Menilik Padepokan Jati Kuning Blora yang Dulunya Hutan Belantara dengan Kisah Mistisnya

Salah satu pertapa di Padepokan Jati Kuning, Dusun Jurangrejo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Banjarejo, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Salah satu pertapa di Padepokan Jati Kuning, Dusun Jurangrejo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Banjarejo, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Beberapa hutan di wilayah Blora memang tak lepas dari kisah-kisah mistisnya yang sulit dinalar dengan akal sehat. Salah satunya adalah hutan yang terletak di Dusun Jurangrejo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Banjarejo, Blora.

Hutan di tempat ini juga menyimpan misteri yang hingga kini masih menjadi cerita yang tak pernah bisa dilepaskan dari masyarakat sekitar. Konon, hutan tersebut cukup angker. Alkisah, ketika ada kambing milik penggembala yang sampai masuk ke hutan tersebut, dipastikan tak akan bisa kembali dan tak bisa ditemukan.

Di hutan inilah, kini berdiri sebuah padepokan yang cukup terkenal. Adalah Padepokan Jati Kuning, yang didirikan oleh salah satu tokoh aliran Kejawen, yakni Mbah Jamal. Tempat ini, setiap harinya selalu dikunjungi oleh warga yang ingin bertapa, agar keinginannya terwujud.

Ketika MuriaNewsCom menyambangi tempat ini, kebetulan ada 12 orang yang sedang melakukan semedi. Salah satunya adalah Suhardi (45) warga Ngawen. Ia mengaku setiap kali ada keinginan atau hajat, seringkali melakukan semedi di tempat tersebut. “Biasanya saya kalau ada hajat, saya biasa bersemedi di tempat ini. Saya meminta kepada Tuhan yang Maha Kuasa di tempat ini, bukan meminta kepada yang aneh-aneh,” katanya, Jumat (4/12/2015).

Ritual yang dilakukan oleh para pertapa biasanya diawali dengan berwudu tak lupa mereka juga menyalakan kemenyan dan dupa. Tempat ini pun juga biasa dikunjungi oleh semua kepercayaan. “Semua bisa kesini entah Muslim maupun non Muslim,” imbuh Suhardi.

Padepokan yang terletak di Dusun Jurangrejo ini tak jauh dari Dusun Karangpace, tempat dimana Sedulur Sikep Engkrek berdomisili.

Menurut penuturan menantu Mbah Jamal, Poekoeh Setiawan, bahwa padepokan tersebut didirikan pada tahun 2003 yang sebelumnya merupakan hutan belantara. Sedangkan Mbah Jamal sendiri sudah meninggal sekitar setengah tahun lalu.

Untuk menuju padepokan ini, perlu menempuh jalan yang terbuat dari batu kapur. Dari arah Blora menuju Randublatung, tepatnya setelah Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur ke kanan menyusuri hutan jati.

Kejadian aneh juga dialami oleh MuriaNewsCom ketika mendatangi padepokan tersebut. Ketika hendak pulang dari tempat itu, ditengah hutan, kendaraan yang semula melaju kencang tiba-tiba saja mendadak tidak bisa melaju seperti halnya pada motor biasanya. Kejadian tersebut terjadi pada pukul 03.00 WIB. Tak selang beberapa lama, tiba-tiba kedua rodasepeda motor mendadak kempes. Tak cukup itu, kabut tebal juga tiba-tiba menyelimuti hutan. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)