Petani Sebut Penggunaan Bahan Kimia Sebabkan Panen Padi di Pati Turun Drastis

Sejumlah pekerja tani tengah memanen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pekerja tani tengah memanen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dunia pertanian saat ini tidak lepas dari bahan kimia, mulai dari penggunaan pupuk hingga pestisida. Penggunaan bahan kimia tersebut disebut menyebabkan panen menurun drastis.

Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno saat ditemui MuriaNewsCom di kediamannya di Gembong, Pati, Rabu (30/3/2016) mengatakan, penggunaan bahan kimia bukan hanya menyebabkan hasil panen berkurang, tetapi juga rendemen gabah ke beras hanya berkisar di angka 40 hingga 50 persen.

Beda halnya dengan penggunaan bahan alami seperti pupuk kandang dan bahan konvensional lainnya, rendemen yang dihasilkan bisa mencapai 70 persen. “Mudahnya begini. Beras satu kilogram biasanya dihasilkan dari gabah kering dua kilogram. Kalau menggunakan sistem pertanian konvensional tanpa pupuk kimia, dua kilogram gabah bisa menghasilkan lebih dari satu kilogram beras,” ujar Edi.

Ia menilai, penggunaan bahan kimia dalam pertanian membuat unsur hara dalam tanah berkurang. Itu sebabnya, hasil panen yang diolah dari tanah dengan unsur hara yang minim menyebabkan hasil panen tidak bisa melimpah.

Kondisi itu berpengaruh pada harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen, gabah kering giling, dan beras. “Kalau dunia pertanian sepakat untuk beralih ke sistem konvensional, otomatis harga gabah kering akan meningkat tajam karena rendemen yang dihasilkan lebih tinggi,” tuturnya.

Hanya saja, peralihan pertanian yang sudah terlanjur menggunakan sistem kimia ke sistem tradisional memang dibutuhkan perjuangan. “Pemerintah, swasta dan petani harus bersama-sama untuk menyatakan revolusi pertanian menuju sistem tradisional tanpa bahan kimia. Hasilnya lebih melimpah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono