9 Santri Disiksa : Santri Akhirnya Dipindah di Rumah JPPA

Polisi dan JPPA mendatangi lokasi pondok yang menjadi tempat kekerasan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Polisi dan JPPA mendatangi lokasi pondok yang menjadi tempat kekerasan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dengan adanya kasus penyiksaan yang dialami oleh 9 santri anak anak yang dilakukan oleh AA, pengasuh pondok di Desa Cranggang RT 3 RW 3 Dawe, Kudus. Jaringan perlindungan perempuan dan Anak (JPPA) Kudus juga ikut turun tangan menyelesaikan kasus tersebut.

Ketua JPPA Kudus Noor Haniah mengatakan, kasus ini harus diusut tuntas. Sebab yang melakukan itu ialah seseorang yang tahu agama serta pengasuh pondok.

Dari informasi yang dihimpun oleh MuriaNewsCom, kegiatan pondok yang sudah dimulai sekitar bulan Juni 2015 tersebut juga jarang diketahui warga.

“Tempat ini untuk mengaji belajar ilmu agama. Namun kita juga tidak menyangka bahwa di dalamnya ada tindak kekerasan terhadap anak,” ujarnya saat di lokasi pondok.

Dia menilai, untuk ke-9 santri ini memang harus dievakuasi ke tempat yang aman. Selain itu, untuk kependidikan, ke depannya JPPA akan mencarikan tempat yang baik dan layak.

“Untuk saat ini ke 9 santri yang terdiri dari 8 laki laki dan 1 prempuan ini bersekolah formal di SD 5 Cranggang. JPPA juga akan berkoordinasi dengan pihak SD untuk memindahkan sekolah serta pondol ke tempat yang layak,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, JPPA akan memindahkan santri yang masih berada di pondok tersebut. Sehingga ke depannya tidak ada kekerasan terhadap anak.

“Kami meminta bantuan kepada polsek, babinsa, babinkamtibmas serta pihak desa,” ujarnya.
Haniah mengatakan, JPPA telah mengevakuasi santri, Rabu (16/12/2015). Namun tidak seluruhnya. Yakni yang sudah bisa diamankan ada empat orang santri, sedangkan lima santri lainnya itu nanti akan dievakuasi secepatnya.

Untuk menangani kasus tersebut, JPPA bekerjasama dengan Polres Kudus. Serta menghadirkan salah satu saksi atau santri RPR (11) kelas 4 SD warga, Demak.

“Saksi telah menceritakan kronologinya. Tapi tidak semua santri karena masih trauma,” paparnya.
JPPA Kudus akan membantu di bidang pengawalan hukum, pengawalan psikologi anak, serta pengawalan pencarian tempat pendidikan yang baik. Selain itu, untuk sementara 9 santri tersebuat nantinya akan ditampung di rumahnya terlebih dahulu. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)