PGOT Masalah Klasik yang Sulit Diatasi Pemkab Blora

PGOT terjaring razia Satpol PP Blora di wilayah Kecamatan Kota beberapa waktu lalu. (Murianews)

PGOT terjaring razia Satpol PP Blora di wilayah Kecamatan Kota beberapa waktu lalu. (Murianews)

 

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan Pengamen Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) sampai saat ini kuantitasnya masih sangat banyak. Tak terkecuali di Kabupaten Blora. Di Blora ada dua titik yang menjadi favorit bagi PGOT, yakni di Kecamatan Blora Kota dan Cepu.

Hartanto Wibowo, Kepala Bidang (Kabid) Sosial Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnaketransos) Kabupaten Blora mengungkapkan, keberadaan PGOT sulit untuk dideteksi. Hal itu dikarenakan, keberadaan PGOT tidak menetap pada salah satu tempat saja. Ia berpindah-pindah. ”Sampai saat ini kami tidak memilki data jelas menangani PGOT yang ada di Kabupaten Blora,” jelas dia.

Ia juga mengungkapkan pihaknya sampai saat ini tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, ia hanya bisa melakukan pembinaan tatkala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan penertiban dan menjaring PGOT yang kemudian dilimpahkan ke pihaknya. ”Kami sebagai birokrasi dengan porsi mengatasi permasalahan sosial, kami hanya bisa melakukan pembinaan dari hasil penertiban Satpol PP,” ujar dia.

Ia juga menjelaskan, keberadaan PGOT tidak menentu. Menurutnya, keberadaan PGOT di Blora mayorits berdatangan dari daerah sekitar, misalnya dari Bojonegoro dan Rembang. ”Tak menutup kemungkinan, dari Blora sendiri juga banyak,” jelas dia.

Untuk menanggulanginya, pihaknya menempatkan PGOT yang terjaring razia oleh Satpol PP dan dilimpahkan kepada pihaknya untuk dibina. ”Kami punya rumah singgah untuk mereka (PGOT), namun entah kenapa setiap kali kita tampung di sana, tidak sampai dua hari mereka sudah kabur dari rumah singgah,” pungkasnya.

Sampai saat ini, di Blora dan Cepu masih berkeliaran orang-orang yang seharusnya menjadi tnaggung jawab negara, tak terkecuali dalam hal ini pemerintah daerah Kabupaten Blora terkesan belum serius dalam menaggulanginya.

Editor : Titis Ayu Winarni