Bupati Desak BPBD untuk Turunkan Indeks Risiko Bencana di Pati

Seorang nenek menangis saat disambangi Bupati Pati Haryanto untuk diberikan bantuan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang nenek menangis saat disambangi Bupati Pati Haryanto untuk diberikan bantuan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto mendesak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) supaya bisa menurunkan indeks risiko bencana di Kabupaten Pati melalui peningkatan kapasitas berbasis masyarakat.

Ia mengatakan, bencana memang tidak bisa dihindari. Namun, sumber daya manusia (SDM) diberi kesempatan untuk berusaha dengan meminimalisasi risiko bencana. Karena itu, Haryanto mendesak supaya BPBD Pati bisa menurunkan indeks risiko bencana melalui upaya antisipatif, termasuk menurunkan dampak kerugian ekonomi akibat bencana.

“Kami minta supaya indeks risiko bencana harus turun sampai level aman yang telah ditetapkan dalam Rakornas Penanggulangan Bencana yang digelar akhir Februari lalu di Jakarta,” kata Haryanto saat mengunjungi para korban bencana puting beliung di Desa Sundoluhur, Kayen dan Karaban, Gabus, Sabtu (19/3/2016).

Indeks risiko dihitung dari potensi kemungkinan korban dan dampak yang akan ditimbulkan dari suatu bencana. Tujuannya untuk memberikan informasi tingkat risiko bencana di masing-masing wilayah, sesuai dengan bahaya yang dimiliki.

Menurut Haryanto, kunci upaya penurunan indeks risiko bencana ini dilakukan melalui tiga strategi. Pertama, peningkatan kapasitas pemkab dan masyarakat dalam penanggulangan bencana. Kedua, penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana. Ketiga, internalisasi pengurangan risiko bencana untuk pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Pati.

Salah satu strategi yang didorong untuk menjadi prioritas upaya penanggulangan bencana tersebut adalah peningkatan kapasitas pemkab dan masyarakat. Alasannya, ada keterkaitan yang sangat erat antara peningkatan kapasitas dengan penurunan indeks risiko bencana.

“Ada tiga faktor dari indeks risiko bencana yang harus diperhatikan, yaitu ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Ancaman dan kerentanan menjadi faktor yang cukup sulit diubah dalam lima tahun ke depan. Sedangkan, kapasitas menjadi faktor yang harus diubah, seiring dengan program pembangunan pada masa pemerintahan saya,” ungkapnya.

Karena itu, warga Pati yang sering terkena dampak bencana alam bakal dikenalkan dengan Program Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat (Community Based Disaster Preparedness). Program itu diharapkan bisa mendorong pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk bersiaga dalam mengurangi dampak dan risiko bencana yang terjadi di lingkungan terdekatnya.

“Organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan juga harus lebih giat dalam merintis pelatihan untuk pertolongan pertama berbasis masyarakat. Saya bangga dan berterima kasih kepada kepolisian, TNI, ormas, relawan, serta semua komunitas masyarakat yang telah guyub rukun meringankan kesusahan saudara-saudara kita di sini,” katanya.

Dalam kunjungan itu, Haryanto bersama PMI dan BPBD menyerahkan sejumlah bantuan berupa sembako, alas tidur, mi instan, dan dana tali asih. Bantuan berupa dana akan diberikan melalui bansos yang akan diajukan pada penganggaran selanjutnya.

Editor : Kholistiono