Penggagas “Pringgondani” Tak Punya Dana Patenkan Karyanya

Pringgondani jadi perhatian pengunjung saat dipamerkan di Java Supermall, Semarang. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Pringgondani jadi perhatian pengunjung saat dipamerkan di Java Supermall, Semarang. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Muslikun, warga Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo, Pati, mengaku tak punya dana cukup untuk mematenkan karya “Pringgondani” yang berhasil mengawinkan seni bertanam hidroponik dan organik dalam modul bambu.

“Saya sudah disarankan Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Pati untuk mematenkan modul bambu yang saya beri nama Pringgondani agar bisa menjadi karya kebanggaan warga Pati. Tapi, saya belum punya dana untuk memikirkan masalah hak paten,” ujarnya saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Selain itu, Muslikun mengaku tidak tahu proses pengajuan hak paten. “Lagipula, saya tidak tahu cara mengajukan permohonan hak cipta,” imbuhnya.

Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi. “Kami berharap agar pemerintah punya kepedulian untuk memfasilitasi pengembangan pringgondani sebagai modul tanaman,” harapnya.

Sebelumnya, karya tersebut sempat mendapatkan juara kategori unik dalam Festival Organik se-Jawa Tengah di Semarang. Pringgondani merupakan modul untuk menanam holtikultura yang dibuat dari bambu.

“Sebetulnya modul itu bisa digunakan untuk menanam dengan media air maupun tanah. Itu multifungsi. Pringgondani saya ambil dari kata pring artinya bambu, nggon berarti tempat, dan dani diambil dari kata madani yang berarti menyeluruh. Jadi, modul itu merupakan tempat tanaman dari bambu yang multifungsi,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)