Loading...
You are here:  Home  >  Ekonomi  >  Artikel ini

Dishubkominfo: Kami Sudah Sering Membina Jukir Pasar Kliwon



Reporter:    /  @ 18:32:18  /  22 Februari 2016

    Print       Email
Aktivitas di Pasar Kliwon Kudus sangat tinggi. Banyak yang kemudian berbelanja di pasar grosir terbesar di eks Karesidenan Pati tersebut. Hanya saja, fasilitas parkir masih kurang. (MuriaNewsCom)

Aktivitas di Pasar Kliwon Kudus sangat tinggi. Banyak yang kemudian berbelanja di pasar grosir terbesar di eks Karesidenan Pati tersebut. Hanya saja, fasilitas parkir masih kurang. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tarif parkir di Pasar Kliwon Kudus dipersoalkan karena terlalu mahal. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kudus mengaku sudah membina para juru parkir (jukir) di sana.

Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kudus Istiyanto mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah sering melakukan pembinaan kepada para jukir di Pasar Kliwon.
Hanya saja, karena berbagai macam alasan, masih ada oknum jukir yang menarik retribusi parkir di luar ketentuan. ”Kita sudah sering lakukan pembinaan. Tapi ya, itu. Masih ada yang membandel,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, seorang pengujung Pasar Kliwon dari Kabupaten Jepara, ditarik Rp 5.000 saat parkir mobil di sana. Dia ditarif lebih mahal dari aturan, oleh petugas yang tidak memakai seragam, dan tidak ada karcis yang diberikan kepadanya.

Padahal, tarif retribusi parkir di Kudus sendiri, diatur oleh Perda Nomor 7 dan 8 Tahun 2011. Dalam Perda Nomor 7 mengatur tentang parkir di tepi jalan umum. Besaran tarifnya untuk sepeda motor adalah Rp 500 dan mobil Rp 1.000.

Sedang tarif parkir khusus, berlaku tarif yang berbeda. Yakni untuk sepeda motor Rp 1.500, sedang mobil Rp 2.500. Nah, Pasar Kliwon ini termasuk kategori parkir khusus di Kudus.

Soal seragam, Istiyanto mengakui memang jukir di Pasar Kliwon belum diberi ”pakaian dinas”. Sebab parkir Pasar Kliwon baru diserahkan oleh Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Disdagsar ke jajarannya pada Juli 2015.

”Jadi belum masuk anggaran. Tapi pasti nanti kita beri seragam jukir resmi. Dan kita akan terus bina mereka agar taat aturan,” tandasnya.

Sementara anggota DPRD Kudus M Nur Khabsyin yang dimintai tanggapannya, menyesalkan praktik retribusi parkir Pasar Kliwon yang tak sesuai aturan. Pihaknya menuding praktik tersebut berpotensi menggembosi penghasilan yang disetor ke kas daerah.

”Kalau sesuai perda hanya Rp 2.500, kemudian ada yang ditarik Rp 5 ribu, lantas sisanya yang Rp 2.500 lari ke mana? Itu saja kalau yang memungut jukir resmi. Persoalannya mereka itu resmi atau tidak,” katanya.

Ditegaskan Khabsyin, pihaknya meminta Dishubkominfo Kudus untuk membenahi hal itu. Sebab Pasar Kliwon tak hanya menjadi jujugan pedagang dari Pulau Jawa saja, namun juga luar Jawa.
Tiap hari ada ratusan bahkan bisa jadi ribuan kendaraan yang keluar masuk di sana. ”Tapi prinsipnya tetap harus sesuai aturan jangan sampai membebani masyarakat. Nominal yang diatur perda itu yang harus dilaksanakan,” imbuhnya.

Editor: Merie

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →