Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Pengurukan Lokasi Bangunan Kuno Banjarejo Grobogan Ditunda, Ada Apa?



Reporter:    /  @ 17:03:46  /  31 Oktober 2015

    Print       Email

 

Warga melihat lokasi penemuan bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga melihat lokasi penemuan bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Rekomendasi dari tim Balai Arkeologi Yogyakarta agar lokasi ditemukannya bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ditutup dulu hingga saat ini belum dilakukan.

Karena, setiap hari di lokasi penemuan bangunan mirip pondasi itu masih ramai pengunjung.
“Sebenarnya, saya ingin menindaklanjuti rekomendasi dari Balai Arkeologi. Namun, mengingat masih banyak pengunjung maka rencana penutupan lokasi saya tunda dulu. Sebab, kasihan kalau ada orang jauh-jauh datang tetapi tidak bisa menyaksikan bangunan kuno,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, setiap hari sedikitnya ada 100 orang yang melihat bangunan yang diperkirakan dari abad ke-15 itu. Bahkan, pada hari Minggu pengunjungnya bisa mencapai 1.000 orang. Selain warga sekitar, pengunjung juga datang dari luar kota dan ada yang datang dari Kalimantan.

Mengingat banyaknya pengunjung, Taufik kemudian meminta warga untuk membuat jalur khusus dari pinggiran Dusun Medang Kamulan. Dengan jalur di tengah sawah itu kendaraan bisa masuk mendekati lokasi bangunan kuno. Dari situ, pengunjung tinggal berjalan kaki sekitar 100 meter saja untuk sampai tempat yang dituju.

“Kondisi saat ini memang memungkinkan untuk bikin jalur di tengah sawah. Soalnya, tanah sawah kondisinya sangat keras lantaran tidak pernah tersiram hujan dan kebetulan juga tidak ada tanamannya sama sekali,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat diperkirakan sudah mulai masuk musim hujan. Jika hal ini sudah terjadi maka penutupan lokasi akan dilakukan. Sebab, jika dibiarkan terbuka maka bangunan kuno itu dikhawatirkan bisa rusak tergerus air hujan.

Beberapa hari lalu, Ketua tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang melakukan kunjungan ke lokasi memberikan beberapa rekomendasi. Di antaranya, mengamankan dan melindungi struktur bata yang ditemukan di areal sawah di wilayah Dusun Nganggil. Caranya. dengan menutup bangunan dengan paranet atau karung plastik yang berpori dan kemudian diuruk tipis dengan tanah.

“Hal ini perlu dilakukan karena lubang galian warga yang menampakkan struktur bata menciptakan lubang panjang dan dipastikan akan tergenang air saat hujan. Rendaman air hujan dikhawatirkan akan merusak bata dan konstruksinya. Selain itu ekspose sinar matahari juga dapat mempercepat proses kerapuhan bata,” ujar Ketua tim dari Balai Sugeng. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →