Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Pati  >  Artikel ini

Seni Karawitan jadi Metode Terapi Anak Autis di Trangkil Pati



Reporter:    /  @ 14:45:49  /  26 Februari 2016

    Print       Email
Syamsiati memainkan karawitan untuk diajarkan anak-anak autis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Syamsiati memainkan karawitan untuk diajarkan anak-anak autis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Karawitan ternyata bukan hanya menyimpan keindahan seni tradisional yang indah, tetapi suaranya diyakini mampu menjadi “obat” terapi ampuh untuk menyembuhkan anak difabel penyandang autisme.

Hal itu yang dilakukan Syamsiati, warga Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, Pati. Dengan merintis sekolah inklusi untuk penderita autisme di bawah Huda Center, Syamsiati juga memanfaatkan seni karawitan sebagai terapi untuk muridnya.

“Karawitan di sini banyak fungsinya. Selain nguri-nguri budaya, karawitan akan memberikan refreshing kepada anak-anak autis. Kalau anak-anak latihan secara telaten, karawitan bisa menyeimbangkan otak dengan gerakan,” tuturnya kepada MuriaNewsCom.

Manfaat yang menyeimbangkan antara otak dan gerakan itulah yang digunakan Syamsiati untuk melakukan terapi kepada siswanya yang sampai sekarang mencapai sekitar 43 anak menggunakan metode karawitan.

“Saat ini, sudah ada tujuh siswa yang sudah sembuh dan melanjutkan pendidikan di sekolah umum. Di sela-sela belajar, murid dilatih bermain karawitan,” imbuhnya.

Ibu dari Huda yang juga terkena autisme ini hanya ingin ikut serta menyembuhkan dan mencerdaskan anak autis yang merupakan bagian dari generasi bangsa.

“Saya tahu bagaimana rasanya punya anak autis. Rasanya ingin agak anak segera sembuh. Itulah sebabnya saya merintis dengan mendirikan sekolah ini,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Miliki Anak Autis, Syamsiati Justru Sukses Dirikan Sekolah Inklusi Penderita Autisme di Trangkil PatiĀ 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →