Biar Tak Gegabah Gunakan Senpi, Ratusan Polisi di Grobogan Dites Psikologi

Kapolres AKBP Agusman Gurning memberikan pengarahan sebelum anggotanya mengikuti tes psikologi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kapolres AKBP Agusman Gurning memberikan pengarahan sebelum anggotanya mengikuti tes psikologi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan anggota Polres Grobogan mendapat pengarahan dari Kapolres AKBP Agusman Gurning, Jumat (29/7/2017). Pengarahan itu dilakukan kapolres sebelum anggotanya mengikuti tes psikologi yang dilangsungkan di Aula Stikes Annur Purwodadi.

Jumlah personel yang ikut tes sebanyak 145 orang. Mereka yang ikut tes khusus anggota yang selama ini dibekali dengan senjata api. Selain anggota yang bertugas di mapolres, pemegang senpi di jajaran polsek juga ikut dites. Pelaksanaan tes dilakukan oleh Bagian Sumber Daya Manusia (Sumda) Polres Grobogan bersama Bagian Psikologi Polda Jawa Tengah.

Agusman Gurning menyatakan, pemeriksaan atau tes psikologi merupakan prosedur tetap (protap) kepada anggota yang saat ini memengang senjata api. Selain itu, tes ini juga menjadi sebuah syarat utama yang harus dilalui sebelum petugas mendapatkan izin resmi.

“Tes psikologi itu sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi penyalahgunaan senjata api saat bertugas. Bagi yang tidak lulus tes maka kita tidak akan segan untuk menarik senjata dari tangan anggota pemegang senpi tersebut,” tegasnya.

Tes psikologi sebagai kontrol dalam mengetahui layak atau tidak seorang anggota Polri memegang senjata api. Sebab, tidak semua anggota yang sudah mengikuti tes psikologi dan lulus berhak memegang senjata api. Sebab, masih ada penilaian terhadap mental kepribadian dan emosi sehari-hari.

Menurut Agusman, dalam Peraturan Kapolri Nomor 4 Tahun 2007, anggota Polri yang memegang senjata api, sesuai dengan hasil psikotes harus memiliki beberapa kriteria. Yakni, penyesuaian dan penguasaan diri, pengendalian emosi, serta daya tahan pikiran, dan stres atau kematangan mental.

“Diharapkan dengan kriteria itu, anggota Polri yang memegang senjata api dapat mengontrol emosi, sehingga tidak cepat mengambil keputusan menggunakannya. Sebab senjata api merupakan pendukung tugas, bukan untuk gagah-gagahan dan menakut-nakuti masyarakat,” sambungnya.

Editor : Kholistiono