Pegunungan Kendeng Harus Dilindungi

Suasana seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suasana seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) meminta agar Presiden Jokowi mengeluarkan moratorium aktivitas penambangan di pulau Jawa. Terutama sekali di kawasan Pegunungan Kendeng.

Hal itu disampaikan aktivis JMPPK Gunretno saat menjadi pembicara seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). Acara seminar ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Lingkungan Grobogan.

“Kami dari JMPPK akan meminta Bapak Presiden Jokowi mengeluarkan moratorium penambangan di Jawa. Alasannya, aktivitas penambangan akan berdampak pada lingkungan yang saat ini sudah semakin padat penduduknya,” kata Gunretno yang menyampaikan materi dengan Bahasa Jawa itu.

Untuk wilayah Pegunungan Kendeng juga harus dijauhkan dari upaya penambangan. Sebab, wilayah itu merupakan kawasan karst harus dipertahankan sebagai kawasan konservasi, bukan untuk usaha pertambangan.

Selain itu, berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan adanya tata air yang berada di batas kawasan karst. Yang mana, mata air yang sangat penting bagi kelangsungan hidup warga setempat dan pertanian.

Tokoh masyarakat Samin Sedulur Sikep itu menyadari, untuk merealisasikan terbitnya moratorium itu bukan urusan gampang. Perlu kerjasama dari banyak pihak. Khususnya, masyarakat di kawasan Pegunungan Kendeng agar bisa bersatu.

“Kami akan terus berupaya untuk bisa membebaskan pegunungan Kendengan dari segala aktivitas penambangan yang berpotensi merusak lingkungan. Khususnya, keberadaan mata air. Kalau masyarakat bisa bersatu maka upaya moratorium ini akan lebih mudah,” paparnya.

Sementara itu, pembicara lainnya, Eko Teguh Paripurno menyatakan, di kawasan karst Pegunungan Kendeng ada jejak karst dalam bentuk ponor, gua dan mata air. Terdapat 33 mata air di wilayah Grobogan, dan 79 mata air di wilayah Pati dengan debit relatif konstan.

“Mata air ini, menjadi sumber air bagi ribuan keluarga, ribuan hektare sawah serta aneka binatang dan tumbuhan. Jika ada perusakan ekosistem maka bisa berdampak bencana banjir dan kekeringan bagi kawasan tersebut,” kata dosen Teknik Geologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta itu.

Editor : Akrom Hazami