Cerita Gus Mus Tentang Perjalanan Hidup Bersama Istrinya, Ibarat Mimi dan Mintuno

 Gus Mus menyalami tamu yang menghadiri acara doa bersama 40 hari wafatnya Nyai Siti Fatma (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Gus Mus menyalami tamu yang menghadiri acara doa bersama 40 hari wafatnya Nyai Siti Fatma (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCoom, Rembang – Pada acara doa bersama 40 hari wafatnya Siti Fatma, Kiai Musthofa Bisri (Gus Mus) bercerita sedikit mengenai kehidupannya bersama istrinya yang telah dijalani hampir setengah abad. Gus Mus mengibaratkan, dirinya dan istrinya mengarungi lika-liku kehidupan bersama, seperti Mimi dan Mintuno.

Mimi dan Mintuno sendiri dalam bahasa Jawa merupakan kiasan dari cinta sejati. Tak jarang, pada acara-acara pernikahan diselipkan pesan dan doa “Dadio koyo pasangan Mimi lan Mintuno (jadilah pasangan seperti Mimi dan Mintuno).”

“Saya menikah dengan ibunya anak-anak (Siti Fatma) dari bulan madu hingga meninggalnya beliau itu sudah 45 tahun lamanya. Ini merupakan waktu yang sangat berharga bagi saya, terlebih ketika melakukan dakwah ke berbagai daerah,” ungkap Gus Mus.

Ketika Gus Mus ceramah, katanya, Nyai Siti Fatma sering duduk paling depan. “Dia itu selalu memberi kode saya, bilamana ceramah saya kelamaan, maka yang akan mengingatkan itu ya ibunya anak-anak itu,” kenang Gus Mus.

Gus Mus, juga pernah bercerita tentang kehidupannya bersama istrinya yang ketika itu dua hari setelah ke-44 tahun pernikahan. Cerita itu ditulis dalam dinding facebooknya pada 21 September 2015. Berikut kutipan lengkap tulisan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini.

Kemarin, 19 September, 44 tahun yang lalu, aku menyatakan “Qabiltu nikahaha…”  ketika Kiai Abdullah Chafizh – Allahu yarham – mewakili Kiai Basyuni, mengijabkan putrinya, Siti Fatma, menjadi isteriku.

Sejak itu berdua kami mengarungi pahit-manis-gurih-getirnya kehidupan.

Selama itu –hingga kami dikaruniai 7 orang anak, 6 orang menantu, dan 13 orang cucu– seingatku, belum pernah aku mengucapkan kepada temanhidupku ini: “I love you”, “Aku cinta padamu”, “Anä bahebbik”, “Aku tresno awakmu”, atau kata-kata mesra sejenis.

Demikian pula sebaliknya; dia sama sekali belum pernah mengucapkan kepadaku kata rayuan semacam itu. Agaknya kami berdua mempunyai anggapan yang sama. Menganggap gerak mata dan gerak tubuh kami jauh lebih fasih mengungkapkan perasaan kami.

Selain itu kami pun jarang sekali berbicara ‘serius’ tentang diri kami. Seolah-olah memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara serius.

Apakah masing-masing kami atau antar kami tidak pernah ada masalah? Tentu saja masalah selalu ada.

Bahkan kami bertengkar, menurut istilah orang Jawa, sampai blenger. Tapi kami menyadari bahwa ‘masalah’ dan pertengkaraan itu merupakan kewajaran dalam hidup bersama dan terlalu sepele untuk diambil hati.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kurnia ini. Alhamdulillah ‘ala kulli hal..

Editor : Kholistiono