Sejumlah Pemuda di Rembang Rela Tak Dibayar Demi Selamatkan Anak-anak dari Tindak Kekerasan

 Anggota Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) sedang menggelar rapat koordinasi di Kantor LPAR di Kelurahan Leteh (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Anggota Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) sedang menggelar rapat koordinasi di Kantor LPAR di Kelurahan Leteh (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Meskipun Rembang sudah menyandang gelar sebagai kabupaten layak anak sejak tahun 2011, namun kekerasan terhadap anak masih rentan terjadi. Apalagi jika isu tersebut dianggap tanggungjawab pihak tertentu. Padahal, perlindungan anak merupakan tanggungjawab bersama.

Terkait hal itu, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) menginginkan adanya keselamatan anak-anak dari adanya tindak kekerasan ataupun pelecehan seksual, dan hal lainnya.

Divisi Penguatan Organisasi LPAR Syafi’ul Anam mengatakan, dalam hal ini, anggota yang tergabung dalam LPAR berupaya agar tidak muncul adanya kekerasan-kekerasan ataupun pelecehan terhadap anak di Kabupaten Rembang.

“Caranya dengan memberikan edukasi terhadap anak-anak maupun masyarakat umum. Seperti halnya melarang saling membuli, saling mencemooh atau lainnya. Sebab, hal-hal seperti itu bisa memicu adanya kekerasan,” ujarnya.

Bahkan menurutnya, dalam pergerakannya atau menjalankan kegiatan dalam upaya memberikan perlindungan terhadap anak tersebut, pihaknya rela untuk tak dibayar. “Ini memang sukarela, dan keberadaan kami juga diharapkan bisa memberikan support terhadap pemerintah dalam hal mewujudkan kota layak anak secara maksimal,” katanya.

Dia menambahkan, meskipum lembaga ini tidak ada anggaran dari instansi atau pemerintah, namun anggota LPAR akan selalu ikut membantu pemda dalam penyelengaraan perlindungan anak.”Terlebih, Pemda Rembang juga menginginkan kategori kabupaten layak anak bisa terus terwujud,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono