Berikut Juara Lomba Seni Budaya Haul ke 6 Gus Dur di Kudus

Pembacaan selawat diiringi rebana disaat pra acara peringatan Haul ke 6 Gus Dur di RM. Bambu Wulung, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pembacaan selawat diiringi rebana disaat pra acara peringatan Haul ke 6 Gus Dur di RM. Bambu Wulung, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Rangkaian lomba yang diselenggarakan IPNU-IPPNU Kudus NU dan Teater Lesumi menggelar lomba seni budaya dalam rangka Haul ke 6 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di rumah makan Bambu Wulung Jalan Kudus Pati Km 5 sejak Sabtu (30/1/2016) hari ini rampung digelar. Dan saat ini panitia lomba bersiap mengumumkan kejuaraan tersebut.

Koordinator lomba seni M Nailal Mustaghfirin mengatakan, untuk lomba seni budaya tersebut terbagai tiga jenis lomba. Yakni teater, rebana, dan melukis wajah Gus Dur.

Untuk ketiga jenis lomba tersebut diambil tiga juara. Untuk rebana dan teater mewakili pimpinan anak cabang IPNU IPNU tingkat kecamatan. Sedangkan melukis mewakili sekolah tingkat SMA sederajat.

”Juara I teater terebut Teater Peace PAC IPNU IPPNU Kecamatan Undaan, juara II Teater MIFA IPNU IPPNU Dawe, dan juara III Teater Sepuh IPNU IPPNU Kecamatan Bae,” paparnya.

Sedangkan untuk juara lomba rebana, juara I diperoleh IPNU IPPNU Bae, Juara II Dari IPNU IPPNU pimpinan komisariat MA NU Darul Ulum Ngembalrejo Bae, dan untuk juara III IPNU IPPNU Gebog.

”Selain itu, untuk lomba melukis, juara I dimenagkan Said Ghonim SMK Raden Umar Said Kudus, juara II Ajeng Lilianti MA NU Banat, dan ke III Yudha Prasetyo SMA N 1 Jekulo,” paparnya.
Dia menambahkan, untuk yang berhasil meraih juara panitia memberikan piala dan uang pembinaan.

Editor : Titis Ayu Winarni

Fishing Trip SEFC Berlangsung Seru

Anggota Komunitas Sukun Executive Fishing Club (SEFC) memperlihatkan hasil tangkapan mereka dalam fishing trip yang dilaksanakan pada Minggu (31/1/2016). (ISTIMEWA)

Anggota Komunitas Sukun Executive Fishing Club (SEFC) memperlihatkan hasil tangkapan mereka dalam fishing trip yang dilaksanakan pada Minggu (31/1/2016). (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Agenda fishing trip yang digelar Sukun Executive Fishing Club (SEFC) di perairan Lasem, Sabtu (29/1/2016), berlangsung seru.

Meski cuaca kurang mendukung karena angin kencang, namun suasana perairan masih sangat mendukung.
Tepatnya spot Selender dan Gragalan yang menjadi lokasi fishing, menjadi tempat yang asyik dan seru untuk fishing hari itu.

Banyak tantangan yang harus dihadapi enam anggota SEFC, sejak mereka tiba di spot Selender pada pukul 05.30 WIB.
Pada pukul 08.00 WIB, arus sudah mulai kencang. Namun ombak dan angin masih bersahabat. Bahkan, sempat terjadi parade strike saat itu.

Sayangnya, ikan yang berhasil landed hanua 3 ekor tenggiri saja. Karena beberapa kali spoon harus putus terkena gigitan ikan tengiri.

Belum menyerah, anggota SEFC kemudian mencoba peruntungan lain. Yakni dengan pindah ke spot Gragalan.
Hanya saja, sekali lagi keberuntungan belum berpihak kepada mereka. Kondisi air yang keruh, tidak mendukung untuk casting. Namun, anggota sudah cukup puas dengan tangkapan hari itu.

Editor: Merie

Beternak Jadi Andalan Warga Temulus untuk Bertahan Hidup

Masiran salah satu peternak sapi di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo yang tergabung dalam kelompok ternak Sidorejo sedang memberi makan ternaknya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Masiran salah satu peternak sapi di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo yang tergabung dalam kelompok ternak Sidorejo sedang memberi makan ternaknya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain menjadi petani, warga Temulus, Kecamatan Mejobo juga mempunyai usaha sampingan lainnya. Yakni dengan memelihara hewan ternak, baik sapi dan kambing untuk menambah pendapatannya.
Salah satu warga yang beternak sapi adalah Masiran. Ia mengatakan, kebanyakan sapi yang dimiliki warga setempat merupkan pemberian pemerintah pada 2003 silam. Pihak pemerintah pun mengharuskan kepada penerima untuk bisa mengembangbiakkan sapi tersebut.

Dengan adanya bantuan tersebut, sebanyak 18 warga yang tergabung dalam kelompok ternak Sidorejo bisa memanfaatkan hasil dari perkembangan pembesaran sapi yang sudah dijual. ”Untuk saat ini kelompok ternak Sidorejo mempunyai sekitar 30 an ekor sapi, yang sebelumnya mempunyai 40-an ekor. Baik berjenis Brahma atau Lemosin. 30 sapi itu tetap harus bisa dijaga dan dirawat dengan baik, sehingga bisa dikembangkan,” paparnya.

Dia menilai, memang cukup sulit untuk merawat dan mengembangkannya. Sebab jika pihak kelompok ternak tidak teliti dan tegas, maka anggota lainnya bisa menjual sapi tersebut tanpa dikembangkan atau diternak terlebih dahulu.

”Dalam pengembangan ini, pihak peternak harus bisa membesarkan atau mengembangkan dengan baik. Jika sapi itu berkembang, maka mereka bisa menjualnya. Sehingga jumlah sapi akan bisa tetap atau tidak berkurang. Itulah yang diharapkan pemerintah,” ujarnya.

Selain peternak sapi, di desa tersebut juga banyak yang mempunyai ternak kambing. Sebab letak wilayah desa yang berdekatan dengan persawahan dan berada di bagian selatan Kecamatan Mejobo memang cocok untuk dijadikan peternakan.

Salah satu peternak kambing yang mengaku bernama Samiri mengatakan, di sini ada ratusan kandang kambing. Dimana kandang tersebut untuk dijadikan ternak kambing. ”Letak kandang sapi dan kambing itu berdekatan, sama-sama berada di selatan desa sekaligus berada di dekat sungai desa. Supaya kotoran itu bisa terbuang di sungai tersebut. Rata-rata satu kandang ada 5 ekor kambing milik peternak,” paparnya.

Masiran menambahkan, sebagian besar warga memang mencari tambahan dengan beternak sapi dan kambing. Sebab bila mengandalkan pertanian saja, maka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab daerah ini sering banjir disaat ada hujan lebat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Inilah Juara Perangkai Robot yang Hebat dari Kudus

Penyerahan hadiah kepada ke empat pemenang lomba adu robot oleh panitia Omah Aksi, Minggu (31/1/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Penyerahan hadiah kepada ke empat pemenang lomba adu robot oleh panitia Omah Aksi, Minggu (31/1/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah berjibaku untuk merangkai dan memprogram robot yang digelar Omah aksi dan Lembaga Kursus IT Smart Kudus pada Minggu (31/01/2016), ada empat anak yang menjadi juara dari ke 18 peserta lomba.

Anggota Omah Aksi Kudus M Ichsan Nugroho mengatakan, setelah ke 18 anak ini selesai mengerjakan tugas membuat robot, maka pihaknya beserta IT Smart menggelar perlombaan kecil. ”Hasil 18 robot itu kami adu. Jika robot salah satu peserta yang diadu keluar dari lingkaran, maka dinyatakan kalah,” katanya.

Dalam perlombaan tersebut, pihak Omah Aksi dan IT Smart hanya mengambil 2 kategori juara. Yakni juara I ada dua orang dan runer up-nya dua orang.

”Untuk juara satunya ada dua anak, yakni Nauvan kelas V SD 1 Mlatinorowito dan Aldo kelas III SD 1 Mlatinorowito. Sedangkan untuk runer up-nya juga ada dua orang, yaitu Ilham kelas V SD 2 Mlatinoroiwito dan Sava kelas VI SD 2 Mlatinorowito. Untuk juara I kami beri hadiah tas dan alat sekolah, dan runer up kita beri hadiah topi,” paparnya.

Dia menambahkan, bagi yang mendapatkan juara, untuk even berikutnya, mereka dilarang untuk ikut serta lagi. Supaya bisa memberikan kesepatan bagi anak-anak yang lain untuk berkompetisi. Pihaknya juga berharap ilmu pengetahun yang diperoleh, bisa diaplikasikan terhadap perkembangan teknologi saat ini.

Editor : Titis Ayu Winarni

Wujudkan Sikap Toleran, Tali Akrap Adakan Kemah Pemuda Lintas Agama di Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Upaya mewujudkan toleransi antar dan intern umat beragama memerlukan langkah riil dan perlu tahapan. Hal ini dilakukan oleh Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan Pantura (Tali Akrap) dengan mengadakan kemah pemuda lintas agama di Balai Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu dan Minggu 30 dan 31 Januari 2016.

Acara dihadiri pemuda perwakilan gereja, wihara, IPNU dan IPPNU se-Kudus dan pemuda agama Baha’i dari Pati. Acara juga dihadiri Kesbangpol Kudus, Danramil Undaan, Camat Undaan, Kemenag Kudus dan tokoh agama dan masyarakat Desa Karangrowo.

Materi menyajikan diskusi tentang potensi remaja agar bermartabat oleh Psikolog R.S St. Elisabet Semarang, Ibu Probowati Tjondronegoro, dan materi mengantisipasi dampak bencana alam dari relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus Mashudi.

Sajian materi tersebut, menurut Ketua Tali Akrap, Moh.Rosyid agar pemuda menyiapkan potensi dirinya dan menyikapi bila terjadi bencana alam. Minggu pagi, dilakukan penanaman pohon di makam umum Desa Karangrowo antara pemuda lintas agama, perangkat desa, dan warga masyarakat di tengah gerimis mengguyur. ”Hal yang menarik, makam tersebut yakni satu area terdiri muslim dan nonmuslim, hanya dipisahkan oleh pematang,” ujarnya.

Ia menambahkan, sikap toleran ini karena kesadaran bertoleransi tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat Karangrowo untuk bersesama. Sikap toleran ini karena car berpikir tokoh agama yang tak sempit memahami ajaran agamanya. Imbasnya tak pernah terjadi gesekan antar-umat beragama. ”Hal ini perlu dijadikan contoh bijak bagi warga di daerah lain,” tandas Moh Rosyid yang juga dosen STAIN Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni

Peluang Usaha Baper Bikin Ngiler Raup Untung

Baper (e)

Umi memperlihatkan beberapa bantal yang usai dikerjakannya dan siap dikirim ke pemesan. (MuriaNewsCom/Titis Ayu Winarni)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kini banyak industri kreatif memodivikasi bentuk bantal menjadi lebih menarik dan eksklusif, sehingga tak hanya berfungsi sebagai alas kepala ketika tidur, melainkan cocok untuk kado atau hiasan interior rumah. Hal tersebut tentu menjadi sebuah peluang usaha yang menjanjikan.

Begitu pula yang dilakukan Umi Fariha Arif yang mencoba peluang usaha bantal persegi. Meski kini telah banyak pelaku usaha serupa, namun mantan jurnalis ini memiliki ciri khas pada bantal persegi buatannya. Yaitu dengan cara melukis langsung pada sarung bantal menggunakan cat acrylic.

”Mulai dari beli bahan, memotong pola, jahit, dan lukis tulisan di sarung bantalnya awalnya saya lakukan sendiri. Namun seiring berjalannya waktu dan mulai ada respon pesanan, akhirnya saya jahitkan dan untuk lukisnya tetap saya kerjakan sendiri,” ujarnya.

Usaha yang ia mulai awal Januari 2016 ini, tak disangka mendapat respon yang bagus. Umi mengaku awalnya mencoba membuat beberapa bantal, untuk kemudian ia unggah ke media sosial. Ternyata langsung mendapat respon dan ada yang memesan.

Ia melanjutkan, usaha yang berjalan satu bulan itu ia beri nama Baper alias bantal persegi. Nama Baper tersebut pun kini tengah menjadi tren anak muda dalam artian ”bawa perasaan”. Sehingga ketika menggunakan hastag tersebut, akun Umi yang menjual bantal persegi pun akan mudah ditemukan.

”Nama tersebut tercetus dari adik sepupu. Semoga membawa kebaikan buat usaha bantal ini. Sejauh ini penjualan dengan online, dan promosi menggunakan media sosial,” ujarnya.

Umi memaparkan, untuk bantal persegi ukuran 30×30 ia patok harga Rp 55 ribu. Bantal ukuran 40×40 dihargai Rp 70 ribu, dan ukuran 50×50 dihargai Rp 85 ribu saja. Harga tersebut terbilang terjangkau, karena diproduksi dan dilukis dengan keterampilan tangan yang membutuhkan kecermatan dan konsistensi ukuran huruf serta penerapan cat pada sarung bantal.

”Bantal persegi ini bisa dipesan eksklusif dan khusus menerima desain typografi saja. Meski dilukis tangan, baper kami ini tidak luntur ketika dicuci manual maupun dengan mesin. Jadi aman dan awet,” terangnya.

Selama satu bulan ini, Umi telah menerima pesanan sekitar 50 bantal dengan ragam ukuran, warna, dan tulisan. Tak hanya di Kudus, bahkan Baper milik Umi ini telah dikirim hingga keluar Jawa. Wanita lulusan S2 Administrasi Undip ini berharap, semoga usaha Bapernya ini bisa terus berkembang dan segera memiliki toko sendiri.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ratusan Polisi Kawal Pengajian Maulid di Undaan

polisi (e)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Demi terlaksananya pengajian umum dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Jemaah Angudi Barokae Gusti (ABG) di gedung Kanzus Shalawat Undaan Lor Kudus Minggu (31/1/2016) malam, ratusan polisi diterjunkan untuk pengamanan.

Hal itu disampaikan Kapolsek Undaan AKP Suparji. Pihaknya juga mengimbau kepada seluruh pengunjung pengajian tersebut untuk berhati-hati. ”Kita akan menerjunkan 111 personel yang terdiri dari Polres dan Polsek setempat. Selain itu, kita juga bekerjasama dengan koramil dan organisasi keagamaan yang lain untuk bisa menciptakan kelancaran acara ini,” paparnya.

Sementara itu, pengajian yang diperkirakan dikunjungi ribuan pengunjung dari penjuru Kudus tersebut pihaknya berupaya untuk tidak menutup jalan. ”Kalau mengenai aturan, Jalan Kudus-Purwodadi ini tidak boleh ditutup. Namun kami beserta jajaran yang lain berusaha mengatur lalu lintas. Sebab jalan ini kan jalan provinsi,” tuturnya.

Dia menilai, bila nantinya pengunjung memadati tempat pengujung secara kondisional, maka pihaknya akan menunjukan jalan alternatif bagi pengguna jalan dari arah Kudus maupun Purwodadi. Yaitu mulai Desa Wates Gang Masjid ke timur menuju Karangrowo. Setelah itu, menuju ke selatan melewati Desa Larikrejo. Dan yang terakhir menuju Undaan Lor Gang 12 atau makam Mbah Gareng.

”Jarak Undaan Lor tempat pengajian ini dengan proliman Tanjung jalan pantura juga tidak begitu jauh. Jadi kami tetap memantau kondisi jalan,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Anak-anak di Kudus Ini Mengisi Waktu Luangnya dengan Kegiatan yang Menakjubkan

Jpeg

Beberapa anak yang mengikuti pendidikan membuat robot di Rumah Aksi menunjukkan robot hasil buatannya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – 18 anak dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kudus, diajak mengisi waktu liburnya di markas komunitas Omah Aksi Jalan Ekapraya No 34, Gang 1 Rendeng, RT 1 RW 1, Kecamatan Kota. Anak-anak tersebut distimulus untuk kreatif dan berimajinasi menjadi profesor cilik dengan membuat robot, pada Minggu (31/1/2016).

Anggota komunitas Omah Aksi Kudus M Ichsan Nugroho mengatakan, Omah Aksi itu merupakan wadah bagi berbagai komunitas yang ada di Kudus yang berkeinginan dan peduli untuk meningkatkan pendidikan pada anak-anak usia sekolah. ”Khusus untuk kegiatan robotik ini, kami memilih anak seusia kelas 4 SD hingga kelas 1 SMP saja,” katanya.

Penyelenggara kegiatan robotik pun menghadirkan pengajar yang ahli di bidangnya. Yaitu dengan menggendeng lembaga kursus IT Smart Kudus. Dengan begitu, anak-anak dibimbing mulai dari merangkai, memprogram serta menjalankan robot yang sudah jadi.

Hal senada diiyakan Resinta, salah satu pembimbing kegiatan robotik dari Lembaga Kursus IT Smart, Kerjasan, Kudus. Dia mengatakan, kegiatan robotik ini sudah kali kedua diselenggarakan. Yakni dengan SD Pasuruhan, Kecamatan Jati dan yang kedua yakni dengan komunitas Omah Aksi.

Tentunya dengan pendidikan membuat robot ini menjadi tambahan pengetahuan bagi anak-anak. Khususnya peningkatan psikomotoriknya.

”Dalam perangkaian ini, kami berikan perangkat robot yang berjenis Lego Education. Yaitu perangkat robot yang bisa dibongkar pasang. Perangkat tersebut pun juga bisa diprogram dan dijalankan layaknya robot. Dengan cara menggunakan baterai dan remot control,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, hasil robot buatan anak-anak diadu sesama robot yang lain. Jika robot salah satu dari anak-anak tersebut menang, maka diberi hadiah.

”Setelah jadi, nanti robot itu kita adu. Yakni dengan cara pertarungan di dalam lingkaran. Misalmya salah satu robot tersebut keluar dari lingkaran, maka dianggap kalah. Untuk hadianya, juara satu kita berikan peralatan sekolah, dan runer up-nya kita berikan topi,” papar Resinta.

Dia menambahkan, kegiatan ini bisa bermanfaat bagi anak-anak. Karena dalam membuat robot melatih kreativitas dan imajinasi anak. Sehingga membantu proses kembang berpikir anak, yang tidak hanya diperoleh dari sekolah formal saja.

Editor : Titis Ayu Winarni

5000 Nampan Nasi Barokah Disajikan untuk Pengajian Maulidan Nanti Malam di Undaan

Jpeg

Ribuan nampan untuk tempat nasi barokah disiapkan panitia dari jemaah ABG Undaan untuk pengajian nanti malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar 5000 nampan nasi barokah akan tersaji pada pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di gedung Kanzus Shalawat Jemaah Angudi Barokahe Gusti (ABG) Cabang Kudus. Ribuan nasi tersebut diperuntukkan untuk pengunjung pengajian nanti malam, Minggu (31/1/2016) tepatnya Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan.

Salah satu panitia pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW jemaah Angudi Barok Gusti (ABG) Cabang Kudus Zainul mengatakan, untuk nasi barokah panitia sediakan sekitar 5000 nampan. ”5000 nampan itu, terdiri dari beras sekitar 3,5 ton, 50 ekor kambing, dan 2 ekor kerbau. Itu semua dari donatur,” katanya.

Pengajian yang dihadiri Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya dari Pekalongan ini, pada tahun lalu dikunjungi ribuan jemaah baik dari Kudus maupun luar kota. ”Pengunjung itu dari mana saja. Akan tetapi pihak panitia membagikan undangan resmi sekitar 300 undangan. Baik itu untuk Pemkab, Kejaksaan, Polres, Kodim dan tokoh masyarakat. Namun untuk pengunjung lainnya itu jumlahnya ribuan,” tuturnya.

Disaat yang sama, panitia lainnya Masudi mengutarakan, untuk pembagian nasi barokah itu tentunya disaat puncak acara, yaitu nanti Minggu (31/1/2016) malam . Tepatnya setelah di doakan oleh Habib Luthfi.

Editor : Titis Ayu Winarni

Tiap Hari Ada Puluhan Pekerja Harian Lepas Atasi Sampah di Jepara

Pekerja harian lepas sedang mengecat area taman kota di Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu Khoiruz Zaman)

Pekerja harian lepas sedang mengecat area taman kota di Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Mungkin belum banyak yang mengetahui jika selama ini Pemerintah Kabupaten Jepara memiliki sekitar 80 orang pekerja harian lepas yang bertugas untuk membersihkan sampah-sampah yang berserakan.
Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Ciptaruk Jepara Suharsana mengemukakan, para pekerja harian lepas tersebut dikhususkan untuk membersihkan sampah dari titik-titik atau lokasi yang menjadi sorotan publik. Misalnya di wilayah kota yakni di sekitaran Alun-alun.

”Sudah seharusnya menjadi perhatian serius. Sebab, bersih dari sampah akan menunjang citra baik suatu daerah dan juga antisipasi dini dari bencana banjir yang disebabkan penyumbatan sampah pada saluran-saluran drainase,” ujar Suharsana kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengemukakan, untuk menangani sampah perlu dukungan dari masyarakat agar lebih sadar dalam sisi kebersihannya. Sebab, jika hanya mengandalkan pemerintah tentu tidak akan optimal.

”Kita memang menyediakan sebanyak 80 pekerja harian lepas (PHL) yang siap membersihkan wilayah kota baik di sejumlah jalan protokol maupun di tempat-tempat keramaian seperti Alun-alun maupun taman yang ada di Jepara,” ungkapnya.

Lanjutnya, dari 80 PHL itu, kata Suharsana masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Di antaranya ada yang khusus menyapu jalan, mengangkut sampah menggunakan motor roda tiga, pengangkut sampah yang menggunakan truk dump dan pengangkut sampah skala besar yang menggunakan truk jenis kontainer. Selain itu juga ada pekerja harian lepas yang bertugas mengecat dan merawat taman.

”Biasanya untuk tenaga pengangkut sampah yang menggunakan truk dump ini khusus mengambil sampah di sejumlah titik tempat pembuangan sampah (TPS) yang ada di pasar tradisional. Sedangkan untuk pengangkut sampah truk kontainer ini untuk TPS skala besar di tempat pemukiman penduduk,” imbuhnya.

Dia juga menambahkan, penanganan sampah ini, tidak hanya di wilayah perkotaan. Karena beberapa wilayah kecamatan di luar Kecamatan Kota juga mendapatkan perhatian yang sama. Hanya, untuk kebersihan jalan, wilayah Kota yang tetap diutamakan.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pemkab Pastikan di Jepara Tak Ada Gerakan Radikal

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten Jepara memastikan jika di wilayahnya masih aman dari keberadaan kelompok maupun gerakan radikal seperti Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) maupun yang lainnya, yang selama ini dinilai meresahkan publik. Hal itu disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jepara, Istono.

Menurut dia, sejauh ini, tidak ada mengenai gerakan atau kelompok radikal yang beroperasi di Kota Ukir. Termasuk juga organisasi Gafatar seperti yang ada di kota-kota lain.

”Sebelumnya memang ada laporan mengenai warga Jepara yang hilang. Tapi tidak ada indikasi masuk organisasi misterius maupun gerakan radikal. Kasusnya dimungkinkan hanya orang hilang biasa. Tidak ada kaitan dengan gerakan radikal atau organisasi misterius,” ujar Istono kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengemukakan, selain dari kalangan warga biasa, pegawai negeri sipil (PNS) juga tidak ada yang dilaporkan hilang secara misterius. Dengan kondisi ini, Kota Ukir dinilai masih kondusif dari ancaman radikalisme lainnya.
Hal senada juga dikatakan Kabagops Polres Jepara, Kompol Slamet Riyadi. Sejauh ini Polres belum menerima laporan terkait hal ini. Sejumlah kasus orang hilang di Jepara yang baru-baru ini terjadi tidak terkait dengan organisasi tertentu.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siswa Qudsiyyah Ditantang Menulis Biografi Ulama Indonesia

Workshop penulisan biografi para ulama se Indonesia, Sabtu (30/1/2016) di aula MA Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Workshop penulisan biografi para ulama se Indonesia, Sabtu (30/1/2016) di aula MA Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya 40 siswa MA Qudsiyyah Kudus mengikuti workshop penulisan biografi para ulama se Indonesia, Sabtu (30/1/2016). Acara yang digelar di Aula sekolah tersebut mendidik siswa supaya bisa memahami para tokoh ulama yang ada di Indonesia.

Salah satu pembicara workshop Penulisan Biografi Ulama dari ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Kudus M Ihsan mengatakan, penulisan ini harus didasari dengan fakta dalam masyarakat pada diri ulama tersebut. ”Dan tidak hanya berupa profil atau biografi saja,” katanya.

Kegiatan yang digelar pada Sabtu (30/1/2016) hingga Minggu (31/1/2016) mendorong siswa mencari literatur yang bisa dijadikan bahan. Sehingga hasil tulisan bisa dipelajari oleh pembaca. ”Untuk bahan penulisan itu, para santri Qudsiyyah ini akan mewawancarai atau menggali data dari guru senior tentang tokoh atau ulama tersebut,” ujarnya.

Dia menilai, guru senior di Qudsiyyah ini nantinya bercerita tentang tokoh atau ulama besar dan perannya, misalnya bercerita tentang H Sya’roni Ahmadi. Penulisan biografi ulama tersebut difokuskan terhadap ulama yang ada di Kudus. Supaya warga Kudus lebih mengenal ulama-ulama Kudus.

”Misalkan saja KHR Asnawi pendiri Qudsiyyah. Beliau merupakan tokoh ulama Kudus yang mewakili Indonesia untuk merubah aturan di Arab Saudi sekitar 1930an atau sejak NU berdiri,” tuturnya.

Ihsan melanjutkan, KHR Asnawi mewakili Indonesia untuk merubah aturan Arab Saudi, lantaran negara tersebut ditahun 1930 hanya memperbolehkan Wahabi untuk menunaikan haji. Sehingga untuk Ahlussunnah Wal Jamaah tidak diperkenankan untuk berhaji.

Selain KHR Asnawi yang memang fokus untuk ditulis, pendiri Qudsiyyah atau ulama Kudus lainnya yang harus ditulis di antaranya KH Ma’ruf Asnawi, KH Arwani, KH Ma’ruf Irsyad, KH Yahya Arif, KH Ah Muhyidin, KH Turaichan, KH Hasan Djalil, KH Ma’sum Rosyidi, guru Senior Qudsiiyah KH Sya’roni Ahmadi dan sebagainya.

”Dalam penulisan biografi ulama ini juga bisa dijadikan sebagai penangkal Gafatar. Karena ulama tersebut mempunyai ilmu jelas dan sepak terjang disaat masih hidup atau yang masih hidup. Baik dalam membuat kitab fiqih,” ungkapnya.
Dia menambahkan, meskipun acara ini baru digelar kali pertama. Diharapkan kedepannya bisa membuat produk baru berupa tulisan sejarah yang benar lewat santri Qudsiyyah. Yakni bisa membuat pemahaman terhadap masyarakat awam, supaya bisa mengikuti ilmu ulama. Serta tidak terjebak dalam radikalisme serta keanggotaan sesat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kirab Merah Putih Kebangsaan, Tingkatkan Jiwa Nasionalisme Warga Undaan

Kirab Merah Putih Kebangsaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Angudi Barokahe Gusti (ABG) Sabtu (30/1/2016), di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kirab Merah Putih Kebangsaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Angudi Barokahe Gusti (ABG) Sabtu (30/1/2016), di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kirab Merah Putih Kebangsaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Angudi Barokahe Gusti (ABG) di gedung Kanzus Sholawat cabang Kudus pada Sabtu (30/1/2016), di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan itu bertujuan meningkatkan jiwa nasionalisme warga Undaan.

Panitia Kirab Merah Putih Kebangsaan Zainul mengatakan, jemaah ABG Undaan Kudus merupakan cabang dari Jam’iyyah sholawat yang dipimpin oleh Habib Lutfi bin Ali BinYahya Pekalongan. Sehingga dalam kirab ini harus menyertakan tema kirab merah putih kebangsaan.

”Jemaah ABG yang dipimpin Datuk KH Moch Sokram ini mempunyai moto NKRI Harga Mati. Begitu pun Habib Luthfi dari Pekalongan. Sehingga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga disertai kirab tersebut,” katanya.

Kirab tersebut diharapkan memberikan pendidikan jiwa nasionalisme tehadap warga negara Indonesia. ”Dalam acara ini, pesertanya dari berbagai kalangan. Dari unsur pendidikan yang ada di Desa Undaan Lor, organisasi keagamaan, banser, tokoh masyarakat ataupun tokoh pemerintahan di kecamatan ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, kirab dimulai dari perbatasan Desa Undaan Lor hingga Desa Wates dan menuju gang 12 Makam Syech Abdullah (Mbah Gareng). Hal itu sebagai prosesi dalam melaksanakan kirab agar tertanam rasa perjuangan dalam diri warga.

”Dalam kirab itu tidak terlepas dari bendera merah putih dan diakhiri dengan penghormatan kepada bendera merah putih di makam Mbah Gareng, yang merupakan anak buah Pangeran Diponegoro yang pernah berjuang melawan belanda sekaligus penyebar agama Islam,” katanya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Dinas Pasar Bakal Renovasi Sejumlah Pasar di Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar bakal melakukan renovasi sejumlah pasar tradisional yang ada di Kabupaten Jepara. Meski bukan Satuan kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menangani masalah pembangunan fisik pasar, pihaknya telah menganggarkan sejumlah dana untuk renovasi.

”Sebagaimana tugas pokok kami, kami memiliki wewenang untuk melakukan renovasi dalam skala kecil. Misalnya perbaikan dinding, atap dan beberapa bagian bangunan yang dirasa telah rusak. Termasuk melakukan pengecatan,” ujar Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara, Dwi Riyanto kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, secara khusus pihaknya sengaja menganggarkan sejumlah dana untuk renovasi tersebut di tahun 2016 ini. Meski enggan menyebut nominalnya, pihaknya menyatakan telah menginventarisir pasar mana saja yang rusak dan akan direnovasi.

”Salah satu pasar yang bakal kami renovasi adalah pasar Bangsri. Sebab, pasar Bangsri merupakan salah satu pasar yang ramai di Jepara,” ungkapnya.

Dia juga mengemukakan, hampir semua kondisi pasar tradisional di Jepara sama. Selain ada kerusakan ringan dan sedang di sejumlah sisi, area pasar hampir tak lagi mencukupi untuk menampung pedagang. Hanya saja, tidak mungkin merencanakan perbaikan secara serentak. Sehingga perlu dibuat skala prioritas.

Hasil pantauannya, terjadi banyak kerusakan di sejumlah bagian pasar. Hal ini lantaran cuaca yang sudah mulai ekstrem.
”Saat ini kami terus melakukan pendataan kerusakan di semua pasar tradisional. Saat anggaran sudah ada, perbaikan bisa langsung kami lakukan,” katanya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Perayaan Imlek Jadi Agenda Wisata Budaya Baru di Pati

Suasana Pasar Imlek yang dihelat di kawasan Kelenteng Hok Tik Bio Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana Pasar Imlek yang dihelat di kawasan Kelenteng Hok Tik Bio Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Antusiasme warga Pati dengan perayaan Imlek bertambah dari tahun ke tahun. Untuk itu, perayaan imlek di Pati bukan lagi menjadi momentum keagamaan, tetapi fenomena budaya.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, imlek saat ini sudah menjadi agenda wisata budaya tahunan di Kabupaten Pati. ”Semakin tahun, acaranya semakin besar. Bahkan, tahun ini tak hanya diikuti warga lokal Pati, tetapi dari berbagai daerah di Jawa Tengah hingga Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya,” kata Haryanto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/1/2016).

Tak hanya soal agenda budaya, perayaan imlek di Pati diklaim mampu meningkatkan perekonomian warga Pati. Pasalnya, ada lebih dari 300 pedagang yang berjualan di pusat keramaian imlek.

Ketua Panitia Imlek Edi Siswanto menambahkan, perputaran uang pada perayaan Imlek pada tahun lalu mencapai Rp 500 juta. Tahun ini, perputaran ekonomi diperkirakan menyentuh angka Rp 1 miliar.

”Tahun lalu ada 200 pedagang yang meramaikan. Tahun ini, lebih dari 300 pedagang. Kami yakin, perputaran ekonomi pada perayaan imlek di Pati selama sepuluh hari bisa menyentuh angka Rp 1 miliar,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Sabu Temuan BNN di Jepara Berkualitas Tinggi

Sabu Kualitas tinggi (e)

Sejumlah barang bukti yang ditunjukkan BNN saat jumpa pers di gudang penyimpanan ratusan kilogram sabu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Siapa sangka kota kecil Jepara menjadi salah satu tempat penyimpanan narkoba jenis sabu dengan jumlah yang sangat besar dan berjaringan internasional. Tak hanya itu saja, sabu temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama pihak terkait di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit, Jepara berkualitas tinggi.

Kepala BNN Republik Indonesia Komjen Budi Waseso menyebut, kualitas sabu yang ditemukan di Jepara berkualitas nomor satu. ”Ya, kualitasnya tinggi dan nyaris murni,” kata Budi Waseso saat konferensi Pers, Kamis (28/1/2016) kemarin.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin menjelaskan lebih detail berkait dengan kualitas sabu yang ditemukan oleh BNN dan pihak terkait di Kota Ukir itu. Menurutnya, dengan angka 98 persen, tentu saja kualitas sabu itu mendekati murni.

”Bentuk sabu temuan BNN di gudang mebel itu masih berbentuk seperti kristal, bukan serbuk yang biasa ditemukan polisi saat razia,” ujar Samsu kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/1/2016).

Menurutnya, sabu yang biasa ditemukan pihak kepolisian Polres Jepara dalam ukuran yang sangat kecil sekitar 0,5 gram saja. Selain itu, bentuknya pun dalam bentuk serbuk dan kadar sabunya tidak nomor satu.

”Ada kemungkinan jika sabu yang beredar di Jepara selama ini yang kami temui sudah dicampur. Artinya, kadarnya sedikit, tidak sampai seperti yang ditemukan oleh BNN kemarin,” ungkapnya.

Mengenai harga, untuk sabu yang berkualitas nomor satu seperti yang disebutkan oleh Komjen Budi Waseso bisa mencapai Rp 2 juta per-gram. Sehingga jika temuan BNN ratusan kilogram tersebut dirupiahkan bisa mencapai ratusan miliar.

Editor : Titis Ayu Winarni

Waspada, Kasus Demam Berdarah di Kecamatan Winong Pati Jadi Peringkat Pertama

Jajaran muspika Kecamatan Winong tengah membersihkan saluran air di desa-desa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jajaran muspika Kecamatan Winong tengah membersihkan saluran air di desa-desa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Memasuki awal tahun, sedikitnya ada 18 kasus penderita demam berdarah dengue (DBD) di Pati dalam kurun waktu 30 hari. Daerah yang paling banyak terkena DB adalah Kecamatan Winong.

Karena itu, sejumlah upaya dilaksanakan pemerintah Kecamatan Winong, mulai dari jajaran musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) Winong, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), kades se-Winong, polisi hingga TNI berbondong-bondong memberantas nyamuk penyebab demam berdarah.

”Awal tahun ini, Kecamatan Winong menyandang predikat sebagai daerah paling banyak yang terkena demam berdarah. Kami tidak akan biarkan. Kami lakukan fogging, pembagian abate, hingga membersihkan selokan, saluran air, dan temapat-tempat kotor,” kata Kapolsek Winong AKP Puji Raharjo kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/1/2016).

Ia sadar, nyamuk tidak akan bisa dibasmi hanya dengan gerakan serentak secara massal. Perlu kesadaran dan budaya hidup yang bersih dari masyarakat agar demam berdarah tidak menghantui masyarakat.

”Kami imbau agar masyarakat punya kesadaran untuk membudayakan hidup bersih. Barang-barang bekas sebaiknya dikubur. Kalau di rumah ada air yang menggenang, seperti bak mandi, kolam ikan, atau lainnya sebaiknya dikuras secara rutin. Aksi serentak tak cukup untuk membasmi nyamuk secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Namun begitu, aksi yang dilakukan jajaran muspika Kecamatan Winong cukup baik karena upaya pemberantasan bukan hanya nyamuknya saja, tetapi juga jentik-jentik hingga lingkungan. ”Kami juga sudah sosialisasikan kepada masyarakat terkait dengan upaya 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Industri Mebel Tak Terpengaruh Kasus Sabu Ratusan Kilogram di Jepara

Sejumlah barang bukti mesin genjet penyimpan sabu dan produk industri mebel di dalam gudang. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Sejumlah barang bukti mesin genjet penyimpan sabu dan produk industri mebel di dalam gudang. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Meskipun Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menyebut industri mebel dimanfaatkan oleh jaringan pengedar narkoba. Sejauh ini kondisi industri permebelan masih biasa saja. Tidak ada pengaruh yang signifikan setelah terbongkarnya kasus narkoba pada Rabu (27/1/2016) lalu.

Salah seorang pengusaha mebel di Jepara, Samsul mengatakan, kondisi bisnisnya maupun permebelan secara umum masih biasa saja. Tidak ada pengaruh yang besar terhadap dunia mebel setelah terbongkarnya kasus narkoba di gudang mebel beberapa waktu lalu.

”Yang kami rasakan tidak ada pengaruhnya. Itu kan hanya kasus, dan tidak hanya industri mebel yang bisa disalahgunakan. Industri yang lainnya pun bisa,” kata Samsul kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/1/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, kasus narkoba yang ditemukan di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara itu menjadi pelanggaran hukum. Sehingga biarkan diproses secara hukum. Bahkan, pihaknya menekankan agar pengawasan terhadap distribusi barang yang mencurigakan harus lebih diperketat.

”Temuannya kemarin itu kan bukan barang mebel yang biasa di ekspor maupun di impor. Tapi mesin genset dalam jumlah yang sangat banyak. Itu menurut saya mencurigakan, dan hal yang semacam itu yang harus diawasi dengan ketat,” ungkapnya.

Pihaknya mempercayakan kasus tersebut kepada pihak yang berwajib. Termasuk kasus-kasus sejenisnya yang mungkin saja belum terungkap oleh pihak yang berwenang. Dia berharap agar keamanan dan suasana kondusif di Jepara dapat tetap terjaga agar industri mebel di Jepara tetap berjalan lancar.

Editor : Titis ayu Winarni

Pasar Imlek di Pati Mulai Dibuka

Warga sudah memadati kawasan Pasar Imlek di Klenteng Hok Tik Bio. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga sudah memadati kawasan Pasar Imlek di Klenteng Hok Tik Bio. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pasar imlek di Pati yang berpusat di Kelenteng Hok Tik Bio mulai dibuka hari ini, Sabtu (30/1/2016) sore.

Perayaan imlek di Pati tahun ini mengambil tema “Menyapa Bangsa di Taman Hati” dengan mengajak masyarakat untuk berbuat segala sesuatu dengan cinta yang besar.

”Pasar Imlek saat ini lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu hanya 200 stan, saat ini diramaikan lebih dari 300 stan yang membentuk pasar dadakan,” ujar Edi Siswanto, Ketua Panitia Imlek Pati kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, kemeriahan imlek di Pati berlangsung selama sepuluh hari hingga 8 Februari mendatang. Bahkan, pasar yang semula berada di sekiar kelenteng sekarang mulai melebar hingga ke Jalan KH Ahmad Dahlan.

Padahal, dulu hanya sebatas di sekitar kelenteng saja. ”Itu wajar karena saat ini yang berpartisipasi lebih dari 300 stan,” tambahnya.

Perayaan imlek di Pati tak lagi dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi agenda budaya yang mesti dirayakan setiap warga.

Editor : Titis Ayu Winarni

Wabup Subroto Dilantik Jadi Ka-Kwarcab Jepara 2016 – 2020

Subroto dilantik oleh Ketua Kwarda Jawa Tengah Slamet Budi Prayitno, Sabtu (30/1/2016) di pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Subroto dilantik oleh Ketua Kwarda Jawa Tengah Slamet Budi Prayitno, Sabtu (30/1/2016) di pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Wakil Bupati Jepara Subroto kembali mendapatkan jabatan penting di Kabupaten Jepara. Setelah dilantik menjadi ketua dewan daerah lanjut usia, kali ini Subroto secara resmi menjabat sebagai Ka-Kwarcab Jepara untuk periode 2016-2020.

Subroto dilantik oleh Ketua Kwarda Jawa Tengah Slamet Budi Prayitno, Sabtu (30/1/2016) di pendapa Kabupaten Jepara. Dalam sambutan perdananya, Ketua Kwarcab Jepara terpilih Subroto mengatakan, ada beberapa catatan yang bisa dijadikan referensi tentang gerakan Pramuka, dimana organisasi Pramuka ini merupakan pergerakan yang mempunyai runtutan sejarah organisasai yang sangat penting.

”Eksistensi dan perannya sangat berjasa bagi negara kita. Pergerakan Pramuka di negara kita tidak sekedar pada tantangan atau organisasi kepanduan internasional. Namun gerakan ini sedikit banyak lahir dan bagian yang tidak terpisahkan pergerakan pada anak bangsa dalam merebut kemerdekaan sebelum dan sesudah tahun 1945,” ujar Subroto.

Dia juga mengemukakan, gerakan Pramuka pada era sekarang ini sesungguhnya dihadapkan pada konteks problem dan tantangan yang tidak kalah berat, dibanding dengan masa era kemerdekaan. Karena sekarang ini dihadapkan pada era peradaban modern yang makin terbuka, makin mengglobal dan makin kompetitif.

