Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Blora  >  Artikel ini

Geliat Perajin Tampah Blora yang Bertahan di Era Global



   /  @ 09:39:49  /  13 Februari 2016

    Print       Email
Jumilah sedang mengayam bambu untuk dijadikan kerajinan berupa ayakan (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Jumilah sedang mengayam bambu untuk dijadikan kerajinan berupa ayakan (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Seiring berkembangnya zaman serta diimbangi dengan kemajuan teknologi. Rupanya, di Blora, peralatan tradisional masih sangat digandrungi oleh warganya. Terbukti dengan adanya perajin ayakan atau alat yang biasa dibuat menyaring jagung dalam proses pembuatan nasi jagung (makanan tradisional berbahan dasar jagung).

Jumilah (49) warga Dusun Ketangar, Kelurahan Karangjati, Blora misalnya. Hingga kini ia masih sanggup menelateni profesinya sebagai penganyam ayakan. Kelentikan tangannya saat menganyam potongan bambu yang telah disayat kecil-kecil dan lentur, merupakan warisan dari orang tuanya.

Pasalnya, dahulunya kedua orang tua Jumilah juga perajin anyaman. Dan sudah memiliki pelanggan yang banyak. Dalam mengerjakan anyaman, Jumilah tidak sendiri, ia dibantu kakaknya Suwanti (55).

Jumilah mengatakan, tidak sulit untuk memperoleh bahan bakunya. Menurutnya, keberadaan bambu milik warga sekitar ia manfaatkan untuk dijadikan bahan baku.

Pemasarannya pun, lanjut Jumilah, tidak begitu sulit dikarenakan masih banyaknya warga Blora yang menggunakan alat tradisional tersebut sebagai media dalam proses pembuatan makanan pokok. ”Selain membuat ayakan, saya juga membuat tampah atau alat untuk memisahkan kotoran pada beras. Kami juga membuat eblek arang yang serupa dengan ayakan, namun memiliki rongga yang lebih lebar,” tuturnya.

Eblek arang merupakan alat yang biasa digunakan petani saat panen untuk mengayak gabah supaya terpisah dengan kotoran gabah. ”Biasanya laku keras waktu musim panen,” jelas Jumilah.

Ketika musim panen, ia mampu menjual 20 biji eblek arang setiap harinya. Hal ini dikarenakan banyaknya petani yang membutuhkan alat manual tersebut untuk kepentingan pertanian. Satu anyaman, Jumilah menjualnya ke tengkulak dengan harga Rp 10 ribu per buah. Uang dari hasilnya itu ia pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. ”Itung-itung bantu suami,” jelas perempuan beranak tiga itu.

Dalam penjualan, ia tidak pernah kerepotan. Menurutnya, sudah ada tengkulak dengan sendirinya datang untuk mengambil hasil karyanya itu. Ia menyayangkan atas generasi muda sekarang yang tidak mau meniru apa yang orang tua sebelumnya lakukan. Pasalnya, ketiga anak Jumilah tidak mau meneruskan profesi yang sarat akan kearifan dan tradisi lokal tersebut.

Editor : Titis Ayu Winarni

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →