Pabrik Pengolahan Ikan di Jalan Pati-Juwana Keluarkan Bau Busuk, Pemkab Pati Geram

Salah satu pabrik pengolahan ikan di Jalan Pati-Juwana yang mengeluarkan bau busuk menyengat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Salah satu pabrik pengolahan ikan di Jalan Pati-Juwana yang mengeluarkan bau busuk menyengat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dua pabrik pengolahan ikan di Jalan Pati-Juwana, Desa Purworejo, Kecamatan Pati mengeluarkan bau busuk hingga menyengat di sekitar pabrik. Kondisi itu sudah lama dikeluhkan masyarakat.

Masalah itu juga mendapatkan sorotan dari pemkab Pati dengan mendesaknya untuk segera mengimpor alat peredam bau. Bila tidak, pemkab akan mengambil langkah yang tegas karena sudah lama dikeluhkan masyarakat.

“Selama ini, kami sebetulnya sudah melakukan pembinaan. Tapi, deodorizer sebagai alat penangkap bau busuk belum mampu mengendalikan bau menyengat itu. Kami memang mendesak agar perusahaan segera mengimpor alat penangkap bau yang bisa mengendalikan bau itu supaya tidak mengganggu masyarakat,” ujar Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pati Purwadi kepada MuriaNewsCom.

Bahkan, pihaknya memberikan batas waktu bagi perusahaan untuk segera mengimpor alat penangkap bau paling lama tiga bulan. “Kami juga sudah melakukan pantauan. Kami beberapa kali melakukan kunjungan ke sana untuk mendesak penyempurnaan sarana dan prasarana,” imbuhnya.

Ia mengatakan, pihak pabrik sebetulnya sudah memenuhi kewajiban sesuai yang tertuang dalam Upaya Kelola Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL) sebagai dokumen pengelolaan lingkungan hidup dengan menggunakan alat penangkap bau busuk pengolahan ikan. Namun, implementasinya acapkali tidak sesuai dengan rencana yang sudah dituangkan dalam prosedur UKL-UPL.

“Teknologi penangkap alat bau yang digunakan pihak pabrik belum berfungsi maksimal, masih ada yang bocor sehingga muncul bau busuk yang menyengat. Kami akan terus mendesak supaya pabrik segera menyempurnakan alat penangkap bau agar tidak dikeluhkan masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

“Sahabat Pintar” Bakal Wakili Kudus pada Lomba Perpustakaan Tingkat Jateng

Kepala Desa Margorejo Akhmad Baskoro menunjukan Perpustakaan Sahabat Pintar.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala Desa Margorejo Akhmad Baskoro menunjukan Perpustakaan Sahabat Pintar.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perpustakaan milik Pemerintah Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kudus, yakni Sahabat Pintar, bakal mewakili Kudus dalam lomba perlombaan perpustakaan tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Perpustakaan ini, dinilai layakuntuk mengikuti perlombaan tersebut, lantaran berbagai fasilitas yang ada di tempat tersebut.

Kepala Desa Margorejo Akhmad Baskoro mengutarakan, untuk mengikuti lomba perpustakaan ini, terlebihdahulu pihaknya harus mengisi kuisioner yangsudah disediakan Kantor Perpustakaan Provinsi Jateng melalui kantorPerpustakaan Daerah Kudus.

“Pengisian kuisioner itu sudah di tahun 2013 lalu.Dan alhamdulilah kita bisa lolos mengikuti lomba itu, yang akan dilaksanakan sekitar bulan Juni2016 mendatng,” paparnya.

Dia katakan, untuk bisa mengikuti perlombaan perpustakaan tingkat Jateng tersebut tidaklah mudah, karena melalui beberapa penilaian.

Menurutnya, perpustakaan yang ada diRT 1 RW 7 Magorejo tersebut pernah menyabet juara satu lomba perpustakaan tingkat kabupaten pada tahun 2010 silam.

“Meski berdirinya di tahun 2007, selang 3 tahun kemudian tepatnya ditahun 2010, kita mendapatkan juara satu Tingkat Kabupaten Kudus. Selain itu,fasilitas untuk saat ini ada sekitar 5 ribu buku baik dari umum maupunyang lain, tempat baca, sistem komputerisasi dan sebagainya. Tahun ini, kita akan maju ke tingkat Jawa Tengah,”tuturnya.

Dia berharapa, pada perlombaan nanti bisa meraih juara. Sehingga, masyarakat Margorejo juga bisa bangga dan bisa menjadi pemicu pembagunan mental, pendidikan dan pengetahun di desa tersebut.

Editor : Kholistiono

Resmikan Klinik Bersalin, Bupati Grobogan Prihatin Soal Angka Kematian

resmikan-klinik-bersalin

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menyampaikan sambutan dalam peresmian klinik rawat inap dan bersalin swasta (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni merasa prihatin dengan masih tingginya angka kematian bayi lahir dan ibu melahirkan. Hal itu disampaikan Sri, saat meresmikan Klinik Pratama Rawat Inap dan Bersalin “Luqi Medika” di Kampung Jengglong Barat Purwodadi, Kamis (31/3/2016).

“Seperti kita ketahui, angka kematian bayi lahir dan ibu melahirkan di Grobogan ini paling tinggi di Jawa Tengah. Ini merupakan sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan,” katanya.

Terkait dengan realita itu, Sri meminta harus segera dilakukan berbagai upaya untuk menekan angka kematian tersebut. Untuk itu perlu kerjasama dan koordinasi dengan berbagai komponen masyarakat.

Dalam kesempatan itu, sri mengapresiasi pendirian klinik yang dilakukan oleh pihak swasta. Sebab, keberadaan klinik itu secara tidak langsung akan bisa mempermudah warga untuk mendapatkan layanan kesehatan.

“Selain rumah sakit dan puskesmas, kita juga punya dua klinik milik pemerintah. Sementara jumlah klinik swasta sudah ada 26 tempat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Klinik Indonesia (Asklin) Grobogan Ahmadun Alfaputra menambahkan, sampai saat ini sudah ada 53 orang yang mengajukan pendirian klinik. Dari jumlah ini, sudah 26 klinik yang dapat izin. Sementara lainnya masih dalam proses.

Editor : Kholistiono

Pancaroba Mengintai, Petani di Banyuurip Pati Siapkan Green House untuk Selamatkan Bibit Tanaman

Sudarmi (kiri) dan Ratna melihat kondisi bibit cabai yang ia tanam di rumah hijau. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sudarmi (kiri) dan Ratna melihat kondisi bibit cabai yang ia tanam di rumah hijau. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Memasuki April, peralihan musim dari musim hujan menuju kemarau tampaknya sudah mengintai dengan kadar intensitas hujan yang mulai minim. Untuk mengantisipasi hal itu, sejumlah kelompok tani wanita (KWT) Berkah Lumintu Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo menyiapkan “green house” untuk menyelamatkan bibit-bibit tanaman.

“Dengan green house, kondisi cuaca, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya bisa dikendalikan. Meski ada peralihan musim yang berpotensi menyebabkan perubahan cuaca, kita sudah bisa melakukan antisipasi,” ujar Ketua KWT Berkah Lumintu, Sudarmi kepada MuriaNewsCom, Kamis (31/3/2016).

Ia menilai, bibit-bibit tanaman yang disiapkan untuk ditanam seperti cabai, sawi, dan beragam sayuran lainnya bisa saja mati dengan mudah lantaran cuaca tidak mendukung. Namun, ia saat ini tak lagi khawatir karena sudah menyiapkan green house.

Baca juga : Petani Wanita Desa Banyuurip Pati Ciptakan Rumah Kaca dari Bambu dan Plastik

“Perubahan suhu dan kelembaban yang fluktuatif memang memengaruhi kondisi bibit tanaman. Belum lagi, tiupan angin kencang berpotensi merobohkan tanaman, merusak daun, dan menggagalkan proses penyerbukan bunga. Kekhawatiran itu akhirnya membuat kita sepakat untuk membuat rumah hijau dari kerangka bambu dan penutup dari plastik,” imbuhnya.

Sementara itu, Sri Ratnawati yang juga bergiat di KWT Berkah Lumintu mengatakan, daerah Banyuurip dikenal sebagai daerah perbukitan yang subur dan kaya akan ragam tanaman. Beberapa kali tanaman rambutan miliknya diserang hama seperti jamur dan bakteri.

Hal itu juga menginspirasi Ratna untuk ikut membuat green house. “Rumah hijau ini juga untuk mengantisipasi adanya hama pengganggu dan penyakit tanaman lainnya seperti jamur dan bakteri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Nasib Pungkruk Jepara Hingga Kini Belum Jelas

Salah seorang warga mencari sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan diantara puing-puing reruntuhan bangunan di Pungkruk, Kamis (31/3/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Salah seorang warga mencari sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan diantara puing-puing reruntuhan bangunan di Pungkruk, Kamis (31/3/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara– Eksekusi pembongkaran tempat karaoke dan sejumlah bangunan lain di kawasan Pungkruk telah dilakukan pada Oktober 2015 lalu. Sebelum eksekusi dilakukan, Pemkab Jepara menjanjikan di awal tahun 2016 dilakukan pembangunan untuk kawasan kuliner. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dimulainya pembangunan tersebut.

Hal itu seperti yang terlihat dari pantauan MuriaNewsCom, Kamis (31/3/2016). Lokasi yang dulu dibongkar dengan menggunakan sejumlah alat berat itu, kini kondisinya masih tak jauh beda dengan kondisi sehari pascaeksekusi. Puing-puing reruntuhan bangunan tempat karaoke maupun bangunan lainnya masih memenuhi semua sudut yang dulunya jadi tempat hiburan malam.

Hanya ada segelintir bangunan yang masih berdiri, seperti tempat ibadah dan lapak pedagang yang terlihat belum lama dibangun sebagai warung kecil. Sisanya sudah runtuh dan belum Nampak tanda-tanda akan dibangun dan disulap menjadi pusat wisata kuliner seperti yang dijanjikan pemkab setempat.

Keberadaan puing-puing dan reruntuhan bangunan hasil eksekusi itu, juga dimanfaatkan segelintir orang untuk mencari barang yang masih dapat dimanfaatkan. Itu terlihat tidak hanya sesaat usai eksekusi, namun sampai saat ini juga masih ada yang mencari sesuatu yang bisa dimanfaatkan dari puing-puing tersebut.

“Sejak dibongkar tahun lalu, kondisinya masih sama. Tidak ada perubahan yang signifikan. Ya masih seperti ini saja, memang hanya ada puing-puing bangunan yang belum dibersihkan,” ujar salah seorang warga yang kerap melintas di kawasan tersebut, Solihul Huda kepada MuriaNewsCom, Kamis (31/3/2016).

Menurutnya, seharusnya pemerintah lebih cepat melakukan pembangunan di Pungkruk. Sebab, proses seksekusi pembongkaran dilakukan sudah cukup lama. Padahal, Pungkruk telah dideklarasikan menjadi pusat wisata kuliner sejak lama. Namun kini justru yang terlihat hanyalah puing-puing bangunan saja.

Editor : Kholistiono

Petani Wanita Desa Banyuurip Pati Ciptakan Rumah Kaca dari Bambu dan Plastik

Petani

Sudarmi (kanan) dan teman kelompok wanita tani tengah melihat kondisi bibit di dalam green house bambu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Keterbatasan dana tidak lantas membuat sejumlah kelompok tani wanita (KWT) Berkah Lumintu di Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo, Pati terbatas dalam mengembangkan budidaya tanaman. Keterbatasan itulah justru dimanfaatkan untuk membuat suatu terobosan yang inovatif.

Salah satu karya yang dibuat, antara lain rumah kaca atau yang akrab didengar “green house”. Rumah ini dibuat untuk mengantisipasi kemungkinan buruk dari bibit-bibit yang ditanam akibat cuaca.

Berhubung tidak ada dana untuk membuat green house seperti yang diterapkan di dunia pertanian modern dalam skala besar, mereka akhirnya memanfaatkan bambu dan plastik untuk disulap menjadi rumah kaca. Bentuknya pun menarik dan tak kalah dengan green house pada umumnya.

Ketua KWT Banyuurip Sudarmi kepada MuriaNewsCom mengatakan, green house digunakan untuk sarana pembibitan ragam tanaman, sekaligus tempat karantina tanaman. “Dananya minim. Jadi, kita manfaatkan yang ada, seperti bambu dan plastik,” ujarnya, Kamis (31/3/2016).

Ia mengatakan, bambu dan plastik memang tidak bisa bertahan lama seperti bahan tembus cahaya lainnya seperti kaca, achrilic, dan sejenisnya. Namun, kedua bahan itu cukup bisa diandalkan untuk melakukan karantina tanaman-tanaman selama tiga hingga empat tahun.

“Itupun kalau bambu belum lapuk, kita masih bisa terus gunakan. Plastiknya juga harus tebal biar awet. Rumah kaca ini berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya matahari dan kadar air hujan,” kata Darmi.

Editor : Kholistiono

UMK Gelar Workshop KPT dan Bahan Ajar

Whorkshop KPT dan bahan ajar di Universitas Muria Kudus (Istimewa)

Whorkshop KPT dan bahan ajar di Universitas Muria Kudus (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dosen  di Universitas Muria Kudus (UMK) yang terdiri atas Wakil Dekan I, Kepala Program Studi (Prodi), dan perwakilan dosen dari masing-masing Prodi mengikuti workshop penyempurnaan Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) dan bahan ajar, pada Rabu (30/3/2016).

Workshop yang digelar di Ruang Seminar Lantai IV Gedung Rektorat tersebut, menghadirkan Liliana Sugiharto dan tim pengembang KPT-KKNI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) sebagai narasumber.

Materi yang disampaikan yakni pengembangan dan penyusunan kurikulum mengacu standar nasional Dikti, rekognisi pembelajaran lampau (RPL) dan surat keterangan pendamping ijazah (diploma supplement), penyusunan bahan ajar, hingga yang terakhir yaitu pendampingan review penyempurnaan KPT.

Liliana Sugiharto menyampaikan, ada empat standar kompetensi lulusan berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yaitu sikap, pengetahuan, kemampuan kerja dan tanggung jawab.

‘’Sedang untuk rumusan dalam standar nasional Dikti, ada tiga. Yakni keterampilan, penguasaan pengetahuan, dan tata nilai. Namun untuk keterampilan ini dibagi dua, yaitu kemampuan umum dan kemampuan khusus,’’ ujar Liliana.

Untuk standar pendidikan nasional yang harus dipenuhi dalam standar nasional Dikti, terangnya, adalah standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standar dosen dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana pembelajaran, standar pengelolaan pembelajaran, dan standar pembiayaan pembelajaran.

Selain itu Lilianan mengemukakan, bahwa kurikulum di perguruan tinggi, telah mengalami pengembangan-pengembangan. “Pada 1994 yang dipakai adalah Kurikulum Berbasis Isi (KBI), tahun 2000 menjadi Kurikulum Berbasis Kompoetensi (KBK), dan pada 2012 menjadi Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT),’’ ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Keunikan Kota Kudus Tarik Minat Peneliti dari Luar Negeri

Masjid Al Aqsho (MuriaNewsCom)

Masjid Al Aqsho (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus–Kota Kudus memiliki sejarah yang panjang dan keunikan. Hal inilah yang membuat banyak peneliti ingin melakukan penelitian terhadap Kota Kudus. Tak hanya dari dalam negeri saja, tapi banyak juga yang berasal dari luar negeri.

Tokoh Madrasah Qudsiyyah Kudus Abdul Jalil mengatakan, banyak parailmuwan yang hingga saat ini masih berkeinginan untuk meneliti Kota Santriini.”Sebab,Kota Kudus ini ada kesamaan atau kemiripan denganYerusalem,” paparnya.

Keasamaan itu, katanya, bukan karena kebetulan ataukesengajaan.Namun, untuk membuktikan keunikannya memang membutuhkanpenelitian yang lebih mendalam.

Sekilas dirinya menyatakan, jika kesamaan Kota Kudus dengan Yerusalem, salah satunya yakni Yerusalemtersebut berada di atas Bukit Moeria, sedangkan Kudus juga ada GunungMuria.

“Tak hanya mengenai Gunung Muria yang sama, namun ada lagi kesamaanitu. Yakni bila Yerusalem ada bangunan suci yangbernama MasjidilAqsho, di Kudus juga ada Masjid AlAqsho. Selain itu, disebelah timur Bukit Moeria Yerusalem terdapatdataran tinggi Golan, dan di Kudus juga terdapat Desa Golan.Sehinga, kesamaan-kesamaan itu menarik ilmuwan untuk berkunjung ke Kudus,”katanya.

Dia menambahkan, tak hanya itu, keasaman tersebut pastinya akan bisaterkuak lagi. Menurutnya, kesaman itu juga tidak terlepas dari sejarahJafar Shodiq (Sunan Kudus) sebagai penyebar agama Islam di lereng Gunung Muria ini.

Editor : Kholistiono

2 Polisi Blora Ini Tiba-tiba “Tertawa “

Upacara Korps Rapot Kenaikan Pangkat di Aula Aryaguna Mapolres Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Upacara Korps Rapot Kenaikan Pangkat di Aula Aryaguna Mapolres Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Dua Polisi di Blora ini tiba-tiba “tertawa” alias bersyukur karena naik pangkat. Kegiatan itu dilakukan dalam upacara Korps Rapot Kenaikan Pangkat, penghargaan setingkat lebih tinggi di Aula Aryaguna Mapolres Blora pada Rabu (30/3/2016).

Pertama, dari yang semula Iptu (Inspektur Polisi Satu) menjadi AKP (Ajun Komisaris Polisi), yakni Iptu Maryoto selaku Kepala Seksi Teknologi Informatika Kepolisian (Kasi Tipol), dan dari Aiptu (Ajun Inspektur Polisi Satu) menjadi Inspektur Polisi Dua (Ipda), yakni Ipda Sudiarno, angota Polsek Todanan.

Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana, mengatakan, kenaikan pangkat penghargaan ini berbeda dengan korp raport kenaikan pangkat reguler yang setiap 1 Januari dan 1 Juli. “Untuk penghargaan yaitu terhitung 3 bulan sebelum personel polri yang berangkutan akan menjalani masa pensiun. Namun, tidak semua anggota polri yang akan pensiun mendapatkan kenaikan pangkat penghargaan,” katanya.

Kapolres juga menjelaskan, kenaikan pangkat ini merupakan penghargaan dari negara dan pimpinan Polri atas jasa dan pengabdian selama bertugas “Saudara, 3 bulan lagi akan melaksanakan tugas hingga pensiun,” tambahnya.

Selain itu, kedua personel tersebut telah lulus secara mulus dan tanpa cacat dalam mengabdi kepada Polri. “Hal tersebut bisa ditiru oleh generasi penerus yang masih panjang masa dinasnya dengan bekerja dan bekerja sebaik mungkin,” pesannya.

Editor : Akrom Hazami

Dandim dan Puluhan Anggota Kodim 0717 Purwodadi Bantu Petani Tanam Padi

Dandim 0717 Purwodadi Letkol Arh Jan Piter Gurning bersama anggota dan Kabid Tanaman Pangan Dipertan TPH Grobogan Ahmad Zulfa Kamal ikut membantu petani tanam padi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dandim 0717 Purwodadi Letkol Arh Jan Piter Gurning bersama anggota dan Kabid Tanaman Pangan Dipertan TPH Grobogan Ahmad Zulfa Kamal ikut membantu petani tanam padi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemandangan cukup aneh terlihat di areal sawah di Desa Rajek, Kecamatan Godong, Rabu (30/3/2016). Dimana, banyak orang berseragam tentara yang berada di tengah persawahan. Keberadaan anggota TNI itu ternyata dalam rangka ikut menanam padi bersama petani setempat.

Acara tanam padi antara TNI dan petani juga dihadiri Dandim 0717 Purwodadi Letkol Arh Jan Piter Gurning dan Kabid Tanaman Pangan Dipertan TPH Grobogan Ahmad Zulfa Kamal.
Dandim dan Zulfa dalam kesempatan itu juga ikut membantu menanam padi. Usai tanam padi, Dandim bahkan sempat mencoba mengemudikan hand traktor untuk mengolah sawah milik petani setempat.

”Kegiatan ini dilakukan untuk menyukseskan program swasembada pangan yang digalakan pemerintah. Salah satunya dengan melakukan penambahan luasan tanam padi musim tanam kedua (MT II),” ungkap Gurning, usai melakukan penanaman padi bareng petani.

Menurutnya, untuk wilayah Grobogan, penambahan luasan tanam sebanyak 117 hektare itu dilakukan di tiga kecamatan. Yakni Godong seluas 77 hektare, Tawangharjo (30 hektare), dan Gubug (10 hektare).

”Kegiatan ini tidak hanya dilakukan jajaran Kodim 0717 Purwodadi. Tetapi ada 7 kodim lainnya di Jawa Tengah yang melangsungkan kegiatan serupa,” terangnya.

Dengan penambahan luasan tanam tersebut, Gurning berharap dapat meningkatkan jumlah produksi padi. Sehingga, target produksi yang ditetapkan dapat dicapai.

Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan Dipertan Grobogan Ahmad Zulfa Kamal menambahkan, penambahan luasan tanam itu dilakukan pada Maret ini untuk mempercepat produksi. Rencana penanaman semestinya dilakukan pada April mendatang. Percepatan itu diharapkan dapat menambah produksi padi pada tahun 2016.

Editor : Titis Ayu Winarni

Dinsosnakertrans Jepara Minta Hasil Kesepakatan Antara PT Skanindo dan Karyawannya Dilaporkan

Muryanto, Kasi Pengawasan Tenaga Kerja dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman

Muryanto, Kasi Pengawasan Tenaga Kerja dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman

 

MuriaNewsCom, Jepara – Menanggapi hasil musyawarah penyelesaian masalah antara PT Skanindo Ekaduta dengan Karyawan. Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara melalui Kasi Pengawasan Tenaga Kerja Muryanto mengatakan, hasil kesepakatan lebih baik disampaikan ke pihaknya.

”Pihak perusahaan saat dipanggil memang menjanjikan menyelesaikan masalah tersebut secara bipartite. Jika memang sudah selesai, kami mengapresiasinya. Hanya saja, alangkah lebih baik melaporkan hasilnya kepada kami. Itu untuk menghindari potensi masalah lain,” ujar Muryanto, Rabu (30/3/2016).

Menurutnya, bagaimanapun juga persoalan antara perusahaan itu dengan karyawannya sudah mengemuka. Pihak pemerintah juga telah mengetahui, sehingga dia meminta agar hasil kesepakatan tersebut dapat disampaikan kepada pemerintah melalui dinasnya.

Beberapa waktu lalu sejumlah karyawan PT Skanindo Ekaduta mempermasalahkan statusnya di perusahaan tersebut akibat terlalu lama tak dipekerjakan. Masalah tersebut diselesaikan secara bipartite, antara karyawan terkait dengan pihak perusahaan.

Perwakilan Paguyuban Karyawan PT Skanindo Ekaduta Eko Mei Susanto mengemukakan, pihak perusahaan memberikan hak-hak mereka sesuai dengan tuntutan yang diinginkan. Menurut dia, pihak perusahaan memberikan tali asih kepada belasan karyawan yang statusnya saat ini sudah tidak dipekerjakan kembali di lokasi perusahaan yang baru.

Paguyuban karyawan sebelumnya sempat mengadukan masalah tersebut ke Komisi C DPRD Jepara. Pengaduan itu lantaran tidak ada kejelasan mengenai status belasan karyawan yang diistirahatkan akibat lokasi pabrik yang berpindah. Pengistirahatan karyawan perusahaan terjadi sejak 5 Januari 2016 lalu yakni untuk karyawan bagian mesin. Dilanjutkan pada 29 Januari 2016 untuk karyawan amplas dan servis, serta terakhir pada 6 Februari 2016 lalu.

Editor : Titis Ayu Winarni

Persoalan PT Skanindo Ekaduta dengan Karyawan di Jepara Diselesaikan Secara Bipartite

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa waktu lalu sejumlah karyawan PT Scanindo Ekaduta mempermasalahkan statusnya di perusahaan tersebut akibat terlalu lama tak dipekerjakan. Masalah tersebut diselesaikan secara bipartite, antara karyawan terkait dengan pihak perusahaan.

Perwakilan Paguyuban Karyawan PT Skanindo Ekaduta Eko Mei Susanto mengemukakan, pihak perusahaan memberikan hak-hak mereka sesuai dengan tuntutan yang diinginkan. Menurut dia, pihak perusahaan memberikan tali asih kepada belasan karyawan yang statusnya saat ini sudah tidak dipekerjakan kembali di lokasi perusahaan yang baru.

”Saat ini status kami sudah bukan karyawan perusahaan tersebut. Kami sudah diberi tali asih oleh pihak perusahaan,” terang Eko, Rabu (30/3/2016).

Meski begitu, pihaknya enggan menyebutkan jumlah tali asih yang diberikan. Pernyataan itu juga diamini oleh anggota paguyuban lain, Nur Hadi dan Harto.

Sebelumnya, paguyuban karyawan sempat mengadukan masalah tersebut ke Komisi C DPRD Jepara. Pengaduan itu lantaran tidak ada kejelasan mengenai status belasan karyawan yang diistirahatkan akibat lokasi pabrik yang berpindah. Pengistirahatan karyawan perusahaan terjadi sejak 5 Januari 2016 lalu yakni untuk karyawan bagian mesin. Dilanjutkan pada 29 Januari 2016 untuk karyawan amplas dan servis, serta terakhir pada 6 Februari 2016 lalu. Total karyawan yang diistirahatkan yakni 19 orang.

”Saat itu, kami meminta kejelasan. Jika memang tak dipekerjakan kembali, kami ingin ada uang tali asih. Saat ini sudah selesai. 19 karyawan sudah menerima tali asih. Sehingga jika ada masalah lain maka itu di luar masalah paguyuban karyawan,” tandas dia.

Sementara itu, perwakilan PT Skanindo Ekaduta Edi Purwanto menjelaskan hal yang sama. Pihak perusahaan sudah memenuhi tuntutan karyawan yang sebelumnya mempermasalahkan status mereka. Sebab memang tak ada maksud dari perusahaan tak memenuhi hak karyawan.
”Saat itu kebetulan memang lokasi perusahaan pindah. Sebelumnya di Mambak Kecamatan Pakis Aji, saat ini di Teluk Awur Kecamatan Tahunan. Di saat yang sama, pemilik perusahaan tengah berada di luar negeri,” katanya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Baru Selesai Seleksi, tapi Persijap masih Butuh 2 Striker

Pemain Persijap melakukan latihan demi mematangkan kemampuan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pemain Persijap melakukan latihan demi mematangkan kemampuan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Persiapan demi persiapan telah dilakukan oleh Persijap untuk menghadapi Indonesia Super Competition (ISC) seri B 2016. Seleksi tahap pertama telah selesai digelar dan mendapatkan 18 pemain yang lolos.

Seleksi tahap dua mulai digelar dan diikuti sejumlah pemain. Namun sampai saat ini, daftar pemain yang ada, dirasa masih kurang dua pemain. Yakni untuk yang posisi sebagai penyerang alias striker.

Hal itu disampaikan CEO Persijap M Said Basalamah. Menurutnya, berdasarkan perbincangan dengan tim pelatih, saat ini Persijap membutuhkan dua pemain yang berkarakter sebagai penyerang. Sedangkan untuk posisi belakang dan tengah, sejauh ini sudah mencukupi dari daftar pemain yang sudah ada.

“Tim pelatih menginginkan pemain dengan karakter penyerang murni, sebagai ujung tombak di depan,” ujar Basalamah kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/3/2016).

Menurutnya, saat ini seleksi tahap dua sudah dimulai dan ada sejumlah pemain yang mengikutinya. Namun, kesemuanya belum ada yang memiliki kemampuan sebagai penyerang murni. Justru, yang ada adalah pemain tengah dan belakang.

“Hari ini yang baru bergabung ada Saralim yang berposisi di tengah, kemudian Arif Ganza yang berposisi di belakang. Sebelumnya juga ada Fathul Manan dan Chanif Muhajirin masing-masing di belakang dan tengah,” ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk beberapa hari ke depan, pihaknya terus mencari pemain yang memiliki karakter penyerang murni. Dijadwalkan di awal April nanti tim telah terbentuk dan pertengahan April dapat mulai melakukan pertandingan uji coba.

Editor : Akrom Hazami

KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Gagal Capai Target Penerimaan Pajak Tahun 2015

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kunjungan Kepala Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Udianto di ruang kerjanya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kunjungan Kepala Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Udianto di ruang kerjanya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan –  Target penerimaan pajak tahun 2015 gagal dicapai KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan. Dimana, penerimaan pajak yang didapat tahun lalu hanya berkisar Rp 485 miliar.

”Target kita tahun 2015 sebesar Rp 662 miliar. Sementara pencapaiannya hanya Rp 485 miliar. Jadi, kita tidak bisa memenuhi target yang ditetapkan,” ungkap Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Udianto, usai bertemu dengan Bupati Grobogan Sri Sumarni, Rabu (30/3/2016).

Meski angka sebesar Rp 662 miliar tidak tercapai pada tahun lalu, namun target penerimaan pajak tahun 2016 justru naik cukup besar. Yakni, sebesar Rp 712 miliar atau naik Rp 50 miliar dari target tahun 2015.

”Ya, target kita tahun ini Rp 712 miliar. Target ini untuk penerimaan pajak di dua kabupaten, Blora dan Grobogan. Soalnya, kantor kita membawahi dua wilayah itu. Jumlah wajib pajak kita saat ini sekitar 146 ribu,” jelas Udianto.

Untuk meningkatkan penerimaan pajak, kata Udianto pihaknya melakukan beberapa upaya. Antara lain, melakukan pendekatan kepada sejumlah penunggak pajak. Pihaknya akan melakukan upaya persuasif agar para penunggak pajak itu mau melunasi tunggakannya.

Sementara itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kunjungan Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Udianto sempat menyampaikan beberapa pesan. Antara lain, ia meminta agar masalah pajak itu jangan sampai jadi momok yang menakutkan buat warga. Untuk itu, perlu dilakukan upaya pendekatan yang baik pada warga terkait masalah perpajakan.

”Selama ini setoran pajak merupakan komponen penting bagi pemerintah. Sebab, sekitar 80 persen anggaran belanja pemerintah bersumber dari pendapatan pajak. Jika pendapatan pajak meningkat maka alokasi belanja untuk pemerintah pusat maupun daerah juga ikut naik,” tegasnya.
Beberapa pejabat ikut mendampingi Sri Sumarni saat menerima kedatangan Udianto dan beberapa stafnya tersebut. Antara lain, Sekda Grobogan Sugiyanto, Kepala DPPKAD Moh Sumarsono, dan Kabag Humas Ayong Muhtarom.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bintek Penyusunan KLHS, Datangkan Narasumber dari Undip dan BLH Provinsi Jateng

Sekretaris Daerah Grobogan Sugiyanto menyampaikan pengarahan dalam Bintek Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sekretaris Daerah Grobogan Sugiyanto menyampaikan pengarahan dalam Bintek Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak tiga narasumber dihadirkan dalam Bintek Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang dilangsungkan di Ruang Riptaloka, Rabu (30/3/2016). Masing-masing, Kepala Balai Pengujian dan Laboratoriun Lingkungan Hidup BLH Jawa Tengah Widi Hartanto.

Kemudian, dosen Undip Samsul Ma’arif yang juga bertindak selaku tenaga ahli dan fasilitator penyusunan KLHS. Satu narasumber lagi adalah Kabid Praswiltaru Bappeda Grobogan Sundharso.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Grobogan Ahmadi Widodo menyatakan, penyusunan KLHS itu dilakukan oleh kelompok kerja pengendalian lingkungan (Pokja PL). Dimana, jumlah anggota Pokja PL ini ada 25 orang.

”Anggota Pokja PL ini berasal dari pejabat maupun pegawai dari berbagai dinas terkait. Dalam penyusunan KLHS nanti, anggota Pokja PL didampingi tenaga ahli atau fasilitator,” katanya.

Menurut Ahmadi, kegiatan itu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota Pokja PL tentang KLHS dalam penyusunan dan evaluasi perencanaan pembangunan. Selain itu, melalui kegiatan tersebut, anggota Pokja PL dapat memahami semua tahapan dalam penyusunan KLHS.

”Penyusunan KLHS ini didasari adanya UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam aturan ini disebutkan kalau pemerintah daerah wajib membuat KLHS,” cetusnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Banyak Pengangguran di Usia Produktif, Pemuda Dituntut Berwirausaha

Asisten Deputi (Asdep) Kewirausahaan Pemuda Kemenpora, Ponijan menghadiri Dies Natalies XVI STIE 'YPPI' Rembang, Rabu (30/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Asisten Deputi (Asdep) Kewirausahaan Pemuda Kemenpora, Ponijan menghadiri Dies Natalies XVI STIE ‘YPPI’ Rembang, Rabu (30/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Asisten Deputi (Asdep) Kewirausahaan Pemuda Kemenpora, Ponijan mendorong para pemuda untuk menyadari pentingnya kewirausahaan sejak dini. Hal itu disampaikan olehnya ketika berkunjung ke kampus STIE ‘YPPI’ Rembang, Rabu (30/3/2016).
Menurutnya, solusi untuk mengatasi pengangguran yang didominasi kalangan usia muda, yakni dengan memberikan pemahaman akan pentingnya kewirausahaan sejak dini, terutama kepada para mahasiswa dan santri.

”Sekarang perlu kita ketahui pengangguran banyak terjadi di kalangan anak muda, terutama usia terdidik. Maka satu-satunya jalan, pemuda dituntut untuk memahami tentang pentingnya wirausaha,” katanya.

Nah, wirausaha yang dimaksud, lanjut dia, dimulai dari penyadaran terlebih dahulu. Kalau sudah sadar baru diberdayakan dengan rewards dan pelatihan-pelatihan. Kemudian, dikembangkan secara bersama. ”Jadi, semua pihak harus terlibat. Karena, ini untuk membuat iklim kewirausahaan,” tandas Ponijan yang mewakili Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nachrowi.

Dijelaskan olehnya, setelah iklim kewirausahaan di suatu daerah telah berjalan. Maka akan bermunculan wirausaha baru. Wirausaha baru itulah yang nantinya mengalami proses pembentukan karakter. Sehingga dikemudian hari tertanam nilai-nilai diri, seperti dapat dipercaya dan bertanggung jawab.

”Pengusaha yang top tidak terlepas dari kemampuan managerial. Karena sudah mempunyai kemampuan untuk mengatur pikiran, mengatur waktu, dan lainnya. Sehingga tumbuh jiwa leadership dalam diri. Nah, jiwa leadership inilah yang merupakan ending atau akhir dari proses pembentukan diri,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Satpol PP Blora Curhat Sulitnya Tangani Karaoke Nakal

Sejumlah anggota Satpol PP Blora saat memperingati ulang tahun Satpol pp yang ke 66 di Aula Kantor Satpol PP Blora (30/3/2016) (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sejumlah anggota Satpol PP Blora saat memperingati ulang tahun Satpol pp yang ke 66 di Aula Kantor Satpol PP Blora (30/3/2016) (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Kepala Satpol PP Blora, Sri Handoko, mengeluh kesulitan menindak tempat karaoke nakal. Selama ini, mereka harus menggunakan Perda Miras.

Hal itu dikarenakan masih belum adanya perda yang mengatur tentang karaoke. “Perda karaoke belum dibahas, namun kami bisa tindak dengan Perda Miras meski kurang optimal,” ujarnya dalam perayaan ulang tahun Satpol PP, (30/3/2016).

Dia juga mengeluhkan, dalam menindak, saat ini satu-satunya senjata yakni Perda nomor 6 tahun 1990 tentang ketertiban kebersihan dan keindahan (K3) yang dinilai sudah tidak relevan dengan zaman. Degan peringatan usia yang ke 66, ia berharap agar Perda Trantib bisa segera diselesaikan. Mengingat sampai saat ni masih digodok para anggota dewan.

Dia juga meminta seluruh anggota mampu bersikap lebih dewasa dan semakin bertambah semangat dalam bekerja. Dengan usia yang ke-66 ini, ia meminta agar para anggota bisa meningkatkan etos kerja meski banyak halangan yang dihadapi.

Terlepas dengan semua itu, dengan peringatan itu, pihaknya ingin mewujudkan Satpol PP yang humanis, berdedikasi, disiplin dan tegas untuk mengawal revolusi mental dalam mewujudkan Nawa Cita yang menjadi program Presiden. “Nawa Cita yang dituangkan melalui program-program pemerintah dan pemerintah daerah harus dikawal bersama-sama,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Museum Migas Akan Dibangun di Cepu

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Blora – Cepu yang masuk dalam kawasan Kabupaten Blora merupakan salah satu daerah yang sangat terkenal sejak kolonial akan minyaknya. Hal itu membuat stakeholder terkait berencana membuat museum migas. Bukan tanpa alasan, museum migas nantinya digadang-gadang sebagai upaya pengenalan sejarah minyak di Cepu.

Arief Rohman Wakil Bupati Blora mengungkapkan, usulan tersebut telah ia koordinasikan dengan pihak berwenang. Dalam hal ini, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ”Di Malaysia saja ada museum petronas, yang menjelaskan tentang minyak dan gas bumi. Di Indonesia kan belum ada, kalaupun ada, hanya di Taman Mini Indonesia Indah,” ujarnya.

Harapannya, dalam pembangunan museum nantinya, bisa komprehensif. Dalam artian, setiap pengunjung meseum bisa mengetahui sejarah minyak dan gas bumi yang ada di Blora, khususnya di Cepu. ”Rencananya mereka bisa tahu, bahkan secara langsung. Selain indoor museumnya, harapannya juga outdoor,” ungkap dia.

Perihal museum yang akan dibangun, meski sampai saat ini masih tahap rencana, ia berfikir perihal museum yang terintegrasi langsung dengan sumur pengeboran minyak. ”Jadi tidak hanya bisa tahu sejarah lewat diorama yang disajikan nantinya,” ujar dia.

Di Cepu ada lembaga pendidikan yang secara khusus mengajarkan tentang Minyak dan Gas Bumi, yakni STEM Akamigas. Selain itu juga terdapat Pusat Pendidikan dan Latihan Minyak dan Gas bumi (Pusdiklat Migas) milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Juga, terdapat sumur pengeboran minyak baik di Cepu sendiri maupun di sekitar Cepu. ”Kalaupun ditambah dengan Museum Migas, jadi komplit,” pungkasnya.

Sementara, Mei Nariyono, Camat Cepu menyetujui usulan tersebut. Sampai saat ini masih belum ada museum yang secara komprehensif membahas tentang minyak. Kalaupun nanti bisa dibangun di Cepu, artinya Cepu memiliki aset lengkap perihal minyak dan gas bumi.

”Untuk lahan museum sudah dipersiapkan, seluas 8 hektare di sekitar jalan Baypass Cepu,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bupati Rembang Larang Santri dan Mahasiswa Jadi PNS

Bupati Rembang Abdul Hafidz pada serangkaian acara dies natalis XVI STIE 'YPPI' Rembang, Rabu (30/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Bupati Rembang Abdul Hafidz pada serangkaian acara dies natalis XVI STIE ‘YPPI’ Rembang, Rabu (30/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz melarang para santri dan mahasiswa yang mempunyai keinginan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pasalnya, hingga saat ini jumlah pegawai negeri di Rembang sudah membludak.

”Jangan berharap dan jangan berpikir untuk menjadi pegawai negeri. Lewatkan saja itu. Apalagi ngotot ingin jadi pegawai negeri, tidak perlu,” kata Hafidz pada acara Sarasehan Santri dan Mahasiswa se-Jateng dalam rangka dies natalis XVI STIE ‘YPPI’ Rembang, Rabu (30/3/2016).

Diungkapkan olehnya, pegawai negeri sipil (PNS) di Rembang mencapai angka 4.000 pegawai. Sementara tenaga honorer kategori dua (K2) sebanyak 352. Menurutnya, jika dikalkulasi, para pemuda harus menunggu 20 tahun untuk menggantikan seluruh pegawai negeri di Rembang.

”Di Rembang ini, yang mengabdi saja sudah 4.000. Yang mengabdi puluhan tahun, ada yang 20 tahun, ada juga yang 23 tahun. Itu yang masuk K2. Bayangkan saja, kalau dalam satu tahun mengangkat 200 pegawai, maka butuh waktu 20 tahun untuk produk-produk baru ini. Sudah pokoknya, lewatkan,” jelas Hafidz.

Oleh karena itu, Hafidz mengapresiasi dan mendukung para pemuda yang terjun dalam dunia enterpreneur. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, baik pemerintahan maupun swasta untuk mengarahkan pemuda agar menggeluti kewirausahaan.

”Mari bersama-sama mendukung kawula muda yang sudah mengibarkan bendera untuk menjadi enterpreneur. Baik dari pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi bersama-sama bertekad untuk mengarahkan pemuda yang ingin menjadi enterpreneur,” tandasnya.

Hafidz menambahkan, dengan menjadi seorang enterpreneur maka akan semakin banyak pengangguran yang terserap dalam dunia kerja. ”Inilah nilai plusnya, karena sekaligus memberikan pekerjaan bagi orang lain,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Hore, Sinoman dan Purworejo Pati Punya Rumah Burung Hantu

 CAPTION: Bupati Pati Haryanto bersama jajarannya berhasil menangkap tikus saat melakukan gropyokan di Desa Purworejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)


CAPTION: Bupati Pati Haryanto bersama jajarannya berhasil menangkap tikus saat melakukan gropyokan di Desa Purworejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Desa Sinoman dan Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Pati saat ini punya lima rumah burung hantu (rubuha) jenis Tyto Alba yang dikenal sebagai predator alami bagi hama tikus. Karena, kawasan pertanian di desa tersebut selama ini paling parah diserang hewan pengerat tikus.

Kesepuluh rubuha di dua desa tersebut merupakan bantuan dari Pemkab Pati yang getol mengkampanyekan Tyto Alba mengendalikan hama tikus. “Setelah kita lakukan kajian, tahun ini akhirnya dua desa di Pati mendapatkan bantuan rubuha masing-masing lima rumah, yaitu Sinoman dan Purworejo,” ujar Bupati Pati Haryanto kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/3/2016).

Sementara itu, alokasi dana APBD Kabupaten Pati yang digunakan untuk mengembangkan Tyto Alba sebagai predator alami tikus digunakan untuk membangun 200 rubuha dan lima unit karantina. Keduanya tersebar di berbagai kawasan pertanian di Pati seperti Kecamatan Gabus, Kayen, Tambakromo, Sukolilo, Jakenan, Margorejo, Wedarijaksa, Trangkil, Juwana, Tayu, Tlogowungu, dan Pati.

“Hama tikus sudah menjadi momok yang menakutkan bagi petani. Populasinya sulit dikendalikan. Berbagai upaya juga sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Itu sebabnya, upaya pelestarian predator alami tikus sangat penting untuk menyelamatkan pertanian di Pati dari ancaman tikus, termasuk membuat peraturan bupati yang melarang perburuan burung hantu,” tutur Haryanto.

Upaya itu diakui untuk mengamankan masa tanam pertama dari ancaman tikus, terutama di daerah-daerah yang sudah menjadi endemis tikus. “Jangan sampai masa tanam pertama ini, petani di daerah yang menjadi endemis tikus gagal panen. Kita sebagai salah satu penyumbang ketahanan pangan nasional harus bisa menjaga hasil panen,” imbuhnya.

Bahkan, untuk memberikan semangat kepada petani, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati menghargai satu ekor tikus senilai Rp 1.000. Hal itu diharapkan agar petani semangat dalam memberantas tikus menggunakan sistem gropyokan dengan metode emposan dan belerang.

Editor : Akrom Hazami

Banyaknya Industri Nonmebel Mengancam Eksistensi Ukir dan Mebel di Jepara

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa waktu terakhir ini berdiri sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang nonmebeler. Keberadaan industri nonmebel di Kabupaten Jepara tersebut dituding mengancam eksistensi mebel, furnitur dan ukir-ukiran khas Bumi Kartini. Sektor mebel, furnitur dan ukir-ukiran kekurangan tenaga kerja karena banyak yang terserap di industri nonmebel, terutama industri garmen.

Salah satu pelaku usaha mebel di Pecangaan Jepara, Febti Estiningsih mengemukakan, dirinya terpaksa menolak beberapa kali pesanan dari luar negeri karena khawatir tak bisa mengirim produk tepat waktu. Pangkal persoalannya lantaran sulitnya mencari tenaga kerja sektor mebel.

”Kalau beberapa waktu lalu kita sulit mencari tukang ukir. Tapi sekarang tak hanya itu tukang finishing termasuk bagian amplas juga sulit. Mereka terserap di industri garmen semakin banyak,” kata Febti kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, dengan semakin sulitnya mendapatkan karyawan, tentu saja memperlambat pembuatan produk mebel. Sehingga, dirinya terpaksa menolak pesanan baik dari dalam maupun luar negeri.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Jepara Abdul Kohar mengatakan pihaknya menerima banyak keluhan dari pelaku usaha mebel, furnitur dan ukir-ukiran. Dan isi keluhan itu seperti yang disampaikan Febti Estiningsih.

Menurut Kohar, rongrongan industri garmen terhadap sektor usaha mebel, termasuk kain Troso khas Jepara memang nyata. Jika kondisi ini tak segera diantisipasi, maka bisa jadi julukan Jepara sebagai Kota Ukir tinggal kenangan. Dan berganti menjadi Kota Jahit atau Kota Obras Kain.

”Saya juga heran begitu mudahnya industri garmen memperoleh izin usaha di sini? Pemkab mestinya melakukan kajian imbas munculnya perusahaan garmen terhadap eksistensi usaha khas Jepara,” ujarnya.

Saat ini, jumlah perusahaan garmen yang mayoritas berbasis penanaman modal asing (PMA) terus bertambah di Jepara. Lokasi pabrik garmen itu tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Pecangaan dan Mayong.

Editor : Titis Ayu Winarni

Semoga 5 Polisi Blora Ini Legawa Dimutasi

Pergantian jabatan di jajaran Polres Blora di Aula Aryaguna mapolres setempat. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Pergantian jabatan di jajaran Polres Blora di Aula Aryaguna mapolres setempat. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Ada lima perwira pertama (pama) yang bertugas di jajaran Kepolisian Resor Blora (Polres) Blora pindah tugas atau mutasi.

Di antaranya, AKP Slamet R semula Kapolsek Kradenan kini menjabat sebagai Kapolsek Randublatung. Sedangkan untuk Kapollsek Randublatung kini dijabat oleh AKP Yorisa Prabowo yang semula sebagai Kepala Satuan (Kasat) Pembinaan Masyarakat (Bonmas). Untuk Kapolsek Kradenan kini dijabat oleh AKP Sumaidi.

Selain itu ada juga AKP Slamet, semula Kapolsek Randublatung, kini menjabat sebagai Kapolsek Cepu. Sedangkan, Kapolsek Cepu sebelumnya, AKP Alan Haikel kini berpindah tugas di Polresta Pekalongan sebagai Kepala Satuan Lalu lintas (Kasat Lantas).

Kapolres Blora, AKBP Dwi Indra Maulana mengungkapkan perpindahan serta pergantian jabatan di tubuh kepolisian merupakan hal yang normal. Tujuannya yakni sebagai langkah organisasi dalam upaya penyegaran dan strategi pengembangan karir serta proses pemantapan kepemimpinan.

