Kasus Korupsi PNPM di Blora Butuh Saksi Ahli

ilustrasi korupsi

ilustrasi korupsi

 

BLORA – Penyidikan dugaan penyimpangan dana simpanan bergulir Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MD) Kecamatan Jati tak kunjung usai. Meski berkas untuk LS telah selesai. Namun, untuk tersangka NV masih akan dilengkapi lagi.

”Perlu ada saksi ahli,” kata Djumali, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora.

Dia juga menjelaskan, saksi ahli ini untuk melengkapi berkas NV. Sedangkan, saksi untuk tersangka LS telah selesai dilakukan pemeriksaan. ”Intinya untuk melengkapi berkas,” ujarnya.

Djumali menuturkan, perkara ini akan dilimpahkan ke pengadilan Tipikor Semarang secara bersamaan. Alasannya, untuk efisiensi waktu. ”Yang jelas akan kami limpahkan secara bersama-sama,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Blora, Ahmad Sofyan berjanji akan melengkapi berkas keduanya. ”Kami usahakan dalam bulan ini,” tutur dia.

Diketahui, tersangka sebelumnya dalam kasus ini adalah LS. Tersangka adalah salah seorang perangkat Desa Bangkleyan, Kecamatan Jati. LS tidak masuk dalam struktur kepengurusan PNPM di Kecamatan Jati. Tersangka hanya orang yang membantu pengurus UPK PNPM Kecamtan Jati untuk menyalurkan bantuan kredit dari program SPP, sebagai pencari nasabah.

Karena, sebagai pencari nasabah untuk program SPP, diduga banyak warga penerima program mendapatkan pinjaman melalui LS. Sehingga, kebanyakan dari nasabah ini menitipkan angsuran pada tersangka. Dana angsuran tersebut ternyata tidak disetorkan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, kerugian negara dugaan korupsi dana simpanan bergulir SPP (PNPM-MD) di Kecamatan Jati sebesar Rp 521 juta. Menurut Kajari, kerugian negara ini diperoleh dari hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Semarang. Hasil itu, lanjutnya, setelah tim jaksa penyidik mengirimkan permohonan pada BPKP untuk melakukan penghitungan kerugian negara pada dana PNPM 2012 itu. (RIFQI GOZALI/TITIS W)