Mengharukan! Bocah Ini Harus Rela Pendam Cita-citanya jadi Polwan Karena Alami Kelumpuhan

Setiap hari, Suharti  harus mengantar dan menjemput Kiki dari sekolah dengan mendorongnya menggunakan kursi roda (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Setiap hari, Suharti harus mengantar dan menjemput Kiki dari sekolah dengan mendorongnya menggunakan kursi roda (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk sementara, Rahma Fariski (9), warga Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan harus memendam cita-citanya menjadi seorang polwan. Hal ini setelah siswa kelas V SDN 01 Getasrejo itu mendadak terserang kelumpuhan.

Musibah yang menimpa Kiki (nama panggilannya) itu berawal saat ia bermain di rumah saudaranya, hari Minggu, 8 Mei lalu. Saat itu, Kiki yang bermain balon dengan mengenakan sandal hak tinggi tiba-tiba terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. “Ketika itu, anak saya tidak merasakan keluhan apa-apa. Jadi kami tidak merasa khawatir,” cerita Basrun, ayah kandung Kiki.

Namun, selang empat hari setelah peristiwa itu, Kiki tiba-tiba merasa nyeri di bagian punggungnya ketika masih mengikuti pelajaran di sekolah. Lantaran tidak kuat menahan sakit, Kiki sempat menangis hingga akhirnya diantarkan pulang oleh gurunya.

Sesampai di rumah, Kiki merasakan mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kedua orang tuanya kemudian langsung membawanya ke RSUD dr. Raden Soedjati Purwodadi. Kiki pun langsung diperiksa dan dilakukan rontgen pada bagian yang sakit. Namun, hasil foto tersebut tidak bisa menunjukan gejala yang menjadi penyebab kelumpuhan.

Oleh pihak rumah sakit, Kiki disarankan dirujuk ke rumah sakit yang punya peralatan medis lebih lengkap. Kedua orang tua Kiki diberi pilihan rumah sakit di Solo dan Semarang. Namun, karena terbentur biaya, saran dari pihak RSUD itu belum dilakukan.

”Kalau biaya pengobatan, mungkin bisa diatasi, karena kami sudah punya BPJS. Kami bingung, untuk bisa dibawa ke sana. Seperti biaya transportasi dan lainnya. Kami berharap bantuan dari pemerintah, agar Kiki ini bisa sembuh dan mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang polwan,” lanjut Basrun yang bekerja sebagai buruh bangunan serabutan itu.

Akibat mengalami kelumpuhan tersebut, hampir seluruh aktivitas keseharian Kiki hanya dilakukan dengan tiduran dan duduk. Saat duduk, dia harus dijaga dengan pengaman di samping kanan-kirinya agar tidak terjatuh.

Meski mengalami kelumpuhan, Kiki sampai saat ini tetap sekolah. Setiap hari, Kiki diantarkan ke sekolah oleh ibunya Suharti yang mendorongnya di kursi roda.

Kursi roda ini merupakan hasil sumbangan berbagai pihak yang digalang oleh Komunitas Wisata Grobogan. Dengan kursi roda inilah Suharti mengantarkan anak keduanya ke sekolahan yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya.

Sementara itu, menurut guru kelasnya Aji Putra, Kiki merupakan siswa yang cukup pintar. Selama ini, dia mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Namun, Kiki memang sifatnya pendiam.

”Kami ikut prihatin dengan kondisinya saat ini. Semoga Kiki lekas diberikan kesembuhan agar bisa beraktifitas seperti teman lainnya. Selama ini, Kiki nilainya bagus-bagus,” katanya.

Editor : Kholistiono