“Selamat kepada para kapolsek yang menempati tugas baru dan terima kasih kepada personel yang semula telah menduduki sebagai kapolsek namun mendapatkan tugas baru di Polresta Pekalongan,” ujar Dwi.

Ia juga berharap, bagi para perwira yang mendapatkan tugas baru bisa lebih baik. Pergantian jabatan yang digelar dalam serah terima jabatan tersebut digelar di Aula Aryaguna Mapolres Blora. Dipimpin langsung oleh Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana, pada Rabu (30/3/2016).

Editor : Akrom Hazami

Warga Kutuk Undaan Kudus Gigih Saling Jaga Kerukunan Beragama

Diskusi lintas agama yang dilakukan di Desa Kutuk, Undaan, Kudus. beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi lintas agama yang dilakukan di Desa Kutuk, Undaan, Kudus. beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu tokoh lintas Agama Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, Suparno berharap kerukunan antarumat beragama bukan sekadar lahiriah. Tapi juga secara batin. Mengingat, hal itu merupakan hal penting bagi kehidupan berbangsa.

“Jika lahir dan batinnya rukun, maka kehidupan akan terjaga dengan kondusif. Termasuk saling menghormati dalam tata cara beribadah, itu akan membuat kehidupan warga lebih tenang,” kata Suparno.

Dia menilai, kerukunan antarpemeluk agama Islam dan Budha di desa itu juga patut menjadi contoh. Karenanya, setiap masyarakat seharusnya bisa hidup rukun.

Sementara itu, ada sejumlah hal yang harus bisa dipertahankan bahkan diwariskan kepada anak cucu. Ialah rasa sikap menghormati, menghargai, bahkan saling membantu pekerjaan atau kegiatan sosial antarsesama.

“Kegiatan sosial seperti halnya sambatan (mengerjakan rumah) itu harus bisa dilakukan secara bersama. Dan tidak memandang orang itu agama apa, dari mana, atau sejenisnya. Yang penting kita sebagai warga Indonesia harus tahu batasannya. Serta bisa mengedepankan kebersamaan. Sehingga kegiatan sosial dapat dijalankan secara bersama dan dapat dicontohkan kepada anak cucu kita,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, giat meningkatkan pembangunan spiritual sumber daya manusia. Hal tersebut, sebagai salah satu upaya untuk merangkul semua umat beragama yang ada di desa setempat.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Pemdes Kutuk Undaan Pacu Pembangunan Mental Spiritual Warga

Ini Pesan Bupati Saat Disambangi Kepala Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kunjungan Kepala Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Udianto di ruang kerjanya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kunjungan Kepala Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Udianto di ruang kerjanya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Beberapa pesan khusus disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kunjungan Kepala Kepala KPP Pratama Wilayah Blora dan Grobogan Udianto di ruang kerjanya, Rabu (30/3/2016). Yakni, seputar masalah yang berkaitan dengan pajak.

”Saya minta masalah pajak ini jangan sampai jadi momok yang menakutkan buat warga. Untuk itu, perlu dilakukan upaya pendekatan yang baik pada warga terkait masalah perpajakan,” kata Sri.

Beberapa pejabat ikut mendampingi Sri Sumarni saat menerima kedatangan Udianto dan beberapa stafnya tersebut. Antara lain, Sekda Grobogan Sugiyanto, Kepala DPPKAD Moh Sumarsono, dan Kabag Humas Ayong Muhtarom.

Menurut Sri, pembayaran pajak ini memang perlu dilakukan oleh mereka yang terdaftar sebagai wajib pajak. Sebab, pembayaran pajak pada pemerintah ini nantinya dikembalikan lagi pada masyarakat untuk berbagai macam kegiatan pembangunan dan belanja daerah.

”Selama ini setoran pajak merupakan komponen penting bagi pemerintah. Sebab, sekitar 80 persen anggaran belanja pemerintah bersumber dari pendapatan pajak. Jika pendapatan pajak meningkat maka alokasi belanja untuk pemerintah pusat maupun daerah juga ikut naik,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Sri Sumarni sempat pula menyerahkan print out bukti laporan surat pemberitahuan (SPT) pajak tahunan pada Udianto. Laporan SPT Sri Sumarni itu dilakukan melalui layanan e-filing pada 3 Maret lalu.

”Saya sudah melaporkan SPT tahunan beberapa hari lalu. Kepada para wajib pajak saya imbau untuk segera melaporkan SPT karena akhir bulan ini adalah batas jatuh temponya,” jelasnya.

Sementara itu, Udianto menyatakan, sejauh ini pihaknya melakukan berbagai upaya pendekatan pada masyarakat. Yakni, melakukan sosialisasi masalah perpajakan ke berbagai kalangan. Bahkan, pihaknya juga melibatkan para tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam sosialisasi pajak tersebut.

Editor : Titis Ayu Winarni

Wartawan Pegang Pistol FN dan Menembakkannya di Blora

Sejumlah awak media sedang bersiap menekan pelatuk Pistol FN 46 (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sejumlah awak media sedang bersiap menekan pelatuk Pistol FN 46 (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Sejumlah wartawan yang bertugas di Kabupaten Blora mendapatkan kesempatan berlatih mengoperasikan senjata api milik TNI AD di lapangan Tembak Baladewa Batalyon Infanteri 410 Alugoro, Blora, Rabu (30/3/2016).

Hal itu sebagai salah satu upaya menambah wawasan bagi awak media perihal senjata api. Wartawan media diberi kesempatan untuk melakukan tembakan menggunakan Pistol FN-46 dengan peluru tajam 16 butir, dengan jarak 15 meter dari titik sasaran.

“Ini pengalaman pertama bagi saya, tentu sangat berkesan sekali menembak langsung dengan senjata api dengan sikap berdiri,” ujar Wahyu Rizkiawanm salah satu wartawan media cetak yang bertugas di Blora.

Kapten Inf Subeno, selaku komandan latihan menembak mengungkapkan, pihaknya memberikan waktu bagi awak media untuk bisa mengikuti latihan menembak bersama anggota Kodim 0721 Blora, sebagai upaya menjalin kehangatan antarawak media dan personel Kodim.

Sedangkan, untuk senjata bagi personel Kodim yakni laras panjang M 16 A dengan jarak dari titik sasaran 100 meter. “Diharapkan dengan latihan menembak ini para anggota Kodim 0721 Blora mampu melaksanakan materi tembak pengelompokkan dan tembak penilaian senapan dan pistol sesuai prosedur,” ujar Subeno.

Sementara itu Dandim 0721/Blora Letkol Inf Susilo, mengungkapkan, kemahiran menembak merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap prajurit. Khususnya prajurit Kodim 0721/Blora. Oleh karena itu dengan bermodal kemampuan tersebut maka seorang anggota akan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dalam setiap melaksanakan tugasnya khususnya dalam tugas operasi di daerah rawan.

“Kemampuan menembak ini harus dimiliki semua prajurit, meski latihan harus digunakan dengan baik, dan prosedur keamanan harus diperhatikan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami