparkab nanti diharapkan bisa menghasilkan bibit handal di kalangan penyandang difabel. Di sisi lain, ajang ini bisa dipakai untuk untuk kemampuan dan menambah pengalaman atlet difabel yang ada di Grobogan.

Dia menambahkan, sejauh ini potensi atlet difabel di Grobogan cukup bagus. Indikasinya, ada satu atlet, yakni Siti Mahmudah yang menjadi duta Indonesia dalam ajang Paralimpiade di Brasil bulan September ini. “Kita harapkan, dari ajang Peparkab nanti ada atlet lagi yang bisa berkiprah ditingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Naik Angkot di Kudus, Ternyata Banyak Sekali Ceritanya, Lho

Sosialisasi Permenkeu Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Perbup Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Sosialisasi Permenkeu Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Perbup Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

MuriaNewsCom, Kudus – Naik angkutan umum yang berbeda itu, rasanya hanya bisa didapatkan di Kabupaten Kudus. Bukan saja akan bisa mengantarmu ke tujuan, namun ada banyak ceritanya juga, lho.

Tidak percaya? Tonton saja video angkot cukai yang dibuat oleh Bagian Humas Setda Kudus ini. Di angkutan itu, ada banyak perempuan-perempuan cantik, yang bercerita soal manfaat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Kabupaten Kudus.

Pastinya kamu akan senang melihat video ini. Video sosialisasi yang dibuat itu, memang berbeda. Sebagai bentuk sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, termasuk juga sosialisasi Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus, Bagian Humas mengemasnya dengan cara yang asyik.

Saat naik angkutan ini, ada banyak cerita bagaimana dana cukai itu digunakan demi kesejahteraan masyarakat. Untuk membuat masyarakat mendapatkan berbagai pelatihan, infrastruktur yang bagus, sampai urusan kesehatan juga diperhatikan.

Pokoknya, jika ingin menikmati angkutan yang beda, tonton saja video ini. Selain bisa sampai tujuan dengan selamat, juga banyak ilmu pengetahuan yang didapat. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

Kakek Ini Ditemukan Polisi Tergeletak di Pinggir Jalan, Sungguh Mengejutkan, Ternyata…

Kakek Taserun ditemukan polisi tergeletak di pinggir jalan (kiri). Kemudian polisi mengantar kakek ini hingga ke alamat, sesuai yang ada di KTP. (Dok. Humas Polres Rembang)

Kakek Taserun ditemukan polisi tergeletak di pinggir jalan (kiri). Kemudian polisi mengantar kakek ini hingga ke alamat, sesuai yang ada di KTP. (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Seorang kakek berumur 80 tahun bernama Taserun ditemukan terlantar di pinggir jalan raya, Desa Dresi, Kabupaten Rembang, Kamis (29/09/2016) malam sekitar pukul 20.30 WIB.

Taserun ditemukan dalam kondisi sakit terbaring di pinggir jalan oleh anggota Opsnal Sat Lantas Polres Rembang, Brigadir Moh Rivai yang sedang berpatroli.

“Anggota saya sedang patroli rutin dan menemukan kakek itu tergeletak di pinggir jalan. Setelah diperiksa, ternyata sakit dan kondisinya lemah,” kata Kapolres Rembang, AKBP Sugiarto.

Ketika menjumpai kakek tersebut tergeletak di pinggir jalan, kemudian Brigadir Moh Rivai menghubungi atasannya di Sat Lantas Polres Rembang agar kakek tersebut bisa segera ditangani.
Beberapa menit kemudian, datang Kanit Patroli, Iptu Joko Wuryatmo dan dua anggotanya, Bripka Safari dan Bripka Heri.

Kapolres mengatakan , dari penuturan kakek itu, awalnya dia menumpang ojek dari Desa Bapoh menuju ke Lasem Soditan. Namun, karena tidak memiliki biaya, kakek itu diturunkan di pinggir jalan oleh tukang ojek hingga akhirnya ditemukan oleh anggota patroli Polres Rembang.

“Saat ditanya oleh polisi, kakek itu menyebutkan satu alamat di Lasem Soditan.
Anggota Sat Lantas Polres Rembang yang tiba di lokasi pun langsung mengantar kakek itu ke alamat yang dimaksud,” ungkapnya.

Namun sesampainya di Lasem Soditan, rupanya tak ada warga satupun yang mengenal kakek itu.
Hingga akhirnya polisi berinisiatif membongkar barang bawaan Taserun dan menemukan kartu identitas.

Di kartu identitas itu tertera alamat Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Tanpa pikir panjang, anggota Sat Lantas Polres Rembang pun langsung mengantar kakek itu ke alamat yang tertera di kartu identitas.

Editor : Kholistiono

Miris, Ribuan Orang Bersih Kali Gelis, Warga Malah Asyik Menonton

Sejumlah orang dan alat berat membersihkan sungai di kawasan jembatan Ploso Jumat (30/9/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah orang dan alat berat membersihkan sungai di kawasan jembatan Ploso Jumat (30/9/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan orang yang membersihkan Kali Gelis, Kudus, pada Jumat (30/9/2016), ternyata tidak diikuti oleh warga dan pengguna jalan. Mereka lebih memilih melihat aktivitas bersih sungai ketimbang membantu.

Sekda Kudus Noor Yasin, yang ikut terlibat dalam aksi berharap besar adanya partisipasi masyarakat untuk andil membersihkan sungai. Bukan malah menonton. “Mudah-mudahan nanti ke depan lebih banyak warga yang mau ikut dalam kegiatan bersih-bersih sungai ini. Tidak seperti tadi, malah banyak yang menonton,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kegiatan semacam ini akan diagendakan secara rutin. Dengan demikian, upaya membersihkan sungai dari sampah akan terealisasi Tentunya, Dengan peran serta masyarakat sekitar. Dari hasil bersih sungai Gelis,banyak ditemukan adanya sampah rumah tangga. Hal itu terlihat dari banyaknya sampah yang terbungkus plastik pada tumpukan sampah yang terdapat di sepanjang aliran sungai.

“Ini cukup memprihatinkan, sebab kesadaran masyarakat yang masih kurang dengan membuang sampah ke sungai. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi demikian dan ikut serta menjaga lingkungan,” ujarnya.

Kegiatan semacam ini penting untuk hadapi musim hujan. Sebab, tumpukan sampah yang banyak, mampu menghambat aliran sungai. “Kami juga berharap kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan dilaksanakan lokasi lain. Kami sudah berkoordinasi dengan kades serta RT dan RW setempat,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Semangat Petinju Muhammad Ali Dicontoh Mahasiswa UMK

Dr. (HC.) Ary Ginanjar Agustian memotivasi ribuan mahasiswa UMK dalam training di Auditorium Kampus UMK. (Universitas Muria Kudus)

Dr. (HC.) Ary Ginanjar Agustian memotivasi ribuan mahasiswa UMK dalam training di Auditorium Kampus UMK. (Universitas Muria Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Penggagas konsep Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) sekaligus pendiri ESQ Leadership Center, Dr. (HC.) Ary Ginanjar Agustian memotivasi ribuan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), dalam kegiatan yang digelar di Auditorium Kampus UMK, Kamis (29/9/2016).

Training yang dibuka oleh Rektor UMK, Dr Suparnyo SH. MS dalam rangka memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai profesionalisme, dunia wirausaha, dan bagaimana  menjadi pribadi yang sukses, tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual.

Selain lebih dari dua ribu mahasiswa baru UMK, hadir dalam pembukaan trabing ESQ tersebut, antara lain Dr A. Hilal Madjdi M.Pd. (Wakil Rektor I), Drs. Hendy Hendro HS M.Si. (Wakil Rektor III), Drs. Muh Syafei M.Pd. (Walil Rektor IV), Zamhuri (Manajer Yayasan Pembina UMK), dan Rina Fiati ST. M.Cs. (kepala Lembaga Pendidikan/ Lemdik).

Rektor dalam sambutannya menyampaikan, bahwa mahasiswa selayaknya berbangga, karea Dr. HC. Ary Ginanjar Agustian berkenan hadir dan memberikan ceramah dalam pembukaan training ESQ di UMK di tengah-tengah kesibukannya. “Kalian harus bangga, karena Pak Ginanjar bisa hadir di tengah-tengah saudara,” katanya.

Dia menjelaskan, UMK sudah sejak lama menyelenggarakan training ESQ. “Training ESQ sudah dilakukan di UMK sekitar tahun 2007, yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Untuk mahasiswa, training ini diberikan sejak 2010,” paparnya.

Ary Ginanjar mengapresiasi UMK yang menggelar training ESQ bagi mahasiswanya. “Saya iri dengan mahasiswa UMK, karena semasa kuliah dulu, kampus Saya tidak pernah memberikan training seperti ini dan tidak memberitahu cara untuk sukses. Sementara di UMK dikenalkan dengan Gusjigang,” paparnya.

Dalam pandangannya, Gusjijang adalah ilmu yang luar biasa, yang ‘diwariskan’ oleh salah satu anggota Wali Songo: Sunan Kudus. ‘’Gusjigang tidak sekadar mendorong seseorang untuk cerdas dan berperilaku bagus (berkarakter) saja, tapi juga harus pandai berwirausaha (berdagang) dan mengaji (pandai dalam hal agama),” tuturnya.

Dia pun menekankan, bahwa ada hal-hal yang mesti dipahami seseorang jika ingin sukses, antara lain untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik. ‘’Kalau Anda kuliah di UMK hanya untuk dapat ijazah, itu biasa,’’ ungkapnya.

Untuk itu, mahasiswa UMK diharapkan memiliki motivasi atau dorongan di luar selembar iajzah atau gelar Sarjana. ‘’Mahasiswa UMK harus punya dorongan yang besar untuk merubah Indonesia. Dengan begitulah, kampus UMK bisa bersaing dan mengalahkan (prestasi) kampus-kampus lain,’’ paparnya.

Ary pun menyontohkan, petinju legendaris Muhammad Ali, bisa menjadi juara tinju dunia bukan hanya karena pukulan-pukulan dan kepiawaiannya bertarung di ring tinju. ‘’Ali dilahirkan sebagai warga kulit hitam, yang waktu itu dipandang sebagai warga kelas dua. Nah, dengan tinju Ali ingin agar warga kulit hitam sejajar dengan warga kulit putih. Dorongan inilah yang tidak banyak dilihat orang, sehingga Ali jadi juara tinju,’’ katanya.

Editor : Akrom Hazami

3.500 Orang Bersihkan Kali Gelis Kudus Sepanjang 8 Kilometer

Foto, 1, Sejumlah pelajar dan TNI serta kalangan masyarakatn lainnya membersihan sungai Gelis, Kudus, Jumat (30/9/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Foto, 1, Sejumlah pelajar dan TNI serta kalangan masyarakatn lainnya membersihan sungai Gelis, Kudus, Jumat (30/9/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar 3.500 orang, turun ke kali Gelis Kudus untuk membersihkannya, Jumat (30/9/2016). Ribuan orang tersebut, membersihkan sungai besar di Kudus sejauh 8 kilometer.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipkataru) Kudus Sumiyatun mengatakan, bersih-bersih dilakukan mulai bawah Jembatan Panjang, Bae dan menyusuri sungai hingga jembatan Kencing, Jati Wetan, Jati. Total panjangnya mencapai delapan kilometer.

“Kita khususkan pada daerah-daerah sekitar jembatan. Seperti jembatan sungai Gelis, jembatan Ploso dan jembatan Kencing. Sebab, pada sekitar jembatan lebih banyak tumpukan sampah,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pembersihan sungai sendiri dimulai sekitar puku 06.30 WIB hingga 09.00 WIB. Kegiatan itu, dilakukan guna membersihkan sungai, dan melancarkan aliran sungai memasuki musim hujan tahun ini.

Sedangfkan 3.500 yang membersihkan sungai berasal dari beberapa kalangan. Seperti pelajar,  SKPD, pemerintahan, pelajar, TNI Kodim Kudus serta beberapa kalangan masyarakat dan juga perusahaan. Bahkan tampak Kepala Kejaksaan Negeri Kudus dan  Ketua DPRD Kudus terlibat.

Dalam membersihkan sungai dari tumpukan sampah dan lumpur, juga dikerahkan alat berat untuk mempermudah pengerjaan. Selain itu, kendaraan sampah juga digunakan guna mengangkut sampah yang ada di bantaran sungai.

Sementara Komandan Kodim (Dandim) 0722 Kudus Letkol (CZi) Gunawan Yudha Kusuma. mengatakan kalau tentara yang ikut andil dalam kegiatan itu sejumlah 300 anggota. Jumlah tersebut dibagi dalam beberapa titik, yang tersebar di bantaran sungai Gelis. “Ini sebuah aksi, bukan hanya seremonial saja namun  langsung menjalankan.,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Begini Sikap Demokrat Tanggapi Pernyataan Tasiman yang Anggap Parpol di Pati Gagal Didik Kader

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pati Joni Kurnianto. Dia menanggapi statement Tasiman yang menganggap parpol gagal mendidik kadernya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pati Joni Kurnianto. Dia menanggapi statement Tasiman yang menganggap parpol gagal mendidik kadernya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pernyataan tokoh senior PDI Perjuangan, Tasiman yang menganggap partai politik di Pati gagal mendidik kader, menuai reaksi dari para petinggi parpol di Kabupaten Pati. Salah satunya, Partai Demokrat yang tidak terima bila kader parpol di Pati disebut tidak berkualitas.

“Delapan parpol mengusung Haryanto-Saiful Arifin itu bukan berarti parpol gagal dalam melakukan kaderisasi. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan parpol untuk menentukan koalisi. Tudingan itu tidak benar,” ujar Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pati, Joni Kurnianto, Jumat (30/09/2016).

Dalam mengusung pasangan calon, kata Joni, parpol mengakomodasi keinginan dan suara masyarakat di tingkat bawah. Bahkan, Demokrat sendiri sebetulnya memiliki banyak kader potensial yang siap dijadikan sebagai calon pemimpin pada Pilkada Pati 2017. Namun, siap saja dianggap tidak cukup bagi Demokrat.

Sebab, Demokrat memperhatikan tiga hal sebelum menentukan siapa yang bakal diusung, di antaranya elektabilitas, dana, dan jaringan yang baik. “Dalam survei yang kita lakukan, hanya Haryanto dan Saiful Arifin yang layak maju,” tutur Joni.

Dengan munculnya Haryanto-Arifin dalam survei, pihaknya mengaku tidak egois dan memaksakan diri untuk mengusung dari internal Demokrat. Pilihan dan keinginan masyarakat yang ingin incumbent maju harus dihargai. Karena itu, Demokrat mengusung Haryanto-Arifin sebagai bentuk upaya parpol untuk mendengarkan aspirasi masyarakat Pati. “Dalam demokrasi, daulat rakyat yang paling tinggi,” ucap Joni.

Sebelumnya, Tasiman secara blak-blakan menyebut tidak ada satu parpol di Pati yang berhasil menyelenggarakan pendidikan politik kepada kadernya. Kegagalan tersebut disebabkan tidak ada satu tokoh parpol pun yang diusung pada Pilkada 2017, sehingga kader disebut tidak ada yang layak untuk maju menjadi pemimpin.

Editor : Kholistiono

Krisis Moral dan Nasib Anak di Luar Nikah

terassupriyadi@gmail.com

Supriyadi terassupriyadi@gmail.com

PENGHAPUSAN Pendidikan Moral dan Pancasila di jenjang pendidikan sepertinya mulai terlihat dampaknya. Ini terlihat jelas dengan banyak persoalan yang berlatar belakang kurangnya moral. Terutama di kalangan muda-mudi yang membuat banyak orang ngurut dada karena banyak kasus anak perempuan yang hamil di luar nikah.

Di Jepara sendiri, selama bulan September 2016 ini, ada 90 kasus yang memohon dispensasi menikah dini ke Kantor Pengadilan Agama. Jumlah itu tentu membuat orang tercengan. Apalagi usia si anak kebanyakan berkisar antara 14 hingga 17 tahun.

Karena sudah berbadan dua, Pengadilan Agama Jepara pun tak mau mempersulit. Dispensasi pun diberikan dengan cuma-cuma. Mereka berdalih dasar hukum yang dipegang masih memperbolehkan dispensasi. Apapun itu, langkah menikah dini tersebut untuk menutupi aib keluarga yang bersangkutan. Diakui atau tidak, pihak keluarga pastinya malu jika sampai banyak orang yang tahu buah hatinya hamil duluan.

Namun ada juga yang bernasib nahas. Rabu (27/4/2016) lalu, warga Kudus digegerkan dengan temuan sesosok mayat bayi perempuan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo oleh seorang pemulung. Bayi yang diketahui berjenis kelamin perempuan tersebut kondisinya sangat mengenaskan.

Saat ditemukan, bayi tersebut dibungkus dengan celana dalam perempuan yang masih berlumur darah. Kemudian dibungkus lagi dengan kantong plastik berwarna putih, sebelum dibuang di tempat sampah.

Bayi malang tersebut juga ditemukan lengkap dengan ari-ari dan tali pusar plus plasenta di dalam plastik putih. Temuan itu seolah mendekte orang-orang di sekitar TPA untuk bersepekulasi bahwa bayi tersebut baru saja dilahirkan.

Polisi yang datang ke TKP menduga bayi tersebut sengaja dibuang orang tuanya karena tak diinginkan. Bahkan, muncul persepsi, bayi malang tersebut adalah hasil hubungan di luar nikah.

Setelah lima bulan, masyarakat Kudus kembali digegerkan dengan temuan bayi di jalan area persawahan dekat dengan pembuangan sampah di Desa Besitu, Kecamatan Gebog. Tepatnya, Minggu Pahing tanggal 24 September 2016. Bedanya, bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki dan masih hidup.

Namun kondisi sang bayi juga tak kalah memprihatinkan. Ia ditemukan masih bersimbah darah di dalam kantong plastik. Tubuhnya pun sudah membiru karena kekurangan asi dan sinar matahari.

Beruntung tangisan bayi tak berdosa itu didengar oleh Selamet Barokah (33) dan Wagirah (65) warga Desa Karangmalang, Gebog yang hendak memanen jagung di kawasan tersebut. Karena penasaran mereka pun mencari sumber suara hingga akhirnya menemukan bayi di dalam kantong plastik dan membawa bayi tersebut ke bidan setempat untuk mendapat perawatan.

Polisi yang datang ke lokasi pun langsung meminta keterangan dari saksi. Lagi-lagi, kesimpulan sementara, bayi tersebut sengaja dibuang orang tuanya karena hasil hubungan di luar nikah.

Berkaca dari kasus-kasus tersebut, sudah saatnya pemerintah bergerak tegas. Sebagai Ulil Amri mereka seharusnya mulai menjaga kehormatan generasi bangsa ini dengan aturan. Satu di antaranya, Kementerian Pendidikan harus lebih selektif memilih kurikulum pendidikan dan memasukkan pendidikan moral.

Selain penting untuk menjaga perilaku anak, itu tentu sesuai dengan slogan yang diusung pemerintah, yakni pendidikan karakter. Hanya saja, kementerian tak boleh kecolongan. Apalagi sampai ada bacaan yang mengandung unsur purnografi masuk dalam pelajaran.

Untuk mengantisipasi itu, kementerian harus memanfaatkan tangan panjang di tingkat kabupaten berupa Dinas Pendidikan. Jika diperlukan juga bisa ke tingkat kecamatan, yakni UPT Pendidikan.

Jika ada temuan konten bacaan ataupun soal pertanyaan yang berbau purnografi pemerintah bisa mudah untuk mencari penerbit dan penulis dengan cepat. Sebagai efek jera, pemerintah bisa menggodok undang-undang tentang purnografi yang disebar luaskan dalam buku ataupun bacan di instansi pendidikan dengan hukuman seberat-beratnya. Kalau perlu penjara seumur hidup.

Ini mengingat efek bacaan yang berkesinambungan (domino). Anak yang membaca buku berbau purnografi akan penasaran tentang kebenaran bacaan tersebut. Saking penasarannya, mereka tentu bakal mencari-cari kesempatan untuk mempraktikkannya.

Lama kelamaan, moral anak akan rusak. Mau tidak mau negara kembali yang kena getahnya. Di era mendatang mereka akan memiliki mental kurang ajar bahkan mlempem yang bisa diperbudak bangsa asing dengan iming-iming perempuan cantik atau laki-laki ganteng. Itu tentu sangat menyedihkan.

Selain kementerian pendidikan, pemerintah juga harus segera bergerak melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Konten-konten berbau purnografi kembali diperketat supaya tidak bisa diakses.

Diakui atau tidak, situs-situs purnografi sekarang ini sangat mudah diakses. Terlebih banyak akun di media sosial yang menawarkan video dengan kemolekan tubuh yang membuat mata jelalatan.

Sementara, pengguna media sosial saat ini sangat beragam, namun paling banyak berasal dari kalangan pelajar. Karena itu, pemerintah dan semua unsur informatika harus bisa lebih memperhatikan hal-hal kecil tersebut. Kalau perlu pemerintah menjalin kerja sama dengan para pemilik media sosial untuk menghapus akun yang mengandung unsur purnografi ketika ditemukan kata-kata jorok tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Meski begitu, kita akui aturan tersebut tak semudah membalikkan tangan. Kalaupun sudah ada payung hukum dengan hukuman berat belum tentu moral anak baik. Butuh peranserta banyak pihak. Terutama di lingkungan keluarga.

Sebagai orang tua, sudah seharusnya mengawasi buah hati lebih intens. Pemberian gadget kalau memang belum diperlukan jangan diberi. Hal itu guna membatasi anak untuk mengakses situs-situs yang salah.

Selain itu, orang tua juga wajib memberikan pemahaman tentang pergaulan bebas, narkoba, dan bahaya miras. Bahkan, membekali ilmu agama untuk menopang kehidupan di masa depan.

Hal itu tentu untuk menghindari hal-hal yag tak diinginkan. Terutama pergaulan yang mengakibatkan hamil di luar nikah. Secara islam anak yang dikandung di luar nikah menjadi anak dari seorang ibu. Praktis ketika menikah nanti (terutama anak perempuan) bakal terlihat jelas saat pernikahan. (*)

Mengenal Ngemblok, Tradisi Wanita Melamar Pria di Rembang

Edi Winarno, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang. Dirinya memaparkan bagaimana tradisi wanita melamar pria yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Edi Winarno, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang. Dirinya memaparkan bagaimana tradisi wanita melamar pria yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pada umumnya adat melamar dilakukan oleh pihak laki-laki. Namun ini berbeda dengan adat yang berada di Kabupaten Rembang, khususnya di wilayah pesisir bagian timur. Di sebagian wilayah ini. melamar dilakukan oleh pihak perempuan.

Tradisi peminangan atau melamar yang dilakukan pihak wanita ini disebut juga dengan ngemblok.Tradisi ngemblok ini sudah menjadi adat di wilayah pesisir timur Rembang yang sudah turun temurun sampai sekarang.

“Mungkin tradisi seperti ini ada juga di daerah lain, tapi memang sangat jarang. Biasanya ada di pesisir pantai dan itupun tidak semua. Begitupun juga dengan di Rembang juga ada tradisi wanita yang melamar pengantin pria. Namun itu juga tidak semua ada di Rembang, hanya sebagian wilayah di pesisir timur Rembang,” ujar Edi Winarno, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan sebuah gambaran jika laki-laki di wilayah ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki. Namun, hal ini adalah sebuah penghormatan terhadap laki-laki yang memiliki peran penting dalam keluarga.

Hal ini juga sebagai filosofi bahwa, laki-laki di bagian pesisir itu memiliki tanggung jawab yang besar dan pekerja keras serta tangguh. Mereka berani bertaruh nyawa sebagai nelayan yang menghadapi ombak, angina dan hujan di tengah lautan, demi untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Untuk prosesi pelamaran, katanya, biasanya pihak pengantin perempuan yang pertama menanyakan pada pihak pria. Dalam hal ini, pihak pihak perempuan membawa seserahan berupa sandang (pakaian) dan pangan (makanan).

“Tradisi ini sudah ada sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Namun demikian, untuk pelaksanaan tradisi ini, tidak mengabaikan syarat-syarat seperti dalam hukum Islam. Mempelai pria juga tetap memberikan mas kawin terhadap pengantin perempuan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Budi Daya Ikan Bandeng Berhasil Dilakukan di Jepara

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama instansi terkait melakukan penebarean benih di tambak ikan Desa Clering. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama instansi terkait melakukan penebarean benih di tambak ikan Desa Clering. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Kelompok Tani Tambak  “Marsudi Boga II” Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Jepara berhasil mengembangkan budi daya ikan bandeng. Beberapa kali melakukan panen, dan saat ini kembali melakukan penebaran benih ikan di tambak, Kamis (29/9/2016).

Camat Donorojo, Nuryanto mengatakan, kelompok tani itu memiliki lahan seluas 7 hektare (Ha). Secara keseluruhan luas tambak di wilayah Donorojo 30,5 Ha.  Dari jumlah itu, 17,5 Ha adalah tambak bandeng. Khusus di Kelompok Marsudi Boga II hasilnya tercatat 1,5 – 2 ton tiap Ha.

“Jika harga per kg saat ini sekitar  Rp 20 ribu, dalam waktu 4 bulan, mulai masa tebar bibit hingga panen petani mampu menghasilkan kotor Rp 40 juta. Selanjutnya dikurangi biaya persiapan lahan, bibit dan pakan sekitar Rp 20 sampai Rp 25 juta. Maka total penghasilan mencapai Rp 15 juta sampai 20 juta,” kata Nuryanto.

Menurutnya, keberhasilan kelompok Marsudi Boga Desa Clering, ini dapat menjadi contoh, motivasi, kegairahan dan kemandirian. Terutama kepada para nelayan, pembudidaya, petani maupun pelaku agrobisnis.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan, khusus dalam peningkatan produktivitas dan kualitas produk kelautan dan perikanan sektor budi daya, Pemkab Jepara melalui Dislutkan telah melaksanakan beberapa langkah startegis. Salah satunya menetapkan kawasan minapolitan yang meliputi Kecamatan Jepara, Kedung, Tahunan dan Mlonggo.

Hal ini juga akan dilakukan di Kecamatan Donorojo. Mengingat wilayah ini memilki potensi perikanan budi daya yang sangat melimpah. Dengan luasan potensi budi daya mencapi 103,3 Ha. Sementara total area tambak di Kabupaten Jepara sendiri mencapai 1.065 Ha. Yang tersebar mulai di Kecamatan Kedung, Tahunan, Jepara, Mlonggo, Karimunjawa dan Donorojo.

“Nilai perikanan budi daya air payau, baik  udang maupun bandeng ini sangat besar. Khusus untuk perikanan budi daya bandeng kita berhasil memproduksi 1.975.465 ton dengan nilai Rp. 39,06 M,” katanya.

Pihaknya optimistis, perikanan  ini akan berhasil dan tumbuh pesat manakala dikelola dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Selanjutnya jika potensi ini dapat dikelola secara berkesinambungan, tentunya akan memperluas potensi perikanan, kesempatan berusaha yang akhirnya membawa banyak perubahan bagi kesejahteraan masyarakat.

Editor : Akrom Hazami