Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Mantan Teroris Asal Kudus Ini Sebutkan Ciri-ciri Orang Terkontaminasi Paham Radikal



Reporter:    /  @ 14:56:23  /  17 Februari 2016

    Print       Email

 

Abu Tholud memaparkan tentang teroris di acara yang digelar Kesbangpol Kudus bertajuk “Bersama Kita Tangkal Faham Kelompok Radikal” di Balai Desa Rendeng. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Abu Tholud memaparkan tentang teroris di acara yang digelar Kesbangpol Kudus bertajuk “Bersama Kita Tangkal Faham Kelompok Radikal” di Balai Desa Rendeng. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam acara diskusi yang digelar Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus di Balai Desa Rendeng, Kecamatan Kota bertemakan “Bersama Kita Tangkal Faham Kelompok Radikal” pada Rabu (17/2/2016). Mantan narapidana terorisme Abu Tholud memaparkan teroris itu orang memiliki pemahaman agama yang kurang.

Pria yang tinggal di Dukuh Pondok, Desa Bae, Kecamatan Bae tersebut mengatakan, teroris merupakan seorang yang pemahaman agamanya kurang. ”Teroris itu bukan radikal, namun pemahamannya kurang. Sehingga tidak berpikir panjang lagi, rela mati padahal tindakannya salah,” ujarnya.

Baca juga : Undang Mantan Teroris, Kesbangpol Kudus Gelar Diskusi Tangkal Faham Radikal

Abu Tholud mengakui dua kali masuk penjara lantaran korban atau imbas, dari salah satu muridnya yang meledakan bom di Jakarta beberapa tahun lalu. Padahal, ia tidak pernah mengajari meledakkan bom. Tapi mengajari untuk mengaji dan belajar dengan benar.

”Jadi saya masuk penjara itu bukan sebagai pelaku peledakan bom. Namun ada murid saya yang meledakan bom. Tapi saya ikut terseret kasus tersebut,” tuturnya.

Tholud menjelaskan, bahwa ia anak dari TNI. Kakenya pun seorang Nahdliyin, dan sang ibu berlatar belakang pendidikan Muhammadiyah. ”Dengan latar belakang keluarga seperti itu, saya menolak keras paham radikal,” ujarnya.

Terkait kelompok GAFATAR, ia beranggapan komunitas tersebut sangat sesat. ”GAFATAR menurut saya gerakan apa-apa ntar. Salat ntar, shodaqoh ntar, puasa ya ntar,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, untuk mengetahui tanda-tanda keluarga terkontraminasi aliran sesat, biasanya menjaga jarak kepada orang tua. Yang asalnya tunduk dan sopan tapi malah menuduh orang tua kafir. ”Pemahaman agamanya melenceng dari syariat. Mereka ikut-ikutan kebiasaan beribadah yang tidak lazim,” paparnya.

Disaat yang sama, pihak dari Kementerian Agama Kudus yang diwakili Suhadi mengatakan, pendidikan keluarga itu amat penting. ”Sehingga keluarga dan anak anak juga bisa merasa diperhatikan,” kata Suhadi.

Dia menilai untuk menangkal paham radikal, dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Orang tua harus bisa memberikan tauladan yang baik untuk anak-anaknya. Yang bisa diterapkan dikehidupan sehari-hari. Yaitu salat berjamaah dengan keluarga. Beri nasihat yang bijak dan persuasif. Memberikan hadiah kepada anak jika melakukan kebaikan. ”Dan berikan hukuman yang mendidik. Jangan justru sebaliknya membuat mereka memberontak bahkan melawan,” tegasnya.

Editor : Titia Ayu Winarni

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →