Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Jepara  >  Artikel ini

Dewi Sulastri, Memendam Rindu Pada Geliat Seni Jepara



Reporter:    /  @ 19:56:24  /  17 Februari 2016

    Print       Email
Dewi Sulastri didampingi suami berkunjung ke kamar RA Kartini. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Dewi Sulastri didampingi suami berkunjung ke kamar RA Kartini. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Seniman ibu kota, Dewi Sulastri menyatakan kerinduannya dengan geliat seni Jepara. Pasalnya, putri kelahiran Desa Bumiharjo, Keling, Jepara yang saat SD sering menjadi juara macapat ini, selepas SMP meninggalkan kampung halamannya.

Lulus dari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia di Surakarta, dia menuju kota budaya Yogyakarta. Tujuannya untuk mengembangkan bakat seni yang dimilikinya. Selepas menamatkan pendidikan di Institut Seni Indonesia, ia menekuni karir profesionalnya, baik sebagai penari maupun koreografer.

”Setelah itu tidak pernah tampil lagi di Jepara” ujar Dewi Sulastri saat berkunjung ke Jepara, Rabu (17/2/2016).

Dia menceritakan, kalau dirinya juga pernah ditunjuk sebagai duta tari Indonesia dalam tim seni Pelangi Nusantara untuk mementaskan karya-karyanya di Jepang. Dewi Sulastri kemudian menjadi penari di Istana Negara pada 1997 – 1999. Sebelum sampai di Istana Negara, selama tahun 1989 dia menciptakan berbagai karya tari. Di antaranya tari Srimpi Retna Utama, Merak Mangigel, Bondan Suka Asih, tari Prajuritan, hingga tari Domba Nino Banyumasan. Berbagai karya tari lain terus dia hasilkan, mulai dari tari Bedaya Dewi Sri (2003), Bedaya Ajisaka (2008), Bedaya Tri Sabdo Tunggal Indonesia (2008), dan Bedaya Merah Putih (2009).

Banyaknya karya yang dihasilkan serta kegemarannya mengajarkan seni kepada anak-anak, melahirkan tekadnya mendirikan Sanggar Swargaloka di Yogyakarta. Swargaloka yang memiliki murid hingga 300 anak, dia usung pentas perdana di Jakarta dalam pementasan berjudul Api Dendam Aswatama. Ini adalah pentas wayang orang berbahasa Indonesia. Merancang kemasan, menulis naskah, dan memproduksi wayang orang menjadi keahliannya hingga mendapat penghargaan Festival Wayang Orang Tingkat Nasional (WOPA).

Dia juga menjadi sutradara terbaik pada festival itu. Sejumlah penghargaan lain juga dia terima sepanjang 1983 hingga 2008. Kini kesempatannya memanggungkan karya besarnya di tanah kelahiran terbuka di Festival Kartini keempat tahun 2016. Dia akan mementaskan Sendratari Tiga Perempuan di alun-alun Jepara 16 April 2016, dengan mengkolaborasikan seniman Sanggar Swargaloka dan seniman Jepara. Guna persiapan pentas itu ia harus ziarah ke petilasan sonder, makam Ratu Kalinyamat, makam RA Kartini dan kamar Pingitan.

”Harapan kami, pentas yang akan menampilkan tiga perempuan perkasa Jepara ini dapat berjalan lancar,” ujar Dewi Sulastri yang didampingi suaminya, Suryandoro.

Editor : Titis Ayu Winarni

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →