Mengkritisi Kurikulum Pendidikan Islam yang Baru

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pendidikan Islam di sekolah umum dan sekolah berciri khas Islam (madrasah dan ponpes) menurut Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamarudin Amin pada tahun 2016 menggunakan kurikulum pendidikan Islam yang baru. Kurikulum bernama kurikulum pendidikan Islam rahmatan lil’alamin yang menekankan kedamaian, toleransi, dan moderasi.

Kurikulum bagi 76 ribu madrasah dengan 9 juta murid, 30 ribu ponpes, dan 700-an perguruan tinggi Islam (Kompas, 22/3/2016). Menyikapi perubahan itu, Moh Rosyid, pegiat komunitas lintas agama dan kepercayaan pantura (Tali Akrap) menyatakan, hal yang mendasar selain materi kurikulum yang diperbarui, adalah pendidik/pengajar pada mata kuliah perbandingan agama di perguruan tinggi.

”Bila materi tentang agama non-Islam dididik oleh dosen atau pendeta/romo sesuai materi agama yang diajarkan,” ujarnya.

Rosyid melanjutkan, bila materi misalnya kekristenan diajarkan oleh dosen yang muslim dikhawatirkan terjadi pemutarbalikan kebenaran karena ketidakpahamannya atau faktor lain. Pendidikan agama diajarkan pendidik yang seagama sulit terwujud bila masih ada rasa bila diajarkan oleh dosen yang beragama non-Islam (karena materinya non-keislaman) berakibat permurtadan. Perasaan itu terkikis tatkala dibekali pemahaman secara kokoh dan tak fanatis.

”Memertahankan agama adalah sesuatu yang baku, tetapi memahami ajaran agama lain perannya sebagai pengetahuan, bukan dasar pindah agama,” tandas Rosyid pemerhati sejarah dari STAIN Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni