Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Ini Pesan dari Perayaan Cap Go Meh



Reporter:    /  @ 18:21:41  /  23 Februari 2016

    Print       Email
Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tradisi Imlek tahun 2016 makin bergeliat yang ditandai dengan semaraknya atraksi liong (naga), barongsai, dan joli (tandu dewa) di ruang publik, bahkan di jalan raya.

Perayaan hampir di setiap kota besar, utamanya yang eksis etnis Tionghoa. Sejak hari sebelum hari H Imlek hingga sepekan pasca Imlek, yakni Cap Go Meh. Istilah itu dari bahasa Hokkien dari kata cap (sepuluh), go (lima), dan meh (malam) maksudnya hari ke-15 dari bulan pertama.

Moh Rosyid pegiat Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan Pantura (Tali Akrap) mengungkapkan, perayaan itu dilarang pada tahun 1962 karena pertimbangan politik orde baru. Sejak Presiden Gus Dur mencabut pelarangan dan Presiden Megawati menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional sejak tahun 2002, suasana kegembiraan tak terbayangkan.

Kemeriahan itu, lanjut Rosyid, menyimpan persoalan, karena perayaan kurang bermanfaat bila interaksi sosial etnis Tionghoa dengan lingkungannya yang non-Tionghoa senjang.

”Kesenjangan pada galibnya sebagai pemicu kecemburuan dan embrio konflik person to person maupun person to community. Untuk mengantisipasinya, perlu dibangun hubungan yang harmonis dalam forum sosial di lingkungannya masing-masing antar etnis dalam model pembauran alami,” paparnya.

Rosyid menjelaskan, hal yang lebih penting adalah keramahan dan prinsip nguwongke (menghormati) atasan dengan bawahan dan sebaliknya dalam interaksi dalam bidang ekomoni dan lainnya suatu hal yang paling utama, ungkap dosen STAIN Kudus itu.

Editor : Titis Ayu Winarni

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →