Guru Sulit Berkembang di Grobogan, Ini Kendalanya

Kegiatan acara Konsultasi Publik PKB di salah satu rumah makan di Toroh yang digelar Usaid Prioritas Jawa Tengah, Jumat (8/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kegiatan acara Konsultasi Publik PKB di salah satu rumah makan di Toroh yang digelar Usaid Prioritas Jawa Tengah, Jumat (8/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya peningkatan kualitas guru di Grobogan melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) belum bisa dilakukan maksimal. Salah satu kendalanya adalah kurangnya dana untuk melangsungkan PKB.

Hal itu terungkap dalam acara Konsultasi Publik PKB di salah satu rumah makan di Toroh yang digelar Usaid Prioritas Jawa Tengah, Jumat (8/4/2016).

“Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) kendala dana memang jadi salah satu penyebab. Jumlah guru kita ada 12 ribu lebih. Sementara alokasi dana untuk PKB sekitar Rp 640 juta dari pusat per tahun. Dengan dana sebesar ini, hanya sekitar 600 orang saja yang bisa terakomodasi melalui PKB,” ungkap Kasi Sumber Daya Manusia Dinas Pendidikan Grobogan Sunardi.

Acara konsultasi publik juga dihadiri sejumlah guru SD/SMP dan kepala sekolah. Selain itu, hadir pula dari perwakilan Bappeda dan DPPKAD Grobogan.

Menurutnya, ada beberapa tujuan dilaksanakannya PKB bagi para guru tersebut. Antara lain, untuk meningkatkan layanan pendidikan di sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Melalui PKB, guru diharapkan selalu meningkatkan kompetensinya. Baik dalam penguasaan materi pembelajaran maupun metode yang tepat pada saat melakukan pembelajaran. Sehingga peserta didik memahami, menyenangi, berperan aktif dalam pembelajaran.

Jika pelayanan terhadap peserta didik dapat dioptimalkan, maka diharapkan proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

“Selain itu, PKB ini bertujuan untuk memfasilitasi guru dalam mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Dengan PKB akan memotivasi guru untuk tetap memiliki komitmen melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional. Kemudian, lewat kegiatan PKB bisa mengangkat citra, harkat, dan martabat profesi guru, rasa hormat dan kebanggaan sebagai guru yang professional,” jelasnya.

Lebih lanjut Sunardi menjelaskan, ada beberapa jenis PKB bagi guru tersebut. Yakni,
berupa pengembangan diri guna meningkatkan kemampuan kompetensi guru. Caranya bisa melalui diklat fungsional, workshop-workshop pendidikan, seminar tentang kependidikan, dan mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya, serta melakukan kegiatan kolektif guru lainnya.

Jenis PKB kedua adalah melalui publikasi Ilmiah. Yakni, dengan menyusun karya ilmiah dan mempublikasikannya pada forum ilmiah.

Kemudian, PKB juga bisa dilakukan melalui karya inovatif. Seperti, menemukan teknologi tepat guna dan membuat atau memodifikasi alat pelajaran dan alat peraga yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.

Sementara itu, perwakilan Usaid Prioritas Jawa Tengah Hari Riyadi menyatakan, untuk meningkatkan kualitas guru pihaknya siap menjadi mitra dengan memberikan beberapa fasilitas. Seperti, membantu penyusunan dan membiayai bimbingan perencanaan teknis dalam melaksanakan PKB.

“Salah satu bentuk upaya yang kita lakukan adalah membuat acara konsultasi publik ini. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendapatkan masukan dari banyak stake holder,” katanya.

Editor : Akrom Hazami