Benarkah Politik Uang Tak Berdampak pada Perolehan Suara? Ini Hasil Riset LPPM Unisnu Jepara

Peneliti LPPM Unisnu Jepara Mayadina ketika mempresentasikan hasil penelitiannya (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Peneliti LPPM Unisnu Jepara Mayadina ketika mempresentasikan hasil penelitiannya (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Tim peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Unisnu Jepara bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jepara melakukan penelitian terhadap perilaku memilih masyarakat Jepara pada Pileg 2014 lalu. Hasilnya sangat mengejutkan, lantaran politik uang tak berdampak besar atau tak mampu memengaruhi pemilih secara signifikan pada Pileg 2014 lalu.

“Dari hasil survei yang kami lakukan dengan jumlah sample 100 orang dengan berbagai latar belakang profesi, yang mencoblos karena imbalan uang hanya sekitar 9 persen saja,” kata peneliti di LPPM Unisnu Jepara, Mayadina dalam acara diseminasi hasil penelitian perilaku pemilih masyarakat Jepara pada Pileg 2014, di Aula Kantor KPU Jepara, Rabu (7/10/2015).

Menurut Mayadina, justru yang paling mendominasi perilaku pemilih atau alasan pemilih mencoblos calon adalah faktor kejujuran dan kepedulian calon terhadap masyarakat. Sebab, faktor tersebut masuk dalam urutan pertama dari hasil penelitiannya. Selanjutnya disusul faktor lain, sedangkan imbalan uang masuk dalam urutan ke-enam.

Hasil tersebut dinilai bertolak belakang dari anggapan mayoritas publik yang masih beranggapan bahwa praktik politik uang sangat memengaruhi perilaku pemilih di masyarakat. Sehingga, hal itu yang membuat praktik politik uang masih tumbuh subur di kalangan para politisi jelang pemilihan umum.

Anggapan tersebut disampaikan salah seorang tokoh nelayan di Jepara Sudiyatno. Menurut Sudiyatno, politik uang sudah mengakar di dunia perpolitikan di Indonesia selagi sistem pemilu yang ada masih seperti saat ini.

“Ini mungkin bisa dicek ulang hasil penelitian ini. Sebab, politik uang di masyarakat kita masih sangat kuat mengakar,” kata Sudiyatno. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)