”Dengan demikian kita diharuskan oleh keadaan untuk tidak sekadar cukup dengan siap bersaing. Tetapi dituntut bisa memenangkan dalam persaingan,” katanya.

Dia menambahkan, dalam era keterbukaan dan globalisasi ini, tidak ada negara yang rela hanya sekadar menjadi penonton dan konsumen. Kedepan tantangan anggota Pramuka selalu lebih berat dan lebih kompleks. ”Karena kita dituntut tidak hanya sekedar organisasi yang aktivitasnya hanya berbasis kegiatan formal sebagai ekstra kurikuler dari sekolah, namun kita dituntut untuk bisa ikut berunding. Sehingga dapat memberikan kontribusi bagi negara ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Kwarda Jawa Tengah Slamet Budi Prayitno mengatakan, kepengurusan Kepramukaan Kwarcab Jepara sudah sangat lengkap. Ada beberapa yang perlu disampaikan kepada kakak pelatih Pramuka, ketua gugus depan atau kepala sekolah untuk menyadari sistem pendidikan di Indonesia. Saat ini guru dan kepala sekolah mempunyai tugas administrasi yang sangat berat. Kemudian jam-jam pelajaran ini masih banyak memberikan ilmu pengetahuan yang bersifat informasi.
”Artinya kalau anak didik pandai dan pintar itu karena dia mampu mengingat, menghafal, dan akhirnya menjawab pertanyaan,” ungkapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

FAA PPMI Kudus Berdiskusi Memberikan Sumbangsih pada Negeri

80 anggota Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), yang menggelar reuni di Universita Muria Kudus (UMK), Sabtu (30/1/2016). (ISTIMEWA)

80 anggota Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), yang menggelar reuni di Universita Muria Kudus (UMK), Sabtu (30/1/2016). (ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Lazimnya orang melakukan reuni dengan komunitas, itu adalah senang-senang saja. Namun berbeda dengan yang dilakukan oleh tak kurang dari 80 anggota Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), yang menggelar reuni di Universita Muria Kudus (UMK), Sabtu (30/1/2016).

Forum reuni tersebut, justru diisi dengan beragam diskusi terkait tema-tema kebangsaan. Anggota FAA PPMI yang sudah menjadi tokoh publik pun mementingkan hadir, untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi bangsa dan negeri ini.

Mereka antara lain Abdul Rahman Ma’mun, Deddy Hermawan, Dr. Wignyo Adiyoso, Deddy Hermawan, Dr. M. Alfan Alfian, Sunarto Ciptoharjono, Dr. Arkam Asikin, Eko Bambang Subiantoro, Rusman, Didik Supriyanto, Hasan Aoni Aziz, Ines Handayani, Arif Data Kusuma, Andreas Ambar Purwanto, Ari Ambarwati M.Pd, Rommy Fibri, Dwidjo Utomo M, Rohman Budijanto, Trijono, Wahyu Susilo, Rama Prambudhi Dikimara, dan Danang Sangga Buwana.

”Diskusi terfokus ini kami bagi dalam tiga bidang, yakni bidang hukum dan politik, bidang ekonomi dan lingkungan, serta bidang kebudayaan dan pendidikan indonesia,” ujar ketua Presidium FAA PPMI Agung Sedaya dalam konferensi pers di lantai I Ruang VIP Gedung Rektorat UMK usai digelarnya diskusi.

Agung menjelaskan, terkait bidang hukum dan politik, rezim elektoral saat ini yang meliputi Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Legislatif, serta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), menempatkan Partai Politik (Parpol) sebagai salah satu instrumen demokrasi yang penting.

”Namun demikian, Parpol tidak terlepas dari sejumlah persoalan yang membuatnya mandeg dan berjalan di tempat. Minimnya anggaran negara, misalnya, menjadi faktor umum Parpol mudah terjebak pada perilaku koruptif. Selain itu, kualitas politisi dalam tubuh Parpol juga beragam, yang berpotensi mereduksi kualitas politik demokrasi internal partai,” ungkapnya.

FAA PPMI berkomitmen mendorong sejumlah agenda terkait politik elektoral dan penegakan hukum melakukan jejaring kerja untuk mendorong gerakan pemberantasan korupsi, menginisiasi program penyadaran publik melalui media digital, inovasi dan kreativitas, serta mendorong Parpol menjadi partai modern yang mampu memperbaiki kualitas demokrasi internal (kaderisasi dan manajemen yang mampu meningkatkan partisipasi publik dalam politik elektoral.

Ditambahkannya, terkait bidang ekonomi dan lingkungan, di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini memunculkan istilah pembangunan infrastrukturisme, yang mampu memunculkan harapan.

”Akan tetapi percepatan pembangunan juga harus disikapi secara kritis. Sebab, di tingkat mikro problemnya justru bukan pada infrastruktur, namun ketidakberanian melangkah serta minimnya inisiatif dan kreativitas. Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), juga menjadi salah satu dilema,” tutur Agung.

Selain itu, untuk menjunjung tinggi budaya bangsa yang mencirikan cita rasa budaya khas Indonesia, menguatkan pola pendidikan Indonesia secara profesional antara lain melalui pendidikan literasi dan meninjau ulang Ujian Nasional (UN), dan melakukan penguatan kurikulum berbasis etika moralitas dan kebudayaan berkeadaban. ”Sehingga hal-hal yang bersifat negatif misalnya hasutan kebencian, pornografi dan intoleransi tidak mendominasi,” paparnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Wabah Demam Berdarah Merebak di Kecamatan Winong Pati, Polisi Lakukan Fogging dan Bagikan Abate

Satlantas Polres Grobogan menggelar safety riding di SMAN 1 Toroh salah satunya mempraktikkan menggunakan helm yang benar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas gabungan dari kepolisian, TNI dan muspika akan melakukan fogging di berbagai tempat di Kecamatan Winong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polsek Winong bersama dengan muspika, Bhabin Kamtibmas dan instansi terkait melakukan fogging serentak di berbagai wilayah di Kecamatan Winong, Pati, Sabtu (30/1/2016).

Tak hanya fogging, mereka juga membagikan abate gratis kepada masyarakat dan mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menyebabkan penyebaran nyamuk demam berdarah dengue (DBD).

Selain itu, mereka bersama dengan warga setempat membersihkan saluran air yang menyumbat dan tempat-tempat kotor. ”Informasi yang dihimpun unit intel kami, nyamuk demam berdarah di Kecamatan Winong sudah merebak. Itu sebabnya kami menggalakkan kegiatan untuk memberantas nyamuk pembawa virus demam berdarah,” ujar Kapolsek Winong AKP Puji Raharjo kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, pembagian abate dan penguburan barang-barang bekas berfungsi untuk mencegah jentik-jentik agar tidak menjadi nyamuk. Sementara itu, fogging diharapkan agar induk nyamuk mati dan tidak lagi bisa berkembang biak.

”Ini sebagai antisipasi untuk memberantas nyamuk, mulai dari pencegahan pada jentik-jentik hingga induk nyamuk. Jangan sampai Kecamatan Winong dijadikan sasaran nyamuk untuk menciptakan wabah demam berdarah,” tukasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Cegah Kecelakaan Pelajar, Polres Grobogan Blusukan ke Sekolah Gelar Safety Riding

Satlantas Polres Grobogan menggelar safety riding di SMAN 1 Toroh salah satunya mempraktikkan menggunakan helm yang benar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Satlantas Polres Grobogan menggelar safety riding di SMAN 1 Toroh salah satunya mempraktikkan menggunakan helm yang benar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya untuk menekan terjadinya kecelakaan yang melibatkan kalangan pelajar dilakukan Satlantas Polres Grobogan dengan menggelar safety riding ke sekolah-sekolah. Salah satu sekolah yang disasar adalah SMAN 1 Toroh.

Kegiatan safety riding yang dilangsungkan Sabtu (30/1/2016) mendapat sambutan hangat dari para siswa maupun guru. Terlihat, mereka cukup serius menyimak penjelasan yang disampaikan beberapa petugas dari Satlantas.

Ada beberapa materi yang diberikan para pelajar. Antara lain, tentang berkendara yang baik di jalan raya, pentingnya menggunakan helm standar (SNI), surat-surat kendaraan yang harus dibawa, dan rambu lalu-lintas.

Tak hanya itu, para pelajar juga diberi pengertian tentang proses menempuh ujian SIM serta tata cara berkendara yang baik dan benar. Mulai dari pengecekan kendaraan bermotor sampai dengan mengendarai di jalan raya.

”Digelarnya kegiatan ini dalam rangka memberikan pembelajaran kepada para pelajar agar menjadi pengendara yang baik. Kami berharap dengan adanya kegiatan semacam ini, bisa memberikan wawasan dan kesadaran bagi para pengendara,” kata Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo didampingi Kanit Dikyasa Ipda Marmin.

Dikatakan para pelajar sejauh ini memang memiliki risiko tinggi dengan kecelakaan. Penyebabnya, mereka belum memahami dengan baik aturan berkendara di jalan raya. Selain itu tingkat emosional tinggi, kontrol terbatas, belum memiliki risiko tanggungan keluarga juga jadi faktor lainnya.

Saat ini, secara umum kesadaran tertib berlalu lintas dikalangan pelajar masih rendah. Mereka mengendarai sepeda motor atau mobil di jalan raya, hanya sekadar bisa. Akan lebih ideal, bila mereka memahami aturan berlalu lintas dan terampil dalam berkendara.

Editor : Titis Ayu Winarni

Sibuk Sekolah dan Mengaji, Diam-diam Eka juga Belajar Melukis Otodidak

Eka Sapta Amalia (17) siswi MA NU Al Hidayah yang ikut lomba melukis dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Eka Sapta Amalia (17) siswi MA NU Al Hidayah yang ikut lomba melukis dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom,Kudus – Eka Sapta Amalia (17), seorang siswi yang tak hanya menempuh pendidikan di MA NU Al Hidayah, Getasrabi, Kecamatan Gebog, namun juga mengaji di pesantren Al Hidayah. Meski disibukkan dengan kegiatan di sekolah dan pondok, ia tetap meluangkan waktu belajar melukis otodidak.

Disaat waktu luang antara belajar formal dan mengaji, pelajar asli Pekalongan tersebut mengisi waktu luangnya dengan melakukan hobi melukisnya. ”Sering iseng menggambar sendiri disaat waktu luang. Melihat hasil karya saya, saya didaftarkan dan dibayari pihak sekolah untuk mengkuti lomba dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus ini,” paparnya.

Meski begitu, siswi yang duduk di bangku kelas II IPA itu tidak berharap untuk bisa meraih juara. Baginya yang terpenting bisa ikut berpartisipasi menambah ilmu dan pengalaman.
”Yang penting saya bisa diikutkan serta dalam kompetisi melukis ini. Sebab selama ini saya belum pernah ikut lomba semacam ini,” tuturnya.

Eka mengakui, tak hanya hobi melukis wajah tapi juga benda atau pemandangan. Untuk melatih keluwesan tangannya dalam melukis, Eka pun mengambil contoh dari internet untuk kemudian di print. Sehingga disaat menorehkan pensil ke kanvas, bisa menghasilkan gambar yang mirip.

”Untuk lukisan ini memang saya meniru gambar Gusdur yang saya print dari internet. Dan gambar aslinya ini bukan gambar karikatur, sehingga saya harus membuatnya menjadi karikatur. Itulah tantangannya,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Inilah Pendapat Tukang Ojek dan PKL Terkait Pemindahan Terminal Bus Sunan Muria

Terminal bus Sunan Muria yang juga sekaligus sebagai tempat parkir bus para peziarah makam Sunan Muria. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Terminal bus Sunan Muria yang juga sekaligus sebagai tempat parkir bus para peziarah makam Sunan Muria. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Adanya rencana Pemkab Kudus memindah terminal bus Sunan Muria yang awalnya di Desa Colo, Dawe yang akan dipindah di Kawasan Kajar, Dawe mendapat tanggapan beragam dari warga Colo.

Salah satu warga Colo, Dawe yang menjadi tukang ojek Sumar mengatakan, bila memang wacana itu benar, pihaknya selaku tukang ojek lebih memilih mangkal di terminal ojek Colo. ”Akan lebih jauh bila kita ngojek dari Kajar. Sebab itu kawasannya lebih turun lagi sekitar 3.5 km,” paparnya.

Diketahui, jarak terminal ojek Colo hingga Sunan Muria tersebut sekitar 2 km. Secara otomatis, terminal bus itu dipindah ke kawasan Kajar, maka para peziarah bisa memilih dua alternatif. Yakni naik angkutan atau ojek.

”Bila kami mengojek dari kawasan Kajar ke Sunan Muria, jaraknya bertambah sekitar 5.5 km. Otomatis biaya juga bertambah menjadi Rp 20 ribu. Sebab selama ini, biaya ojek peziarah dari terminal Colo ke Sunan Muria hanya Rp 10 ribu. Hal ini tentu memberatkan peziarah,” ujarnya.

Hal senada juga diiyakan Dian, pengojek Colo lainnya. Dia memaparkan, selama ini para peziarah hanya mengeluarkan biaya ojek saja. Karena bus tersebut bisa langsung menuju ke terminal Colo, setelah itu peziarah memilih ojek atau jalan kaki untuk menuju Sunan Muria.

Dengan adanya wacana tersebut, para tukang ojek menyerahkan sepenuhnya kepada paguyuban Persatuan Angkutan Sepeda Motor Muria (PASMM). Apakah anggotanya akan dibagi dua, yakni di kawasan Kajar dan Colo. Atau bahkan hanya bersepakat untuk mangkal di wilayah Colo saja.

Disaat yang sama, salah satu pedagang nasi di terminal bus Colo Sumini mengutarakan, pihaknya juga mendengar wacana itu. Namun pihaknya tidak terlalu merisaukannya.

”Saya sudah dengar lama, namun sampai saat ini belum memikirkan kedepannya seperti apa. Toh, kabarnya itu akan dipindah 10 tahun yang akan datang. Ya kita pasrah aja. Mau dipindah di Kajar atau tetap di Colo, mudah-mudahan dagangan saya laku,” tegasnya.
Editor : Titis Ayu Winarni