Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Jika Tidak Kabur Saat Pemeriksaan, Vonis Terhadap Hutomo Dimungkinkan Bisa Lebih Ringan



Reporter:    /  @ 17:12:19  /  10 Februari 2016

    Print       Email
Tersangkan kasus korupsi dana bansos (kaus putih) saat ditangkap tim Kejari Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tersangkan kasus korupsi dana bansos (kaus putih) saat ditangkap tim Kejari Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah tim Kejaksaan Negeri Purwodadi berhasil menangkap Hutomo Teguh Yuwono, tersangka kasus korupsi dana bansos 2011, beragam komentar warga mulai bermunculan. Sebagian besar, mereka sangat menyayangkan kaburnya tersangka ketika masih menjalani pemeriksaan kasus korupsi bansos itu.

Pasalnya, Hutomo bukan merupakan pemeran utama dalam kasus itu. Tetapi hanya sekadar jadi pembantu saja. Seandainya tidak kabur, kemungkinan vonis hukumannya tidak terlalu berat.
Setidaknya, lebih ringan dari vonis mantan Kadisporabudpar Grobogan Heryi Rusdidjanto dan Khomsatun, mantan istri Hutomo. Keduanya, divonis 13 bulan penjara oleh majelis hakim pengadilan Tipikor Jawa Tengah dan beberapa waktu lalu sudah bebas lantaran masa hukumannya selesai.

“Kalau tidak melarikan diri, bisa jadi hukumannya tidak berat. Soalnya, dia bisa punya kesempatan melakukan upaya pembelaan saat menjalani sidang. Karena kabur, maka Hutomo menjalani sidang in absentia atau tanpa kehadiran terdakwa. Pada sidang itu, Hutomo mendapat vonis 2 tahun penjara ditambah denda Rp 50 juta subsider 4 bulan serta uang pengganti Rp 65.883.000 subsider 6 bulan kurungan,” ujar Kajari Purwodadi Abdullah melalui Kasi Pidsus Bangun Setya Budi kepada wartawan, Rabu (10/2/2016).

Informasi yang dihimpun menyebutkan, dalam kasus korupsi dana bansos itu, Hutomo berperan mencari yayasan atau lembaga yang ingin mendapatkan bantuan. Namun, setelah cair, mereka minta imbalan sesuai kesepakatan yang dananya dipotong dari bansos yang didapat lembaga tersebut. Dengan modus ini, ada dana ratusan juta yang berhasil didapat dari 100 lembaga lebih penerima bansos melalui Disporabudpar Grobogan.

Selain itu, modus korupsi juga dilakukan dengan membuat belasan proposal fiktif. Dimana, yayasan penerima bantuan sebenarnya tidak pernah ada. Meski demikian, proposal yang dibuat mantan istrinya itu, yakni Khomsatun, berhasil lolos dan bantuannya bisa cair.

“Dari tindakan ini, ada nilai kerugian negara sekitar Rp 200 juta. Untuk yayasan penerima bantuan yang dananya dipotong jumlahnya cukup banyak,” imbuh Bangun.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →