Petani Tambak Ngadu ke Dewan Soal Parahnya Abrasi di Kedung Jepara

Para petani tambak Kecamatan Kedung berada di kantor DPRD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Para petani tambak Kecamatan Kedung berada di kantor DPRD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sejumlah petani tambak budi daya ikan dari Kecamatan Kedung Jepara mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara mengenai semakin parahnya abrasi di bibir pantai di Kecamatan Kedung. Mereka menginginkan agar ada langkah konkrit untuk mengatasi masalah abrasi.

Ketua kelompok petani tambak budi daya ikan dari Desa Surodadi, Sokhib mengatakan, selama ini upaya pemerintah mengatasi abrasi sangat tidak maksimal. Penanaman bakau dan pembuatan talud sejauh ini belum maksimal.

”Kami meminta agar pemerintah memberikan solusi yang tepat. Sebab solusi yang sudah dilakukan tidak maksimal,” ujar Sokhib dihadapan komisi B DPRD Jepara, Rabu (2/3/2016).

Menurutnya, salah satu penyebab semakin parahnya abrasi adalah banyaknya lumpur yang masuk ke laut dari aliran sungai. Ketika air laut pasang maka terjadi abrasi yang besar.

”Kami sudah pernah audiensi dengan Bupati pada tahun 2007, saat itu masih dijabat pak Hendro. Lalu tahun 2015 kemarin juga audiensi ke Bupati tapi belum ada langkah konkret,” ungkapnya.

Dia mengakui solusi untuk abrasi seperti penanaman mangrove maupun yang lainnya sudah menghabiskan dana besar. Tapi hasilnya masih tak mampu mengatasi masalah abrasi.

Berdasarkan data Pemkab Jepara. Lahan yang terkena abrasi sebanyak 938 hektare lebih. Bahkan ada satu desa yakni Bulak yang hilang ditelan abrasi. Sebagian besar abrasi terjadi di Kecamatan Kedung yang mencapai 460 hektare lebih.

Editor : Titis Ayu Winarni

2 gagasan untuk “Petani Tambak Ngadu ke Dewan Soal Parahnya Abrasi di Kedung Jepara

  1. Ping-balik: Ini Tuntutan Petani Tambak Kedung Jepara Saat Mengadu ke Dewan | Muria News

  2. Ping-balik: Jepara Kehilangan 938 Hektare Lahan Akibat Abrasi, Perlu Penataan Ruang Laut | Muria News

Komentar ditutup.