Insiden Salim Kancil Bisa Terjadi di Kudus

Warga RW 8, Dukuh Turus, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, tampak menunggu kedatangan anggota DPRD di wilayahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga RW 8, Dukuh Turus, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, tampak menunggu kedatangan anggota DPRD di wilayahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Gagalnya kunjungan kerja Komisi C DPRD Kudus ke RW 8, Dukuh Turus, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, membuat warga marah.

Diketahui, warga RW 8 merupakan kalangan yang kontra terhadap aktivitas galian C. Batalnya kunjungan anggota DPRD ke lokasi itu membuat warga kecewa.

Salah satu warga RW 8 Dukuh Turus, Usman menyimpulkan, gagalnya kunjungan DPRD ke wilayahnya seolah wakil rakyat membiarkan insiden Salim Kancil terjadi.

“Sebelumnya, warga sudah sepakat dengan DPRD. Bahwa DPRD akan mengunjungi wilayah kami,” katanya.

Tapi nyatanya, Komisi C hanya menyambangi RW 7, dan setelah itu, mereka langsung pulang. Padahal warga RW 8 sudah menunggu kedatangan anggota dewan, sejak pagi hari.

Usman juga menuturkan, warga RW 7 sebagian besar merupakan kalangan yang pro terhadap pertambangan ilegal yang ada di RW 8.

Menurutnya, warga di RW 7 rata-rata bisa mengais keuntungan dari pengusaha tambang ilegal, sekitar Rp 1 juta tiap bulannya. Hal itu karena RW 7 juga menjadi salah satu jalur yang dilintasi proyek galian C.

“Saya takutnya, insiden Salim Kancil bisa menimpa warga RW 8 ini. Sebab mayoritas warga sini merupakan korban galian C. Anggota DPRD salah alamat karena berkunjung ke RW 7. Kok tidak langsung menuju ke RW 8? Padahal jaraknya juga dekat,” ujarnya kesal. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)