9 Santri Disiksa Pengasuh Pondok, 1 Dipaksa Makan Kotoran Manusia

Salah satu santri saat didampingi tim JPPA Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu santri saat didampingi tim JPPA Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

Dunia pendidikan formal atau non formal saat ini memang gencar-gencarnya mempromosikan tempatnya dengan cara menggratiskan semua siswanya.

Begitu halnya dengan dengan salah satu pondok pesantren anak anak yang ada di Desa Cranggang RT 3 RW 3, Kecamatan Dawe, Kudus. Sebab tempat tersebut sebelum menerima santrinya, dahulunya pernah memberikan janji bahwa semua santrinya akan digratiskan.

Namun apa daya, bukan ilmu agama atau fasilitas pendidikan yang diberikan. Justru ke-9 anak didiknya tersebut disiksa, serta diintimidasi oleh pengasuhnya tersebut.

Salah satu santri RPR (11) kelas 4 SD ini mengatakan, dia pernah mengalami kekerasan fisik pada kakinya dengan cara dipukul kayu oleh pengasuhnya yang bernama AA.

“Pergelangan kaki saya pernah dipukul oleh Abah (AA,red) dengan kayu lantaran di saat masuk kamar mandi pondok, rebutan,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun oleh MuriaNewsCom, santri tersebut rata rata dari luar kota, dan masih duduk di kelas sekolah dasar.

Santri tersebut ialah MUA ( L ) kelas I SD warga Tahunan Jepara, ACI (L) kelas II SD warga Tahunan, Jepara; RPR ( L ) Kelas IV SD warga Kebon Agung Demak; AM ( L ) kelas IV warga Tahunan, Jepara; AP ( L ) kelas IV SD warga Tahunan Jepara; MDL ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; MNR ( L ) kelas V SD warga Tahunan, Jepara; SM ( P ) kelas VI SD Warga Tahunan, Jepara serta RAP ( L ) kelas VI SD warga Meganten, Demak.

“Memang dahulunya sebelum mondok di Cranggang, saya sempat sekolah dan mondok di Demak. Akan tetapi ada seseorang yang merekrut santri anak anak yatim, serta menjajnjikan penggratisan, sehingga bapak saya langsung memondokan di sini,” paparnya.

RPR, menambahkan, selain dirinya yang pernah terkena siksaan fisik, seingatnya ada teman lain juga pernah disiksa. Yakni ACI ( L ) Kelas II SD warga Tahunan Jepara. Jumat (11/12/2015) dia disuruh makan kotoran manusia dengan cara disuapin dan diseret sampai bokongnya terkelupas lantaran membuang air besar di depan pintu WC.

ACI membuang kotoran di pintu WC sebab pada tengah hari. ACI tidak berani masuk ke WC. Selain itu, ACI juga masih kecil. Yakni baru kelas II SD.

Selain ACI juga ada MUA. Dia disuruh minum air kencingnya sendiri lantaran ngompol. Selain itu, ke-9 santri juga pernah disuruh mencari kangkung dan menjualnya.

Dia menilai, ke-9 santri tersebt memang tidak berani mengadu kepada masyarakat dan keluarganya. Sebab nantinya bila ketahuan mengadu, maka akan diintimidasi atau diancam.

Dia menambahkan, kondisi ini sudah diketahui oleh pihak keluarga lantaran ada bukti darah di bokong ACI yang terkelupas. Sehingga di saat berangkat ke sekolah Eabu (16/12/2015) SD 5 Cranggang, pihak guru mencurigi itu serta melapor.

Hal senada juga diiyakan oleh kakak ipar MNR, Zainal Abidin. Memang dahulunya ada seseorang yang mencari anak yatim untuk bisa disekolahkan atau didik secara gratis. Akan tetapi kondisinya malah seperti ini.

“Saya tidak nyangka bila kejadiannya semacam ini. kalau saya tanya ke santri, memang kegiatan belajar itu ada. Yakni mengaji kitab kitab setelah magrib. Akan tetapi kok tega menyiksa anak anak seperti ini,” pungkasnya.

Dengan adanya kondisi tersebut, saat ini kasus tersebut masih dalam penanganan Polres Kudus. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)