Video – 9 SANTRI DISIKSA : Pondok Itu Ilegal

Lokasi pondok yang jadi tempat penyiksaan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Lokasi pondok yang jadi tempat penyiksaan santri di Cranggang, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Terkait adanya tindak kekerasan kepada santri di bawah umur yang dilakukan oleh pengasuh pondok di Kudus. Kepala Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Sri Solekhah mengakui tidak mengetahui bahwa di desanya ada sebuah pondok.

“Saya tidak tahu kalau yang di RT 3 RW 3 itu ialah pondok. Sebab pemiliknya yang bernama AA tersebut tidak pernah berbaur (tertutup,red) serta proses pendirian pondok atau izin, juga kami tidak tahu. Sebab di tempat tersebut juga tidak ada papan namanya,” kata Solekhah.

Selain itu, lanjut Solekhah, tempat itu memang asal mulanya ialah musala keluarga milik bapak AA. Akan tetapi bila fungsinya jadi pondok, pihak desa juga tidak begitu paham. Bahkan sepengetahuannya, tempat tersebut juga jarang dikunjungi oleh warga Cranggang sendiri.

Dia menilai, bahwa keberadaan pondok tersebut memang ilegal. Sebab pendiriannya juga tidak memberitahukan oleh pemerintah setempat. Meski AA, tercatat sebagai warga Cranggang. Namun, Solekhah menyatakan, setidaknya pendirian pondok harus melalui proses perizinan yang resmi dulu.

“Rabu (16/12/2015) kemarin pas sidak bersama ibu Norr Haniah (Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak Kudus) saja orangnya (AA,red) judes. Selain itu, saya dengar dari ustaznya sih, namanya Ponpes Darus Salam. Akan tetapi nama itu, tidak dibuatkan papan nama,” ujarnya.
Hal itu diamini Ketua RT 3 RW 3 Desa Cranggang, Legiman Harun. Dia mengaku tidak menyangka bahwa ada siksaan santri semacam itu. Selama ini warga sekitar, memandangnya sebagai tempat mengaji.

“Kalau setelah Magrib dan Isya memang ada kegiatan mengaji. Selain itu juga ada kegiatan salat berjamaah dipimpin oleh pengasuhnya. Namun kalau kejadian kekerasan terhadap santri anak anak, kami juga tidak tahu persis. Tahunya ya setelah ada pak polisi menjemput anak-anak (santri,red) untuk pulang,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, ada 9 santri disiksa. Yakni MUA ( L ) kelas I SD warga Tahunan Jepara, ACI (L) kelas II SD warga Tahunan, Jepara; RPR ( L ) Kelas IV SD warga Kebon Agung Demak; AM ( L ) kelas IV warga Tahunan, Jepara; AP ( L ) kelas IV SD warga Tahunan Jepara; MDL ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; MNR ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; SM ( P ) kelas VI SD Warga Tahunan, Jepara serta RAP ( L ) kelas VI SD warga Meganten, Demak.
(EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)