Koperasi Padurenan Jaya jadi Rujukan Program One Village One Product di Jateng

Di KSU Padurenan Jaya menyediakan bahan baku konveksi untuk para pelaku UMKM di Desa Padurenan dan sekitarnya. Banyak keuntungan menjadi anggota koperasi ini. (MuriaNewsCom/Sundoyo Hardi)

Di KSU Padurenan Jaya menyediakan bahan baku konveksi untuk para pelaku UMKM di Desa Padurenan dan sekitarnya. Banyak keuntungan menjadi anggota koperasi ini. (MuriaNewsCom/Sundoyo Hardi)

MuriaNewsCom, Kudus – Program One Village One Product (OVOP) yang dijalankan di Koperasi Serba Usaha Paduranan Jaya, Kecamatan Gebog menuai banyak pujian. Program yang bertujuan untuk pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas produk-produk pelaku usaha di wilayah Padurenan dan sekitarnya.

KSU Padurenan Jaya menerapkan program OVOP untuk bidang bordir dan konveksi sejak tahun 2012 lalu. Sebab, dua bidang usaha inilah yang bisa dikatakan sebagai nafas perekonomian warga Desa Padurenan. Di desa yang terletak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Kudus ini, terdapat ratusan pelaku usaha bidang konveksi.

”Dalam perkembangannya, setelah mendapat berbagai kemudahan dan bantuan dari banyak pihak, KSU Padurenan Jaya berkembang dari sisi omzet,” kata Hadi Sucipto, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Mikro Kecil Menengah Kabupaten Kudus melalui Kabid Koperasi Adi Sumarno.

Dia mencontohkan, pada tahun 2011 lalu, koperasi ini memiliki aset sebesar 678,9 ratus juta rupiah. Sedangkan di tahun 2014, omzet meningkat menjadi Rp 2,225 miliar. Dengan kata lain, selama empat tahun telah terjadi peningkatan omzet sebesar 30,5 persen. Untuk sisi aset, dari 2011 dengan nilai Rp 909 juta, pada 2014 telah berkembang menjadi Rp 1,7 miliar.

Saat ini, omzet rata-rata pengusaha bordir di Desa Padurenan mulai Rp 3 juta per bulan. Data itu ditunjang dengan jumlah tenaga kerja hanya enam orang dan mengerjakan kain kebaya serta mukena. Sedangkan, kisaran tertinggi nilai produksi ada yang mencapai Rp 150 juta per bulan, dengan jumlah tenaga kerja 15 orang.

”Bagi pengusaha yang memiliki omzet rendah, mereka hanya memasarkan produknya di lokal Jawa Tengah. Sedangkan yang memiliki jangkauan hingga pasar nasional, mampu membukukan omzet besar dan tenaga kerja banyak,” lanjut dia.

Dari pendataan selama 2015 lalu, di Padurenan terdapat 114 unit usaha bordir dengan tenaga kerja yang terserap rata-rata lima orang. Sehingga, jumlah keseluruhan tenaga kerja yang terserap di bidang bordir ini mencapai 570 warga. Di samping berasal dari wilayah Padurenan, banyak tenaga kerja yang berasal dari desa-desa lain di sekitarnya.

Melihat potensi yang sangat besar dari pasar konveksi dan bordir mulai lingkup kabupaten hingga ekspor, maka Pemkab Kudus tidak tinggal diam. Melalui Disperinkop dan UMKM, Bupati Kudus H Musthofa meminta agar instansi terkait memberikan kemudahan dalam mengembangkan peran organisasi formal yang menaungi UKM, yakni koperasi. Hingga akhirnya, KSU Padurenan Jaya mampu menjadi koperasi yang maju seperti sekarang ini.

Pada awal berdirinya, koperasi ini mengutamakan kebutuhan modal kerja bagi anggotanya. Seiring berkembangnya koperasi, maka KSU Padurenan Jaya memiliki kegiatan usaha antara lain simpan pinjam, persewaan alat bordir komputer, dan penyediaan bahan baku bagi anggota.

”Tidak hanya anggota yang menggunakan jasa dari KSU Padurenan Jaya. Tetapi, pengusaha bordir dan konveksi yang tidak tercatat sebagai anggota diperbolehkan membeli bahan baku dan memanfaatkan jasa mesin tersebut dengan sistem sewa,” imbuhnya.

Terpisah, Sekretaris KSU Padurenan Jatya Achsanudin Ismanto menjelaskan, banyak manfaat diperoleh pelaku UMKM yang menjadi anggota koperasi. Salah satunya, kemudahan mendapatkan bahan baku untuk memenuhi permintaan pasar. Selain lebih mudah, KSU Padurenan Jaya juga menjual bahan baku konveksi kepada anggotanya dengan harga terjangkau.

Di KSU Padurenan Jaya terdapat beberapa divisi untuk memudahkan dan memaksimalkan layanan kepada anggota. Mulai dari Divisi Toko yang menyediakan bahan baku, Divisi Jasa Bordir, Divisi Pemasaran Produk, Divisi Riset dan Development, sera Divisi Washing Denim.

”Kami melayan jasa bordir komputer dengan kualitas dan harga bersaing. Serta, pelayanan yang efektif dan efisien. Selain itu, juga ditunjang dengan mesin berkualitas dan tenaga ahli di bidangnya masing-masing,” ucap Achsanudin.

Sedangkan Divisi Riset dan Development bertugas mengembangkan desain produk dan kualitas. KSU Padurenan Jaya juga memfasilitasi anggota dengan berbagai pelatihan, studi banding, diskusi antaranggota. Sehingga, anggota memiliki kapabilitas dan kualitas SDM yang berdaya saing.”Divisi Washing Denim merupakan upaya peningkatan kualitas ekspor. Divisi ini antara lain meliputi pencucian kain denim dan soft denim,” terang dia.

Editor : Kholistiono