Rayakan 1 Abad, Qudsiyyah Kudus Gelar 22 Kegiatan Selama 5 Hari

(Dari kanan) Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan, Ketua panitia satu abad qudsiyyah Ihsan, dan Sekretaris panitia Abdul Jalil. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

(Dari kanan) Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus Em Nadjib Hassan, Ketua panitia satu abad qudsiyyah Ihsan, dan Sekretaris panitia Abdul Jalil. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam memperingati 1 abad hari jadi Madrasah Qudsiyyah Kudus, sekolah yang terkenal dengan santri salafnya tersebut bakal menggelar berbagai acara. Acara itu akan dimulai 2 April 2016 hingga 6 Agustus 2016 mendatang.

Ketua panitia 1 abad Qudsiyyah Kudus Ihsan memaparkan, pihaknya mempersiapkan 22 jenis kegiatan. Di antaranya ziarah makam Muassis dan Masyayikh, bedah buku jejak Sunan Kudus, sepeda santai dan napak tilas Sunan Kudus, Khotmil Quran, Roadshow meneladani KHR. Asnawi, menggali khasanah syair sholawat, seminar ilmu falaq, halal bihalal alumni qudsiyyah. Selanjutnya, ada halaqah (menjadi santri mandiri dan berkarakter), Ganjar mengajar, Seminar nasional (pesan damai Menara Kudus untuk dunia), jagong kamolyan (mengenang mba asnawi), Kirab 1000 terbang, Nada dakwah, Expo, Festival seni rebana, lomba, bedah buku qudsiyyah bagi bangsa, bahsul masail ketenagakerjaan, Festival teater pelajar, seminar mendaulat sholawat asnawiyah sebagai sholawat kebangsaan, dan yang terahir yakni pengajian akbar.

”Dalam ke 22 acara tersebut, bukan berarti tanpa makna. Acara itu memetik inti yang mendalam. Yakni meneladani tokoh Wali 9 khususnya Sunan Kudus, dan KHR Asnawi tokoh ulama Kudus sekaligus sebagai pendiri Qudsiyyah,” ujarnya.

Disaat yang sama, Sekretaris Panitia 1 abad Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, acara ini nantinya bertemakan ”Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”.

Abdul menambahkan, dalam arti Gusjigang itu, Gus ialah bagus yakni harus bersikap bagus, berhati bagus dan berakhlaq bagus. Sementara JI, warga kudus harus bisa paham akan ilmu pelajaran agama atau mengaji, khususnya santri Qudsiyyah ini. Dan Gang, ialah berdagang.

”Berdagang bukan hanya konteks perdagangan yang menjadi inti, namun santri itu harus bisa mandiri. Baik itu keilmuannya, pengetahuannya sehingga dapat menjadi contoh untuk semua kalangan,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni