Begini Cara Petani di Pati Kembalikan Kekayaan Varietas Padi di Indonesia

Sejumlah petani Mustika sedang memanen padi varietas beras hitam di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petani Mustika sedang memanen padi varietas beras hitam di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Diakui atau tidak, Indonesia pernah memiliki 8.281 jenis varietas budidaya dan 84 varietas liar hingga menjadi negara penyumbang keragaman benih padi terbesar kedua pada bank benih International Rice Research Institution (IRRI).

Sayangnya, revolusi hijau yang terjadi pada sekitar 1986 mengalami penurunan drastis keragaman jenis varietas padi. Sedikitnya 75 persen lahan sawah di Indonesia ditanami varietas hibrida dan cenderung meninggalkan varietas lokal.

Saat ini, hanya ada ratusan varietas padi di Indonesia. Hal itu mengundang keprihatinan dari Kelompok Tani Mustika. Berawal dari Pati, mereka ingin mengembalikan kekayaan varietas padi di Indonesia.

“Saat ini kami sudah mengembangkan budidaya padi dengan ragam varietas, seperti mentik wangi, beras merah dan hitam. Meski itu pasarnya eksklusif dan butuh pasar tersendiri, tetapi itu sudah menjadi upaya untuk meningkatkan kembali kekayaan jumlah varietas padi yang diawali dari Pati sebagai bumi taninya Indonesia,” ujar pegiat Kelompok Tani Mustika, Maesah Anggni kepada MuriaNewsCom, Selasa (22/3/2016).

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mustika Suroto menambahkan, upaya itu juga meningkatkan kedaulatan pangan dan kedaulatan petani. Beras hitam, misalnya. Beras yang masih sangat minim dikembangkan di Pati itu punya kandungan karbohidrat yang tinggi dan nol gula.

“Kualitas karbohidrat tinggi dan nol gula itu tentu banyak diburu pembeli, sehingga harganya cukup mahal. Belum lagi, kami kembangkan beragam varietas padi dengan metode organik. Kalau harga mahal, petani kesejahteraannya meningkat. Dari sini, kedaulatan petani akan semakin terlihat,” katanya.

Editor : Kholistiono