Pri GS: Kita Rindu Kiai Kharismatik

upload jam 1830 qudsiyah (e)

Tiga orang pembicara yang hadir dalam acara bedah buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus), yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Madrasah Qudsiyyah, Sabtu (2/4/2016) (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sosok kiai, terutama kiai sepuh yang kharismatik, rupanya bisa membuat seseorang makin mencintai kearifan lama.

Hal itu disampaikan budayawan Prie GS, yang hadir sebagai pembicara dalam bedah buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus), yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus, di @hom Hotel, Sabtu (2/4/2016).

Prie mengatakan ada banyak contoh dari para kiai sepuh di Kudus, yang mampu membuat semua orang menghargai kearifan lokal.

“Contoh saja bagaimana romantisme para kiai itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sangat luar bagaimana memperlakukan mulai dari keluarga sampai warganya dengan luar biasa. Itu yang perlu kita contoh,” jelasnya.

Melacak sejarah guru-guru besar dalam hal ini para kiai, menurut Prie, dapat menyembuhkan diri kitab dari hal-hal negatif.

“Ajaran kiai-kiai sepuh itu mampu membuat kita kembali, kepada kearifan lama yang sangat bagus,” katanya.

Dan Prie menegaskan bahwa pesantren,  adalah benteng terakhir dalam melawan penjajahan yang semakin hari semakin banyak yang muncul.

“Penjajahan itu masuk semakin sering dan banyak. Baik lewat lidah, tata ruang dan lain sebagainya. Contoh ruko-ruko yang banyak dibangun sekarang. Itu penjajahan. Dan tidak perlu orang pintar untuk membuat ruko. Wong, cuma kotak-kotak begitu. Tidak ada estetika,” paparnya.

Membicarakan pesantren, menurut Prie, adalah membicarakan persoalan kultural. Dan persoalan kultural adalah yang paling dirindukan saat ini.”Dan kita memang sangat rindu untuk berbicara, berdiskusi, dan memiliki hal-hal kultural itu,” imbuhnya.

Editor: Merie